
Christian menatap intens Ana yang saat ini menikmati bakso dengan kuah tidak pedas yang berbeda dengan miliknya. Entah mengapa saat ia makan pedas beberapa saat lalu, mengingat masakan Laura pagi ini yang membuatkan sambal dan menurutnya sangat enak dan lezat hingga membuatnya menghabiskan banyak nasi.
Jika selama ini Ana hanya memasak setiap hari Minggu ketika libur kerja, kali ini ia ingin merasakan masakan sang istri karena sudah lama tidak menikmatinya. Namun, karena melihat Ana yang hari ini sakit, membuatnya tidak berani untuk menyuruh.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Ana yang asik menikmati kuah panas bakso, melihat tatapan dari sang suami yang seolah seperti hendak menerkamnya.
Sementara itu, Christian hanya menggelengkan kepala dan terkekeh geli. "Bukan seperti itu, Sayang. Saat makan bakso dengan kuah pedas tadi, tiba-tiba aku ingin makan sesuatu yang pedas nanti. Kapan-kapan setelah kamu sembuh, buatkan aku sambal. Membayangkan makan sambal, sepertinya enak."
Ia selalu mencari alasan agar tidak dicurigai oleh sang istri ketika meminta sesuatu yang tidak biasa karena dulu jarang menyukai sambal. Namun, semenjak menikmati sambal buatan Laura yang tidak terlalu pedas, tapi enak, membuatnya seperti ketagihan dan menyukai makan hanya dengan masih hangat diberi sambal serta lauk.
Ana saat ini mengerutkan kening karena tidak biasanya sang suami menyukai sesuatu yang tegas dan membuatnya merasa aneh. Namun, ia tidak ingin membuat sang suami merasa ilfil karena terus-menerus dicurigai olehnya.
"Aku sudah sembuh dan bisa memasak untukmu. Memangnya kamu ingin makan sambal apa? Ada banyak jenis sambal. Mulai dari sambal terasi, teri, sambal ijo, sambal matah, sambal geprek dan masih banyak lagi yang lain dan tidak bisa kusebutkan." Ana kini tengah mencari jawaban dari sang suami untuk membuatkan makanan yang disukai.
Karena tidak ingin memutuskan, Christian hanya ingin membuat Ana memasak sesuatu yang ia bisa. "Terserah kamu membuat sambal apapun, pasti akan menikmatinya dengan lahap karena masakanmu adalah paling enak sedunia."
Christian mengangkat dua ibu jari untuk memuji sang istri agar semangat memasak karena ia tahu jika wanita di hadapannya tersebut akan selalu bersemangat ketika mendapatkan pujian dari masakannya.
Ana yang saat ini masih menikmati makanannya, hanya terkekeh geli mendengar pujian dari sang suami. Ia hari ini merasa jika ia di hadapannya tersebut sangat lebay karena terlalu banyak memuji setelah lama tidak bertemu.
"Dasar, suami kalau ada maunya pasti banyak memuji istri. Baiklah, karena kamu pulang, aku akan spesial memasak makanan lezat untukmu. Aku akan menyuruh pelayan untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan." Kemudian Ana mengirimkan pesan pada pelayan untuk berbelanja bahan yang tidak ada di kulkas.
Kini, ia menuliskan beberapa bahan yang perlu dibeli untuk memasak sore ini.
Christian yang saat ini merasa senang karena bisa menikmati masakan sang istri berupa sambal dan ingin membandingkannya dengan buatan Laura.
'Kira-kira manakah yang lebih enak dari masakan Ana dan Laura ketika membuat sambal? Nanti aku akan memintanya membuat sambal seperti yang dibuat Laura agar bisa membandingkan mereka,' gumam Christian yang ingin selalu membandingkan semua hal dari dua istrinya.
Seolah ingin membandingkan mana yang paling spesial di antara keduanya, hanya menjadi sebuah hal yang tak lain adalah sebuah rasa penasaran. Ia tetap mencintai dua istrinya tanpa ingin membeda-bedakan ataupun membandingkan mereka.
Hanya saja, jiwa kelelakiannya ingin mengetahui jawaban ketika ia ingin tahu kelebihan dua istrinya tersebut. 'Aku sekarang ingin sekali membandingkan antara Ana dan Laura. Manakah di antara mereka yang mempunyai nilai paling banyak dari kelebihan masing-masing.'
Ia saat ini melihat sang istri yang mengetik sesuatu. "Memangnya bahan-bahannya tidak ada di rumah, Sayang?"
Ana seketika menggilingkan kepala karena memang tidak ada cabe hijau di kulkas. "Aku hari ini ingin membuatkan sambal ijo untukmu serta menggoreng bebek karena pasti sangat enak, tapi di kulkas hanya ada cabe merah."
Wajah Christian ketika berpindah ketika membayangkan menikmati masakan Ana. "Wah ... pasti akan sangat lezat dan aku sudah tidak sabar ingin menikmatinya. Nanti aku akan membantumu di dapur."
"Tidak perlu. Kamu istirahat saja di kamar. Nanti setelah selesai memasak dan siap semuanya, aku akan memanggilmu. Lagipula ada pelayan yang bisa membantuku. Kamu baru saja melakukan perjalanan jauh dan pasti sangat lelah. Jadi, istirahat saja di dalam kamar." Ana tidak ingin sang suami kelelahan, agar nanti malam bisa kembali melanjutkan ronde kedua dan kini mengedipkan mata.
"Bukankah nanti malam kita lanjut ronde kedua? Jika kamu sudah lelah karena membantuku memasak, mana bisa kita menikmati malam liar untuk ronde kedua?" Ana bahkan saat ini terkait geli melihat sang suami yang langsung mengangkat ibu jari.
__ADS_1
Ia ingin memuaskan hasrat yang terpendam selama ini karena sudah lama ditinggalkan oleh sang suami yang harus tinggal di luar negeri untuk sementara waktu.
"Mau ronde berapapun, kujabanin, Sayang." Christian merasa berlagak dan sok kuat di depan sang istri. Padahal Sebenarnya ia sangat lelah karena tenaganya sudah terkuras habis satu minggu belakangan ini untuk menebarkan benih di rahim Laura
Namun, tidak mungkin ia mengatakan hal itu pada Ana dengan mengatakan lelah bekerja. Apalagi ia hanya berada di Jakarta selama satu minggu dan kembali lagi ke Bandung 3 minggu.
Itulah rencananya selama 1 tahun ke depan dan berharap apa yang ia susun matang-matang berakhir dengan sesuatu yang indah, ya itu Laura hamil dan melahirkan keturunannya.
'Satu tahun aku Akan bertahan dengan situasi yang seperti ini dan semoga doa istriku tidak merasa curiga. Setelah Laura memberikanku keturunan, aku baru akan memikirkan selanjutnya pada dua istriku.' Christian saat ini merasa bahwa dirinya adalah seorang pria yang jahat karena memanfaatkan dua wanita yang sama-sama mencintainya.
Hanya saja, ia merasa bahwa takdirlah yang membuatnya menjadi seorang pria berengsek seperti ini. 'Jika Ana sudah lama memberikanku anak, tidak mungkin aku berakhir menikah dengan wanita lain.'
'*Apalagi takdir mendorongku untuk bertemu dengan Laura di New York serta pesawat dan berakhir melihatnya kecelakaan hingga kehilangan ingatan tanpa memiliki siapapun di sekitarnya. Salahkah aku melakukan semua ini? Bahkan para pria yang memiliki istri lebih dari satu bisa melakukannya.'
'Aku pun juga bisa karena anak belum memberikanku keturunan setelah menikah selama lebih dari 10 tahun*,' gumam Christian yang berusaha untuk membenarkan diri sendiri dan tidak ingin disalahkan karena menikahi Laura dengan niat untuk memiliki keturunan.
Ia tidak ingin menuruti keinginan Ana untuk menyewa rahim seorang wanita dan membiarkan benihnya tumbuh di rahim wanita yang sama sekali tidak dicintai.
'Rasanya sangat aneh jika melakukan itu karena bagiku jauh lebih baik untuk mendapatkan buah hati dari wanita yang dicintai. Karena rasanya akan jauh lebih berbeda ketika mendapatkan anak dari istri yang dicintai. Karena kamu tidak bisa memenuhi keinginanku, membuatku melakukan ini dan semoga kamu tidak murka suatu saat nanti begitu mengetahuinya.'
Ada banyak hal yang dipikirkan oleh Christian saat ini untuk rencana kedepannya bagi dua wanita yang sama-sama dicintai dan serakah Ingin dimiliki selamanya.
Ana yang saat ini baru selesai mengirimkan pesan pada pelayan agar segera membeli apa yang dibutuhkan, benda pipih di tangannya tersebut ke dalam tas dan kembali menikmati makanannya yang sudah dingin dan menurutnya tidak lezat lagi.
Akhirnya ia tidak menghabiskannya karena sudah tidak nikmat seperti saat panas. "Aku kenyang, Sayang. Kita pulang sekarang atau pergi ke mana dulu? Oh ya, kamu pasti membelikan aku oleh-oleh dari New York, bukan? Atau kamu juga membawakan makanan khas sana?"
Christian seketika menggelengkan kepala karena dia tidak membeli makanan. "Hanya ada beberapa souvenir beserta pakaian dan tas saja, Sayang. Karena sibuk, aku tidak sempat pergi berbelanja makanan."
Ana yang sudah merasa senang karena sang suami selalu saja membelikan oleh-oleh ketika pulang dari perjalanan bisnis. "Tidak masalah, Sayang. Aku bahkan sudah merasa senang karena kamu selalu mengingat untuk membelikan aku sesuatu."
"Iya, Sayang. Memang Itu adalah sebuah hal yang harus dilakukan saat pulang dari luar negeri agar istri senang dan bahagia." Christian saat ini beralih memikirkan Laura karena tidak mungkin ia pulang tanpa memberikan oleh-oleh seperti pada Ana.
Kini, ia mengingat sang ibu yang sempat berbicara dengan Laura. 'Aku akan berbicara dengan mama agar membelikan oleh-oleh berupa tas sepatu dan pakaian seperti yang kubelikan untuk Ana. Biar dikirimkan ke tempat Vicky agar aku sempat membawanya ketika pulang ke Bandung.'
Ketika Christian sibuk memikirkan oleh-oleh untuk Laura, berbeda dengan Ana yang sangat bahagia ketika senang mendapatkan oleh-oleh dari sang suami.
"Ayo, kita pulang sekarang karena aku sudah tidak sabar membuka oleh-oleh darimu." Ana bangkit berdiri dari kursi dan melihat sang suami melakukan hal sama.
"Baiklah, kita pulang sekarang, Sayang. Seperti yang kamu bilang, aku benar-benar lelah dan ingin beristirahat." Kemudian berbisik di dekat daun telinga sang istri yang berjalan menuju ke arah pintu keluar berapa pedagang bakso tersebut.
"Apalagi tadi kamu langsung menghajarku habis-habisan ketika baru pulang. Aku benar-benar sangat lelah setelah berhasil memuaskanmu hingga mencapai ******* berkali-kali tanpa ada ejekan lemah saat baru pulang dari perjalanan bisnis." Christian membuka pintu untuk sang istri yang terkekeh geli mendengar kalimat vulgar yang baru saja diungkapkan.
__ADS_1
Ana saat ini masuk ke dalam mobil dan begitu melihat sang suami duduk di balik kemudi, ia memberikan sebuah cubitan pada tangan kirinya. "Salah sendiri meninggalkanku terlalu lama di sini."
"Aku sangat merindukanmu dan karena kamu pancing tadi dengan menciumku, tentu saja membuatku tidak tahan dan langsung beraksi membuatmu melenguh panjang di dalam ruangan. Tidak usah berlagak mengejekku, kamu sendiri pun sangat menyukainya." Ana akan saat ini menatap ke arah sesuatu yang tadi memenuhi mulutnya.
Christian yang saat ini baru saja menyalakan mesin mobil, mengerti arah tatapan dari sang istri yang sangat nakal dan geleng-geleng kepala. "Dasar istri mesum!"
"Biarin! Mending mesum pada suami sendiri daripada suami orang atau berondong. Aah ... kira-kira jika aku menggoda berondong, apa mereka tertarik? Bukankah Vicky terbilang masih muda dan tidak punya wanita yang spesial?" Terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri.
"Jika aku menginginkannya, apa ia akan menolakku atau menerima?" Sengaja Ana ingin mendengar pendapat dari sang suami yang pastinya akan sangat kesal seperti beberapa saat lalu dan membuatnya senang melihat kecemburuan dari pria yang sangat dicintainya tersebut.
Tadi Christian sudah membahas hal itu dengan Vicky karena melihat kedekatan di antara mereka, sehingga saat ini berpikir bahwa ucapan Ana adalah sesuatu yang tidak pantas diucapkan oleh seorang istri di depan suami dan membuatnya benar-benar kesal.
"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, Ana!" sarkas Christian yang tiba-tiba berubah mood menjadi buruk.
Ana yang saat ini melihat tatapan tajam dari pria di balik kemudi tersebut, mengerti jika sang suami sangat marah padanya. "Maafkan aku, Sayang. Aku ngajak bercandra dan tidak bermaksud apa-apa. Aku sangat mencintaimu dan tidak mungkin berpaling pada asisten pribadimu itu."
"Apalagi kamu jauh lebih sempurna daripada Vicky. Jadi, jangan berpikir bahwa aku akan tertarik padanya meskipun sering bekerja dengannya." Ana lembut lengan kekar sang suami agar tidak marah lagi.
Ia merutuki kebodohannya sendiri ketika keceplosan saat berbicara hal konyol yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya dan hanya berniat untuk bercanda saja, tapi malah berakhir mendapatkan kemurkaan dari sang suami.
Christian yang saat ini melajukan kendaraan meninggalkan area pedagang bakso beranak tersebut, kini kembali berbicara untuk membuat sang istri tidak lagi berbicara macam-macam.
"Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu karena kalimat adalah doa. Jika sampai kalimat yang kamu ucapkan menjadi kenyataan, apakah kamu merasa senang berpisah denganku dan memilih Vicky?" Ia bahkan membayangkan Ana pergi darinya saja membuatnya merasa sesak.
Apalagi saat membayangkan jika sang istri berselingkuh dengan orang yang dipercaya. Meskipun ia diam-diam menikahi Laura dan menipu Ana, tapi jiwa keserakahannya menguasai diri dan tidak ingin kehilangan wanita itu.
Ia tidak bisa terima jika Ana berselingkuh dengan Vicky. Mungkin akan benar-benar menghabisi Vicky jika itu sampai terjadi. "Aku akan membunuh Vicky jika sampai kamu berani berselingkuh dengannya."
Ana menelan saliva dengan kasar dan sibuk menyalahkan diri sendiri, akibat candaannya, membuat sang suami berbicara hal paling menakutkan sepanjang sejarah hidupnya.
'Dasar bodoh! Kenapa aku bisa berbicara hal sekonyol itu? Aku hanya berniat untuk bercanda saja, tapi malah membuat suamiku berpikir serius. Jika sampai suamiku berbuat macam-macam seperti yang dikatakannya, hidup kami akan hancur berantakan.'
Meskipun tidak ada di pikiran Ana, untuk berselingkuh dengan Vicky, tapi saat ini malah membayangkan jika sang suami benar-benar menghabisi asisten pribadinya hanya gara-gara kecemburuan.
'Semoga suamiku tidak curiga pada Vicky karena kami tidak ada hubungan apapun. Jika sampai suamiku membunuh Vicky dan berakhir di penjara, lalu apa yang kudapatkan? Dasar mulut tidak tahu diri!' umpat Ana yang saat ini sibuk menyalahkan diri sendiri karena sangat ceroboh ketika keceplosan berbicara hal konyol.
Sementara itu di sisi lain, Christian bahkan saat ini sudah berpikir macam-macam ketika Ana tidak sengaja berbicara seperti itu dan membuatnya merasa khawatir jika benar-benar terjadi.
'Tidak, Ana tidak akan pernah mengkhianatiku. Ia sangat mencintaiku dan tidak akan tertarik pada pria lain. Aku memang menduakannya, itu tidak berarti ia bisa menduakanku. Aku memang egois dan tidak ingin siapapun memiliki Ana dan juga Laura,' gumam Christian yang saat ini menyadari bahwa dirinya benar-benar serakah karena menginginkan dua wanita.
To be continued...
__ADS_1