365 Days With You

365 Days With You
Kebahagiaan Mario


__ADS_3

"Yes!"


Mario tampak heboh mengepalkan kedua tangan, lalu menariknya ke bawah dalam keadaan ditekuk. Terpancar jelas raut kebahagiaan di wajahnya.


Bagaimana tidak? Setelah sekian lama ia menunggu Laura, akhirnya perasaannya selama ini mendapatkan balasan yang setimpal dari wanita itu. Bagaimana mungkin ia akan terlihat biasa saja, saat Laura sudah menyatakan bersedia untuk menikah dengannya?


Mungkin bagi orang lain ini adalah hal sepele, tetapi baginya sungguh merupakan sesuatu hal yang sangat istimewa.


Laura sedikit terkekeh melihat tingkah dan ekspresi Mario saat mendengar jawaban darinya. Ah, ia tidak menyangka jika pria itu akan sangat kegirangan. Kini, ia semakin yakin bahwa Mario memang begitu mencintainya dan sangat mengharapkan bisa hidup bersamanya.


"Ah, maaf aku terlalu bahagia, Laura," ucap Mario saat menyadari Laura yang masih terkekeh menatapnya.


Wajah pria itu tampak sedikit memerah karena merasa malu, tetapi ia tidak begitu peduli. Yang terpenting sekarang ia sudah bisa meluluhkan hati wanita yang selama ini sangat dicintainya.


Laura hanya tersenyum tipis. Ia menjadi merasa sedikit canggung sekarang. Entah apa yang harus ia lakukan untuk meredam kecanggungan itu.


"Hmm ... apa kamu menginginkan sesuatu?"


Laura tersentak, lalu kembali mengembangkan senyuman. "Tidak, Mario. Terima kasih," ucapnya lirih.


"Ayolah ... aku akan membelikannya kalau kamu mau," balas Mario sedikit memaksa.


Laura terkekeh beberapa saat. Ia bingung harus menjawab apa, sedangkan saat ini ia memang sedang tidak menginginkan apa pun.


"Biarkan aku menjadi sosok yang sangat berguna untukmu," celetuk Mario lagi, sebelum Laura memberikan tanggapan.


"Kamu sudah menjadi sosok yang sangat berguna dalam hidupku, Mario. Jadi, kamu tidak perlu meminta hal itu lagi. Aku sudah sangat sering merepotkanmu," ucap Laura apa adanya.


Ya, selama ini Mario memang selalu berusaha menjadi sosok yang berguna baginya. Meski ia tidak pernah meminta, tetapi Mario selalu ada saat ia membutuhkan. Lantas, bagaimana mungkin ia menyebut pria itu sebagai sosok yang tidak berguna?


"Tidak, itu beda, Sayang. Aku ingin menjadi lebih berguna setelah menjadi ... ehem ...." Mario tidak melanjutkan ucapannya, membuat Laura tersipu malu seolah-olah memahami maksud dari perkataannya. Ya, tentu saja.

__ADS_1


"Ck! Aku tidak suka pada pria yang suka menggombal," decak Laura seraya melengos. Namun, tidak bisa dipungkiri hatinya begitu berbunga mendapatkan perlakuan istimewa dari pria yang baru beberapa menit menjadi calon suaminya.


'Kenapa dia manis sekali,' gumam Laura dalam hati sambil menahan senyum. Tentu saja ia tidak ingin jika Mario curiga dan menangkap basah dirinya yang sedang berbunga-bunga. Sungguh memalukan jika sampai itu terjadi.


"Hei, ini bukan gombalan!" sanggah Mario seraya menarik kembali wajah Laura agar menatapnya. "Aku serius ingin menjadi sosok seperti itu. Walau bagaimanapun kamu adalah sosok yang sangat istimewa dalam hidupku sekarang," imbuhnya seraya menatap lekat sepasang manik coklat di depannya.


"Apa kamu tidak sadar kalau pipiku memerah karena ulahmu, Mario?" tanya Laura seraya tertawa geli, disusul oleh Mario yang juga ikut terkekeh seolah-olah mengiakan perkataan Laura.


Ya, tentu saja Mario menyadari hal itu, bahkan sudah sejak tadi. Hanya saja ia tidak mungkin mengungkapkannya di depan Laura. Melihat ekspresi Laura yang seperti itu justru menjadi keistimewaan tersendiri baginya. Sungguh indah dan menggemaskan. Rasanya ia ingin sekali menggamit hidung wanita itu.


"Aku suka melihatnya," goda Mario yang semakin membuat Laura kelabakan meredam rasa gugup dan malu.


Sontak Laura langsung membuang wajah. Tidak ingin jika Mario semakin melihat wajahnya yang sudah berubah seperti kepiting rebus itu.


"Haha ... kenapa kamu harus malu. Bukankah sekarang aku sudah menjadi calon suamimu?" celetuk Mario yang berhasil membuat degup jantung Laura semakin berdebar kencang.


Seketika Laura memberengutkan wajah. Ia merasa jika Mario sengaja ingin mengejeknya. Sungguh memalukan.


"Jadi?" Mario menatap penuh tanya. Masih menunggu jawaban Laura akan permintaannya tadi. Beruntung sepertinya Laura sangat cepat tanggap, sehingga bisa langsung memahami ke mana arah pembicaraan Mario.


"Baiklah kalau kamu memaksa. Aku hanya ingin pergi ke makam Anna," ucap Laura yang langsung ditanggapi dengan mata yang membulat oleh Mario. Namun, seketika pria itu menghela napas pendek.


"Nanti akan kuantar ke sana setelah kondisimu pulih," balas Mario dengan kata sangat lembut.


"Tidak, Mario. Aku ingin ke sana sekarang," tolak Laura kekeh.


"Tapi kondisimu masih belum pulih, Sayang. Tolong kali ini jangan bikin ulah lagi. Kamu tidak mau aku khawatir, bukan?" bujuk Mario seraya menatap sayu wajah Laura yang tampak memelas.


"Aku janji tidak akan membuatmu khawatir. Aku akan menjaga kesehatanku dengan baik. Percayalah, aku pasti akan baik-baik saja." Laura berusaha meluluhkan hati Mario yang kini sedang mencemaskannya.


"Aku percaya padamu, tapi aku tetap tidak akan mengizinkanmu pergi ke sana dalam kondisi seperti sekarang ini. Apa kamu lupa kejadian kemarin? Tolong jangan membuat dokter memarahiku lagi," timpal Mario seraya menggenggam tangan Laura.

__ADS_1


Alih-alih memahami apa yang dikatakan pria itu, Laura justru menjadi kesal dan tampak memberengutkan wajah. Tidak ada satu kata pun yang lolos dari mulutnya untuk menanggapi kalimat terakhir Mario. Hanya tatapan tajam yang ia tunjukkan pada pria yang masih setia menemani di sampingnya.


"Kamu marah padaku?" tanya Mario sekadar memastikan, meski sebenarnya ia sudah bisa menebak jawabannya.


"Aku melakukan ini demi kebaikanmu, Sayang. Aku tidak ingin kamu sakit lagi. Aku ingin kamu secepatnya pulih dan pulang ke rumah, setelah itu kita bisa merencanakan pernikahan kita dengan indah." Mario tersenyum lebar, menunjukkan bahwa betapa ia sangat senang menjadi orang yang istimewa untuk Laura.


"Kamu bohong, Mario. Kamu bilang tadi ingin menjadi sosok yang sangat berguna untukku, tapi mana janjimu itu? Baru minta segitu saja sudah kamu tolak, bagaimana kalau aku minta yang lebih," sindir Laura.


Mario kembali menghela napas. Tidak tahu lagi harus bagaimana memberikan pemahaman pada wanita itu.


"Aku tidak akan percaya lagi padamu, Mario!" sarkas Laura yang sukses membuat Mario ketar-ketir. Namun, sejujurnya ia tidak serius dengan ucapannya kali ini.


"Tolong jangan seperti ini, Laura. Aku ...." Mario menjeda sejenak ucapannya, seolah-olah sedang berpikir untuk beberapa saat. "Baiklah, aku akan meminta izin terlebih dahulu pada dokter," imbuhnya.


Laura hanya mengangguk pelan. Tanpa berpikir panjang, Mario pun langsung meminta izin pada dokter yang selama ini menangani penyakit Laura. Beruntung itu bukanlah hal yang sulit baginya, sehingga ia bisa mendapatkan izin dari dokter untuk membawa Laura pergi untuk sementara waktu.


Mendengar hal itu, Laura sungguh merasa senang. Lihat saja senyumnya yang semakin lebar. Bukankah itu cukup membuktikan?


"Benarkah, Mario?" Laura memastikan kembali dengan mata yang tampak berbinar bahagia.


"Ya, tentu saja," jawab Mario sambil menggerakkan pelan kepalanya.


"Terima kasih, Mario. Aku senang sekali mendengarnya!" seru Laura girang.


"Hanya itu?" Mario mengernyitkan dahi, seolah-olah meminta hal lain untuk imbalannya.


"Maksud kamu?" Laura menatap penuh selidik.


"Kiss?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2