365 Days With You

365 Days With You
Tugas berat


__ADS_3

"Apa lagi? Bukankah aku sudah bilang untuk memesan makanan? Aku lapar dan kamu pun belum makan siang, kan?" Ana yang merasa risih karena sang suami seperti ingin menghentikannya untuk membantu di perusahaan.


'Padahal aku hanya berniat baik untuk membantu satu hari saja saat valerio tidak ada di rumah. Namun, sepertinya ia sudah tidak mempercayai kinerjaku lagi dan melarang untuk berbuat sesuka hati di perusahaan,' keluh Ana yang saat ini menatap tajam dan penuh kekesalan pada pria yang berdiri menjulang di hadapannya.


Tanpa berniat untuk menunggu, Ana kini sudah kembali melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah kursi kerja. Ia baru menyadari jika tadi sang suami sudah mematikan laptop.


"Astaga! Kenapa dimatikan saat aku belum selesai?" Kembali menatap kesal pada pria yang kini berjalan mendekat dan ia sudah menyalakan laptop di atas meja.


Sementara itu, Christian yang merasa sangat kebingungan karena benar-benar takut jika Ana melihat apa yang disembunyikan di laptop itu. 'Sial! Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan Ana saat ini? Berpikir, bodoh!' sarkas Christian di dalam hati yang sudah berkali-kali mengumpat kebodohannya.


Ia bahkan berjanji pada diri sendiri tidak akan menaruh sembarangan semua kenangan dengan Laura, di kantor maupun di rumah. 'Setelah hari ini, aku tidak akan mengulangi kecerobohanku. Lebih baik menyimpan kenangan di tempat Vicky yang pastinya jauh lebih aman.'


Kini, Ana sudah berhasil membuka laptop dan sibuk dengan benda tersebut. Saat ia mulai membuka satu persatu folder untuk mengeceknya, mendengar suara dering ponsel dari sang suami dan hanya meliris sekilas karena berpikir jika itu adalah panggilan dari salah satu rekan bisnis atau teman. Kemudian ia kembali fokus pada laptop di hadapannya.


Sementara itu, Christian yang merasa terganggu dengan suara dering ponsel miliknya ketika tengah mencari ide untuk menghentikan ulasan istri, kini berniat untuk mematikan panggilan itu.


Namun, tidak jadi melakukannya begitu kontak sang ibu yang menghubungi. Ia langsung menatap ke arah sang istri karena berpikir terjadi sesuatu pada putranya.


"Sayang, Mama menelpon!" Kemudian agar segera mengetahui apa yang terjadi.


Di sisi lain, Ana yang saat ini mengalihkan perhatian dari laptop ke arah sang suami karena merasa penasaran apa yang akan dikatakan oleh ibu mertua.


"Apa terjadi sesuatu pada Valerio?" tanya Ana yang saat ini melihat sang suami menghentikan bahu dan mendengarkan suara dari sang ibu.


"Halo, Ma?" Christian yang baru saja mengucapkan salam pada sang ibu, bisa mendengar suara tangisan dari putranya.

__ADS_1


"Halo, Christian. Apa kamu bisa menyuruh Ana datang ke sini untuk mendiamkan Valerio karena dari tadi menangis dan tidak bisa dibujuk. Aku malas menelpon istrimu," ucap wanita paruh baya yang saat ini melihat cucunya tengah dialihkan perhatiannya agar tidak terus menangis.


Christian yang saat ini benar-benar merasa bahwa putranya sendiri telah menyelamatkannya dari kemurkaan Ana, seketika bernapas lega dan benar-benar bersyukur atas perbuatan putranya yang rewel di tempat sang nenek.


'Putraku, kamu benar-benar penolong papa, sayang. Apapun yang kamu inginkan, Papa akan turuti,' gumam Christian yang sudah bernapas lega karena saat ini berpikir jika Ana akan langsung meluncur ke rumah.


Hingga ia tersadar dari lamunan begitu mendengar suara sang ibu.


"Halo ... halo! Christian, kamu masih di sana, kan?" tanya Renita yang saat ini menatap ke arah ponsel untuk mengecek apakah detik waktu masih berjalan.


Christian buru-buru menyahut karena tidak ingin sang ibu merasa kebingungan. "Iya, Ma. Aku akan menyuruh Ana untuk segera ke sana menjemput Valerio."


"Baiklah. Jangan lama-lama, keburu cucuku kehabisan tenaga karena terus nangis. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada cucuku satu-satunya." Kemudian langsung mematikan sambungan telepon karena kembali melihat cucunya tantrum karena menangis sambil berguling-guling di lantai.


Di sisi lain, Christian yang saat ini baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celana, mendengar suara dari sang istri yang kini bangkit berdiri dari posisi begitu mendengar pembicaraan mereka.


"Tadi Mama bilang jika putra kita tidak berhenti menangis. Mama sudah berusaha untuk menenangkan agar diam, tapi tidak bisa. Entah apa yang diinginkan Valerio saat ini hingga seperti itu." Christian yang tidak tahu bagaimana cara Ana merawat putranya saat ia bekerja di perusahaan, kini merasa penasaran.


Hingga ia ingin mengetahui apa yang selama ini dilakukan oleh sang istri ketika tidak pernah mengeluh merawat putra mereka.


"Selama ini, bagaimana caramu untuk merawat putra kita sampai tidak pernah kebingungan seperti mamaku? Padahal mamaku juga merupakan seorang ibu yang dulu merawatku dengan baik, tapi kenapa tidak bisa menenangkan cucunya yang menangis?" tanya Christian yang saat ini menyadari bahwa ia tidak banyak tahu tentang perkembangan putranya.


Ia selama ini fokus pada pekerjaan karena ingin menyibukkan diri agar bisa melupakan Laura. Ia benar-benar tidak bisa menutup mata dan pura-pura tidak terjadi sesuatu saat dihantui rasa bersalah yang setiap hari serasa mencekik lehernya hingga seperti kesusahan bernapas.


Selalu sangat menyiksanya dan tidak bisa berbicara pada siapapun karena berpikir hanya akan disalahkan atau dianggap bodoh jika menceritakannya pada orang lain.

__ADS_1


Ana yang saat ini tidak berniat untuk menjawab pertanyaan sang suami karena menganggapnya konyol. "Aku akan ke rumah untuk menjemput putra kita. Valerio selama ini selalu terjadwal saat melakukan apapun karena aku tidak ingin sembarangan merawatnya."


Kemudian ia langsung menatap ke arah jam tangan yang menunjukkan jadwal Valerio tidur. 'Ia rewel karena ini adalah jam tidur untuknya. Apalagi selalu merasakan pelukanku ketika tidur, sehingga menangis terus di tempat mama.'


'Valerio, kamu memang putra mama. Meskipun suatu saat mama kandungmu kembali, tidak akan bisa merebutmu dariku karena ikatan batin kita sudah sangat kuat,' gumam Ana yang saat ini sangat percaya diri dan tersenyum ketika berjalan keluar dari ruangan sang suami menuju ke arah lift.


Ia merasa bahwa Valerio hanya akan bisa tidur saat dipeluk olehnya. 'Terima kasih, Putraku karena menunjukkan bahwa nenekmu tidak bisa apa-apa untuk membuatmu nyaman.'


Ana berjalan dengan sangat percaya diri begitu sampai di lobby dan langsung menuju ke arah parkiran untuk mengambil mobil karena tadi berangkat ke kantor dengan mengemudi sendiri tanpa menggunakan jasa sopir.


"Saat aku stres karena tidak melakukan apapun di rumah, ternyata putraku pun sama karena ia stres diurus neneknya yang sangat jahat itu. Anak kecil memang tidak pernah bisa berbohong saat menilai orang baik dan buruk." Ana kemudian langsung mengemudikan mobil mewah berwarna merah tersebut meninggalkan area perusahaan sang suami menuju ke arah rumah mertua yang lokasinya tidak terlalu jauh.


Sementara di sisi lain, baru saja seorang pria dengan tubuh tinggi tegak memakai pakaian serba hitam diam-diam mengambil potret wanita yang baru saja meninggalkan area perusahaan.


Ia yang selama ini sudah mengetahui beberapa informasi mengenai orang-orang yang ingin dihancurkan oleh bosnya, langsung melaporkan apa yang dilihat. Dengan mengirimkan foto yang diambil, ia pun menuliskan pesan.


Istri tuan Christian baru saja meninggalkan perusahaan dan terlihat sangat terburu-buru. Sepertinya terjadi masalah besar.


Baru saja ia mengirimkan pesan tersebut, langsung dibalas oleh bosnya.


Ikuti wanita itu pergi ke mana dan jangan sampai hilang kehilangan jejak.


Seketika ia membulatkan mata dan langsung buru-buru naik ke mobil karena merasa tugas yang dilakukan benar-benar sangat berat.


"Sial! Bagaimana bisa aku membuntutinya jika wanita itu sudah pergi terlebih dahulu!" Ia langsung menginjak pedal gas dan karena tadi melihat wanita itu berbelok ke arah sebelah kiri, hanya mengikuti insting dan tentu saja menambah kecepatan untuk bisa mengejar.

__ADS_1


"Semoga aku masih bisa mengejar wanita itu dan tidak kehilangan jejak," ujar pria dengan bahu lebar yang saat ini fokus menatap ke arah jalanan dengan banyaknya kendaraan melintas dan sudah ia dahului beberapa untuk bisa mengejar wanita tadi.


To be continued...


__ADS_2