
Sementara itu di sisi lain, Christian yang saat ini tengah mengemudikan mobilnya menuju ke Rumah Sakit, kini sudah hampir tiba. Namun, begitu melihat ada telpon dari sang asisten, berpikir jika ada hal yang penting. Jadi, langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara keluh kesah Vicky yang sekaligus membuatnya merasa sangat kebingungan.
"Apa katamu? Ana bersikukuh untuk melihat Valerio? Masalah apa lagi ini?" sarkas Christian yang saat ini merasa sangat frustasi dan bingung harus bagaimana.
Kebetulan ia saat ini baru saja tiba di Rumah Sakit dan sudah memarkirkan mobilnya di parkiran. "Jangan berikan ponsel padanya. Biar aku yang langsung berbicara dengannya. Aku sudah tiba di parkiran." Mematikan sambungan telpon tanpa menunggu Vicky berbicara.
Tanpa membuang waktu, kini Christian langsung turun dari mobil setelah membuka sabuk pengaman. Ia bahkan saat ini sedikit berlari sambil menelpon kontak Mario karena harus membicarakan masalah putranya dan keinginan Ana.
"Semoga dia mau mengangkat telpon," ucapnya sambil menunggu dan masuk ke dalam lift.
Namun, panggilannya tidak kunjung diangkat sampai ia tiba di lantai ruangan kamar Ana. "Sialan! Pria itu benar-benar berengsek. Ini darurat, tapi dia tidak menjawab telponnya. Seandainya aku punya nomor Laura, mana mungkin menghubunginya."
Christian saat ini berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dan langsung bisa melihat lambaian tangan dari Vicky.
"Ya Allah, Tuan Christian. Untung Anda segera datang. Rasanya saya sudah tidak kuat bekerja untuk Anda. Saya resign saja, Presdir." Vicky yang dari tadi benar-benar sangat kebingungan mendapatkan perintah dari Ana Maria, akhirnya merasa sangat lega melihat suami wanita itu.
Bahkan saat ini merasa seperti seseorang yang baru saja keluar dari hukuman gantung. Rasa lega seketika menyeruak di dalam dirinya saat ini dan berniat untuk segera pergi dari hadapan atasannya tersebut.
Ia benar-benar merasa sesak berada di ruangan perawatan begitu Ana Maria sadar dan langsung bertanya mengenai Valerio. Namun, saat baru saja mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan, seketika meringis kesakitan karena mendapat sebuah pukulan di lengannya.
"Bicara apa kau ini? Sudah! Jangan ngelantur! Ayo, sekarang kita masuk ke dalam untuk menghadapi Ana." Christian sebenarnya tidak tahu apakah bisa menghentikan keinginan Ana, tapi berpikir jika ditemani oleh Vicky, sedikit merasa lega karena merasa ada teman dan bisa menolongnya sewaktu-waktu.
Christian yang berniat untuk segera pergi dari Rumah Sakit, kini membulatkan mata karena lengannya sudah ditarik oleh bosnya tersebut menuju ke arah ruangan Ana Maria.
"Presdir, saya serius ingin resign dari pekerjaan ini. Kenapa Anda mengajak saya dan melibatkan ke dalam masalah? Saya tidak ingin berada di antara kalian karena rasanya seperti berdiri di tepi jurang curam yang sewaktu-waktu bisa jatuh."
Vicky berusaha untuk melepaskan tangannya dari kuasa bosnya yang masih menariknya.
"Tidak apa-apa, sekalian kita mati bersama-sama!" sarkas Christian yang sama sekali tidak memperdulikan keinginan asistennya dan tetap mengajak ke ruangan. "Nanti kau diam saja dan hanya menjawab saat kutanya."
Ia kini mengambil napas teratur setelah tiba di depan ruangan sang istri. Kemudian menatap ke arah Vicky dan memberikan kode untuk bersama-sama masuk ke dalam.
Karena tidak ada pilihan lain, Vicky pun berjalan mengekor atasannya meskipun sangat kesal atas perkataan konyol dari bosnya tersebut. Benar apa yang dipikirkan, ia langsung mendapatkan omelan dari sosok wanita yang masih berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Hanya meminjam ponsel dari perawat saja sangat lama! Apa yang kau lakukan sebenarnya?" sarkas Ana begitu melihat pintu terbuka.
Tadinya ia berpikir jika yang masuk adalah Vicky, sehingga meluapkan emosinya karena dari tadi menunggu cukup lama asistennya itu kembali. Namun, begitu melihat sang suami juga ada, ia merasa sangat lega.
"Sayang, syukurlah kamu kembali. Bagaimana dengan putra kita? Valerio baik-baik saja, kan?" tanya Ana yang saat ini sedikit merasa lega karena berpikir jika sang suami bisa menenangkan perasaannya yang sangat mengkhawatirkan keadaan putranya.
Sepenjang menunggu di ruangan sendirian tadi, beragam pikiran buruk melenda dan membuatnya tidak bisa tenang. Hingga ia pun kini makin lega begitu mendengar sang suami datang mendekat dan mencium keningnya.
"Tentu saja putra kita baik-baik saja, Sayang. Tenanglah dan jangan memikirkan keadaan putra kita karena saat ini bersama dengan mama dan perawat. Bahkan aku sudah menyuruh pelayan untuk membawakan semua mainan dan membelikan banyak coklat serta es krim agar tidak menangis."
Hal paling konyol yang dilakukan oleh Christian adalah mengarang sebuah kebohongan yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan dari tadi. Namun, begitu mendapat pertanyaan Ana, seketika otaknya bekerja dan yang tadinya tumpul, kini seperti langsung diasah.
Jadi, bisa dengan mudah berbohong di depan sang istri. Ia yang tadi bisa mengerti posisi asistennya yang serba salah hingga berniat untuk mengundurkan diri, sebenarnya membuatnya putus asa.
Karena selama ini merasa selalu nyaman menceritakan tentang semua masalahnya pada Vicky karena menganggap teman sekaligus saudara sendiri.
Jadi, ia benar-benar bingung dan hanya menanggapinya dengan bercanda. Menganggap jika permohonan untuk mengundurkan diri hanyalah sebuah candaan semata karena ia tidak mau mencari orang baru yang pastinya tidak akan pernah bisa seperti Vicky.
agar bisa melihat putra kita."
"Lalu aku mengobrol sebentar dengannya dan melarangnya meminjam pada perawat karena aku sudah datang. Lalu membahas mengenai keinginanmu yang ingin melihat Valerio. Padahal sekarang ada bersama mama. Kamu tahu sendiri, kan jika mama sangat sensitif. Jika kamu menelpon dan ingin melihat Valerio, pasti mama berpikir kamu tidak percaya."
Ia memberikan sebuah kode agar Vicky menyambung perkataannya yang panjang kali lebar hingga membuat mulutnya berbuih. Berharap asistennya mengeluarkan kecerdasan otaknya.
Vicky yang tadinya sudah memantapkan hati untuk resign, tapi mendengar penjelasan dari bosnya yang mencoba untuk menyematkannya, sehingga kini berpikir untuk bisa mengimbangi akting tersebut.
Ia kini menganggukkan kepala dan beralih menatap ke arah sosok wanita di atas ranjang tersebut. "Tadi saya bilang bahwa mungkin nyonya Renita akan merasa kesal karena seperti tidak dipercaya merawat cucunya. Jadi, kami tadi di luar lama karena membahas itu, Nona Ana."
Vicky benar-benar merasa seperti bebannya terangkat seketika begitu mengimbangi kebohongan bosnya yang benar-benar menyelematkan dari kemurkaan wanita yang terlihat tengah terdiam itu.
Bahkan ia sekarang melihat ada keraguan di mata Ana dan kini beralih pada bosnya. "Sebaiknya Anda dan nona Ana rundingan dulu harus bagaimana baiknya. Saya akan menunggu di luar karena tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga Anda."
Christian kini langsung menepuk pundak kokoh Vicky dan tersenyum simpul. "Pergilah ke kantin untuk makan dulu. Aku akan bicara dengan Ana untuk membahas mengenai ini."
__ADS_1
"Iya, Tuan. Apa Anda ingin titip sesuatu?" tanya Vicky yang sebenarnya merasa sangat konyol atas apa yang saat ini ditanyakan.
Padahal tadi ia sangat malas berinteraksi dengan bosnya tersebut dan memilih untuk bertekad pergi saja, tapi sekarang malah seperti tidak pernah terjadi sesuatu saja.
'Sepertinya aku pantas untuk jadi aktor karena benar-benar bisa berakting di depan nona Ana dan tuan Christian. Bisa-bisanya aku menawarkan sesuatu saat sedang marah dan kesal padanya,' gumam Vicky yang kini melihat respon dari bosnya.
Karena tidak ingin membuat asistennya yang tidak betah dari tadi, refleks Christian langsung menggelengkan kepala. "Aku tidak nafsu makan. Kamu saja dan tidak perlu membelikan apa-apa. Bagaimana aku bisa nafsu makan saat melihat istriku sakit?"
"Iya. Maafkan saya, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu." Lalu membungkuk hormat pada sosok wanita di hadapannya. "Saya pergi dulu, Nona Ana."
Ana yang merasa bersalah melihat sang suami merasa kebingungan, kini hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Baiklah. Sekalian kamu pulang saja untuk beristirahat. Terima kasih sudah menjagaku hari ini."
"Tidak perlu berterima kasih, Nona Ana. Itu sudah menjadi tugas saya. Semoga Anda cepat sembuh dan tuan Christian selalu diberikan kesehatan." Kemudian berlalu pergi dari ruangan yang membuatnya dari tadi ingin segera berlari kabur.
'Akhirnya aku bebas,' gumamnya begitu berada di luar ruangan dan berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit.
"Aku tidak jadi resign berarti ini karena tuan Christian sama sekali tidak menanggapinya tadi dan malah berkata konyol ingin mati bersama. Memangnya kami pasangan, apa! Hingga bisa sehidup semati." Saat mengingat tanggapan dari bosnya tadi dengan wajah datar, Vicky kini terkekeh geli.
Semua hal random ditunjukkan oleh bosnya dan ia bahkan mengetahui semua rahasia pria itu. Hingga ia pun merasa seperti kakak beradik yang tidak punya rahasia.
"Semoga tuan Christian bisa menghentikan nona Ana. Sebenarnya kasihan sekali, tapi lebih kasihan aku yang tidak tahu apa-apa ikut terseret dan merasakan sikap nona Ana yang membuat jantung serasa mau meledak," seru Vicky yang saat ini masuk ke dalam lift.
Hingga ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan membuatnya menyesal karena barusan merasa kasihan pada bosnya begitu membaca pesan berupa sebuah perintah.
Datang ke tempat pria bernama Mario dan ceritakan apa yang diinginkan Ana. Mungkin hari ini aku bisa menghindar, tapi tidak untuk besok karena aku tahu seperti apa Ana Maria. Suruh Mario bilang pada Laura agar membantu mencari sebuah solusi agar bisa melakukan video call untuk melihat Valerio.
Vicky yang saat ini memijat pelipis karena merasa jika ia kali ini harus lembur lagi untuk menyelesaikan masalah bosnya, kembali mengumpat.
"Kalau tahu begini, harusnya tadi aku diam saja mendengarkan mereka berbicara. Tugas berat ini benar-benar akan membuatku kembali serasa gantung diri saja. Apa pria itu mau berbicara denganku?" Mengacak frustasi rambutnya untuk melampiaskan kekesalan.
Vicky yang baru saja keluar dari lift, kini langsung berjalan menuju ke parkiran untuk mencari informasi mengenai pria yang tak lain adalah asisten istri siri bosnya tersebut.
To be continued...
__ADS_1