365 Days With You

365 Days With You
Mengabaikan kesehatan


__ADS_3

Miranti seketika mengerjapkan mata karena merasa terkejut ketika mendengar perkataan dari pria itu yang berniat untuk membantu niat baiknya mendatangkan sang suami dari majikan.


Ia bahkan saat ini menghapus kasar bulir air mata yang menghiasi wajahnya. "Apa benar kau akan menyuruh nona Raisa mendatangkan tuan Christian ke sini?"


Sementara itu, Paul yang saat ini sependapat dengan wanita di sebelahnya tersebut, memasukkan ponsel setelah mengirimkan pesan pada sang majikan.


"Iya. Tadi sebenarnya nona Raisa tidak sepenuhnya kesal ataupun tidak suka dengan idemu untuk mendatangkan suami dari nona Ana ke sini. Hanya saja, ia masih sangat marah karena pengkhianatan pria itu yang menyakiti sahabatnya." Paul saat ini terdiam karena menyadari jika pelayan tersebut jauh lebih mengerti perasaan dari sang majikan.


Bahwa seorang wanita selalu ingin didengarkan oleh pasangan. Apalagi dalam kondisi sakit, pastinya akan lebih baik jika suami yang mendampingi.


Jadi, merasa yakin setelah ia mengatakan pada sang majikan, akan langsung dibantu mendatangkan pria itu ke Singapura tanpa terlebih dahulu memberitahukan jika akan dipertemukan dengan sang istri yang masih hidup.


"Kebetulan perusahaan tempat bekerja nona Raisa sering bekerja sama dengan banyak perusahaan di Jakarta. Jadi, tidak akan sulit membuat pria itu datang ke sini dengan alasan kerjasama." Ia masih tidak menyerah untuk menyerahkan sapu tangan miliknya agar pelayan wanita tersebut menghapus bulir air mata yang menganak sungai di wajah.


Saat ini, Miranti yang merasa sedikit lega dengan apa yang dirasakan karena akhirnya bisa membuat majikannya bertemu dengan pria yang masih dicintai.


Kini, ia menerima sapu tangan tersebut dan membersihkan wajahnya yang mungkin sudah sembab dan tidak diperdulikan olehnya.


"Nona Ana selalu mengatakan pasrah akan nasibnya dan itu membuatku benar-benar tidak tega. Aku ini dia bersama dengan suami di detik-detik terakhir jika benar Tuhan lebih menyayanginya."


"Namun, aku tetap akan berdoa yang terbaik dan berharap agar nona Ana segera sembuh dengan diangkat penyakitnya dan semua perjuangannya ditemani oleh sang suami." Kembali menghapus bulir air mata yang masih menghiasi bola matanya.


'Itu semua jauh lebih baik daripada sendirian tanpa keluarga yang mengetahui." Ia saat ini tengah menatap sapu tangan di tangannya yang telah basah. "Aku akan mencuci ini, baru akan ku kembalikan."


Paul saat ini menggelengkan kepala dan mengambil satu sapu tangan lagi di kantong sebelah kiri dan menunjukkannya. "Tidak perlu karena punyaku banyak."


Sang pelayan masa sangat heran karena pria itu membawa dua sapu tangan di saku yang berbeda. "Apa setiap hari kau selalu membawa dua sapu tangan?"


"Tidak. Khusus hanya di rumah sakit karena aku tahu jika para wanita akan menangis saat bersedih. Jadi, anggap saja aku adalah pahlawan kesiangan yang ingin menghibur para wanita cantik menangis karena melihat keadaan nona Ana." Ia kini menghapus peluh yang membasahi pelipis dengan sapu tangan itu.


"Di luar sangat panas tadi," ucapnya yang kini masih membersihkan peluh.


Sementara itu, Miranti yang saat ini hanya diam melihat pria yang menurutnya memiliki paras rupawan dan tidak pantas untuk menjadi seorang sopir.


"Kenapa kau menjadi sopir? Padahal nona Raisa sudah menyuruhmu untuk mencari pekerjaan lain, kan? Tadi nona menceritakan semuanya dan aku tahu jika kamu bukanlah sopir sembarangan karena ahli dalam IT." Sang pelayan saat ini mencium sesuatu dari pria itu dan ingin memastikannya.


Paul ketika mendapatkan sebuah pujian yang sering didengar dan tidak diperdulikannya. Ia merasa nyaman ketika bekerja menjadi seorang supir daripada bekerja sama dengan banyak orang ketika bekerja di salah satu perusahaan.


Persaingan ketat antara sesama rekan yang saling iri sering ia lihat dan membuatnya tidak menyukai hal itu. Apalagi sering melihat sesama rekan saling sikut dan menusuk dari belakang demi naik jabatan.


Merasa muak dengan tiba-tiba penjilat dan juga orang-orang munafik adalah salah satu alasan ia tidak ingin berbaur dengan orang lain ketika bekerja di salah satu perusahaan.


"Aku lebih suka menjadi supir nona Raisa karena selalu mendapatkan bonus," ucapnya yang beralasan agar tidak lagi dibahas mengenai pekerjaannya yang hanya merupakan seorang supir dan dianggap adalah pekerjaan rendahan.


"Apa kamu diam-diam menyukai nona Raisa?" selidik Miranti yang saat ini tersenyum mengejek untuk mencari pembenaran atas tuduhannya pada pria yang terlihat karena pertanyaannya.

__ADS_1


Saat tadinya berpikir jika wanita itu tidak akan lagi membahas mengenai pekerjaannya, Paul malah merasa seperti diinterogasi oleh seorang polisi ketika mendengar tanggapan sang pelayan.


Ia seketika tertawa terbahak-bahak karena merasa jika apa yang didengarnya sangatlah konyol karena selama ini tidak pernah berpikir macam-macam pada sang majikan.


Murni bekerja dengan baik adalah salah satu alasan ia bisa bertahan menjadi supir Raisa. Apalagi mengetahui jika wanita itu merupakan seorang wanita yang sangat baik dan tidak merendahkannya, tapi menganggapnya seperti rekan karena sering diajak bertukar pendapat.


"Sepertinya mau salah paham dengan apa yang kurasakan pada nona Raisa. Aku benar-benar sangat menghormatinya sebagai majikan dan tidak pernah berpikir macam-macam. Apalagi seperti tuduhanmu itu, bukankah sangat konyol?" Ia saat ini mengembuskan napas kasar karena dicurigai dan tidak ingin membahasnya lebih jauh.


"Apa tidak mengkhawatirkan nona Ana yang sendirian di dalam sana? Bagaimana jika dia menangis sendirian di dalam ruangan? Itu akan berdampak buruk karena bisa membuat tensinya tidak seimbang."


"Nanti operasi jadi gagal jika itu terjadi." Ia saat ini bangkit berdiri dan berniat untuk memeriksa apakah wanita itu baik-baik saja.


Sementara itu, Miranti ketika menggelengkan kepala dan menahan kemeja pria itu agar tidak pergi ataupun mengganggu sang majikan.


"Nona saat ini tengah fokus merajut sweater putranya. Ia khawatir jika tidak sempat melanjutkannya dan gagal memberikan pada putranya. Jadi, biarkan saja nona tenang dengan kesibukannya." Ia saat ini mencoba melihat waktu sudah menunjukkan siang hari.


Rencananya adalah ingin bertanya secara langsung pada teman baik majikannya mengenai kapan mendatangkan Christian ke Singapura untuk bisa segera melihat sang istri.


"Kira-kira nona Raisa pulang dari perusahaan jam berapa? Aku tidak sabar ingin membicarakan tentang masalah tan Christian." Ia bahkan sudah membayangkan jika nanti majikannya sadar saat sudah selesai dioperasi, orang pertama yang dilihat adalah sang suami.


Berharap jika itu terjadi, sang majikan akan merasa bahagia. Meskipun itu saat ini masih menjadi bayangannya semata karena tidak tahu apa yang akan terjadi setelah sang majikan dioperasi untuk kedua kalinya.


Sementara itu, Paul saat ini hanya mengendikkan bahu karena tadi sang majikan tidak memberitahunya dan ia menjelaskan jika nanti tidak menjemput karena akan naik taksi.


"Sabar dan tunggu saja karena pasti nanti juga akan ke rumah sakit untuk menunggu nona Ana dioperasi," ucapnya saat ini menunjukkan ponselnya yang belum dibalas pesannya.


Refleks Miranti seketika bangkit berdiri karena khawatir jika sang majikan terjatuh begitu mendengar suara dari dalam ruangan.


"Nona Ana!" ucapnya berlari menuju ke arah ruangan perawatan yang tak jauh dari tempat duduk mereka.


Hal yang sama saat ini dilakukan oleh Paul ketika berjalan mengekor wanita yang baru saja masuk dan ingin mengetahui apa yang terjadi.


Hingga mereka diam di tempat ketika melihat sosok wanita yang saat ini terdiam di keranjang dengan menatap ke arah botol air mineral yang jatuh.


"Nona Ana?" seru Miranti yang saat ini seketika bernapas lega karena tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada sang majikan. "Syukurlah Anda tidak apa-apa. Saya bener-bener sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk."


Ana yang tadinya berniat untuk mengambil air minum, tapi tidak sengaja menyenggolnya dan akhirnya terjatuh. Ia hanya melihat botol air mineral yang saat ini berada di lantai dan tidak bisa diambil. Hingga melihat dua orang yang jelas sangat mengkhawatirkannya.


"Aku tidak apa-apa karena hanya diam di ranjang. Beda lagi jika aku berusaha untuk mengambilnya, mungkin sudah terjatuh di lantai." Kemudian menerima botol air mineral yang sudah dibuka oleh pelayan dan langsung ia teguk.


"Nanti jika membutuhkan sesuatu, tolong berteriak memanggil saya jika berada di luar seperti tadi. Maaf karena tidak ada saat Anda membutuhkan." Miranti saat ini kembali menerima botol tersebut dan menutupnya, lalu menaruh di atas laci.


Ia saat ini melihat rajutan dari majikannya sudah selesai dan membuatnya ingin melihat hasilnya. "Wah ... ini sangat cantik, Nona. Pasti sangat pas dikenakan oleh tuan Valerio."


Bahkan ia mencoba untuk membentangkan sweater yang baru saja jadi tersebut dan merasa jika sama jika sangatlah cekatan dalam hal apapun, meski bisa dibilang baru belajar.

__ADS_1


"Itu masih belum sempurna, Bik. Semoga Laura tidak membuangnya saat menerima ini. Apalagi dia pasti banyak membelikan pakaian mahal untuk Valerio." Saat ini melihat pada hasil karyanya dan berpikir jika itu akan menjadi kenang-kenangan untuk putranya.


Ia bahkan kini menerima sweater itu dari sang pelayan. "Semoga ntar aku senang memakainya," ucap Ana dengan sangat lirih karena jujur saja ia tidak percaya diri jika sweater buatannya akan dikenakan oleh putranya yang sangat disayangi.


Kini, ia menyerahkan kepada pelayan agar segera dikirimkan ke Jakarta. Kemudian beralih menatap ke arah sang supir. "Tolong bantu nanti saat mengirimkan. Oh ya, nanti alamatnya aku kirim melalui pesan saja."


"Siap, Nona. Apa mau dikirim sekarang atau kapan?" tanya Paul yang saat ini merasa ragu karena tidak mungkin ia pergi berdua dan meninggalkan wanita itu sendirian di rumah sakit.


Ana saat ini terdiam di tempatnya karena merasa ragu apakah akan mengirimkan sekarang atau saat dia sudah tiada.


"Ehm ... sepertinya sekarang saja karena lebih cepat lebih baik." Ana saat ini melihat pelayannya langsung memberikan pada Paul.


"Kamu saja yang pergi karena aku akan menjaga nona Ana. Alamatnya tinggal menunggu pesan dari nona," ucap Miranti yang saat ini melihat jika sama majikan sudah mulai mengetik pesan yang sudah ditebaknya jika itu adalah alamatnya.


Paul kini hanya mengangkat ibu jari untuk menjawab dan suara notifikasi terdengar. Ia tidak bisa menduganya jika wanita itu baru mengirimkan alamat.


"Itu adalah alamat rumah kami. Aku tidak tahu alamat rumah Laura, jadi lebih baik dikirimkan ke rumahku dan biar Christian yang nanti menyerahkan pada putranya. Ana sebenarnya merasa sesak ketika menyebutkan wanita lain, tetap saja harus menyembunyikan perasaan sebenarnya.


Mengerti dengan semuanya, kini Paul hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah. Saya akan pergi sekarang, Nona."


Kemudian membungkuk hormat sebelum beranjak keluar dari ruangan perawatan tersebut.


Ana saat ini beralih menatap ke arah sang pelayan yang terlihat sudah lebih baik dan membuatnya senang. "Bibik baik-baik saja sekarang?"


"Baik, Nona. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya karena sekarang lebih baik fokus pada pengobatan. Setelah nanti dioperasi, Anda pasti akan sembuh," ucap Miranti yang masih berusaha untuk memenuhi pikiran sang majikan dengan energi positif.


Hingga ia hanya mendengar jawaban singkat dan jauh berbeda dari biasanya. Ia tentu saja tahu apa penyebabnya dan tidak bisa memberikan support ataupun penghiburan.


"Terima kasih doanya." Aku saat ini benar-benar sangat lelah, Bik. Aku ingin tidur sebentar." Ana saat ini seketika menutup kelopak mata begitu sang pelayan mengiyakan.


"Tidur yang nyenyak, Nona. Semoga semua badai ini berlalu dan akan muncul pelangi dalam kehidupan Anda," ucap Miranti yang saat ini menatap ke arah sang majikan ketika sudah menutup kelopak matanya.


Hingga ia saat ini menatap intens sosok wanita yang ada di hadapannya. 'Nona, Anda pasti bisa sembuh,' gumam Miranti yang saat ini sebenarnya ingin segera mempertemukan pasangan suami istri yang masih saling mencintai tersebut.


Namun, tidak mungkin melakukannya seperti sulap dan harus bersabar sampai teman dari majikannya tersebut datang. 'Sabar, karena semuanya akan baik-baik saja. Nona akan sembuh dan bisa hidup bahagia bersama dengan pria yang mencintainya.'


Puas dengan pemikirannya saat ini yang sudah menemukan titik terang karena dibantu oleh sahabat dari majikannya tersebut, ia saat ini bergerak untuk membereskan beberapa benang yang menghiasi bagian atas laci.


Beberapa menit kemudian, mendengar suara napas teratur dari sosok wanita di atas ranjang tersebut yang menunjukkan sudah larut dalam alam bawah sadar.


Miranti saat ini baru saja selesai membereskan semuanya. Kemudian berjalan mendekat ke arah sang majikan. 'Nona, jika nanti tuan Christian datang dan Anda sadar, semoga menjadi kesembuhan."


Saat ini ia tidak berkedip menatap ke arah wajah pucat di hadapannya. "Berikan keajaibanmu pada Nona Ana, Tuhan. Berikan ia kesempatan untuk hidup berbahagia dengan tuan Christian."


Melihat pemandangan menyayat hati, membuatnya berpikir jika semuanya hanyalah bersifat sementara dan harus bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Tuhan. Bahwa nikmat sehat itu tidak ada tandingannya di dunia ini.

__ADS_1


'Orang rela bekerja keras dengan mengabaikan kesehatan. Begitu giliran sakit, merelakan uangnya demi sehat. Begitulah perjalanan para manusia yang yang merupakan ciptaan-Mu.'


To be continued m..


__ADS_2