365 Days With You

365 Days With You
Menghilanglah


__ADS_3

Sosok wanita yang saat ini saja tiba di ruangan kerja, langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran dan memeriksa beberapa dokumen penting yang harus segera ditandatangani.


Sebelum membubuhkan tanda tangan, ia memeriksa terlebih dahulu karena tidak ingin melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan.


Sosok wanita yang tak lain adalah Ana Maria tersebut, kini terlihat fokus membaca dokumen yang berisi mengenai perjanjian kerjasama dengan salah satu perusahaan besar.


Namun, ia berdiam sejenak ketika mengingat sesuatu hal yang dari semalam membuat tidurnya sama sekali tidak nyenyak.


"Saat perusahaan yang susah payah kami besarkan mengalami kemajuan pesat, sehingga membuatku dan suami sangat sibuk dan akhirnya mengurangi waktu kebersamaan. Bahkan karena saking sibuknya, sampai suamiku harus berada di luar negeri dan kami harus menjalani hubungan LDR."


Ana ya saat ini membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang sudah diperiksa, beberapa saat kemudian menghembuskan napas kasar yang mewakili perasaan kacau balau.


"Baru satu minggu berpisah dengan suamiku saja rasanya seperti 1 tahun lamanya. Bagaimana jika berjalan selama sebulan, atau setahun, pasti bagaikan satu abad lamanya." Ana kini mengambil ponsel miliknya dan menatap ke arah kontak sang suami.


"Aku menelepon suamiku karena sangat merindukannya, tapi sepertinya ia masih sibuk bekerja karena lembur. Di sana sudah jam 9 malam, tapi suamiku masih sibuk dengan banyaknya persiapan pembukaan cabang di sana."


Ana yang baru saja menutup mulut saat mengeluh, kini mendengar suara pintu yang diketuk dari luar dan beberapa saat kemudian terbuka. Memperlihatkan sosok pria yang tak lain adalah asisten pribadi sang suami.


Ia mengerutkan kening karena melihat wajah Vicky seperti hendak mengabarkan hal buruk.


"Selamat pagi, Nona Ana. Maafkan saya karena mengganggu. Ada hal urgent yang harus saya sampaikan," ucap Vicky dengan wajah dipenuhi oleh kekhawatiran setelah mendapatkan telepon dari pihak yang mengurus pabrik.


Merasa ada kejadian besar pastinya adalah kabar buruk, kini Ana berusaha tenang dan membuka suara. "Jelaskan padaku sekarang! Aku tidak ingin menebaknya karena tidak tahu apa yang terjadi."


Akhirnya Vicky menjelaskan tentang telepon yang diterimanya barusan. "Ada kecelakaan di pabrik, Nona Ana. Sepertinya penyebabnya adalah kesalahan dari salah satu pegawai, sehingga memicu ledakan di salah satu unit pabrik yang menangani proses utama pembuatan kosmetik."

__ADS_1


"Bahkan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta akibat kelalaian itu. Saya makan langsung menuju ke lokasi untuk memeriksanya." Vicky sekaligus ingin meminta izin karena akan mengurus lapangan dan tidak bisa membantu wanita dengan blazer hitam tersebut.


Ia sebenarnya tadi merasa terkejut melihat penampilan dari bosnya yang selalu tampil menggunakan pakaian cerah. Seolah mewakili kebahagiaan yang dirasakan.


Namun, hari ini semuanya berbeda begitu pertama kali melihat sosok wanita yang selalu tampil anggun tersebut memakai setelan hitam seperti tengah berduka cita.


Refleks Ana menggebrak meja dan wajahnya berubah memerah karena baru saja ia memuji jika perusahaan semakin berkembang, tapi malah mengalami kerugian yang tidak sedikit.


"Kenapa ada saja masalah yang terjadi?" Ana memijat pelipis dengan menunjukkan kepala dan menatap ke arah pakaian yang dikenakan.


Ia pun terdiam ketika berpikir sesuatu. "Kenapa pakaian yang kukenakan saat ini seolah mewakili apa yang baru saja dialami oleh perusahaan? Aku bahkan memakai pakaian serba hitam seperti orang yang tengah berduka cita dan benar-benar terjadi."


Vicky sama sekali tidak berani membuka mulut karena pemikirannya sama dengan wanita yang terlihat bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.


Vicky tadi sudah langsung mengirimkan pesan pada bosnya yang diketahui hari ini menuju ke Bandung bersama dengan istri sirinya. Namun, belum mendapatkan balasan dan langsung mengabarkan pada wanita seksi di hadapannya tersebut.


"Nona Ana, pakaian Anda sama sekali tidak berhubungan dengan ledakan di pabrik yang merupakan kelalaian salah satu pegawai." Vicky bisa melihat raut wajah dipenuhi oleh kekhawatiran itu, sehingga membuatnya ingin sedikit memberikan penghiburan.


Meskipun ia sadar tidak akan bisa membuat wanita yang selalu tampil sempurna tersebut tenang. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Saya akan pergi sekarang dan maaf karena tidak bisa membantu pekerjaan Anda hari ini."


Saat Vicky membungkuk hormat dan berniat untuk berbalik badan, tidak jadi melakukannya ketika wanita tersebut berteriak padanya.


"Tunggu!" Ana saat ini ingin memastikan sesuatu agar bisa lebih tenang.


"Iya, Nona Ana. Apa ada hal yang harus saya lakukan?" Vicky kembali berbalik badan untuk menunggu apa yang akan disampaikan oleh Ana.

__ADS_1


"Apa suamiku sudah tahu tentang hal ini?" tanya Ana yang kembali ingin memastikan apakah suaminya benar-benar sibuk hingga tidak mengirimkan pesan padanya.


Hingga jawaban berupa gelengan kepala dari Vicky membuatnya kembali menghembuskan napas kasar.


"Tuan Christian pasti benar-benar sangat sibuk akhir-akhir ini, Nona. Bahkan pesan saya belum juga dibaca," ucap Vicky yang berharap majikannya tersebut tidak meneruskan kecurigaan karena hanya akan berakhir buruk jika sampai ketahuan.


'Aku Sepertinya harus memberitahu tuan Christian agar bersikap seperti biasa pada nona Ana karena itu akan membuatnya ketahuan karena insting seorang istri sangatlah kuat jika suami berselingkuh.'


Ana seolah merasa kelegaan memenuhi dirinya karena Vicky juga mengalami hal sama sepertinya, yaitu belum dibaca pesannya. "Kamu benar. Sepertinya suamiku benar-benar sangat sibuk untuk persiapan bisnis di sana."


"Iya, Nyonya. Kalau begitu, apa saya boleh pergi sekarang?" Vicky yang saat ini melihat wanita di hadapannya menganggukkan kepala, sehingga buru-buru berlalu pergi dari ruangan kerja bosnya tersebut.


Hingga ia pun mulai berjalan menuju ke arah pintu dan tidak ingin terus-menerus menatap raut wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran itu.


'Belum apa-apa saja sudah tidak tega melihat raut wajah nona Ana. Bagaimana jika suatu saat nanti ia melihat kenyataan tentang suaminya yang sudah menikah lagi dengan seorang wanita amnesia?'


Vicky yang hanya bisa bergumam sendiri mengungkapkan apa yang dirasakan karena iba pada Ana Maria, kini menutup pintu dan langsung berjalan menuju ke arah lift yang akan membawanya ke lobi perusahaan.


Di sisi lain, Ana Maria saat ini kembali mengempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. "Aku tidak akan memakai pakaian serba hitam karena hanya menjadi kesialan."


Karena berpikir jika kemalangan yang dialami perusahaan berhubungan dengan pakaian yang dikenakan hari ini, Ana pun kini meraih ponsel miliknya dan mengirimkan pesan pada salah satu pegawai untuk membeli pakaian kerja di salah satu butik langganannya.


Ia pun langsung melempar cardigan yang saat ini baru saja dilepaskan. "Menghilanglah pakaian serba hitam!" umpat Ana Maria yang saat ini menatap ke arah Cardigan hitam teronggok di lantai.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2