
Pagi hari di kediaman keluarga Christian, seperti hari-hari sebelumnya, suara menggemaskan dari bocah laki-laki berusia 1 tahun selalu menghiasi rumah. Jika dulu Christian selalu dibangunkan kecupan Ana, tapi semenjak ada putranya yang sudah bisa berbicara, selalu memukul ringan tubuhnya.
Terkadang bahkan sebuah kecupan mendarat di pipinya karena sepertinya putranya yang ingin membangunkannya dan menunjukkan kasih sayang. Seperti hari ini, ia terbangun kala bocah laki-laki yang kini sudah terduduk di sebelahnya.
Memang ia selama ini tidak membiarkan putranya tidur di ruangan kamar lain, tapi berada di ranjang yang sama dengannya dan sang istri. Tentu saja putranya berada di tengah-tengah.
Ia melihat sang istri yang masih tidur membelakangi karena dari semalam marah padanya gara-gara masalah sang ibu yang mengetahui hubungannya dengan Laura.
Sudah beberapa kali ia mencoba untuk menghibur dan bahkan semalam berniat untuk merayu dengan mengajak bercinta karena biasanya itu adalah cara paling ampuh untuk istri yang merajuk.
Namun, ia ditolak mentah-mentah dan membuatnya tidak menyerah untuk membujuk Ana agar tidak lama marahnya.
"Jagoan Papa sudah bangun rupanya," ucap Christian yang kini langsung menggendong putranya dan karena sudah hafal dengan ritual anak laki-laki itu, sehingga langsung membawa ke dapur.
Tentu saja untuk menyuruh pelayan membuatkan susu karena putranya selalu minum susu saat bangun tidur. Jika biasanya sang istri yang selalu membuatkan susu, kali ini ia tidak ingin membangunkannya karena khawatir jika makin kesal padanya.
Saat membuka pintu, ia melirik sekilas ke arah wanita yang masih membelakangi di atas ranjang. 'Aku yakin jika Ana tadi sudah bangun, tapi karena kesal padaku dan mama, sehingga memilih untuk tidak bangun pagi.'
'Biarkan saja dan anggap hari ini adalah saat ia memanjakan diri dengan bangun siang. Mungkin aku tidak akan bisa mengajaknya berbicara beberapa hari agar perasaannya jauh lebih baik,' gumam Christian yang saat ini menutup pintu dan mulai berjalan menuruni anak tangga.
Ia tidak berhenti mencium gemas putranya yang tidak menangis dan langsung menciumnya. "Jagoan Papa memang sangat pintar, ya."
"Tidak menangis saat bangun tidur. Habis minum susu, temani Papa olahraga, ya!" Christian yang baru saja mendapatkan sapaan dari beberapa pelayan di dapur, kini langsung mengungkapkan perintahnya.
"Aku tidak tahu takaran susu putraku. Kalian tahu, kan?" tanya Christian yang masih menggendong putranya.
"Iya, Tuan. Saya akan membuatkan tuan muda susu," sahut pelayan yang sudah lama bekerja di rumah itu.
Christian kini mengangguk perlahan dan duduk di kursi sambil mengusap lembut rambut hitam berkilat putranya. 'Sekarang papa baru tahu menjadi ayah tidak berguna karena tidak tahu takaran susu untukmu, sayang.'
Karena selama ini sibuk bener dan menyerahkan semua urusan putranya pada sang istri, sehingga sekarang baru menyadari jika tidak tahu menahu tentang Valerio dan membuatnya menyesal.
'Jika aku masih bersama Laura membesarkan Valerio, apa akan seperti ini? Atau berbeda? Mungkin aku akan bekerjasama sana Laura dan mencari tahu tentang apapun yang berhubungan dengan Valerio,' gumam Christian yang memang selama ini menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor karena ingin melupakan Laura.
Ia pun juga setiap hari dibebani rasa bersalah pada Ana, Laura, serta putranya. Jadi, memilih melarikan diri dengan cara menghabiskan waktu di kantor. Lamunannya seketika musnah begitu mendengar suara pelayan.
"Ini susunya, Tuan." Pelayan menyerahkan pada majikan yang terlihat melamun dan membuatnya heran karena tidak biasanya seperti orang yang mengalami banyak masalah.
Christian yang langsung menerima botol susu berukuran sedang itu, langsung mengarahkan ke mulut putranya. Namun, ia ingin tahu sesuatu yang selama ini tidak diperdulikan.
"Untuk susu segini, dibutuhkan berapa takar, Bik?" Christian kini menatap pelayan untuk menunggu jawaban yang menurutnya sangat penting diketahui.
Sebenarnya di kamar sudah tersedia susu, tapi khawatir salah takaran, jadi memilih untuk menyuruh pelayan membuatkan.
"Kalau kata nyonya Ana, harus empat sendok takarannya, Tuan karena selalu dilebihkan satu sendok agar tuan Valerio merasakan enak. Nyonya Ana selalu memberikan yang terbaik untuk tuan Valerio, jadi bisa tumbuh sehat seperti ini," sahut sang pelayan yang menyampaikan apa yang dilihatnya.
Sementara itu, Christian kini mengerti dan mengucapkan terima kasih. "Baiklah. Kembalilah bekerja. Aku akan membawa putraku ke ruangan gym. Nanti kalau istriku turun, bilang padanya."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Sang pelayan membungkuk hormat dan mulai berjalan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ia bangkit berdiri dari posisinya sambil menggendong Valerio yang sangat cepat menghabiskan susunya dan berjalan menuju ke rendah gym pribadi.
"Jagoan Papa mau olahraga juga agar tubuh sehat?" Christian yang kini sudah memperlihatkan banyaknya alat olahraga, kini melihat putranya sudah mengangukkan kepala sambil tertawa.
Bahkan bocah laki-laki itu sudah mengarahkan jari telunjuk mungilnya pada alat yang disukai.
Christian saat ini hanya tertawa melihat tingkah menggemaskan putranya dan langsung menurunkan di alat olahraga yang ditunjukkan. "Di sini, ya? Sekarang Aksa duduk di sini."
Kemudian ia mulai menggerakkannya perlahan dan membuat putranya hanya terkekeh sambil menatap kerja alat untuk melatih otot-otot kaki itu.
"Saat besar, Valerio nanti rajin olahraga ya biar selalu sehat." Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara yang sangat tidak asing dan menoleh ke arah belakang.
"Wah ... cucu Nenek sedang olahraga rupanya," ujar sosok wanita paruh baya yang kini baru melangkah masuk ke dalam ruangan gym putranya.
Hari ini ia baru pulang dari pasar dan sengaja datang ke rumah putranya karena kangen dengan cucu kesayangan. Bahkan sudah membawa menu sarapan bubur tim sayur dan daging yang dibeli di depan pasar.
Memang ia jarang pergi ke pasar karena biasanya ke supermarket untuk belanja kebutuhan, tapi hari ini sengaja ingin melihat cucu kesayangan, jadi pergi berbelanja di pasar yang berada dekat dengan rumah putranya.
"Nenek bawakan sarapan untuk Valerio." Ia pun menunjukkan bubur yang dibelinya tadi dan mendekati cucunya yang tengah duduk di salah satu alat olahraga bersama putranya.
Sementara itu, Christian yang merasa sangat terkejut karena sang ibu datang pagi-pagi sekali saat istrinya semalaman sudah merajuk, membuatnya memijat pelipis.
'Mati aku sekarang! Ana bisa makin kesal padaku saat melihat mama datang sepagi ini. Aku harus membuat Mama segera pulang, daripada terjadi perang dunia kedua di rumah ini,' gumam Christian yang lamunannya seketika buyar begitu disapa oleh sang ibu yang menatapnya menelisik.
"Beban berat apaan, Ma. Aku hanya terkejut. Mama tumben datang ke sini pagi-pagi sekali. Apa ada keperluan?" Christian sesekali menatap ke arah pintu masuk ruangan gym karena khawatir jika sang istri tiba-tiba masuk dan bertemu dengan sang ibu.
Tentu saja ia tahu seperti apa sang istri serta ibunya yang mungkin akan berdebat dan membahas tentang hal yang berhubungan dengan pernikahannya bersama Laura
'Semoga apa yang kutakutkan tidak terjadi,' gumam Christian yang kini malah mendapatkan sebuah pukulan pada lengannya.
Wanita paruh baya tersebut tidak suka melihat respon putranya yang seperti kecewa melihat kedatangannya. "Dasar! Seharusnya senang karena Mama datang ke sini untuk berkunjung. Bukan malah bilang tumben. Memangnya Mama tidak boleh kangen dengan cucu?"
Kemudian langsung menggendong cucunya dan berniat untuk menyuapi dengan bubur yang tadi dibeli. Namun, ia makin kesal pada perkataan putranya yang seolah melarang secara tidak langsung.
"Ma, sekarang terlalu awal untuk Valerio sarapan. Ini baru pukul 6. Biasa Valerio sarapan pukul 7 bersamaku di meja makan." Christian sejujurnya lebih takut pada kekesalan Ana daripada sang ibu yang sangat disayanginya tersebut.
Karena rasa kesal Ana lebih pada rasa sakit hati dan terluka, sehingga membuatnya bersalah. Lebih jelasnya bukan takut, tapi rasa berdosa. Jadi, tidak ingin menambahnya dengan sesuatu yang makin memperuncing rumah tangganya.
Apalagi ia sudah dipusingkan dengan masalah pekerjaan dan kerugian yang dialami, bahkan pagi ini ia ada meeting di perusahaan Prameswari Grup untuk membahas tentang untung rugi dari investasinya.
Sementara itu, Reynita Padmasari yang kini seketika makin bertambah kesal karena digurui oleh putranya saat ingin menyuapi cucu kesayangan. "Apa sekarang kamu berani menggurui Mama yang bahkan dulu membesarkanmu, Christian?"
"Tidak masalah jika anak sarapan lebih awal atau lebih lambat karena itu merupakan hal biasa. Apa kamu takut dimarahi istrimu karena Mama memberikan sarapan awal pada Valerio?" Menatap tajam pada putranya dan berusaha untuk menyadarkan.
"Kamu ini kepala keluarga, jangan kalah dengan istri karena sejatinya, istri lah yang harus patuh pada suami. Bukan malah sebaliknya! Bahkan kamu berani membantah Mama hanya gara-gara niat baik menunjukkan kasih sayang pada cucu!" Sebenarnya ia masih belum puas menunjukkan kekesalan yang dirasakan.
__ADS_1
Namun, karena tidak ingin cucunya makin takut karena merengek di gendongannya, sehingga kini beralih menatap ke arah bocah laki-laki itu.
"Sayang, Nenek bawa coklat kesukaan Valerio. Mau kan? Tapi makan disuapi Nenek dulu, ya?" Reynita kini tidak memperdulikan putranya yang hanya diam tanpa menanggapi.
Apalagi ia fokus untuk menenangkan cucunya agar tidak sampai menangis tersedu-sedu karena takut melihatnya marah-marah. Jadi, ia berjalan keluar dari ruangan gym menuju ke teras depan untuk menyuapi cucunya yang tadi setuju dengan mengangukkan kepala.
Di sisi lain, Christian memijat pelipis karena merasa masalah yang dihadapi makin bertambah. "Jika setiap hari seperti ini, aku bisa cepat stroke."
Saat Christian baru saja menutup mulut ketika mengungkapkan apa yang dirasakan, merasa sangat terkejut begitu melihat kedatangan sang istri dengan raut wajah seperti semalam, yaitu sangat masam.
"Apa hobi mama sekarang adalah membuat keributan di rumah putranya dengan menjelek-jelekkan menantu?" Ana yang tadi sebenarnya sudah bangun dan bisa mengetahui bahwa sang suami membawa putranya keluar, sengaja berpura-pura tidak perduli.
Namun, ia yang terbiasa bangun pagi dan merasa bosan di kamar tanpa putranya karena setiap hari selalu bersama Valerio, sehingga turun dan ingin memeriksa keadaan dari bocah laki-laki yang sangat disayanginya.
Setelah bertanya pada pelayan bahwa putranya dan sang suami ada di ruang gym pribadi, berjalan ke sana dan tanpa sengaja mendengar suara dari mertuanya.
Akhirnya ia hanya diam di dekat pintu dan tidak masuk ke dalam sambil meremas piyama yang dipakai dengan perasaan terluka atas kata-kata dari mertuanya yang sangat pedas dan seperti anak panah menancap di jantungnya.
Ia langsung bersembunyi ketika melihat mertuanya keluar dari ruangan karena tidak ingin berdebat jika bertemu. Jadi, begitu susah tidak ada mertuanya, langsung meluapkan amarah pada sang suami.
Bahkan sampai sekarang kata-kata dari mertuanya selalu terngiang dan membuatnya seperti seorang istri yang merendahkan harga diri suami. "Apa salahku pada mamamu, hingga selalu menganggap aku hanyalah songgok sampah yang tidak berguna disampingmu?"
"Apakah salahku jika ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan dan meneruskan jejak keturunan keluarga Raphael? Sementara cinta bernama Laura itu dianggap sangat sempurna karena sudah bisa melahirkan valerio dan meneruskan jejak keturunan keluarga Raphael, bukan?"
Akhirnya Ana meluapkan semua keluh kesah yang dirasakan selama ini Dan berharap sang suami bisa mengerti bagaimana perasaannya yang hancur karena tidak bisa hamil.
Bahwa ia jauh lebih terluka karena diduakan oleh sang suami yang diam-diam menikah lagi meskipun pada akhirnya kembali padanya dan menyerahkan Valerio padanya. Tetap saja luka itu masih menganga di hatinya karena dibayang-bayangi oleh perselingkuhan sang suami.
Kali ini Christian bisa melihat wajah yang berurai air mata dan membuatnya merasa bersalah sekaligus tidak tega. Kini, ia bangkit berdiri dari alat game yang tadi diduduki dan langsung melangkah mendekati sang istri dan memeluknya dengan erat
"Ana, maafkan aku dan juga mama karena telah menyakiti hatimu." Christian yang merasa sangat pusing menghadapi ibu serta sang istri yang sama-sama memiliki pemikiran masing-masing dan pastinya bertolak belakang, sehingga hanya bisa mengungkapkan itu pada sang istri.
Sementara itu, Ana hanya terdiam karena kalimat panjang lebar yang baru saja diungkapkan untuk meluapkan perasaannya pada sang suami dan juga mertua hanya ditanggapi dengan satu kata maaf.
Ia benar-benar merasa sangat kecewa karena sang suami dianggap telah berubah semenjak menduakannya, selalu saja mengeluh, hanya akan membuat pria itu makin ilfil padanya dan membuangnya.
Hal yang paling ditakutkan hanyalah itu dan membuatnya bisa bertahan sampai sekarang karena sang suami masih bersamanya dan tidak berniat untuk menceraikannya.
'*Ya Allah, apa aku kuat menghadapi semua ini dan seumur hidup merasa tidak tenang karena selalu terbayang dengan perselingkuhan suami di masa lalu.'
'Aku pun tidak ingin berpisah dengan suamiku karena hanya dia satu-satunya pria yang bisa menerimaku apa adanya*,' gumam Ana yang saat ini membiarkan Christian memeluknya dengan erat dan akhirnya ia membalas dengan melingkarkan tangan pada pinggang Koko sang suami yang mengusap lembut punggungnya.
Ia memilih pasrah dan menjalani takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan padanya dan berharap suatu saat akan menuai kebahagiaan dengan melupakan semua hal yang pernah dilakukan suami ketika menduakan cintanya dan diam-diam menikah dengan wanita bernama Laura.
'Laura, semoga wanita itu tidak akan pernah menampakkan diri lagi di hadapan suamiku dan kami bisa hidup bahagia selamanya tanpa ada bayang-bayang darinya.' Hanya itu yang saat ini sangat mengganggu pikiran Ana karena khawatir juga sang suami akan lengah dan kembali jika melihat wanita yang dulu dinikahi secara siri.
To be continued...
__ADS_1