
Laura berapa saat lalu baru masuk ke dalam mobil setelah membeli buah anggur kesukaannya dan buah apel yang diminta oleh Mario, mengerutkan kening saat melihat pria itu berbicara di telpon.
Ia berpikir bahwa saat ini Mario tengah berbicara dengan pengawal yang mengikuti Ana Maria yang pergi bersama dengan putranya, seketika memerintahkan untuk mengaktifkan loudspeaker agar bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
Hingga degup jantungnya seketika berdetak kencang begitu mengetahui semua hal yang baru saja diceritakan oleh pengawal yang disuruhnya untuk membuntuti Ana Maria.
Bahkan ia merasa bahwa saat ini merupakan kesempatan yang sangat menguntungkan dan membuatnya seketika membuka suara untuk memberikan titahnya.
"Cepat lakukan perintahku!" sarkas Laura yang saat ini tidak sabar ingin bertemu dengan putranya yang tengah berada di gendongan pengawalnya.
Hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya akan menculik putra sendiri, tapi berpikir bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk bisa menemui putranya yang sudah lama sangat dirindukan.
Sementara di sisi lain, Mario mengembuskan napas kasar dan memijat pelipis karena wanita yang berada di sebelahnya tersebut kembali mengulangi kesalahan dan tidak menepati janji yang baru saja diucapkan.
Bahwa beberapa saat yang lalu berjanji tidak akan berbuat hal ceroboh, tetapi sekarang malah semakin gila karena berniat untuk menculik. Meskipun faktanya adalah anak itu merupakan putranya, tetap saja di mata hukum tidak ada bukti mengenai Laura yang merupakan ibu kandungnya.
"Anastasya, jangan gegabah dengan melakukan itu. Kau bisa mendapatkan masalah jika melakukan itu!" Mario saat ini masih berusaha untuk menghentikan kegilaan Laura agar tidak berbuat sesuka hati.
"Aku tidak perduli karena hanya ingin melihat putraku yang sangat kurindukan selama 1 tahun ini. Aku yang mengandung 9 bulan dan melahirkannya, Mario. Aku sangat merindukannya dan ingin melihat putraku!" Laura yang saat ini tidak memperdulikan hal lain selain bisa bertemu dengan putranya, berharap Mario bisa mengerti perasaannya saat ini.
Hingga ia mendengar suara dari seberang telepon dan membuatnya bersitatap dengan pria dibalik kemudian tersebut.
"Wanita itu saat ini masih tak kunjung sadar meskipun sudah diberikan minyak angin dan salah satu sebab di pusat perbelanjaan ini memutuskan untuk membawa ke Rumah Sakit karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk, Nona Anastasya." Ia awalnya merasa terkejut dengan perintah dari majikannya, tapi begitu melihat ada kesempatan, sehingga langsung mengungkapkannya.
__ADS_1
"Saya akan beralasan untuk mengikuti mobil dari belakang dengan menggendong anak ini yang masih sibuk menikmati coklat. Kalau begitu, saya butuh telponnya dulu karena saat ini wanita itu sudah mulai dibawa pergi keluar dari Mall."
Laura yang belum sempat menanggapi perkataan pria di seberang telpon tersebut, kini merasa sangat kesal dan langsung merebut ponsel Mario dan memilih untuk mengetik pesan agar dibaca.
Ia mengajak bertemu di salah satu restoran favoritnya. Kemudian menatap ke arah Mario. "Putar balik! Kita restoran sekarang."
Mario yang kini tidak ada pilihan lain selain patung pada perintah wanita yang kini berubah menjadi Laura lagi, akhirnya menyalakan mesin mobil dan putar balik ke Jakarta.
"Kamu sendiri yang berjanji dan kamu sendiri yang mengingkarinya, Laura!" Ia sengaja menyindir dengan tidak memanggil Anastasya karena merasa bahwa wanita di sebelahnya tersebut sudah kembali lemah saat berhubungan dengan segala sesuatu tentang putranya.
Namun, ia berusaha untuk mengerti bagaimana perasaan seorang ibu yang sangat merindukan putranya. "Baiklah. Kali ini aku akan berusaha memakluminya, tapi tidak ada lain kali, Laura. Kita akan menghadapi masalah besar, tapi aku akan tetap mencari jalan keluar dengan selalu berada di sisimu."
Laura yang saat ini merasa sangat gelisah, tegang sekaligus senang karena membayangkan jika sebentar lagi bisa menemui putranya yang dilahirkan, menoleh sekilas pada Mario untuk mengungkapkan penyesalan.
Saat pertama kali mendapatkan sentuhan fisik dari Laura, tentu saja membuat perasaan Mario benar-benar kalang kabut tidak karuan. Bagaimana mungkin ia bisa tenang saat wanita yang dicintai mengusap lengannya hanya untuk mengucapkan terima kasih.
Meskipun hanyalah sebuah ungkapan rasa terima kasih, tetap saja membuatnya gugup karena selama ini tidak pernah dekat dengan seorang wanita dan berinteraksi seintim itu.
Namun, ia berusaha untuk menyembunyikan apa yang dirasakan saat ini dan bersikap tenang agar tidak ketahuan seperti orang yang bodoh karena mendapatkan sentuhan dari wanita yang dicintai.
"Tidak perlu membahas itu karena yang terpenting saat ini adalah perasaanmu dan siapkan mentalmu saat melihat putramu untuk pertama kali hari ini." Ia merasa seperti seorang pria paling bijak yang berhasil menyembunyikan kegugupannya dari Laura.
Apalagi respon dari wanita yang duduk di sebelahnya tersebut membuatnya merasa sangat mudah karena sudah berkaca-kaca dan suara serak terdengar lolos dari bibirnya.
__ADS_1
"Ya, kau benar, Mario. Aku benar-benar sangat bahagia karena sebentar lagi bisa bertemu dengan putraku." Kemudian menunjukkan telapak tangannya yang gemetar karena efek memikirkan putranya yang sebentar lagi bisa dilihat secara langsung, bukan foto lagi seperti beberapa saat lalu.
"Aku sampai seperti ini, Mario. Aku benar-benar sangat senang sekaligus gugup saat pertama kali akan melihat putraku. Apa dia akan takut padaku karena tidak pernah melihatku? Ataukah ada ikatan batin di antara kami dan dia langsung luluh padaku yang merupakan ibu kandungnya?" Ia tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Namun, satu hal yang pasti adalah ia berpikir bisa meluluhkan hati putranya yang telah dikandung selama 9 bulan lebih dan butuh perjuangan ketika melahirkannya.
"Valerio, putraku, Mama datang, Sayang. Selama ini kamu dibesarkan oleh mama palsu dan akulah Mama aslinya." Laura yang saat ini berusaha untuk menormalkan perasaannya karena dikuasai oleh rasa hukum luar biasa saat membayangkan bisa menggendong dan memeluk serta mencium putra yang telah satu tahun terpisah dengannya.
Hingga ia ya saat ini masih memegang ponsel milik Mario di tangannya, kembali mendengar suara notifikasi dan langsung membacanya karena merasa yakin jika itu adalah pesan dari orang suruhannya.
"Apa dia membalas pesanmu?" tanya Mario yang saat ini menunggu kabar dari pengawal dan merasa penasaran.
Refleks Laura membacakan pesan dari pengawal. "Saya sudah berhasil meninggalkan mobil yang membawa wanita itu ke rumah sakit dan sekarang menuju ke restoran."
Sebenarnya Laura ingin sekali menelpon pengawal untuk menanyakan apakah putranya masih tidak menangis, tapi mengurungkan niatnya karena berpikir bahwa akan mengganggu konsentrasi mengemudi pengawal dan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk seperti kecelakaan.
Ia membalas oke dan ini fokus menatap ke arah jalanan. "Tambah kecepatannya, Mario! Kenapa kau mengemudi dengan sangat lambat? Aku ingin segera bertemu dengan putraku."
Mario hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Laura yang seperti dibutakan oleh keinginan bertemu dengan putranya. "Jika sampai kita akan mengalami kecelakaan, justru kamu tidak bisa melihat putramu."
"Jadi, diam saja dan tenanglah karena putramu tidak akan kabur. Kita pasti akan sampai tanpa membahayakan nyawa dengan mengebut karena ketidaksabaranmu." Kemudian melirik sekilas pada Laura yang saat ini kita diam dan tidak membantah lagi perkataannya.
'Laura ... Laura, dengan mudahnya engkau berubah seperti bunglon saja saat berhubungan dengan putramu,' gumam Mario yang saat ini fokus pada jalanan yang dilalui.
__ADS_1
To be continued....