
Christian langsung melaporkan kejadian hilangnya putranya pada polisi dan bersama-sama menuju ke arah Mall untuk memeriksa CCTV. Ia bahkan berniat untuk membuat pengumuman di media sosial dan surat kabar tentang kabar buruk hilangnya Valerio.
Kini, ia dan dua polisi serta manager Mall menuju ke arah ruangan kontrol yang menunjukkan rekaman kejadian hari ini.
Christian saat ini fokus menatap ke arah layar yang menampilkan seorang pria berseragam hitam dengan memakai masker mengawasi istrinya yang tengah mendorong troli.
Bahkan makin mendekat dan sempat bertanya begitu mengetahui Ana memijat pelipis dan beberapa saat kemudian jatuh terhuyung ke belakang kehilangan kesadaran.
"Tolong zoom wajah penculik itu!" Christian yang merasa tidak asing dengan seragam hitam pria itu, kini makin berkonsentrasi untuk menajamkan indra penglihatannya agar bisa lebih jelas melihat siapa penculik putranya.
Salah tahu polisi yang juga tengah menatap ke arah layar, kini menoleh ke arah pria yang terlihat dipenuhi oleh kekhawatiran karena kehilangan putranya.
__ADS_1
"Apa Anda mengenal pria itu? Sepertinya pria itu sudah dari awal membuntuti istri dan putra Anda. Terbukti begitu melihat ada celah kesempatan, langsung beraksi dan memilih untuk fokus pada putra Anda. Mungkin pria itu mengenal istri dan putra Anda, sehingga berniat untuk meminta uang tebusan."
Christian yang dari tadi fokus untuk mengingat-ingat seragam pria berwarna hitam itu, kini mengingat satu kejadian saat ia keluar dari perusahaan Prameswari saat terburu-buru.
'Pria itu? Bukankah pria itu tadi di depan lobi Perusahaan Prameswari? Apa orang-orang yang merupakan anak buah si bodoh itu yang menculik putraku? Sialan! Aku benar-benar akan menghabisi Andika Syaputra jika benar dia yang menculik putraku.'
Lamunan Christian seketika buyar begitu merasakan sebuah tepukan di pundaknya dari pria berseragam coklat itu.
"Tuan Christian? Apa yang Anda pikirkan? Apa Anda mengenal pria yang menculik putra Anda?" tanya polisi yang kini curiga jika pria itu mengenal sang penculik.
"Saya tadi berusaha untuk mencari tahu wajah di balik masker itu mirip dengan seseorang yang saya kenal atau tidak, tapi ternyata tidak. Tolong cari penculik putra saya tanpa melibatkan awak media terlebih dahulu karena siapa tahu dia menghubungi dan meminta uang tebusan."
__ADS_1
Christian mencoba untuk mengalihkan kecurigaan polisi atas pengakuannya agar ia bisa menyelesaikan secara langsung dengan Andika Syaputra yang diduga sebagai dalang dibalik penculikan putranya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak Polisi. Saya serahkan semuanya pada pihak berwajib dan saya harus kembali ke Rumah Sakit untuk memeriksa keadaan istri saya." Christian kini membungkuk hormat dan begitu melihat para polisi serta manager pusat perbelanjaan itu mengiyakan, langsung berbalik badan menuju ke arah pintu keluar.
Ia tahu jika para polisi masih memeriksa di sana dan tidak mungkin ia berlama-lama karena ingin segera menemui secara langsung Andika Syaputra.
"Aku menelpon di mobil saja karena jika di sini, akan terekam CCTV." Ia terus berjalan keluar menuju ke parkiran setelah turun ke lantai dasar.
Hingga ia yang langsung duduk di kursi mobil, berniat untuk menelpon Andika Syaputra yang dicurigainya adalah orang dibalik penculikan putranya.
"Aku akan menghabisimu, pria bodoh! Pasti kau dendam padaku karena tadi berniat untuk menjual sahamku pada Laura. Bisa-bisanya kau memakai cara licik seperti ini," sarkas Christian yang kini tengah mencari kontak Andika Syaputra yang diketahuinya telah berhasil disingkirkan dengan mudah oleh Laura.
__ADS_1
"Dia tidak akan bisa mengelak setelah aku menunjukkan foto pengawalnya yang menculik putraku," sarkasnya dengan wajah memerah.
To be continued...