365 Days With You

365 Days With You
Darurat


__ADS_3

Laura saat ini menoleh ke arah sosok wanita paruh baya yang baru saja menaruh kopi pesanannya di atas meja, kini ia berusaha mengingat siapa karena mengetahui nama kecilnya di Jakarta. Namun, ia sama sekali tidak mengingatnya dan membuka suara.


"Siapa?"


"Saya adalah pelayan di rumah Anda saat masih kecil," ucap sosok wanita yang saat ini membungkuk hormat pada majikannya karena tidak pernah lupa dengan wajah yang menurutnya sangat cantik itu.


Laura yang tidak hafal dengan para pelayan di rumahnya karena terlalu banyak, kini hanya tersebut simpul sekaligus merasa bersalah karena tidak mengingatnya.


"Maaf karena tidak hafal mengingat Anda. Sepertinya Anda sama sekali tidak kesulitan mengingatku karena langsung tahu jika saya adalah Laura." Saat ia menutup mulut, kebetulan melihat Christian yang berjalan memasuki kantin tanpa menoleh kanan kiri.


Pria itu bahkan saat ini tengah memesan sesuatu dan menunggu sambil berdiri. Kemudian ia memalingkan wajah dan kembali fokus pada mantan pelayan di rumahnya saat masih kecil.


"Anda tidak perlu meminta maaf pada saya, Nona. Justru saya yang harusnya minta maaf karena telah mengganggu ketenangan Anda. Dari dulu, saya sangat mengagumi kecantikan Anda yang menurun dari nyonya besar. Jadi, tidak pernah lupa dan langsung tahu jika itu adalah Anda."

__ADS_1


Saat ia mengingat sesuatu tentang keluarga Prameswari, kini kembali menatap ke arah putri dari majikannya tersebut. Ia merasa bersalah dan tidak bisa mengatakan sesuatu yang diketahui.


"Kalau begitu, saya kembali ke sana dulu, Nona Laura." Saat ia hendak melangkahkan kakinya, tangannya ditahan dan membuatnya menoleh ke arah wanita cantik tersebut.


"Tunggu!" Laura yang ingin mencari informasi mengenai masa lalu, kini mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. "Apakah saat bekerja untuk keluargaku, Anda mengetahui sesuatu yang mencurigakan?"


Saat ini, wanita dengan tubuh gemuk tersebut tidak langsung menjawab karena kebingungan. Apakah ia harus jujur atau memendam apa yang diketahuinya selama ini.


'Aku dulu dipecat oleh adik dari ayah nona Laura karena tanpa sengaja mendengar pembicaraan di telpon saat kejadian kecelakaan. Pasti nona akan sangat shock jika mengetahui pamannya sendiri yang menjadi penyebab orang tuanya meninggal,' gumamnya di dalam hati.


"Apa, Nona Laura? Kejahatan paman Anda? Jadi, Anda sudah tahu semuanya?" sahutnya sambil menatap heran pada wanita dengan paras sangat cantik itu.


Hingga beberapa saat kemudian ia merasa seperti dijebak oleh majikannya tersebut dan membuatnya tidak bisa berkelit lagi.

__ADS_1


"Aku hanya mengetes saja, tapi ternyata benar dugaanku. Bahwa Anda memang mengetahui jika pamanku yang telah membunuh orang tuaku karena ingin menguasai seluruh hartanya. Aku ingin Anda menjadi saksi di pengadilan karena sebentar lagi aku akan menyeret semua orang yang terlibat ke penjara!"


Laura yang baru saja melihat anggukan kepala dari wanita di hadapannya, merasa sangat lega.


"Jika memang Anda ingin melakukannya, saya tidak keberatan, Nona. Hanya saja, saya punya anak yang mungkin akan menjadi korban selanjutnya jika mendukung Anda." Ia memang selama ini tersiksa rasa bersalah.


Namun, saat mengkhawatirkan nasib putrinya mungkin bisa demikian, jadi takut jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk. Apalagi ia tahu jika Rendy Saputra merupakan orang yang sangat jahat. Jadi, tidak mungkin bisa melawannya.


Saat Laura ingin memastikan keselamatan wanita itu dengan keturunannya, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan begitu melihat kontak mertuanya, seketika menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar nada panik dari sana.


"Laura, apa Christian ada bersamamu? Cepat suruh ke sini karena ini darurat!"


"Ada apa, Ma? Apa terjadi sesuatu pada putraku?" teriak Laura yang seketika bangkit berdiri dari posisinya dan langsung menghampiri Christian yang berdiri menunggu pesanan.

__ADS_1


"Mama bilang kau harus ke atas sekarang! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada putraku," ucapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


To be continued...


__ADS_2