
Satu bulan telah berlalu dan Ana sudah menjalani hari-harinya di rumah sakit dengan terbiasa. Ia selalu menjalani kemoterapi sesuai jadwal dan juga minum obat yang diberikan oleh perawat.
Ia sudah terlihat sehat dan tidak sering merasakan rasa nyeri seperti dulu. Bahkan berpikir jika dirinya mungkin sudah benar-benar sembuh dari penyakit yang diderita.
Namun, saat berbicara dengan dokter untuk bertanya mengenai perkembangan pengobatan, ia masih harus menjalani kemoterapi secara rutin untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin bisa tumbuh lagi.
Bahkan ia yang berniat untuk dilakukan rawat jalan karena merasa bahwa tubuhnya sudah tidak selemah dulu dan merasa sembuh. Apalagi hari ini temannya kembali dari Jepang dan ia ingin sekali bisa menjemput di bandara untuk menyambutnya.
Namun, tidak diperbolehkan oleh dokter yang merawatnya dan akhirnya terpaksa mematuhi semua perintah itu. Seperti biasa, ia hari ini melanjutkan kegiatannya yang selama ini merajut sweater.
Bahkan sudah 80% dan sebentar lagi akan jadi. Niatnya adalah mengirimkannya pada Valerio tanpa meninggalkan nama pengirim asli atau pun alamat.
Ia pun saat ini terlihat sangat menikmati kegiatannya selain membaca buku yang sudah dihabiskan olehnya. Saat Ana fokus merajut sweater, di saat bersamaan melihat pelayan yang baru saja datang membawakan buah pesanannya.
"Nona, ini pesanan Anda. Saya juga membelikan benang yang habis kemarin." Sang pelayan yang tadi pergi dengan diantarkan oleh sopir, kembali ke ruangan sendirian karena pria itu ada urusan mendadak dan tidak bisa membantu membawakan buah serta beberapa buku baru karena ia tahu jika majikannya sudah membaca semuanya.
Ana mengangkat pandangannya dan menatap ke arah buah yang sangat diinginkannya beberapa hari ini. "Terima kasih, Bik. Aku sudah lama tidak menikmati buah kesukaan mama."
Dari dulu saat Anda merindukan sang ibu, ia selalu menikmati apapun menu makanan wanita yang telah melahirkannya tersebut. Namun, kali ini mengingat tentang sang ibu yang dulunya sering makan buah Cherry.
Ia pun langsung menikmati buah Cherry itu dan menghentikan kesibukannya untuk merajut. Saat melihat paper bag berisi cukup banyak buah, ia kini mengerutkan keningnya.
"Kenapa membeli buah sebanyak ini, Bik?"
"Ini buah-buahan penghancur kanker yang tinggi antioksidan dan sangat baik untuk anda, Nona." Kemudian ia menunjukkan macam-macam buahnya.
"Ada Apel, Jeruk, Anggur, Lemon, Pir dan terakhir Stroberi. Ini bisa Anda konsumsi setiap hari agar bisa segera pulih. Entah kapan diperbolehkan oleh dokter pulang, paling tidak sudah berusaha untuk menikmati makanan yang boleh dan tidak sesuai dengan perintah tim medis." Ia tahu jika sebenarnya majikannya sudah bosan berada di rumah sakit.
Bahkan ia sendiri pun juga merasakannya karena setiap hari harus berada di ruangan itu dan tidak mendapatkan udara segar. Apalagi berada di lantai atas yang pastinya membuat mereka malas untuk turun ke halaman rumah sakit untuk sekedar jalan-jalan ringan.
Ana yang saat ini mengunyah buah ceri di mulutnya, hanya terdiam karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi adanya. Dokter seolah menyembunyikan sesuatu dan hanya memberikannya harapan.
'Apa kanker yang kuderita belum hilang setelah dilakukan operasi? Kenapa dokter masih belum berbicara dengan jujur padaku? Apa yang sedang disembunyikan?' Ana saat ini mengingat tentang ia yang masuk ke rumah sakit itu tanpa mengurus apapun.
Kini, ia menoleh ke arah sang pelayan yang baru saja membereskan belanjaan. "Bik, dulu yang mengurus bagian pendaftaran siapa? Apa Bibik atau supir temanku itu?"
"Supir teman Anda, Nyonya. Saya mana bisa mengisinya. Waktu itu semua diurus olehnya dan saya hanya tahu beres saja. Memangnya ada apa, Nona? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Sang pelayan ini baru saja membereskan buku dengan menaruh di laci agar mudah diambil oleh majikannya yang masih duduk bersandar di ranjang perawatan.
Ana saat ini hanya menggelengkan kepala dan tidak ingin menjelaskan pada pelayan. "Tidak. Aku tiba-tiba mengingat itu dan ingin tahu tagihan rumah sakit. Jika aku berada di sini sampai berbulan-bulan, bisa-bisa tabunganku habis dan tidak punya uang sepeser pun."
"Meskipun aku nantinya harus bekerja jika benar-benar sembuh untuk mencari uang lagi. Memang kesehatan sangat mahal harganya dan uang sebanyak apapun akan habis hanya untuk berobat jika memiliki penyakit kronis seperti itu." Hingga ia yang selama ini menyerahkan semua hal pada wanita itu, juga ingin mencari tahu sesuatu.
"Apa Bibik pernah mengecek kartu debit yang kuberikan? Aku pun ingin mengecek sisanya. Niatku jika saldo menipis, aku akan meminjam temanku yang banyak uang itu. Dia pasti punya banyak uang karena belum menikah sampai sekarang. Entah seperti apa sosok pria yang dicarinya."
Saat ia baru saja menutup mulut, pintu terbuka dan membuatnya membulatkan mata begitu melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam dengan membawa paper bag di tangan.
__ADS_1
"Hai, Beb," sapa wanita yang kini menghambur masuk dan langsung memeluk erat sahabatnya di atas ranjang karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
Ana yang saat ini membulatkan mata karena berpikir jika sahabatnya akan pulang nanti sore, tapi ini masih siang sudah tiba di rumah sakit dan membuatnya terkejut.
"Kamu sudah kembali? Aku benar-benar jadi teman tidak berguna karena tidak bisa menjemputmu di bandara. Padahal aku sangat ingin melakukannya." Ana yang baru saja melepaskan pelukannya, kini bahkan beberapa kali mengusap lembut lengan sahabatnya tersebut.
"Kamu sekarang tambah cantik. Aura seorang perawan sangat berbeda dengan aura seorang istri terbuang," ucap Ana yang saat ini berkaca-kaca ketika merasa terharu bisa bertemu dengan sahabatnya setelah cukup lama berpisah.
Ia seketika meringis menahan rasa nyeri pada lengannya karena sahabatnya saat ini mencubit cukup kuat pada lengannya.
Raisa saat ini ingin sahabatnya tidak terus terpuruk dengan masalah lalu: sehingga berusaha untuk menghiburnya. "Jangan berbicara seperti wanita paling menderita di dunia. Kamu tidak pantas mengatakannya. Lihatlah dirimu yang sekarang. Kamu bahkan masih sangat cantik dan muda."
"Kamu juga pintar dan juga sangat bekerja keras, jadi tidak pantas menangisi atau menyesali nasib karena seorang pria." Raisa yang dari dulu selalu hidup mandiri dan tidak mengandalkan pria manapun, paling tidak suka jika sahabatnya terlihat lemah hanya karena dikhianati oleh seorang pria.
Ana yang tadinya hanya bercanda karena melihat sahabatnya sangat sukses dan juga semakin cantik. Ia merasa iri karena wanita itu selalu terlihat bahagia menikmati hidup.
Tidak seperti dirinya yang tertekan akhir-akhir ini karena masalah keturunan. Perbedaan signifikan adalah itu dan membuatnya merasa wajahnya semakin kusam karena sakit yang diderita.
"Ya, maafkan aku kamu pulang malah membuatmu kesal. Aku benar-benar iri pada wanita independen ini," ucapnya dengan tersenyum simpul dan kini mengingat sesuatu. "Oh ya, kamu naik apa ke sini? Supir pribadimu tadi baru saja mengantarkan pelayanku."
Ana berpikir mungkin pria itu tidak tahu tentang kepulangan dari majikannya, jadi ingin mencari tahu apakah yang dipikirannya benar.
Raisa saat ini mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang sebelah sahabatnya yang masih dalam posisi duduk bersandar. "Dia tahu karena aku tadi sudah menelponnya begitu tiba di bandara. Aku memberikannya tugas penting yang hanya bisa dilakukan olehnya."
Sebenarnya Ana tahu jika ada sesuatu yang istimewa dari sopir pribadi sahabatnya tersebut. Namun, ia tidak ingin mencari tahu jika tidak diberitahu. Jadi, saat ini hanya mengiyakan saja tanpa bertanya panjang kali lebar.
Sementara itu, sosok wanita yang baru saja mengambil paper bag yang tadi diletakkan di bawah tempatnya duduk ketika hendak memeluk sahabatnya yang sangat dirindukan.
Ia saat ini menyerahkan sesuatu yang khusus dibelikannya untuk Ana. "Boneka itu nanti akan dikirim oleh pihak sana karena aku malas membawanya. Aku membelikanmu ini."
Saat merasa penasaran dengan apa yang diberikan oleh Raisa, kini Ana langsung mengambil paper bag tersebut dan membukanya. Ia seketika mengerutkan karena tidak paham apa yang dilihatnya saat ini.
"Lucu sekali?" ucap Ana yang saat ini mengambil patung yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
Raisa kini menatap ekspresi wajah anak yang sudah bisa diduganya karena dari dulu menyukai sesuatu yang unik, sehingga memilihkan itu sebagai oleh-oleh. Ia akan tahu jika anak bukanlah seorang wanita yang suka dengan barang-barang mahal karena sudah puas merasakan itu.
"Itu Maneki neko—patung berbentuk kucing dengan tangan yang bisa bergerak dengan gerakan memanggil. Patung mainan ini bisa menjadi pajangan unik di apartemenmu nanti setelah pulang dari sini."
"Di Jepang sendiri, jika ini mengangkat tangan kanannya, itu berarti bisa mendatangkan uang yang banyak. Sedangkan kalau yang naik tangan kiri, berarti banyak pembeli yang datang jika itu adalah pedagang. Aku mau beli ini karena ingin kamu mendapatkan keberuntungan karena bukan hanya uang, tapi artinya lebih luas."
"Maneki neko ini kubeli di pintu masuk kuil Gatokuji dengan harga yang cukup murah dan tidak menguras kantongku karena aku tahu kamu tidak suka yang mahal, kan?" Kemudian ia juga mengambil dari paper bag lainnya.
"Aku ingin melihat sahabatku memakai Baju Kimono Jepang. Pasti sangat cantik. Apalagi kulitmu sangat putih seperti orang Jepang. Modelnya pun motif bunga beraneka warna yang cocok untukmu."
Ia sangat bersemangat menjelaskan dan mengambil satu lagi paper bag besar untuk pelayan wanita yang dari tadi berdiri tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Ini untuk Bibik. Tenugui atau bisa dibilang sapu tangan khas Jepang. Bahannya terbuat dari katun dengan motif yang bervariasi dan cantik."
"Satu lagi, ini kipas jepang motif bunga sakura dan Gunung Fuji menjadi motif favorit wisatawan yang tertarik membeli kipas lipat ini." Raisa bahkan juga membawa makanan khas untuk dinikmati karena tidak ada di sini.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Nona. Saya jadi dapat rezeki juga ini." Sang pelayan kini berbinar wajahnya begitu mendapat oleh-oleh dari luar negeri. Dari dulu ia sangat senang jika majikan jalan-jalan selalu tak pernah absen membelikan oleh-oleh.
Raisa kini tersenyum dan ikut bahagia karena bisa berbagi bersama teman serta wanita itu. "Aku juga membeli makanan." Ia menunjuk ke arah paper bag ke tiga. "Tolong itu, Bik. Siapa tahu Ana ingin mencobanya sedikit. Mumpung belum ada dokter."
"Ini pasti dilarang jika ketahuan dokter, tapi makan sedikit saja tidak masalah, kan?" Ia melirik sekilas pada Ana yang terkekeh geli juga karena mengingatkan mereka pada masa lalu ketika masih bandel dulu di sekolah.
"Baik, Nona." Kini pelayan membungkuk mengambilkan dan memberikan pada wanita itu.
"Raisa kini mengambil Nama Chocolate. Ini merek cokelat keluaran Royce ini terbuat dari bahan asli di Hokkaido yang segar. Jadi, rasa otentik Jepangnya sangat." Kemudian memberikan ke tangan Ana dan pelayan agar mencobanya.
Ana kini sudah memasukkan ke dalam mulutnya dan merasakan sensasi lumer di mulutnya. "Heem ... terasa banget coklatnya. Sangat beda ya rasanya."
"Iyalah. Namanya juga beda negara, pasti punya ciri khas masing-masing. Ada satu lagi, kamu wajib juga coba Kacang Rasa Matcha." Ia tidak bosan menyuruh sahabatnya mencoba salah satu camilan yang mirip dengan kacang atom dengan tambahan bubuk rasa yang bervariasi.
Tiga wanita itu kini asyik menikmati camilan dengan menceritakan semua hal tentang Jepang. Raisa yang jadi sumber informasi dan Ana serta Miranti menjadi pendengar yang baik dan bertanya-tanya tentang sesuatu yang tidak diketahui.
Hingga tidak terasa sudah satu jam berlalu dan Ana turun dari ranjang karena ingin ke kamar mandi.
"Tiba-tiba aku sakit perut," ucap Ana yang saat ini tidak bisa menahan rasa nyeri pada perutnya.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Apa karena makan oleh-oleh dariku?" Raisa seketika mengantarkan sahabatnya menuju ke kamar mandi karena khawatir terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Refleks Ana langsung menggelengkan kepala karena tidak apa-apa. "Aku bukan anak kecil, Beb. Sana! Aku mau masuk!" Kemudian mengibaskan tangannya pada sahabatnya yang menurutnya sangat perhatian dan ia langsung menutup pintu.
Berbeda dengan pelayan yang saat ini tengah membereskan semuanya karena tadi mereka bertiga lumayan ngemil banyak. "Makanan luar negeri enak-enak, Nona. Dari dulu paling suka dengan coklat. Pasti orang tua nona Ana dulu kalau pulang dari perjalanan bisnis membeli coklat untuk putrinya."
"Sayangnya sekarang tidak boleh makan-makanan yang manis, berpengawet, bersoda, kan? Kasihan sahabatku itu karena Tuhan sangat menyayanginya dengan memberikan banyak ujian padanya." Tadi ia melihat Ana yang hanya mencicipi sedikit oleh-oleh khas Jepang yang di bawanya untuk menghormatinya.
Sementara ia ingin Ana tidak terlalu tertekan karena dilarang apapun demi kesembuhan. 'Semoga Ana segera sembuh agar kami bisa kembali bertemu dan main bareng seperti dulu.'
Saat ia menatap ke arah kamar mandi karena menunggu Ana keluar dari sana, tiba-tiba mendengar suara benda terjatuh. "Ana? Apa yang terjadi?"
Miranti yang juga bisa mendengar itu, seketika berlari ke arah kamar mandi dan mengetuk pintunya. "Nona!"
Sama sekali tidak ada jawaban dan membuat dua wanita itu sama-sama panik. Di saat bersamaan melihat seorang pria masuk yang tak lain adalah supir.
"Ada apa, Nona?" tanya pria yang saat ini menatap khawatir pada dua wanita yang berdiri di depan pintu.
"Ana di dalam dan tadi mendengar benda jatuh. Jangan-jangan Ana jatuh di kamar mandi. Cepat dobrak pintunya!" sarkas Raisa dengan wajah khawatir.
Ia benar-benar sangat takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada sahabat baiknya tersebut. Apalagi kondisi kamar mandi yang licin bisa membuat sahabatnya terpeleset dan terbentur dinding. Saat ini hanya itu yang dipikirkan dan takut jika benar-benar terjadi.
__ADS_1
To be continued...