365 Days With You

365 Days With You
Tanggapan dari sang ibu


__ADS_3

"Lalu, apa? Cepat jelaskan padaku Kenapa kamu terlihat kebingungan seolah tengah menyembunyikan sesuatu dariku," sarkas Ana yang saat ini memilih untuk memberikan kesempatan pada Vicky berpikir sebelum menjawab tuduhannya.


Berbeda dengan yang dirasakan Vicky saat ini yang langsung menjawab sesuai dengan pemikiran yang terlintas secara tiba-tiba. "Saya dulu memang mengetahui tuan Christian menikah siri nona Laura karena menjadi saksi pernikahan saat berada di rumah sakit."


"Namun, bukan berarti saya tahu segalanya, Nona Ana. Apalagi nona Laura sudah 1 tahun menghilang semenjak beberapa bulan setelah Anda datang ke Bandung. Mungkin saja dia sudah kembali ke New York karena dulu pertama kali bertemu dengan tuan Christian di sana." Vicky saat ini berharap kebohongannya bisa dipercaya.


Ia yang selalu menjadi bulan-bulanan istri dari bosnya tersebut, mencari jalan keluar sendiri tanpa bantuan siapapun dan membuatnya harus memeras otak lebih keras untuk mendapatkan sebuah ide cemerlang ketika melarikan diri saat dituduh.


Namun, kali ini serasa ia menjadi orang paling bodoh karena terjatuh di lubang yang sama. 'Jika aku dulu mengundurkan diri, mana mungkin bisa kembali dituduh oleh nona Ana.'


Ia menatap ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 3 sore. Berpikir jika operasi sudah berjalan satu jam lebih dan berharap sudah selesai dengan hasil terbaik.


"Bukankah Anda harus banyak beristirahat dan tidak boleh banyak berbicara seperti ini karena nanti harus dioperasi?" Konyol, mungkin kata itulah yang paling pantas untuknya saat ini karena tidak ada kaitannya antara operasi dengan berbicara.


Namun, ia tidak tahu lagi harus berbicara apa untuk mengalihkan pembicaraan mengenai wanita lain yang merupakan saingan dari anak untuk mendapatkan perhatian dan cinta bosnya.


Ana dulu memang sudah mendengar semuanya dari sang suami mengenai pertemuan pertama dengan wanita itu, sehingga mengingat jika sampai sekarang tidak ada yang mengetahui jati diri seorang Laura.


Ana sebenarnya ini tertawa karena merasa konyol ketika mendengar pria itu mengalihkan pembicaraan dan tidak ditanggapi olehnya karena lebih tertarik membahas tentang wanita yang menjadi saingannya.


"Suamiku bahkan tidak mengetahui asal usulnya, tapi bisa langsung menikahinya karena wanita itu tidak keberatan menjadi simpanan. Padahal dia bukanlah seorang pelacur karena masih perawan setelah menikah dengan suamiku."

__ADS_1


"Sebenarnya siapa keluarganya? Kenapa suamiku bahkan tidak tahu menahu? Apalagi dulu saat bertemu di New York maupun di Jakarta, dia tidak mau berbicara jujur mengenai siapa keluarganya. Apa kamu merasa ada hal yang aneh?" tanya Ana yang saat ini seketika terbatuk-batuk dan merasa heran kenapa tiba-tiba seperti itu.


Vicky yang tadinya berniat untuk menanggapi, tidak jadi melakukannya karena langsung mengambil botol berisi air minum dan membantu Ana untuk meneguk dengan sedotan.


"Hati-hati agar tidak tersedak lagi, Nona," ucap Vicky yang saat ini seketika menjauhkan minuman karena anak kembali terbatuk-batuk.


"Kenapa aku tidak bisa berhenti batuk?" ucap Ana yang berbicara sambil terbatuk-batuk dan merasa tersiksa seperti kehilangan pasokan oksigen.


Merasa ada yang tidak beres terjadi pada wanita itu, refleks Vicky langsung memencet tombol pada badan ranjang agar perawat segera datang dan melakukan pertolongan pertama.


"Lebih baik Anda diam dan tidak lagi berbicara, Nona Ana." Saat baru saja menutup mulut, menoleh ke arah pintu yang terbuka dan dua orang perawat masuk ke dalam untuk segera memberikan pertolongan setelah memeriksa.


Ia lalu menjelaskan agar perawat mengerti kejadian sebenarnya. "Apa terjadi pada nona Ana, Suster?"


"Pasien tidak boleh banyak berbicara karena akan menguras pasokan oksigen karena kondisinya yang tidak stabil. Jika kondisinya memburu dan tensi darah naik, bisa dilakukan operasi malam ini. Jadi, tolong buat pasien tidak terlalu banyak pikiran ataupun kelelahan seperti sekarang karena banyak berbicara di"


Kemudian perawat yang mencatat hasil dari pemeriksaannya, kini melihat pasien bernapas yang sudah teratur dan kembali seperti semula. "Anda harus banyak beristirahat dan jangan sampai kelelahan."


Ana yang saat ini merasa lega karena sudah tidak merasa sesak seperti beberapa saat yang lalu, hanya mengagukkan kepala. Kemudian melihat dua perawat wanita tersebut kembali keluar meninggalkannya dan Vicky.


Ia pun beralih menatap ke arah Vicky dan mengibaskan tangannya. Seolah menyuruh pria itu untuk pergi dari ruangan.

__ADS_1


"Jangan melakukan apapun, Nona. Anda sekarang istirahat saja seperti yang dikatakan oleh perawat tadi," ucap Vicky yang sama sekali tidak ingin beranjak dari kursi saat diusir oleh Ana.


Sementara itu, Ana yang saat ini memilih menurut dan tidak lagi berbuat apapun, perlahan memejamkan mata dan merapal doa di dalam hati agar diberikan kelancaran pada operasinya.


Sementara di tempat berbeda, yaitu di depan ruangan operasi, Christian yang sudah menunggu selama 1 jam lebih dengan perasaan campur aduk dan dipenuhi oleh kekhawatiran akan hal-hal negatif, memilih untuk fokus berdoa demi keselamatan Laura.


Hingga beberapa menit telah berlalu dan membuatnya bangkit berdiri karena merasa operasi berjalan sangat lama. "Apa kondisi Laura sangat parah? Apa karena tadi dokter mengatakan jikalau orang kehilangan banyak darah dan harus mendapatkan transfusi?"


Christian hanya bisa menebak-nebak dan ketika ia masih menatap intens ke arah pintu ruangan operasi, mendengar suara dari sang ibu yang saat ini berjalan mendekat dan membuatnya merasa aneh karena tidak bersama dengan putranya.


"Sayang, operasinya belum selesai juga? Semoga Laura selamat dan operasi berjalan lancar," ucap Renita Padmasari yang saat ini sudah berdiri di hadapan putranya yang mengerutkan kening dan membuatnya mengerti. "Putramu aman bersama dengan para pelayan yang mengajaknya bermain di Mall."


"Mama sengaja menyuruh pelayan untuk mengajaknya bersenang-senang agar bisa melihat keadaan Laura. Apalagi Mama sangat khawatir dengan keadaannya." Renita Padmasari ini melihat respon sangat aneh dari putranya.


Christian yang seketika membulatkan kedua mata begitu mengetahui jika putranya saat ini malah berada di Mall. Apalagi tadi mendapatkan pesan berupa foto-foto yang ada Laura dan juga putranya.


"Apa, Ma, bermain di Mall? Itu sangat berbahaya untuk keselamatan putraku. Cepat Mama suruh pelayan membawa pulang putraku karena ada orang jahat yang mengintainya," seru Aaron yang saat ini langsung menunjukkan pesan dari nomor tak dikenal.


Renita Padmasari saat ini merebut ponsel putranya dan memeriksa sendiri agar lebih jelas. "Siapa yang memata-matai kita? Ini pasti musuhmu karena tidak mungkin Laura memiliki musuh."


Saat ini, Christian hanya geleng-geleng kepala karena sang ibu tidak tahu menahu tentang perihal yang dilakukan oleh Laura di Jakarta. Kemudian ia menceritakan semuanya dan juga kecurigaan pada Andika Saputra juga diungkapkan karena ingin mendengar tanggapan dari sang ibu.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2