
Malam semakin larut, tetapi kediaman Christian masih saja ramai oleh beberapa orang berpakaian serba hitam. Belum lagi lantunan ayat suci dan doa-doa yang terdengar dari mulut mereka, membuat suasana di rumah itu semakin gaduh. Bahkan, nyaris tidak ada jeda sedikit pun untuk sejenak memberi senyap.
Di satu sisi, ini sangat membahagiakan bagi Christian, karena begitu banyak orang yang peduli pada almarhumah istrinya. Namun, tetap saja hati kecilnya tidak bisa berbohong bahwa ini adalah hari paling buruk di sepanjang hidupnya. Binar matanya yang sendu pun seolah-olah membenarkan hal itu.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Apakah aku akan bisa menjalani hidup dengan baik tanpamu, atau sebaliknya," lirih Christian sambil menatap tubuh istrinya yang terbujur kaku di balik kain kafan.
Sejak tadi, Christian memang belum beranjak dari tempat itu. Ia tampak begitu setia mendampingi jenazah sang istri yang begitu dicintainya. Sambil sesekali melantunkan doa seperti yang dilakukan para tamu lain, ia pun tetap tidak bisa membendung kelenjar lakri yang sejak tadi terus-menerus berjatuhan.
"Aku tahu ini semua karena takdir, tapi kenapa harus sekarang? Di saat aku belum menebus semua kesalahanku padamu, bahkan aku belum sempat membahagiakanmu," ucapnya lagi dengan nada sedikit terbata-bata.
Sebelah tangannya seketika terangkat, menyeka air mata yang begitu deras mengaliri pipinya. Hingga sebuah sentuhan dan usapan lembut di punggung pun membuatnya sedikit tersentak. Ia melirik sejenak sosok yang baru saja duduk di sampingnya. Tampak wanita paruh baya yang tengah menatapnya sendu dengan sedikit lengkungan bibir yang dipaksakan.
"Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya," ucap Renita Padmasari yang sejak tadi memperhatikan Christian. Ia paham betul bagaimana perasaan putranya saat ini.
Terpuruk? Tentu saja. Bagaimana tidak? Setelah apa yang dilakukan Christian pada Anna saat masih hidup, wajar saja jika pria itu mengalami kesedihan dan penyesalan yang jauh lebih besar dibandingkan keluarga yang lain.
Pria itu selalu terbayang bagaimana ia berbuat sangat jahat, tanpa memikirkan perasaan Anna sedikit pun. Mungkin jika ia yang berada di posisi Anna, sudah pasti tidak akan tahan menanggung kenyataan sepahit itu. Berbeda dengan Anna yang begitu kuat menghadapi semua kenyataan itu, meski dalam keadaan sangat rapuh dan terpuruk.
"Kenapa Tuhan tidak memanggilku lebih dulu? Bukankah Anna itu orang yang baik, tapi kenapa Tuhan menghukumnya seburuk itu? Dia sudah cukup menderita dengan penyakitnya, kenapa tidak lantas diberikan kebahagiaan?" ucap Christian dengan emosi yang masih belum bisa diredam sepenuhnya.
Ia memang masih belum benar-benar ikhlas akan kepergian Anna. Ah, andai saja waktu bisa terulang kembali, tentu banyak hal baik yang ingin ia lakukan untuk sang istri. Bahkan, hanya kenangan-kenangan indah yang akan ia berikan pada wanita itu, bukan sebaliknya seperti ini.
__ADS_1
Jika Tuhan mengizinkan, ia rela walau harus bertukar posisi dengan Anna dan menanggung penyakit yang sudah berhasil menghilangkan nyawa wanita itu. Namun, sekeras apa pun ia meminta pada Tuhan, takdir tetaplah takdir yang tak bisa diubah kembali. Keputusan harga mati dan tidak ada satu pun yang bisa melawannya.
"Tuhan mengujimu seperti ini, karena Dia tahu kalau kamu kuat. Tuhan tahu kalau kamu akan bisa melewatinya dengan baik. Ini belum seberapa, mungkin saja di lain waktu kamu akan mendapatkan ujian yang lebih berat lagi." Renita berusaha menenangkan Christian lagi. Sesaat ia menghela napas pendek sebelum melanjutkan ucapannya.
"Jadikan ujian kali ini sebagai pelajaran dan pengalaman untukmu agar lebih kuat lagi. Percaya saja bahwa akan selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Mama percaya padamu, Sayang," sambung Renita kembali memberikan usapan lembut di punggung Christian berulang kali.
Christian hanya diam seolah-olah mengindahkan perkataan ibunya, meski tanpa memberikan komentar apa pun.
Walau hati dan pikirannya tidak terlalu fokus pada perkataan sang ibu, setidaknya ia tetap bisa mencerna pesan positif dari wanita paruh baya itu dan hal tersebut cukup memberikan sedikit motivasi untuknya bisa tetap melanjutkan hidup tanpa ditemani wanita yang ia cintai di sampingnya.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Artinya hari pun sudah berganti, di mana hari ini akan menjadi hari terakhir Anna berada di rumah itu.
Ah, padahal Christian masih berharap waktu bisa berputar lebih lama lagi agar ia bisa menatap dan mendampingi Anna lebih lama juga, sebelum benar-benar diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Inilah kesempatan terakhir bagi Christian untuk menemani Anna, bahkan ia tidak berani hengkang sedikit pun dari samping jenazah wanita itu.
Pria berkacamata hitam itu tampak berdiri tegap di hadapan jenazah yang sudah dimasukkan ke dalam keranda. Matanya masih sesekali mengeluarkan cairan bening tanda kesedihan, meski tak sederas tadi malam.
'Aku akan mengantarmu untuk terakhir kalinya, Anna. Pergilah dengan tenang. Aku ikhlas. Aku janji akan menjaga putra kita dengan baik,' bisik Christian dalam hati.
Beberapa karangan bunga yang tampak berjejer rapi di depan rumah kembali menyita perhatian Christian. Ini memang bukan pertama kalinya bagi pria itu melihat karangan bunga sebanyak itu. Namun, jika sebelumnya ia seringkali melihat karangan bunga itu sebagai ucapan selamat atas keberhasilan usahanya, kini justru berbanding terbalik.
Karangan bunga yang berisi ucapan bela sungkawa itu semakin membuatnya sedih dan rapuh. Ini seperti hari di mana ia tidak akan pernah menemukan kebahagiaan kembali setelahnya.
__ADS_1
Hanya beberapa saat. Perhatian Christian juga kembali teralihkan, tepat ketika keranda tempat istrinya berbaring telah dimasukkan ke dalam kendaraan. Sigap ia pun segera naik ke kendaraan itu, berniat untuk mendampingi jenazah sampai tiba di pemakaman.
Semuanya tampak telah siap, begitu mobil yang membawa jenazah tiba di Tempat Pemakaman Umum yang tidak jauh dari kediaman Christian. Hanya tinggal menghitung waktu, maka pria itu benar-benar akan kehilangan sang istri untuk selama-lamanya. Tidak hanya jiwanya, tetapi juga raganya. Bukankah itu sangat menyedihkan.
Selang beberapa menit, acara pemakaman pun telah berjalan dengan lancar dan kini Christian benar-benar tidak bisa lagi melihat sosok wanita yang dicintainya.
Setelah memberikan doa, beberapa pengantar tampak mulai berhamburan menjauhi makam Anna. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun, tidak dengan Christian yang masih saja terduduk di samping pusara istrinya.
Sambil memegang papan bertuliskan nama Anna, pria itu kembali menjatuhkan air mata. Di sampingnya tampak Renita Padmasari dan Laymar Raphael yang menemani, sementara di seberangnya tampak seorang wanita muda yang sedang memangku putranya. Ia menatap sejenak putra kecilnya itu, lalu kembali menatap pusara sang istri.
"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap menjaga dan merawat putra kita. Kamu jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja. Istirahatlah dengan tenang. Sekarang kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, Sayang. Aku sayang padamu, Anna," ucap Christian dengan isak tangis yang sedikit tertahan.
"Semua telah berjalan sesuai ketentuan-Nya. Tidak ada takdir yang buruk. Tuhan memanggilmu lebih dulu, karena artinya Dia lebih mencintaimu, Anna. Sama seperti kami yang juga sangat menyayangi wanita baik sepertimu. Semoga kamu tenang di surga-Nya, Aamiin," timpal Laymar yang turut diaminkan oleh yang lainnya.
"Kita pulang sekarang, Sayang. Sepertinya cuaca sedang kurang bagus. Lihatlah, langit tampak mendung. Mama takut akan turun hujan deras sebelum kita meninggalkan tempat ini," ucap Renita dengan nada sangat lembut setelah cukup lama mereka bercengkerama dengan lawan bicara yang sudah tidak terlihat secara kasat mata.
"Bagaimana dengan Anna, Ma? Apakah dia tid—"
"Dia wanita yang kuat. Dia tidak akan merasa ketakutan, meski harus sendirian di sini. Lagipula, ada Tuhan yang akan menemaninya," pungkas Renita seolah-olah paham dengan apa yang dipikirkan putranya.
Christian terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah," ucapnya lirih.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Christian dan yang lainnya mengucapkan selamat tinggal kepada Anna. Mereka kemudian berdiri, telah siap untuk meninggalkan tempat itu.
To be continued...