365 Days With You

365 Days With You
Anjing peliharaan


__ADS_3

Mario yang mengerti ke mana arah yang dimaksud Laura, seketika menoleh ke arah siluet pria yang baru saja menghilang di balik pintu dan ia kini mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita dengan wajah memerah karena mengetahui kontak di ponselnya.


Ia saat ini berbicara lirih di hadapan Laura untuk bertanya apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. "Apa kamu berengsek ini?"


"Aku bisa ngajakin jika dia ingin menanyakan semua hal yang berhubungan dengan melalui aku karena tidak menemukan nomormu di grup." Mario bahkan kini bisa melihat panggilan telah terputus karena tidak diangkat.


Namun, ia sangat yakin jika sebentar lagi ponselnya akan kembali berdering karena Christian tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkan, yaitu berbicara dengannya untuk bertanya semua hal yang berhubungan dengan Laura.


'Sebenarnya apa yang diinginkan bajingan itu? Bukankah hidupnya sudah jauh dari kata sempurna setelah membuang Laura dan membawa putra mereka? Bahkan istrinya yang tidak bisa memberikan keturunan itu sudah bisa merasakan seperti apa menjadi seorang ibu.'


Mario saat ini benar-benar sangat kesal dengan semua yang berhubungan dengan Christian karena telah membuat Laura hidup menderita, tapi tetap saja wanita itu menatap dengan tatapan yang seperti menyimpan sebersit kerinduan.


Sebagai seorang pria, ia juga bisa melihat bahwa Christian seperti masih memiliki perasaan pada Laura. Apalagi semangat diantara mereka bukanlah sebuah hal biasa yang mudah dilupakan karena sudah menghasilkan buah cinta, yaitu bayi bernama Valerio yang diperkirakan sudah berusia 1 tahun.


Sementara itu, Laura yang saat ini tidak berniat sama sekali untuk memudahkan seorang Christian mencari tahu tentangnya dan juga menemuinya, refleks langsung menggelengkan kepala.


"Biarkan saja dan jangan diangkat karena sama sekali tidak penting. Biarkan dia kebingungan dan hanya bisa gigit jari untuk berniat menemuiku karena tidak semudah itu bisa berbicara dengan seorang Anastasya." Menatap ke arah ponsel yang masih berdering hingga beberapa kali.


Kemudian ia kembali mengingat perkataan dari sang paman yang mengungkapkan rahasia besar dan membuatnya makin berambisi untuk menguasai semuanya.


"Aku sangat yakin jika pamanku melakukan kecurangan untuk mendirikan perusahaan lain dengan mengandalkan Prameswari Grup. Kau mulai selidiki tentang perusahaan itu dan kita pancing pria tua bangka itu untuk membuka rahasia." Laura yang saat ini sudah menyusun siasat untuk membuat pamannya masuk dalam jebakan kedua.

__ADS_1


Mario yang sudah menduga jika Laura akan berbicara seperti itu karena sepemikiran dengannya. Ia berpikir bahwa harus membabat habis mulai dari akar untuk mematikannya.


"Jadi, kamu menerima permintaan dari Rendi Syaputra?" Mario sangat tidak suka memanggil seorang pria jahat dengan panggilan formal.


Ia selalu terpaksa berbicara sopan di depan orang yang dianggap tidak jauh lebih baik dari iblis karena telah berbuat kejam tanpa belas kasihan saat menghabisi nyawa saudara sendiri. Jadi, saat berbicara dengan Laura, selalu menyebut dengan nama saja.


Laura kini menganggukkan kepala dan menyampaikan apa yang akan menjadi satu syarat untuk menyerahkan kembali kursi kepemimpinan yang baru saja jatuh ke tangannya.


"Aku mau 20 persen saham dari perusahaan itu. Bagiku, itu setara dengan penyerahan kekuasaanku sebagai seorang CEO. Sepertinya pria tua bangka bodoh itu lebih mengutamakan pandangan serta pendapat dari orang lain, sehingga tidak bisa berpikir secara logika."


Laura bahkan saat ini tersenyum menyeringai karena berpikir bahwa itu adalah sebuah jalan masuk yang memudahkannya untuk makin menghancurkan pamannya.


"Aku benar-benar sangat bersyukur mempunyai saingan yang sangat bodoh, sehingga bisa dengan mudah merebut semua yang bukan menjadi hak mereka. Semua itu adalah milik keluargaku yang dikuasai secara curang dan kejam." Laura yang selama ini selalu mengingat nasib mengenaskan dari orang tuanya, selalu saja ingin mencekik pamannya.


"Apa kau tahu hal yang paling menyiksa di seumur hidupku?" tanya Laura yang saat ini beralih menatap ke arah Mario.


Namun, ia seketika membulatkan mata begitu pria di hadapannya menjawab dengan sangat tepat dan membuatnya merasa heran.


"Menahan diri untuk tidak menghabisi pembunuh orang tuamu," sahut Mario yang saat ini bisa memahami apa yang tengah dirasakan seorang anak ketika berhadapan dengan pembunuh orang tua yang tak lain adalah kerabat sendiri.


Ia bahkan saat ini memberikan dukungan dan suntikan semangat pada Laura dengan cara mengusap punggung tangan wanita yang mengepalkan tangannya tersebut karena dikuasai oleh beban berat di hati dan pikiran.

__ADS_1


"Kita sudah lama bersama dan aku tahu seperti apa cobaan yang menimpamu, Laura. Jadi, mana mungkin aku tidak bisa membaca apa yang saat ini ada di pikiranmu setelah melihat semuanya. Saat aku melihatmu tertatih dan berdarah-darah sendiri ketika pertama kali bertemu, benar-benar tidak tega."


"Apalagi setelah menyadari bahwa kamu adalah putri dari klien VIP papaku, semakin membuatku merasa dunia sangat kejam padamu. Namun, aku sangat yakin jika suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaan setelah menjalani banyak kepedihan hidup." Kini, Mario paket berdiri dan mengulurkan tangannya pada Laura.


Ia menatap ke arah sosok wanita dengan pandangan seperti menahan diri atas perasaan tidak menentu hari ini setelah bertemu dengan orang-orang yang berkhianat padanya.


"Ayo, kita keluar dari sini dan berbicara pada pria tua bangka itu mengenai persetujuanmu agar ia merasa di atas angin." Mario masih dengan sabar menunggu sambutan dari uluran tangannya.


Sementara itu, Laura yang masih mencoba untuk menormalkan perasaan yang tidak karuan saat mengingat nasib malang orang tuanya, beberapa saat mengembuskan napas kasar.


Hingga ia kemudian memberikan tangannya saat bangkit berdiri dari kursi. "Baiklah. Sekarang kita buat iblis itu merasa senang sebelum kita hancurkan tanpa belas kasihan."


Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama dan saat Mario membukanya, melihat sang paman saat ini tengah berbicara serius dengan pria yang tak lain adalah bodyguard-nya dulu di New York.


'Apa yang saat ini dibicarakan mereka? Aku bahkan sampai melupakannya. Bahwa dia pasti sudah mengatakan siapa aku sebenarnya,' gumam Laura yang saat ini di dekat daun telinga Mario agar tidak terdengar oleh dua pria yang masih berada cukup jauh dari tempatnya berdiri.


"Aku sampai melupakan pria itu yang dulu menjadi pengawalku di New York. Dia pasti sudah memberitahu pria tua bangka itu jika aku adalah Laura. Jika benar, kita hancurkan sekalian dengan meledakkan bom waktu di sini. Aku sama sekali tidak takut hancur sekalian bersama dengan para pengkhianat itu."


Saat Laura baru saja menutup mulut, Mario saat ini terlihat sedikit khawatir akan rencana matang yang dibuat hancur. "Baiklah. Kita akan hancur bersama-sama di sini bersama para iblis itu."


Saat Laura hendak menanggapi Mario, kini ia menatap ke arah sosok pria yang bahkan sudah lebih dari 7 tahun bersamanya di New York. Ia bahkan bersitatap dengan iris tajam berkilat itu, tapi tidak bisa membaca apa yang saat ini tengah dipikirkan pria dengan wajah datar dan sangat dingin itu.

__ADS_1


'Aku melupakan bahwa kau adalah anjing peliharaan pamanku dan pastinya akan selalu mendukung meskipun adalah seorang bajingan,' gumam Laura yang saat ini mengepalkan tangan kirinya.


To be continued...


__ADS_2