
Suara teriakan Andika Syaputra yang menggema di ruangan meeting, membuat semua orang hanya dia melihat perseteruan dari pria itu dan sosok wanita yang saat ini tengah membela diri dan dijelaskan oleh asistennya.
Sementara itu, Rendi Syaputra saat ini seketika menarik lengan kekar dari putranya agar tidak semakin merajalela ketika meluapkan amarah yang dirasakan akibat membenci wanita yang terlihat sangat tenang seperti tidak memiliki emosi itu.
Bahkan saat ini ia berpikir mengenai sosok wanita yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap ke arah para dewan direksi. "Andika, hentikan!"
"Jangan menunjukkan kebodohanmu dengan mengandalkan emosi untuk melawan wanita itu!" Rendi Syaputra berbicara lirik pada daun telinga putranya agar tidak didengar oleh semua orang yang hadir di ruangan itu.
Sebenarnya saat ini darahnya mendidih karena melihat ulah dari wanita yang terlihat sangat santai sekaligus memuakkan itu, tapi tidak ingin wibawanya terlihat buruk di depan semua orang yang menghadiri meeting hari ini, sehingga berusaha untuk menghentikan putranya agar tidak melanjutkan kemurkaan pada wanita itu.
"Mana mungkin aku bisa tinggal diam saat harga diri kita direndahkan di depan banyak orang, Pa!" Andika yang saat ini merasa sangat heran ketika menatap ke arah sang ayah yang masih bisa bersabar dengan kelakuan wanita itu.
Sementara itu, Rendi Syaputra saat ini masih mencengkeram erat lengan kekar putranya untuk menyadarkan dari kesalahan fatal yang diperbuat. "Jika kau masih ingin menjadi pemimpin di perusahaan ini, diamlah dan tunjukkan wibawamu sebagai seorang CEO yang memiliki kendali."
"Jika kau terus seperti ini, yang ada hanya akan mempermalukan diri sendiri dan juga aku. Akibatnya, kau akan kehilangan kekuasaan dan menjadi kacung untuk bule itu!" Kali ini ia berbisik di dekat daun telinganya untuk menyadarkan bahwa apa yang dilakukan oleh putranya saat ini benar-benar salah dan akan berakibat buruk ke depannya.
Saat ia baru saja selesai menasehati putranya yang akhirnya patuh dan terdiam, beralih menatap ke arah wanita yang masih berdiri tak jauh dari sebelahnya.
Ia mengikuti arah pandang wanita itu dan seketika mengetahui jika saat ini menatap ke arah pria yang merupakan pengusaha sukses di bidang kosmetik. Bahkan ia kini seketika mengingat jika pria itu adalah orang yang dulu menolong Laura dan menikahinya.
Dulu, ia memang sempat membayar detektif untuk menyelidiki tentang Laura yang kecelakaan. Hingga ia mengetahui kabar jika keponakannya telah hidup bahagia dengan pria bernama Christian itu setelah mengalami amnesia.
__ADS_1
Saat merasa jika Laura sudah bukan lagi menjadi ancaman, sehingga tidak lagi menyuruh detektif untuk mengawasi karena berpikir jika keponakannya sudah hidup bahagia bersama dengan seorang pria yang ternyata saat ini berdiri tak jauh dari hadapannya
Refleks ia menatap ke arah putranya untuk menanyakan sesuatu. "Kenapa pria itu ada di sini?"
Andika yang dari tadi merutuki kebodohannya karena tidak bisa menahan diri atas amarah yang dirasakan ketika menghadapi sosok wanita yang dengan mudahnya memancing emosinya.
Ia saat ini mengikuti arah pandang dari sang ayah dan begitu melihat jika rekan bisnisnya baru-baru ini, seketika mengarahkan cari telunjuk pada Christian. "Maksud Papa, Christian? Dia baru bergabung dengan perusahaan ini satu bulan lalu. Memangnya kenapa, Pa?"
Saat Andika yang ingin mengetahui Apa alasan sang ayah tertarik pada Christian, mendengar suara bariton asisten pribadi wanita yang sangat dibenci dan menoleh ke arah sebelah kirinya.
"Kita mulai voting untuk memilih shio baru di perusahaan ini karena waktu semakin berjalan dan sebentar lagi akan masuk waktu makan siang yang akan mendapatkan makanan spesial dari nona Anastasya!" Mario yang tadinya menatap ke arah Laura, merasa sangat khawatir begitu tatapan wanita yang disukainya tersebut tertuju pada Christian.
"Sebaiknya Anda duduk, Nona Anastasya karena jika berdiri terlalu lama, akan membuat Anda kelelahan." Mario kini berjalan mendekati Laura yang kini sudah beralih menatapnya dan mengikuti apa yang baru saja diperintahkan.
"Kay benar. Terima kasih," ucap Laura ya saat ini menempati kursi kosong di sebelah kanannya tanpa memperdulikan ayah dan anak yang tidak menyukainya.
Ia yang dari tadi menatap penuh sering jahat ke arah Christian yang juga tidak berkedip menatapnya, sengaja melakukan itu untuk mengetahui apa yang terpikirkan oleh pria itu saat melihatnya.
Bahkan ia tadi bisa melihat jika pandangan dari Christian seperti orang yang dikuasai oleh kekhawatiran sekaligus ketakutan. Ia mengerti penyebabnya jika saat ini pria itu takut jika ia membalas dendam.
Saat mendaratkan tubuhnya pada kursi empuk di belakangnya tersebut, sekilas menoleh ke arah paman serta sepupunya dan mengulas senyuman. Ia sengaja ingin membuat ayah dan anak tersebut makin mendidih karena kesal dan marah padanya.
__ADS_1
"Kalian juga berhak memberikan suara untuk diri sendiri karena aku sangat yakin tidak akan memilihku." Kemudian tersenyum simpul tanpa memperdulikan raut wajah memerah yang khususnya terlihat jelas dari sepupunya yang dianggap bukanlah tandingannya.
'Dasar sepupu bodoh yang tidak berguna karena hanya bisa menghabiskan uang orang tuaku dan menghancurkan perusahaan yang sudah susah payah didirikan. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi karena sekarang akulah yang akan memegang kendali.'
Ia merasa yakin jika semua orang yang ada di ruangan itu akan mendukungnya begitu mengetahui sifat asli dari CEO perusahaan yang temperamental dan tidak bisa memimpin perusahaan dengan baik karena hanya ada kerugian yang diciptakan.
Apalagi ia sudah mempunyai bukti kuat jika sampai hari ini tidak bisa melengserkan kursi kepemimpinan sepupunya tersebut. Kini, ia membiarkan Mario membuka voting setelah memberikan perintah pada orang-orang suruhannya dengan memberikan pilihan untuk memilihnya atau sepupunya.
'Jika setelah melihat pertunjukan hari ini, mereka tetap memilih pria bodoh ini sebagai pemimpin perusahaan, aku akan mendepak mereka semua keluar dari perusahaan ini setelah menunjukkan bukti akurat dari semua perbuatan yang dilakukan orang yang dibanggakan.'
Saat Laura bergumam sendiri di dalam hati, ia yang tadinya menatap ke arah paman dan sepupunya, kini beralih pada seorang pria yang baru saja berbicara dan tak lain adalah Christian.
Ia akhirnya kini menatap Christian yang berdiri dari posisinya dan berbicara dengan suara lantang.
"Maaf, sebelum voting dilakukan, ada yang perlu saya katakan sebagai salah satu pemegang saham di Perusahaan Prameswari." Akhirnya Christian yang dari tadi menahan diri untuk tidak berbicara menyela antara CEO perusahaan dengan wanita yang merupakan pemegang saham tertinggi tersebut, kini mulai angkat bicara.
"Please!" Laura yang kini menatap ke arah Christian, mempersilakan karena iya juga merasa penasaran dengan respon pria itu mengenai kedatangannya yang hari ini memberikan sebuah shock terapi.
'Ternyata suara pria berengsek itu masih tetap sama karena dulu merupakan suara paling merdu dari seorang pria yang pernah teramat sangat kucintai,' gumam Laura yang saat ini mengepalkan tangan kanan yang berada di bawah meja untuk menyembunyikan amarah yang membuncah setiap menatap wajah pria yang telah dengan kejam mengkhianatinya.
To be continued...
__ADS_1