365 Days With You

365 Days With You
Meluapkan kerinduan


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Laura yang melihat Vicky mengulurkan ponsel padanya, langsung mengambilnya dan bisa mendengar suara bariton dari seberang telpon. Bahwa saat ini Christian tengah berbicara panjang kali lebar, tapi sekali tidak diperdulikan olehnya.


'Apa dia pikir aku tertarik untuk mendengarkan semua omong kosongnya? Dasar bodoh! Aku bukanlah Laura yang bisa kau bohongi dengan mudah,' gumam Laura yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon tanpa berniat untuk membuka suara untuk menanggapi Christian yang masih berusaha untuk menjelaskan semuanya.


Namun, seolah hatinya telah mati untuk mendengar apapun dari pria yang pernah sangat dicintai dan sekarang hanya ada rasa benci yang mengakar di sanubari. Kemudian menatap ke arah Vicky dan mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.


"Aku memang mengizinkanmu masuk dan berbicara padaku, tapi itu tidak berlaku pada bosmu. Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk menjelaskan padaku? Bukan meminta penjelasan dari bosmu itu, tapi karena kau membuatku kesal, pergilah dari sini sekarang juga!" Mengibaskan tangan dan berharap dia di hadapannya segera hilang dari pandangannya.


Ia sebenarnya tadi berniat untuk mendengarkan penjelasan dari asisten pribadi mantan suami sirinya tersebut, tapi seketika berubah pikiran begitu mendengar suara bariton di seberang telpon.


Sementara itu, Vicky yang sebenarnya tadi ingin menjelaskan tentang apa yang diketahuinya, tapi dilarang oleh bosnya yang ingin menyampaikan secara langsung pada Laura dan akhirnya ia memilih untuk diam dan patuh.

__ADS_1


Namun, sama sekali tidak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini. "Nona Laura, maafkan saya karena harus patuh pada perintah tuan Christian. Tapi yang jelas diketahui adalah tuan Christian sampai sekarang tidak pernah bisa melupakan semua kenangan bersama Anda."


Ia sebenarnya ingin mengatakan jika bosnya seperti masih mencintai wanita di hadapannya tersebut, tapi bisa melihat tatapan tajam yang membuatnya seperti tidak berkutik untuk melanjutkan.


Akhirnya ia membungkuk hormat sebelum berlalu pergi. "Maafkan saya, Nona Laura. Kalau begitu, saya permisi."


Laura yang hanya menjawab dengan tatapan mata karena sangat marah pada pria yang baru saja pergi dari hadapannya, hanya bisa mengungkapkan perasaan di dalam hati.


'Kau sangat patuh pada perintah bos sialan itu, seperti anjing peliharaannya. Sama persis seperti Vincent,' gumamnya sambil melirik ke arah mantan pengawalnya.


Karena tidak percaya siapapun kecuali diri sendiri. Hingga ia kini melihat ekspresi datar Vincent dan gelengan kepala yang menandakan sebuah penolakan.

__ADS_1


"Saya akan tetap bekerja untuk tuan Rendi, Nona Laura karena mempunyai utang budi. Tuan yang memperkerjakanku. Hanya saja, saya tidak akan melakukan perbuatan kotor. Jadi, memilih untuk mengatakan pada Anda."


Vincent ingin segera pergi karena khawatir akan mendapatkan sebuah kecurigaan saat pulang ke apartemen terlalu malam. "Anda pun tetap saya anggap sebagai majikan dan jika membutuhkan bantuan tanpa melakukan kejahatan, bisa menghubungi saya."


Namun, di saat bersamaan mendengar suara bel apartemen dan kembali didera rasa penasaran. "Sepertinya tamu Anda sangat banyak, Nona Laura. Bahkan Anda bisa mengenal tuan Christian yang merupakan bos dari pria tadi."


Sebenarnya ia ingin sekali banyak bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran, tapi tidak bisa melakukannya karena tahu batasan majikan dan anak buah.


Akhirnya hanya diam dan memendam sendiri. Hingga ia yang kini berdiri di depan pintu, melihat Mario dan Laura yang memeriksa dari layar di sebelah pintu. Ia pun mendengar suara Laura yang kini menampilkan rasa shock.


"Mama?" ucap Laura yang kini terhuyung ke belakang kala wanita paruh baya yang dulu sering membelikan barang-barang dari luar negeri menghambur memeluknya.

__ADS_1


"Laura, menantu kesayanganku," ucap Renita Padmasari dengan wajah berbinar meluapkan semua kerinduannya.


To be continued...


__ADS_2