
Laura sudah sampai di apartemen dan ia langsung menghubungi teman-temannya agar segera pergi dari Club karena khawatir jika Christian akan mencari informasi mengenai dirinya.
Ia tidak ingin pria yang tadi membuatnya merasakan ciuman pertama itu terlibat kesalahpahaman dengan beberapa pengawal yang selama ini menjaganya dah dilaporkan pada sang paman.
Laura berpikir jika ia nanti akan merasa bersalah jika sampai pria yang dicintainya terlibat masalah. "Maafkan aku, Christian. Kamu pasti sangat marah padaku, kan?"
"Aku bahkan pergi tanpa pamit atau pun meninggalkan pesan padamu." Alesha kini mendapat notifikasi dari ponsel miliknya dan membaca pesan dari temannya.
Ternyata benar apa yang kamu katakan. Pria satu negara denganmu itu kebingungan mencarimu. Aku tadi membayar pelayan Club agar mengawasi pria tampan itu dan barusan melaporkan semuanya.
Tentu saja setelah membaca itu, Laura merasa sangat kesal sekaligus marah karena tidak bisa berbuat apapun pada pria yang dicintainya.
__ADS_1
"Bahkan saat aku sudah menyelesaikan kuliahku saja masih tidak bisa melakukan apapun sesuai keinginan sendiri. Apa selamanya aku akan berada dalam bayangan paman?" Laura seketika mengempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Ia masih tidak bisa melupakan kejadian di Club yang membuatnya berbunga-bunga. "Aku harus bersabar hingga kursi kepemimpinan berada di tanganku. Apapun bisa diselesaikan dengan uang."
"Aku akan mencari Christian nanti dengan membayar orang. Apa paman pun sudah mengetahui jika aku diam-diam memesan tiket dan memutuskan akan pulang besok?" tanya Laura yang harusnya mengemasi pakaiannya karena besok akan terbang ke Jakarta untuk memberikan kejutan.
Sebenarnya sang paman sudah memintanya untuk mencari bahan riset di New York agar bisa digunakan untuk memajukan perusahaan. Namun, ia sudah tidak punya kesabaran lagi untuk menahan diri atas semuanya.
"Lalu kenapa sekarang bersamaan setelah aku lulus kuliah, tetap saja mendapatkan beban seberat ini. Bahkan tidak ada keluarga yang datang ke sini saat aku lulus dengan gelar sarjana. Hingga aku harus menyewa pelayan untuk berakting menjadi keluargaku."
Bulir bening yang membasahi wajah Laura benar-benar mewakili perasaannya saat ini. Ia kali ini mendapatkan sebuah ide. Berpikir jika besok tidak berniat membawa apapun saat kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Selain dokumen penting yang masuk ke dalam tas, sudah tidak lagi hal lain yang dibawa Laura. "Aku akan kabur dari para pengawal nanti."
Laura kini memilih untuk mencium bau di bajunya, berharap aroma maskulin masih melekat di bajunya karena tadi tubuh mereka saling menempel saat berpelukan.
"Ternyata benar aroma Christian masih ada di pakaianku. Aku tidak akan pernah mencucinya karena nanti baunya akan hilang," ucap Laura yang kini bergerak melepaskan gaunnya karena ingin tidur sambil memeluknya.
Namun, sebelum itu, ia membersihkan diri dengan masuk ke kamar mandi. Bahkan merasa jika perasaan kacau berubah baik karena mengingat masih ada aroma khas Christian.
Sementara itu di Jakarta, sosok pria paruh baya tengah mengepalkan kedua tangannya agar bisa membuat keadaan
"Singkirkan Laura jika ia benar-benar bertekad untuk pulang dan tidak mendengarkan perintahku," ucap sosok pria yang kini terlihat mengepal kuat tangannya karena mengetahui jika keponakannya akan diam-diam kembali, padahal sama sekali tidak diharapkan.
__ADS_1
To be continued...