365 Days With You

365 Days With You
Tidak akan pernah bisa melupakan


__ADS_3

Christian baru selesai menyuapi Ana dan kini tengah membuang sampah basah di luar ruangan. Saat ia hendak kembali masuk ke dalam ruangan perawatan, ponselnya berdering dan membuatnya langsung mengangkat panggilan telpon dari sang ibu.


"Christian, Mama dan Laura sedang dalam perjalanan menuju ke sana karena Valerio menangis dari tadi dan seperti biasa, tidak bisa dibujuk. Suruh Ana menasihati cucuku agar tidak rewel untuk selalu bersamanya. Ini bisa sangat merepotkan jika setiap hari Valerio seperti ini."


Christian yang sama sekali tidak menyangka jika ia mengetahui Laura datang ke Rumah Sakit. Satu-satunya hal yang dipikirkan saat ini adalah penyakit Ana.


"Apa Laura akan menampakkan dirinya di depan Ana, Ma?" Ia saat ini memasang telinga lebar-lebar agar mengetahui apa yang terjadi jika Valerio bersama ibu kandungnya.


'Kondisi Ana akan makin drop jika sampai Laura menampakkan dirinya,' lirih Christian yang saat ini merasa sangat khawatir akan terjadi hal-hal buruk di Rumah Sakit.


"Entahlah. Mama tidak tahu. Ini Mama sudah dekat. Jadi, Mama matikan dulu telponnya," ucap wanita paruh baya yang saat ini melirik sekilas ke arah Laura yang tengah fokus mengemudi.


Ia yang menelpon sambil memangku cucunya ketika memegang mainan, tidak berani bertanya pada Laura karena menjaga perasaan menantunya.

__ADS_1


'Mana mungkin aku bertanya karena saat ini perasaan Laura pun tengah terluka. Christian, kau telah menyakiti hati dua wanita karena keputusannya. Seandainya ia hanya menyakiti Ana dulu dan mempertahankan Laura, pasti hanya satu orang yang terluka.'


Ia hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati karena berpikir jika satu-satunya hal yang menyiksa Laura adalah mengantarkan darah daging yang susah payah dilahirkannya untuk wanita yang telah merebut posisinya sebagai seorang ibu.


Sementara itu, Laura yang saat ini mengemudikan mobilnya, kini sudah berbelok di area Rumah Sakit. "Benar ini kan Rumah Sakitnya, Ma?" tanya Laura yang langsung menuju ke parkiran.


"Iya, Sayang. Ternyata kamu sangat hafal dengan Jakarta rupanya. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Mama tanyakan padamu, tapi sepertinya tidak pas sekarang." Kemudian ia melepaskan sabuk pengaman dan bersiap untuk turun.


Hingga sesuatu yang dikatakan oleh Laura membuatnya menoleh ke arah sebelah kanannya.


Bahkan ia mengerutkan keningnya karena melihat wanita paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Mama bahkan baru mendengar hal ini. Christian, anak itu benar-benar minta dihajar karena merahasiakan ini dari Mama. Awas saja nanti!" Dengan raut wajah kesal, ia pun beranjak turun dari mobil karena sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putranya.

__ADS_1


Berbeda dengan Laura yang saat ini masih terdiam di tempatnya karena tengah mempertimbangkan untuk bertemu dengan Ana atau tidak. Bahkan hal seperti ini sangatlah dinantikannya semenjak setahun yang lalu.


'Kenapa aku harus ragu? Cepat keluar, Laura! Bukankah kau ingin membalas dendam pada wanita itu? Sekaranglah saatnya untuk menuntut balas atas semua kesedihan dan kehancuranmu,' gumam Laura yang saat ini turun dari mobil.


Kemudian menatap ke arah mertuanya yang masih menunggunya dan bertanya padanya.


"Apa kamu akan menemui Ana sekalian, Laura?" tanya wanita yang saat ini masih menggendong cucunya dan tadi menghibur dengan mengatakan akan segera bertemu dengan sang ibu agar tidak kembali menangis.


Tanpa menjawab, Laura kini hanya menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan pada putranya agar mau digendong olehnya. "Ayo, Tante gendong! Nenek pasti sangat capek. Kita temui Mama sekarang."


Laura bahkan memasang senyuman termanis dan membuatnya berpikir seperti seorang artis yang profesional karena sukses menyembunyikan perasaan sebenarnya yang tidak karuan.


Hingga ia pun kini sudah melangkah masuk ke arah lobby Rumah Sakit sambil menggendong putranya yang tidak menolak untuk digendong olehnya.

__ADS_1


'Saatnya membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkanku di hari aku berjuang antara hidup dan mati sendirian di ruang bersalin. Bahkan seumur hidup pun tidak akan pernah bisa melupakan itu,' lirih Laura yang saat ini baru saja masuk ke dalam pintu kotak besi menuju ke ruangan terbaik di Rumah Sakit.


To be continued...


__ADS_2