365 Days With You

365 Days With You
Ingin menjadi sosok pelindung


__ADS_3

Sosok pria yang saat ini berada di dalam ruangan kamar, segera keluar begitu mendengar perkataan dari Laura. Ia bahkan saat ini tidak berani menceritakan tentang perkiraan dari sang ayah mengenai paman Laura.


"Sebentar, Laura. Biar papaku yang menjelaskan sendiri padamu. Papa selama ini melarangku menuduh orang tanpa bukti. Apalagi ini berhubungan dengan pamanmu yang tak lain adalah adik dari papamu."


Mario yang kini mengetuk pintu kamar orang tuanya, beberapa saat kemudian melihat sang ayah yang menatap aneh padanya. Refleks Mario langsung menyerahkan benda pipih di tangannya tersebut. "Laura ingin bicara dengan Papa."


Sementara itu, Aldiansyah Permana kini memicingkan mata begitu ponsel di tangannya dan mendengar suara putri dari mantan klien terbaiknya yang ingin mengetahui tentang segala sesuatunya.


"Laura, aku benar-benar tidak mau berbicara jika belum ada buktinya. Tapi jika kamu nekad ke Jakarta untuk menuntut hak waris, aku bilang tunggu dulu sampai aku bisa menemukan sebuah jalan keluar terbaik tanpa membahayakan nyawamu."

__ADS_1


Laura yang berada di seberang telpon, kini makin yakin jika apa yang ada di pikirannya benar.


"Apa pamanku adalah orang jahat yang mengincar harta orang tuaku, Om? Itulah mengapa paman membuangku ke New York dengan alasan agar aku bisa menjadi pemimpin perusahaan yang bagus karena mempunyai pendidikan tinggi?" Bahkan Laura berpikir tentang sesuatu hal besar di kepalanya saat ini.


Hingga ia mendengar suara bariton dari pria paruh baya yang memilih menghilang dari kota besar dan memilih kehidupan di Bandung.


"Kurang lebih seperti itu, Laura. Hanya saja, ada hal lebih besar dari itu. Beri aku waktu sebulan dan tenangkan dirimu di sini sebelum kembali ke Jakarta. Kamu harus mempunyai senjata jika kembali ke sana agar tidak ada yang bisa menyakitimu seperti Christian."


Mario mengangukkan kepala tanda mengerti saat sang ayah kembali masuk ke dalam ruangan kamar. Ia pun berjalan menuju ke arah ruangan pribadinya untuk berbicara pada Laura.

__ADS_1


"Kamu dengar itu, kan Laura? Satu bulan, kamu harus bersabar sebelum kembali ke Jakarta. Aku tahu kamu sudah tidak sabar untuk membalaskan dendammu pada pria itu dan merebut kembali putramu, tapi semua itu tidak akan berarti jika kamu gagal, bukan?"


Saat ini, Laura yang sebenarnya belum puas dengan jawaban ayah Mario, tapi tidak bisa mendesak dan memaksa karena sungkan. "Mario, aku benar-benar sangat stres dan setiap malam selalu mengingat putraku."


"Aku bahkan sudah bersiap-siap dengan berkemas. Apakah aku bisa bertahan selama satu bulan menunggu kepastian dari bukti yang dijanjikan papamu?" ucap Laura yang kini merasa sangat kecewa karena belum bisa kembali ke Jakarta.


"Kamu harus bisa, Laura. Lagipula ada aku di sini yang akan selalu menemanimu. Kamu akan selalu terbayang tentang semua kepedihan jika terus berada di rumah itu. Lebih baik kamu tinggal di sini saja karena ada banyak kamar kosong di rumah ini. Lagipula, sendirian jauh lebih buruk dan makin membuatmu kesepian."


Mario yang mengungkapkan idenya, berharap jika Laura setuju karena ia ingin bisa lebih dekat dengan wanita yang membuat hatinya bergetar hebat.

__ADS_1


'Semoga Laura setuju tinggal di sini karena aku ingin selalu melihatnya setiap hari. Entah mengapa aku ingin menjadi sosok pelindung untuknya dan tidak tega jika wanita malang itu menderita,' gumam Mario yang tengah menunggu keputusan dari wanita yang telah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.


To be continued...


__ADS_2