
Beberapa saat lalu, meeting baru selesai dan Laura serta Mario yang hendak pergi dari ruangan, mendengar suara bariton dari sosok pria paruh baya yang tak lain adalah Rendi Syaputra.
Laura saat ini menatap ke arah pamannya yang masih belum menyadari jika sebenarnya ia adalah putri dari sang kakak yang telah dibunuh karena keserakahan.
Kini, ia tidak jadi melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar dan menoleh pada sang paman sambil menunjuk ke arah dirinya. "Me?"
"Ya, aku ingin bicara denganmu," sahut Rendi Syaputra dengan bahasa asing. Ia hanya bisa bicara dengan kalimat pendek saja dan berniat untuk menyuruh asisten wanita itu menerjemahkan perkataannya.
Kemudian menoleh ke arah putranya karena tadi sudah membahas tentang masalah yang terjadi di perusahaan. "Lebih baik kau kembali ke ruanganmu dulu karena Papa ingin bicara dengan wanita ini. Saat kau ada di sini, hanya akan menimbulkan perseteruan karena mengandalkan emosi."
Sebenarnya Andika Syaputra enggan meninggalkan ruangan meeting karena berharap bisa mendengarkan pembicaraan sang ayah dengan wanita yang telah berhasil melengserkan kursi kepemimpinannya.
Namun, tadi sang ayah sudah mengancam dan mengatakan jika mengetahui perbuatannya yang memakai uang perusahaan demi kepentingan pribadi, yaitu main slot.
Kini, ia hanya mengangguk perlahan dan menyahut, "Iya, Pa. Aku akan keluar dan tidak akan pernah mengganggu kalian!" Kemudian melangkahkan kaki panjangnya menuju ke pintu keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.
Bahkan ia hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk meluapkan kekesalan yang dirasakan. 'Awas saja, aku akan menghancurkanmu, bule sialan! Aku tidak akan tinggal diam kau permalukan seperti ini di depan para pemegang saham!'
Ia pun masuk ke dalam lift dan melirik sekilas ke arah pengawal kesayangan sang ayah yang berjaga di depan area ruangan meeting. 'Anjing pengikut itu sangat setia pada kami. Seperti yang dikatakan papa tadi, jika bule itu tidak mau menurut, maka nyawanya yang akan jadi taruhan dan anjing pengikut itu yang akan menyingkirkannya.'
Pintu lift pun kini tertutup dan Andika sudah menghilang di balik pintu kotak besi tersebut.
Sementara itu, sosok pria yang dari tadi berdiri di depan ruangan meeting, masih menunggu majikan utama keluar. 'Nona Laura kembali dengan penampilan berbeda. Apa tuan Rendi Syaputra mengenalinya?'
__ADS_1
Ia yang tadi pertama kali melihat sosok wanita yang semenjak remaja sudah dijaganya di New York, sudah sangat hafal semua hal mengenai Laura. Bahkan instingnya sangat kuat dan begitu mendengar suara wanita itu, benar-benar tidak meleset apa yang dipikirkan.
'Tapi kenapa tuan Andika keluar tanpa tuan Rendi? Apakah terjadi sesuatu? Sepertinya sekarang tuan Rendi tengah berbicara dengan nona Laura. Lebih baik aku lihat dulu apa yang terjadi setelah ini. Baru aku memutuskan apa yang akan kulakukan,' gumam pria dengan pakaian serba hitam ala bodyguard tersebut yang menatap ke arah pintu utama ruangan meeting.
Sementara itu di dalam ruangan, kini Laura yang kembali duduk di kursi utama yang menjadi tempat CEO perusahaan, menatap ke arah sang paman yang tengah berbicara dengan Mario.
Ia memang menyuruh Mario berbicara dengan pamannya, baru menjelaskan padanya. Baginya, berpura-pura bodoh tidak tahu apa yang diucapkan oleh sang paman sangat menyenangkan. Bahkan ia tadi meminta ponsel Mario untuk mengisi waktu agar tidak merasa bosan menunggu.
Ia sengaja tidak mengeluarkan ponsel miliknya di depan orang lain. Jadi, memilih untuk meminta ponsel Mario. Hingga ia mendapatkan pesan dari pengawal yang mengirimkan foto wanita yang paling dibencinya.
Dengan wajah memerah dan tangan kiri mengepal, ia mengumpat di dalam hati. 'Gara-gara wanita mandul ini, bajingan itu memanfaatkan aku untuk hamil benihnya dan membuangku seperti sampah. Ana Maria, tunggu pembalasanku!'
Refleks ia mengirimkan pesan balasan dengan memberikan perintah. 'Jadi, ini alasan bajingan itu mendadak meninggalkan ruangan? Karena ada wanita sialan itu di perusahaan? Christian, bisa-bisanya kau bersikap seperti ini padaku! Baiklah. Aku akan membuat kalian hancur lebur tidak tersisa sebentar lagi.'
Bahkan saat ini posisi mereka berhadapan dan berdiri di sebelah kanan meja. Ingin sekali ia menertawakan sang paman yang hanya memikirkan tentang posisi putranya.
Namun, tidak melakukannya dengan menahan diri agar tidak membuka aksi penyamarannya.
Rendi Syaputra yang beberapa saat lalu mencoba untuk bernegosiasi agar posisi putranya tidak dilengserkan, menawarkan sebuah hal yang dianggap bisa membuatnya menyelamatkan reputasinya.
"Aku ingin kau sampaikan pada Anastasya untuk mengembalikan posisi putraku agar tetap memimpin perusahaan dengan menjadi CEO. Sebagai gantinya, aku akan memberikan sahamku di salah satu perusahaan yang kumiliki. Aku memiliki perusahaan yang bergerak di bidang sama dan berada di Jakarta."
"Tidak ada yang mengetahui jika aku adalah pemiliknya dan hanya menceritakan pada kalian. Jadi, perusahaan itu juga bergerak di bidang jasa yang juga bekerjasama dengan Prameswari Grup." Rendi Syaputra yang selama ini merahasiakan hal itu, kini terpaksa mengatakannya demi menyelamatkan Perusahaan Prameswari.
__ADS_1
Ia selama ini dikenal dari Perusahaan induk dan putranya pun juga demikian. Tidak ingin kehilangan nama baik dan wibawa di depan semua rekan bisnis yang sudah sangat banyak, berpikir harus menyelamatkannya.
Selama ini ia menggunakan cara tidak biasa, yaitu pencucian uang untuk menghasilkan keuntungan dan mendirikan perusahaan baru agar bisa banyak menggelapkan dana perusahaan tanpa sepengetahuan orang lain.
Itu karena ia pun dibantu oleh salah satu rekan bisnis yang ada di luar negeri ketika melakukan pencucian uang. Hingga mendapatkan banyak keuntungan hingga berhasil mendirikan perusahaan lain.
Itulah kenapa dulu menyerahkan Perusahaan Prameswari pada putranya yang ternyata malah membuat banyak kerugian dengan bermain slot. Bahkan ia baru mengetahui hari ini dan akhirnya memilih datang ke rapat tanpa memberitahu putranya.
Kini, ia menatap ke arah pria yang baru saja membuatnya bicara serius dan memberikan sebuah penawaran. "Bagaimana? Apa kira-kira bosmu setuju dan mau menerima tawaranku?"
Mario yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mengetahui rahasia pria itu yang ternyata memiliki perusahaan lain, benar-benar sangat terkejut.
Saat ini merasa memiliki sebuah cadangan yang akan dimanfaatkan oleh Laura. 'Wah ... ternyata pria ini selain iblis juga sangat serakah. Aku yakin jika ia bisa mendirikan perusahaan dengan cara yang sangat licik,' gumam Mario yang kini berakting tersenyum pada sosok pria paruh baya di hadapannya.
Ia kini berakting tertarik untuk menipu pria paruh baya itu. "Saya akan menyampaikannya pada nona Anastasya dulu, Tuan Rendi."
"Baiklah. Jelaskan secara detail padanya. Aku akan menunggu di luar. Setelah bosmu mengambil keputusan, bisa mengatakan padaku." Kemudian ia berjalan keluar karena juga ingin berbicara dengan orang kepercayaannya di luar ruangan.
Sementara itu, Mario yang kini berjalan mendekati Laura, mendengar suara dering ponsel miliknya. Ia bahkan beralih menatap ke arah Laura dan bertanya siapa yang menelpon.
Laura yang dari tadi memegang ponsel Mario untuk membuka media sosial, kini mengerjapkan mata begitu melihat kontak Christian.
"Bastard!" sahut Laura yang kini sama sekali tidak berniat untuk mengangkat panggilan dari pria yang membuatnya terbakar api amarah.
__ADS_1
To be continued...