
Mario mendengarkan dengan seksama apa yang wanita itu ceritakan. Ternyata benar, wanita itu sudah menikah dan memiliki seorang putra.
Laura menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Christian. Yang Laura tahu, saat itu tidak mengingat siapa dirinya. Ia sudah ada di sebuah rumah sakit dan Christian yang merawatnya.
Karena kebersamaan dan rasa kagum itulah, akhirnya benih-benih cinta mulai tumbuh dan semakin berkembang. Tentu saja Laura bahagia saat Christian mengajaknya untuk menikah. Ia percaya dengan semua yang pria itu katakan.
“Jadi, kamu sampai saat ini tidak tahu asal usul suamimu itu? Maksudku, mantan suamimu,” ucap Mario meralat ucapannya.
Laura menggeleng. “Yang aku tahu, dia adalah seorang pengusaha. Dia selalu berdalih setiap kali aku bertanya tentang keluarganya."
"Aku pun tidak pernah mempermasalahkan itu. Yang terpenting bagiku saat itu adalah tidak lagi sebatang kara dan Christian mau menerimaku apa adanya,” tutur Laura.
“Aku akan mencari tahu siapa pria itu,” balas Mario. “Kita harus menyusun sebuah rencana lebih dulu. Karena kita tidak bisa datang dan mengambil putramu begitu saja. Apalagi pernikahan kalian terjadi secara siri,” sambung Mario.
“Apa aku tidak bisa menuntut pria itu, Mario?” tanya Laura.
Papa Mario adalah seorang pengacara, Mario pasti sedikit banyak mengerti tentang hukum.
“Untuk menuntut seseorang, kita harus mempunyai bukti lebih dulu. Jika kita gegabah, bisa saja pria itu menuntut balik. Apa kamu mempunyai sebuah surat sebagai bukti jika kalian pernah melakukan pernikahan siri?” tanya Mario.
“Ya, ada. Aku menyimpannya di rumah. Akan tetapi, itu bukan buku nikah pada umumnya. Yang aku punya hanyalah selembar kertas yang kami tanda tangani di atas materai.”
“Baiklah. Apa kamu masih ingat orang-orang yang terlibat dalam pernikahan kalian?”
“Ya. Nama saksi dan penghulu yang menikahkan kami tertera di dalam surat itu.”
“Baiklah. Mungkin, aku akan meminta surat itu padamu untuk dipelajari lebih dulu. Setelah itu, kita bisa mendatangi orang-orang yang terlibat untuk menjadi saksi jika kita butuhkan kelak,” imbuh Mario.
__ADS_1
“Terima kasih, Mario. Aku harap bisa bertemu langsung dengan papamu. Aku ingin tahu lebih banyak tentang hukum agar tidak salah langkah lagi,” ujar Laura menyampaikan keinginannya.
Mario tersenyum miring. Ia juga sebenarnya ingin mempertemukan wanita di hadapannya dengan sang ayah. Hanya saja, ini bukanlah waktu yang tepat. Ia sendiri bahkan belum memberitahu pada papanya.
“Papaku sangat sibuk, tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menyampaikan keinginanmu padanya. Aku yakin papa akan meluangkan waktu untuk bertemu denganmu. Dia sangat senang bertemu dengan orang-orang yang tertarik dengan hukum.” Mario mencoba meyakinkan.
“Benarkah? Aku tidak sabar ingin bertemu dengan papamu.” Laura terlihat antusias.
‘Aku berharap papa juga sama,’ batin Mario.
Entah kenapa melihat binar bahagia dan senyum di wajah wanita itu menjadi sebuah kebahagiaan bagi Mario. Ia ingin wanita itu selalu tersenyum dan bahagia. Mario merasa terluka saat melihat wanita itu sedih dan terpuruk.
Mario tidak bisa berlama-lama bersama Laura karena mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan. Mario berjanji akan mampir ke rumah Laura sepulang kerja nanti. Ia akan mengambil surat nikah siri Laura dengan Christian.
Laura tidak masalah dengan itu. Karena mulai saat ini, ia memang harus terbiasa sendiri dan mandiri. Ia harus membatasi diri dengan orang lain. Membuat batasan untuk kepercayaan yang bisa ia berikan pada orang lain.
“Aku yakin menaruh surat itu di sini,” gumam Laura. Ia terus mencari. “Tidak mungkin hilang, ‘kan?”
Laura membongkar isi lemari pakaiannya. Ia bahkan mencari di tempat yang sama beberapa kali.
Beralih dari kamar, Laura pergi ke ruang tamu dan membongkar isi laci di lemari dan meja ruangan tersebut. Ia juga mencari di semua tempat. Termasuk tempat yang rasanya mustahil surat itu bisa ia letakkan di sana.
“Argh! Christian sialan! Dia pasti sudah mengambil surat itu lebih dulu. Dasar licik!” Laura mengamuk dan menangis histeris.
Kenapa pria itu begitu kejam. Christian seolah-olah sudah tahu apa yang akan Laura lakukan.
Pria itu ingin menghapus semua bukti kebersamaan mereka. Tidak ada yang bisa Laura lakukan sekarang. Otaknya tidak bisa berpikir untuk menyusun rencana. Ia benar-benar membenci Christian dan ingin menghancurkan pria itu.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang Laura lakukan. Wanita itu menangis sampai ia tertidur di dalam kamar yang berantakan tak berbentuk.
Suara bel rumah menarik paksa wanita itu dari alam bawah sadarnya. Laura memijat kepalanya sebentar. Wanita itu mengikat asal surai panjangnya dan segera bangkit untuk membuka pintu.
“Laura, apa semua baik-baik saja?” Hal itulah yang pertama Mario tanyakan pada wanita yang sedang berdiri diambang pintu tersebut.
"Tidak, Mario.” Laura membalikkan badan dan berjalan menuju sofa ruang tamu.
Mario mengekor di belakang. Pria itu mengedarkan pandangan sekeliling ruangan itu. Berantakan. Ia yakin pasti terjadi sesuatu.
Laura menceritakan apa yang terjadi pada Mario.
Pria itu mengepalkan tangan. Rahang di wajah tampannya mengeras mendengar Laura yang bercerita sembari terisak.
“Kita akan temukan putramu, Laura. Kita akan hancurkan pria itu bersama,” janji Mario.
Ia menenangkan dan meyakinkan Laura jika semua akan baik-baik saja. Mario akan membantu Laura untuk bertemu dengan orang-orang yang menjadi saksi atas pernikahan wanita itu.
***
Mentari telah kembali ke peraduannya, berganti dengan cahaya rembulan yang menerangi langit malam. Kerlip bintang di langit menambah keindahan langit malam itu. Laura baru saja selesai membersihkan diri.
Mario sudah pulang satu jam yang lalu.
Laura sudah merasa jauh lebih baik. Ia yakin Mario bisa membantunya. Besok, mereka akan menemui orang-orang itu.
Sunyi. Laura merasa setiap malam semakin sunyi. Ia memaksa mata untuk terpejam. Ia harus istirahat. Harus benar-benar sehat untuk menghadapi kerasnya hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1
To be continued...