
Christian yang baru saja melihat sang asisten meninggalkan ruangan, kini beralasan untuk pergi ke toilet karena ingin memberikan pesan pada Vicky. Kemudian mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dan berharap asisten pribadinya tersebut bisa berbicara dengan Mario dan mencari sebuah solusi dari keinginan Ana.
Beberapa saat kemudian, ia kembali menemui sang istri yang masih terbaring di atas ranjang perawatan dan menunggunya. Kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah kiri.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa yang kamu rasakan sekarang?" Christian masih mencoba untuk mengalihkan perhatian sang istri agar tidak membahas tentang putranya dan meminta melakukan video call.
Sementara itu, Ana saat ini terdiam. Ia mengusap perutnya yang saat ini masih menyisakan nyeri, tapi sudah tidak sesakit ketika berada di pusat perbelanjaan dan membuatnya
"Aku tadi tidak kuat ketika tiba-tiba merasakan sakit luar biasa pada perutku. Kenapa rasa sakitnya sangat menyiksa hingga membuatku pingsan karena tidak bisa menahannya? Apa obat yang selama ini aku minum sama sekali tidak efektif untuk menyingkirkan penyakitnya?" Ana menatap intens sang suami yang terlihat sangat lelah.
Ia kini merasa bersalah karena telah menyusahkan sang suami. "Maafkan aku karena hanya bisa menyusahkanmu. Kenapa aku tidak mati saja agar tidak ada yang direpotkan?"
Ana yang saat ini tidak punya siapa-siapa lagi karena orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika melakukan perjalanan bisnis beberapa bulan yang lalu dan sempat membuatnya terpuruk.
__ADS_1
Namun, ia bisa kuat atas semua penderitaan yang dialami karena ada Valerio yang membutuhkan kasih sayangnya. Mungkin jika bocah laki-laki itu tidak ada, sudah mengakhiri nyawanya dengan bunuh diri tanpa memperdulikan apapun.
Christian yang saat ini melihat bola mata sang istri berkaca-kaca dan kini lolos membasahi wajah pucat itu, ketika bangkit berdiri dan mengusap dengan ibu jari. Ia benar-benar tidak tega melihat sisi lemah Ana Maria yang selama ini sudah menemaninya selama 11 tahun.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Tadi aku sudah berbicara dengan dokter yang ada di rumah sakit ini dan menjelaskan tentang pengobatan yang harus kamu lakukan. Kamu akan sembuh asalkan semangat berobat. Aku pun akan bertanya pada dokter mengenai jadwal untuk operasi dan kemoterapi."
Christian merasa hidupnya sangat berat karena menghadapi banyak masalah dari pihak Ana dan sekarang bertambah dengan Laura yang tengah bersama dengan putranya. Bahkan merasa seperti kepalanya mau pecah saja saat ini, tapi berusaha untuk selalu kuat di depan Ana karena harus selalu menghibur wanita itu.
Meski dulu sangat yakin bisa sembuh jika menuruti apa kata dokter. Namun, sekarang ia merasa ragu dan khawatir jika nyawanya sudah tidak lama lagi di dunia. Ia tahu bahwa sang suami saat ini tengah berusaha untuk menghiburnya agar tetap optimis, tapi merasa sangat lelah dan ingin menyerah.
Namun, tidak mengatakannya karena khawatir membuat sang suami tertekan dan banyak pikiran karena memikirkannya. "Baiklah. Aku akan bersemangat lagi untuk menjalani pengobatan agar bisa sembuh. Sayang, apa putra kita tidak bisa diajak ke Rumah Sakit? Aku ingin bertemu dengannya."
Ana khawatir tidak bisa melihat Valerio lagi, jadi ingin sekali bertemu. Meskipun ia tahu jika anak kecil dilarang dibawa, tetap saja ingin sekali bisa melihat wajah bocah laki-laki yang selama ini sudah dianggap seperti putra kandungnya.
__ADS_1
"Kamu bisa melihat putra kita nanti setelah pulang dari Rumah Sakit. Bukankah kamu sudah tahu peraturan di sini, kan?" Christian saat ini menggenggam erat telapak tangan Ana untuk memberikan suntikan semangat dan berharap tidak membahas masalah putranya lagi.
Namun, lagi-lagi ia gagal menghentikan sang istri dan sudah menduganya begitu mendengar keinginannya.
"Kalau begitu, aku ingin melihat fotonya sekarang. Aku ingin tahu putraku sedang berbuat apa di rumah mama. Kirimkan pesan pada mama untuk memotret putraku," ucap Ana yang tidak ingin lagi membuat sang suami merasa tidak enak pada sang ibu saat melakukan video call.
Jadi, hanya ingin meminta fotonya saja mengenai apa saja yang dilakukan oleh putranya di rumah mertua.
"Baiklah. Aku akan meminta foto putra kita pada mama," ucap Christian yang saat ini berpura-pura untuk mengirimkan pesan pada sang ibu.
Padahal saat ini hatinya benar-benar bergejolak karena sangat bingung harus bagaimana mengulur waktu. 'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan baru menyuruh Vicky untuk bertanya pada Mario. Bagaimana jika semuanya ketahuan?'
To be continued...
__ADS_1