
Christian beberapa saat lalu menghubungi asisten pribadinya untuk bertanya mengenai keadaan Ana yang mengalami kecelakaan. Awalnya ia merasa sangat terkejut sekaligus khawatir pada istri pertamanya yang mendapatkan kecelakaan.
Hingga ia berpikir bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ana, sedangkan Laura membutuhkan perhatiannya. Bahkan di hari pertama menikah saja sudah membuatnya merasa bingung karena tidak bisa bersikap adil saat para istri membutuhkan.
Namun, merasa sangat lega begitu mendengar semua informasi yang baru saja dikatakan oleh Vicky, hingga seketika terkejut dan langsung mematikan sambungan telepon saat mendengar suara Ana.
Christian yang tadinya keluar dari ruangan agar suaranya tidak sampai membuat Laura terganggu saat masih belum sadar lagi, mengempaskan tubuhnya di kursi yang berada di depan ruangan.
Hingga ia pun berpikir jika saat ini sangat khawatir jika sampai asistennya ketahuan oleh Ana dan sekaligus khawatir pada keadaan Laura yang tidak punya siapa-siapa.
"Kenapa tiba-tiba Ana datang ke ruangan Vicky? Apa sebenarnya yang ingin dilakukannya di sana? Kira-kira Vicky ketahuan atau tidak, ya?" Ia masih duduk diam di tempatnya tanpa berpindah posisi karena menunggu hingga asistennya memberikan petunjuk.
Selama menunggu, ia sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk dan keputusannya jika sampai Ana mengetahui ia sudah kembali ke Jakarta dan menikahi wanita lain.
"Mungkin aku akan mengemis belas kasihan dari Ana agar Laura tidak sendirian dan bisa merawatnya sampai sembuh. Bahkan aku pun akan mengatakan jika sudah menemukan wanita yang selama ini ia cari untuk hamil benihku."
Christian sadar jika ia mungkin adalah seorang pria yang sangat egois karena saat Laura bahkan belum sehat saja sudah memikirkan tentang keturunan. Sebenarnya hal tersebut juga menjadi alasannya saat merasa yakin dan sama sekali tidak ragu untuk menikahi Laura.
"Semoga Ana bisa mengerti bahwa ini jauh lebih baik daripada aku meninggalkannya ataupun menceraikannya sesuai dengan perintah dari mama." Ia yang baru saja mengungkapkan segala keluh kesah yang dirasakan, saat ini berpikir jika Ana pasti akan menerima keputusannya.
Ia bahkan sudah berencana membelikan rumah sebagai tempat tinggal Laura nantinya karena tidak berniat untuk menempatkan dua istrinya dalam satu rumah karena bisa mengerti bagaimana perasaan seorang wanita yang tidak ingin berbagi suami.
Namun, ia terpaksa melakukannya karena keadaan dan tidak ingin kehilangan keduanya. Bahkan sama sekali tidak peduli jika ada yang mengejeknya adalah seorang pria serakah karena tidak tahu bagaimana perjalanan hidupnya dengan Ana sampai saat ini.
Christian saat ini masih menatap ke arah ponsel dan menunggu kabar dari Vicky. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara notifikasi dan ia langsung membacanya.
Aman, Bos! Nona Ana tadi hanya bertanya apakah Anda menghubungiku atau tidak. Sepertinya Anda perlu segera menghubungi nona Ana agar tidak khawatir dan berpikiran macam-macam.
Suara embusan napas lega kini mewakili perasaan Christian saat ini karena selamat dari kemurkaan sang istri.
"Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa kembali bernapas lega saat ini. Aku akan menghubungi Ana, tapi nanti saat sudah siap. Aku khawatir malah membuatnya curiga saat berbicara gugup."
"Baiklah. Aku tidak akan berada di luar ruangan agar tidak bertemu dengan Anak jika sampai benar-benar datang ke rumah sakit. Istriku dari dulu selalu baik dan suka menolong orang. Itulah alasan aku dulu jatuh cinta padanya selain wajahnya yang cantik."
Kini, Christian membalas pesan dari Vicky agar pria itu mengerti apa saja yang harus dilakukan.
Suruh orang untuk membawakan baju ganti serta mengirimkan makanan karena aku akan kelaparan jika tidak bisa pergi ke kantin. Saat nanti sudah tiba di Rumah Sakit bersama istriku, kabari aku!
Kini, Christian yang merasa sangat lega karena selamat dari kekhawatirannya pada Ana, seketika membuatnya kembali masuk ke dalam ruangan. Di mana wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya tersebut bagaikan putri tidur yang enggan untuk bangun.
__ADS_1
Meskipun terkadang ia sesekali bisa merasakan pergerakan dari jemari Laura saat menggenggam erat tangannya, tapi merasa bahwa itu belum bisa membuatnya lega.
Namun, menyadari bahwa semuanya butuh proses karena memang kecelakaan yang menimpa Laura benar-benar sangat mengerikan.
Kini, ia berdiri di dekat ranjang dan menatap intens sosok wanita dengan wajah pucat dan masih ditopang dengan banyak peralatan medis.
"Sayang, cepatlah bangun dan lihat aku. Aku sudah memenuhi impianmu, jadi kamu harus segera sehat dan berterima kasih pada suamimu ini." Mengusap lembut punggung tangan dari sosok wanita yang memiliki arti di hatinya.
Bahkan ia merasa telah menyiapkan ruang khusus untuk Laura. Meskipun berpikir tidak akan menggantikan posisi Ana dan tidak akan pernah bisa memilih salah satunya untuk bertahan dengannya.
"Aku membutuhkanmu, Laura, tapi aku harap kamu mengerti bahwa sebelum kamu, ada Ana. Semoga aku bisa menyelesaikan masalah ini jika sampai ketahuan oleh Ana." Christian sebenarnya merasa sangat risi karena dari kemarin belum berganti pakaian.
Bahkan tubuhnya terasa lusuh dan lelah karena semalaman tidak tidur dalam posisi berbaring. Apalagi serasa tubuhnya lengket semua karena belum menyentuh air semenjak pulang.
"Aah ... rasanya aku ingin berendam di kamar mandiku yang ada di rumah," ucap Christian yang saat ini tengah menatap ke arah kamar mandi di dalam ruangan VIP Rumah Sakit.
"Aku sekarang sepertinya harus membiasakan diri dengan menganggap bahwa kamar ini adalah tempat tinggal sementara untuk kami. Aku akan mandi setelah orang yang disuruh oleh Vicky datang membawa baju ganti dan makanan."
Christian saat ini merasa lega dan berpikir harus banyak makan agar bisa menjaga Laura dan tidak ikut sakit jika sampai malas menjaga kesehatan.
Kemudian ia kembali mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sekitar ranjang perawatan sambil menatap intens sosok wanita yang sama sekali tidak membuatnya ingin memalingkan wajah.
Seolah ia tidak akan pernah bosan menatap Laura yang sangat cantik meskipun tidak memakai make up di wajahnya.
"Kita tidak akan mengukir kenangan di New York, Sayang. Karena kita akan mengukir kenangan di Bandung. Aku memilih Bandung karena di sana lebih aman dan tidak akan ada yang mengenal kita."
Tadi, ia mencari informasi mengenai tempat tinggal yang dijual di daerah Bandung dan akan membelinya sebagai rumah untuk Laura saat pulang dari rumah sakit setelah sembuh nanti.
"Aku akan menyiapkan semuanya agar saat kita pulang nanti, kamu merasa senang dan bahagia, Sayang. Jadi, cepat sembuh agar kita bisa bersama seperti sebelumnya."
Saat ini ia berpikir jika nanti Laura tidak bersedia tinggal di Bandung, tidak akan memaksa dan menuruti apapun keinginan istri keduanya tersebut.
Namun, dengan catatan merahasiakan semuanya agar tidak tercium media karena jika sampai perbuatannya yang menikah diam-diam diketahui oleh wartawan, akan dimanfaatkan oleh para saingan bisnis untuk menjatuhkannya.
Saat Christian memikirkan beberapa kemungkinan setelah Laura sadar nanti, ia kini merasakan pergerakan dari jemari yang digenggamnya dari tadi.
Hingga kedua mata yang dari semalam tertutup rapat tersebut, kini perlahan terbuka dan bisa melihat tatapan aneh dari iris kecoklatan itu.
"Sayang? Akhirnya kamu sudah bangun dari tidurmu yang panjang?" ucap Christian yang saat ini merasa sangat lega begitu melihat wanita yang sudah sah menjadi istrinya tersebut telah sadar.
__ADS_1
Namun, ia kembali merasakan tatapan Laura sangat berbeda. Tidak seperti saat berada di New York dan terlihat penuh cinta. Namun, saat ini tatapan wanita itu terlihat sangat kosong, seolah tidak tahu apa yang harus ditanyakan.
Hingga ia mendengar suara sangat lirih dari Laura dan membuatnya harus mendekatkan telinga agar bisa mendengar apa yang diucapkan oleh wanita dengan tatapan aneh itu.
"Apa yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Christian yang saat ini berusaha untuk memahami suara yang lolos dari bibir Laura untuk pertama kalinya.
"Siapa?" lirih Laura yang saat ini melihat tengah berada di sebuah ruangan dengan nuansa putih dan sama sekali tidak mengenal sosok pria yang ia dengar memanggil sayang padanya.
Ia ingin berbicara banyak, tapi seperti kesusahan untuk membuka mulutnya.
'Siapa pria ini? Kenapa aku saat ini berada di ruangan rumah sakit? Apa yang terjadi padaku? Aku ... siapa aku?'
Laura saat ini berusaha untuk mengingat apa yang dilupakannya. Ia berusaha untuk mencari tahu, tapi mendadak kepalanya sangat pusing dan membuatnya memeganginya.
"Aaarggh ...."
Laura masih mencoba untuk mengendalikan rasa sakit yang mendera pada bagian kepala. Saat ini merasa ia seolah menjadi orang asing dan terdampar di tempat sangat jauh.
Sementara itu, Christian yang tadinya bisa mendengar suara lirih yang bertanya siapa, tapi tidak dilanjutkan, seolah membuatnya merasa yakin ada sesuatu yang tidak beres pada kepala Laura.
Hingga ia pun mencoba untuk menenangkan Laura agar tidak memaksakan diri menghemat apapun. Ia saat ini hanya berusaha untuk menenangkan dengan cara memegang erat telapak tangan dengan jemari lentik tersebut.
"Tenanglah, Laura! Kamu masih belum pulih sepenuhnya dan tidak boleh memaksakan kinerja otakmu karena itu akan berdampak buruk. Lebih baik kamu kembali beristirahat untuk memulihkan kesehatan setelah melakukan operasi besar."
Christian kemudian memencet tombol untuk memanggil perawat karena ia tidak mungkin meninggalkan Laura saat dalam posisi sudah sadar.
Hingga ia saat ini kembali menatap ke arah Laura yang sudah sedikit tenang dan tidak merasakan sakit luar biasa yang diperlihatkan tadi.
"Si-a-pa ... La-ura? Si-a-pa ... a-ku?"
Dengan susah payah Laura memikirkan pertanyaan yang dirancang dan keluar dari mulutnya dengan tergagap karena ia saat ini ingin mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
'Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun? Lalu siapa pria ini?' gumamnya yang saat ini membutuhkan jawaban dari pertanyaannya.
Hingga ia pun tidak mengalihkan pandangannya dari sosok pria dengan memberikan perhatian padanya dan membuatnya sangat terkejut.
"Iya, Sayang. Kamu adalah Laura dan merupakan istriku."
Christian yang baru saja menutup mulut, kini melihat pintu yang terbuka dan perawat serta dokter masuk untuk memeriksa wanita yang benar-benar telah mengalami amnesia seperti yang dikatakan oleh dokter.
__ADS_1
'Baiklah, Sayang. Aku akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku untuk kedua kali meskipun mengalami amnesia,' gumam Christian yang saat ini merasa sangat percaya diri bisa mendapatkan hati Laura meskipun tidak mengingat semua kenangan mereka akibat kecelakaan.
To be continued...