
"Sayang, kamu kok ngomongnya gitu, sih! Kenapa aku merasa sangat aneh? Kamu tidak peduli lagi padaku?" tanya Ana yang saat ini berpikir jika jawaban yang baru saja didengarnya sangat menyakitkan.
Awalnya Christian berpikir jika Ana akan senang dan berhenti berbicara agar tidak lagi kembali sesak, tapi yang terjadi malah membuatnya bingung untuk mencari sebuah pembenaran diri.
"Ada yang salah dengan kata-kataku? Bukankah aku sudah sepenuhnya mendukungmu, Sayang? Apapun yang kamu mau atau pikirkan, aku tidak akan lagi memarahimu. Lalu, di mana salahnya." Christian bahkan saat ini tengah memikirkan Laura yang ditunggu oleh Mario.
Jadi, tidak bisa berpikir jernih saat Ana mengungkapkan nada protes dan kesal padanya. Mungkin jika sang istri saat ini tidak sakit, sudah pasti akan kesal dan marah karena apapun yang dilakukan selalu salah.
Meskipun ia tahu bahwa para wanita tidak pernah salah dan jarang mau meminta maaf karena gengsi, tetap saja ada masanya seorang pria lelah menghadapi sikap yang seperti itu.
'Rasanya kepalaku benar-benar pusing saat ini karena terlalu banyak memikirkan masalah yang terjadi belakangan ini. Aku minum obat sakit kepala saja agar kepalaku tidak meledak saat menghadapi sikap istriku yang selalu berubah mood seperti ini,' gumam Christian yang memilih untuk mengirimkan pesan pada asisten pribadinya agar memberikan obat sakit kepala.
Ia merasa otaknya panas dan butuh sesuatu untuk mendinginkannya. Hingga ia yang saat ini baru saja selesai mengirim pesan, kembali menatap ke arah wanita dengan wajah pucat dan bibir mengerucut itu.
Namun, sama sekali tidak ada suara yang keluar dari bibir sang istri saat ia meminta penjelasan. "Sayang, jangan diam saja seperti itu. Suasana hatimu harus baik sebelum dioperasi agar tidak berdampak buruk pada hasilnya nanti."
Ana yang dari tadi merasa sikap sang suami sangat aneh, kini masih menatap intens wajah kusut pria yang terlihat kelelahan itu. 'Akulah yang telah membuat suamiku selelah ini. Aku tidak boleh memarahinya. Kasihan suamiku karena harus selalu menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjagaku.'
Ana tahu jika orang yang menghabiskan waktu untuk menunggu pasien di rumah sakit jauh lebih lelah dibandingkan dengan bekerja. Meskipun hanya duduk menemani pasien yang sakit, tapi lelahnya dua kali lipat dari bekerja.
Jadi, sekarang tidak ingin membuat masalah dengan sang suami yang selalu perhatian padanya dan dengan sabar merawatnya saat sakit.
"Sayang, jika ada salah baik yang ku sengaja maupun tidak, maafkan aku." Akhirnya hanya itu saja yang lolos dari bibir Ana saat ini.
'Jika aku mati di ruangan operasi nanti, tidak akan menyesal karena sudah meminta maaf pada suamiku atas kesalahan yang kuperbuat padanya,' gumam Ana yang saat ini mencoba untuk menguatkan hati agar tidak berkaca-kaca saat memikirkan kemungkinan buruk mengenai hasil operasi.
Sementara itu, Christian yang saat ini tidak tega melihat sang istri ketika berbicara dengan raut wajah penuh ketulusan, sehingga membuatnya langsung bangkit berdiri dari kursi dan memeluk erat tubuh lemah wanita yang sudah bertahun-tahun mendampinginya mengarungi bahtera rumah tangga.
"Aku juga minta maaf padamu atas semua kesalahan yang aku lakukan, Sayang. Sekarang kita sudah sama-sama saling memaafkan, bukan? Jadi, sekarang kamu fokus pada kesembuhanmu dan tidak perlu berpikir hal-hal negatif, oke!" Mengusap lembut lengan wanita yang masih memakai seragam rumah sakit itu.
Ia benar-benar sangat iba pada sang istri karena mengidap penyakit kronis yang pastinya sangat menyiksa kondisi fisik serta psikisnya. Jadi, meskipun keinginannya untuk bersama dengan Laura sangat besar, tapi selalu lemah melihat kondisi Ana.
Bahkan ia dulu tidak tega saat setiap hari melihat Ana harus mengkonsumsi obat-obatan, tapi sekarang semakin tiba kala penyakit menyebar hingga harus dilakukan operasi.
"Iya, aku akan memenuhi pikiranku dengan hal-hal positif seperti apa yang kamu bilang, Sayang," sahut Ana yang kini melihat pintu ruangan terbuka dan cukup jantungnya berdetak kencang kalau perawat menyampaikan sesuatu.
"Persiapan untuk dilakukan proses operasi sebentar lagi. Saya akan memeriksa kondisi Anda sebentar," ucap seorang pria paruh baya yang mulai mengecek pasiennya.
Saat semuanya normal, ia pun kini beralih menatap ke arah perawat. "Bawa pasien ke ruangan operasi!"
Tanpa membuang waktu, kini tiga orang sudah bergerak cepat untuk mendorong brankar pasien keluar.
__ADS_1
Christian yang saat ini berjalan di sebelah sang istri sambil menggenggam erat telapak tangan, tidak berhenti memberikan support.
"Kamu pasti akan sembuh setelah ini, Sayang," ucap Christian yang saat ini mendadak merasa khawatir dan bimbang.
Namun, mencoba untuk menyembunyikan agar tidak dilihat oleh sang istri yang sudah tidak lagi gelisah seperti beberapa saat lalu. 'Semoga semuanya berjalan lancar. Lindungi Ana dan selamatkan dia dari penyakitnya ini, Tuhan.'
"Tenanglah dan jangan gugup, Sayang," ucap Ana yang saat ini bisa melihat dengan jelas raut wajah murung sang suami yang mengkhawatirkannya.
Ana merasa jika sekarang posisinya adalah kebalikan dari beberapa saat lalu karena sang suami malah terlihat gugup dan gelisah karena mengkhawatirkannya, sedangkan ia sendiri jauh lebih tenang dan memasrahkan hidupnya pada yang lebih berkuasa.
Bahwa jodoh, maut sudah ditentukan oleh Tuhan dan manusia hanyalah bisa berencana saja setelah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan ia saat ini mengulas senyuman agar sang suami tidak menatap iba padanya.
Itu adalah sebuah hal yang paling tidak disukainya ketika mendapatkan belas kasihan, tapi memang keadaannya yang sangat menyedihkan dan membuatnya harus menerimanya.
"Doakan saja aku agar bisa keluar dari rumah sakit setelah sembuh." Ana kini melihat sang suami mengangguk perlahan sambil mengusap lengannya.
"Iya, Sayang. Itu pasti karena aku tidak akan berhenti berdoa pada Tuhan untuk kebaikan kita bersama," sahut Christian yang masih menggenggam erat telapak tangan sang istri.
Hingga begitu tiba di depan ruangan operasi, genggaman tangannya seketika terlepas dan Christian kembali mengalami Dejavu karena beberapa saat lalu Laura masuk dan keluar dari sana.
"Lindungi dan selamatkan istriku, Tuhan. Laura sudah selamat dari maut dan semoga Ana juga demikian," lirih Christian yang saat ini masih berdiri di depan ruangan operasi.
Sempat ia bertanya berapa lama kira-kira operasi berlangsung dan saat ini ingin memastikan dengan waktu yang sekarang agar bisa mengira-ngira. Hingga beberapa saat kemudian ia yang satu punya sangat lemas, akhirnya berjalan ke arah kursi dan mendaratkan tubuhnya di sana.
Hingga ia menoleh ke arah sosok pria yang baru saja memanggil namanya. Bahwa Vicky saat ini tengah membawa kantong plastik berisi makanan dan juga minuman yang dipesan.
Namun, ia tidak berselera makan dan tidak berencana untuk menikmatinya. Apalagi berada di depan ruangan operasi seperti sekarang, mana mungkin dia bisa mengunyah dan menelan makanan di saat seperti ini.
"Ini makanannya, Tuan. Anda bisa makan tempat yang berada sebelah ujung sana. Biar saya yang sementara menunggu di sini," ucap Vicky yang saat ini menaruh makanan yang dibawanya dan ada kopi juga sesuai pesanan dari bosnya tersebut.
Refleks Christian menggeleng perlahan karena hanya fokus menatap ke arah pintu ruangan operasi. "Aku tidak bisa makan saat istriku berada di sana. Ana akan baik-baik saja, kan? Aku sekarang merasa sangat takut."
"Semuanya akan baik-baik saja karena ada dokter ahli bedah yang menangani istri Anda, Tuan Christian. Anda tidak boleh berpikir macam-macam. Kita berdoa saja untuk kebaikan nona Ana. Sebaiknya Anda tetap makan meskipun hanya beberapa sendok karena seperti yang tadi dibilang, jika kondisi Anda drop, siapa yang menjaga nona Ana?"
Vicky lalu mengambil kantong plastik berisi makanan yang dibelinya di kantin tersebut dan menaruh di telapak tangan bosnya. "Anda tidak boleh sakit karena perjuangan untuk merawat nona Ana tidak berhenti sampai di sini, Tuan Christian."
Christian merasa tubuhnya sangat lemas saat ini seperti kehilangan seluruh tenaga dan menatap kosong pada makanan yang dibeli oleh asisten pribadinya tersebut.
Ia tahu bahwa semua yang dikatakan oleh Vicky memang benar, tapi tetap saja sangat sulit baginya untuk mengunyah makanan saat ini. Namun, ia tetap berdiri dan berusaha untuk tidak lemah.
"Aku akan mencobanya. Kau tunggu di sini agar mengetahui jika ada sesuatu hal yang diinformasikan dokter atau perawat." Kemudian ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah yang tadi ditunjukkan oleh Vicky.
__ADS_1
Awalnya ia ingin membawa kopi juga, tapi dilarang dengan alasan perut kosong tidak boleh minum kopi dan harus makan dulu. Akhirnya ia yang tidak ingin berdebat dengan asisten pribadinya, mengembuskan napas ketika berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sangat sunyi.
Itu karena memang ruangan operasi berada di bagian paling ujung di lantai dua tersebut. Apalagi jarang orang berlalu lalang di sana karena tidak ada ruangan kamar perawatan. Jadi, ia bisa makan dengan tenang tanpa merasa terganggu dengan lalu-lalang orang yang melintas.
Saat baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan membuka makanan, ia mulai menyuapkan satu sendok ke dalam mulut dan mengunyah perlahan. Bahkan hanya mengunyah satu sendok makan saja butuh waktu cukup lama karena memang saat ini perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Hingga pada suapan ketiga, dering ponselnya berbunyi dan ingin memeriksa apakah yang menghubungi adalah asisten pribadinya untuk mengabarkan tentang operasi sang istri.
Namun, ketika melihat kontak sang ibu menelpon, segera menggeser tombol hijau ke atas. "Iya, Ma."
"Syukurlah Laura sudah sadar, Sayang. Saat ini masih diperiksa oleh dokter untuk memastikan tidak ada yang bermasalah dari operasinya," ucap Renita padmasari yang kini balik bertanya. "Apa Ana sudah berada di ruang operasi?"
"Syukurlah jika Laura sudah sadar, Ma. Kabari aku jika nanti ada masalah." Christian jadi melanjutkan makannya setelah lega mendapatkan kabar tentang Laura yang baik-baik saja.
Hingga ia kembali mendengar suara sang ibu yang membuatnya merasa tertarik.
"Tadi Mama bertanya padanya mengenai siapa sebenarnya Laura dan kenapa ada banyak orang yang menginginkan kematiannya. Sekarang Mama mengerti karena tadi Laura mengizinkan Mario menjelaskan semuanya pada Mama," ucap Renita Padmasari yang ingin putranya mengetahui apa yang baru saja didengarnya.
Bahkan ia sama sekali tidak menyangka jika nasib Laura sangat miris semenjak kecil.
"Ceritakan semuanya padaku, Ma. Aku ingin tahu siapa sebenarnya orang-orang jahat yang menginginkan kematian Laura." Christian kini memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan siapa musuh Laura.
Hingga ia mulai mendengarkan cerita tentang asal-usul wanita yang pertama kali dijumpai di salah satu Club malam di New York. Bahkan sesekali ia membulatkan kedua matanya karena sama sekali tidak menyangka jika Laura ternyata memiliki banyak rahasia dan kisah hidup sangat miris.
Ia juga beberapa kali mengepalkan tangan serta terlihat wajah memerah kala merasa murka pada orang-orang jahat yang selama ini membuat hidup Laura menderita adalah orang yang sangat dikenal dan sering berinteraksi dengannya.
"Rendi Syaputra? Jadi, dalang di balik penderitaan Laura adalah pria tua itu yang merupakan pamannya sendiri?" sarkas Christian yang merasa sangat terkejut dengan sesuatu yang tidak pernah disangkanya.
"Iya, Sayang. Pria jahat itulah yang menginginkan kematian Laura, tapi Tuhan selalu melindunginya dan masih selamat sampai sekarang. Laura memang berusaha untuk membalas dendam, tapi ia tetaplah seorang wanita yang tidak mungkin bisa melawan seorang pria. Jadi, tadi Mama menasihatinya untuk membiarkanmu membantunya."
Renita Padmasari yang berbicara panjang lebar di luar karena tidak ingin Laura merasa terganggu, sehingga bisa menceritakan pada putranya. Ia tahu jika saat ini putranya tengah fokus menunggu proses operasi Ana, tetap saja mengganggu karena yakin jika Christian juga penasaran sepertinya.
"Lalu apa yang dikatakan Laura, Ma? Apa dia mau mendengar nasihat Mama?" Christian sudah bersiap untuk membantu Laura karena berpikir jika harus ikut membalas dendam saat mantan istrinya hampir kehilangan nyawa berkali-kali.
Namun, jawaban sang ibu membuatnya lemas dan tidak bersemangat lagi. Apalagi penuturan sang ibu serasa mencekik lehernya dan membuatnya kesusahan bernapas.
"Tidak. Laura menolak mentah-mentah karena tetap ingin membalas dendam sendiri tanpa melibatkan pria yang sangat dibenci. Sepertinya Laura benar-benar sangat membencimu. Bahkan tadi mengatakan akan mengurus hak asuh Valerio setelah Ana lebih baik dan keluar dari Rumah Sakit."
Poin penting yang ingin disampaikan telah diungkapkan dan Renita Padmasari sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat Laura mau memaafkan putranya.
To be continued...
__ADS_1