365 Days With You

365 Days With You
Pemakaman


__ADS_3

Sebenarnya Christian merasa sangat terpukul serta down begitu mendengar omelan dari sang ibu dan merasa khawatir jika hal yang sama menimpa Laura seperti yang dikatakan oleh wanita yang telah melahirkannya tersebut.


Namun, saat ini tidak bisa berpikir selain ingin segera melihat Ana yang sudah mengembuskan napas terakhir di ruangan operasi. Sebenarnya ia ingin berusaha untuk kuat agar tidak menangis begitu menatap ke arah jenazah sang istri dibalik kain berwarna putih.


Saat ia berjalan mendekat, suaranya terdekat di tenggorokan dan dadanya terasa sangat sesak dan membuatnya seperti tidak bisa berbicara. Hingga ia pun saat ini seketika menghambur ke arah kaki yang tertutupi kain itu.


"Ana, maafkan aku karena tidak memperdulikanmu ketika membahas mengenai ketakutanmu saat hendak dioperasi. Aku memang benar-benar suami tidak berguna dan berengsek! Aku bahkan tidak bisa mengubah semua hal buruk ini. Penyesalan selalu datang di akhir dan tidak berguna sama sekali karena tidak bisa diperbaiki."


Christian saat ini berusaha untuk tidak meloloskan bulir air mata dan masih berusaha untuk kuat agar tidak terlihat lemah di hadapan sang istri yang sudah berbeda alam dengannya.


Namun, ia yang kembali mengingat bagaimana ekspresi wajah penuh ketakutan dari Ana sebelum dioperasi dan malah ditanggapi dengan tidak peduli olehnya, membuatnya makin merasa berdosa dan bersalah.


Hingga ia seketika terhempas ke lantai karena tubuhnya seolah kehilangan daya dan saat ini menangisi sosok wanita yang yang sangat dicintainya.


Christian jatuh terduduk di lantai dan saat ini tidak mampu untuk berbicara apapun karena suara tercekat di tenggorokan. Ia hanya menyesali perbuatannya yang sangat jahat pada sang istri pada detik-detik terakhir menjelang ajal menjemput.


'Tuhan, ampuni segala dosa-dosa istriku dan terima dia disisi-Mu. Aku tahu jika ini adalah jalan terbaik untuk Ana karena tidak akan merasakan sakit lagi. Aku akan berusaha ikhlas dan menerima semuanya,' gumam Christian yang saat ini baru saja berkeluh kesah dalam hati sambil menatap kosong ke arah tubuh dibalik kain putih di atasnya.


Hingga ia pun mendengar suara dari luar yang mengetuk pintu dan sama sekali tidak diperdulikan. Hingga pintu terbuka dan dua perawat dia datang.


"Semuanya sudah selesai diurus diantar dengan ambulance, Tuan." Salah satu pria dengan tubuh gemuk memakai seragam berwarna biru tersebut sebenarnya tidak tega melihat suami yang terpuruk ketika melihat istrinya baru saja meninggal.


Namun, tidak mungkin membiarkan pria itu karena harus melaksanakan tugasnya mengantarkan jenazah. Jadi, memilih untuk mengatakan hal tersebut agar segera bisa segera menyelesaikan pekerjaan.


Christian sebenarnya masih belum puas untuk mengeluarkan keluh kesah atas penyesalannya pada sang istri yang sudah meninggal, terpaksa mengangguk lemah dan kini perlahan bangkit berdiri dengan berpegangan pada brankar.


"Iya. Lakukan tugas kalian sekarang! Aku yang akan menemani istriku di dalam ambulans." Christian bahkan saat ini sudah berkaca-kaca bola matanya, tapi dari tadi ditahan agar tidak membanjiri wajah.


Apalagi saat di depan orang lain, tidak ingin terlihat lemah dan saat ini menatap ke arah dua pria yang tengah mendorong sang istri yang keluar menyusuri lorong rumah sakit.


Ia bisa melihat asisten pribadi serta sang ibu masih berdiri di sana dan membuatnya menyuruh untuk pulang naik mobil karena ia yang akan berada di dalam ambulans.


"Biar Mama saja yang menemani anak di dalam ambulans karena hatimu tengah terpuruk. Mama khawatir kamu tidak akan kuat berada di dalam ampunan yang menuju ke rumah." Renita Padmasari langsung mengungkapkan keinginannya begitu melihat wajah gelap nan murung yang saat ini terlihat sangat jelas dari putranya.


Ia yang tadi menelpon sang suami, sudah memberikan ultimatum padanya agar putranya tidak dibiarkan berdua dengan mayat Ana karena akan semakin merasa bersalah. Jadi, saat ini masih berusaha membujuk putranya agar mau patuh meskipun ragu.


Hingga ia pun saat ini merasa sangat kesal karena putranya sama sekali tidak membuka sepatah kata pun untuk menanggapi larangannya.


Ia melihat Christian sudah berjalan mengekor dua perawat menuju ke ambulance dan akhirnya memilih untuk memberikan kode pada Vicky agar menasihati.


"Siapa tahu jika kamu yang mengatakannya pada putraku, akan lebih didengarkan," ucapnya dengan penuh permohonan pada Vicky yang malah kembali membuatnya bertambah besar karena tanpa pikir panjang seketika menggelengkan kepala sebagai penolakan.


"Maafkan saya, Nyonya karena tidak bisa menghentikan tuan Christian. Momen terakhir yang akan dilaluinya pasti sangat berat dan membuatnya bersedih sekaligus terpuruk, tapi akan semakin menyesal jika tidak melakukannya." Berusaha untuk mengubah pemikiran dari wanita paruh baya tersebut yang tadi mendapatkan telepon dari sang suami.

__ADS_1


"Bahkan mungkin akan merasa murka dan membenci kita jika melarang. Jadi, biarkan tuan Christian melakukan apapun untuk terakhir kalinya demi nona Ana agar tidak semakin menyesal," ucapnya sambil melangkah mengikuti tiga pria yang sudah berjalan di depan.


Renita Padmasari sebenarnya mengetahui jika apa yang dikatakan oleh Vicky memang benar karena ia juga sepemikiran. Namun, juga membenarkan kekhawatiran dari sang suami yang berpikir jika putranya akan semakin down melihat jenazah sang istri di hadapannya selama dalam perjalanan pulang.


Akhirnya ia memilih untuk mendengarkan perkataan dari asisten pribadi putranya tersebut dengan berjalan di belakang.


"Waktu yang akan menyembuhkan semua luka dan penyesalan serta keterpurukan dari tuan Christian, Nyonya. Jadi, untuk saat ini biarkan Tuan Christian memuaskan diri untuk menyesal dan larut dalam kesedihan karena hal seperti ini adalah sebuah hal yang wajar dialami oleh semua orang yang merasa kehilangan."


Vicky memilih untuk menghibur wanita paruh baya tersebut daripada bosnya sendiri. Itu semua karena ia sudah sangat mengenal bosnya yang dianggap seperti saudara sendiri.


Bahkan ketika melihat atasannya tersebut sama sekali tidak berbicara ketika keluar dari ruangan dan juga tidak menanggapi perkataan dari sang ibu, sehingga membuatnya memilih untuk diam dan membiarkan menenangkan diri.


Hingga mereka tiba di dekat mobil ambulans dan membantu untuk menaikkan brankar.


Christian langsung naik ke dalam mobil ambulans tanpa menoleh ke arah sang ibu serta asisten pribadinya karena dari tadi fokus menatap ke arah sang istri.


"Sayang, kita pulang ke rumah. Aku akan menemanimu sampai mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirmu." Christian sebenarnya saat ini ingin kembali mengungkapkan perasaan membuncah yang dirasakan.


Tentang kenapa dan mengapa sang istri pergi terlalu cepat karena masih sangat muda. Padahal dulu berpikir jika bisa hidup bersama dengan Ana sampai menua, tapi semua impiannya menjadi semu saat ini begitu melihat wajah pucat wanita di hadapannya tersebut.


Kini, ia sudah tidak mampu lagi menahan gejolak perasaan yang membuat bola matanya sudah meloloskan kulit air mata yang menganak sungai di wajahnya saat ini.


Namun, ia menahan agar tidak bersuara dan hanya meneteskan air mata. 'Sayang, apa kamu lupa jika dulu kita berjanji akan hidup bersama sampai menua? Lalu, sekarang kamu pergi dan tidak akan pernah kembali.'


'Sekarang apa yang harus kulakukan tanpamu?' gumam Christian yang saat ini mengingat tentang janjinya pada sang istri.


'Ana, aku akan menebus kesalahanku padamu. Aku akan memenuhi janjiku. Aku tidak akan pernah kembali pada Laura dan membiarkannya hidup bahagia bersama dengan pihak lain. Aku saat ini sudah mempunyai keturunan dan bagiku itu sudah lebih dari cukup.'


Christian tahu jika hak asuh akan mutlak dimenangkan oleh Laura dan ia tidak bisa setiap hari melihat putranya karena pastinya akan tinggal dengan ibu kandungnya, tapi ia tetap merasa bahagia karena sudah memiliki anak yang akan melanjutkan keturunan keluarganya.


Tidak ada lagi hal yang diinginkan selain itu dan merasa jika tujuan hidupnya hanyalah semata untuk putranya. Jadi, saat ini berjanji di hadapan jenazah sang istri, bahwa ia tidak akan pernah kembali pada Laura demi menebus dosa-dosanya pada Ana yang sudah banyak disakitinya.


"Ana, tenanglah di alam sana. Aku berjanji atas namamu bahwa tidak akan pernah kembali pada Laura karena tujuan hidupku sekarang hanyalah putra kita. Aku akan berusaha menjadi ayah yang bisa dibanggakan untuk putra kita," lirih Christian yang saat ini sudah bertekad bulat untuk tidak memanfaatkan kesempatan dengan meninggalnya Ana untuk kembali pada Laura.


Apalagi saat ini hanya rasa bersalah yang dirasakan ketika menatap ke arah jenazah sang istri. Apalagi ketika tadi menatap Laura juga berlaku hal yang sama, yaitu perasaan berdosa pada anak yang serasa membuat hidupnya tidak tenang.


Sampai pada akhirnya ia hanya diam menatap sang istri yang sudah tidak berdaya dan akan dikebumikan di pemakaman keluarga.


Hingga setengah jam telah berlalu dan kini pintu gerbang besi berwarna hitam rumah keluarga Christian telah terbuka dan ambulans yang membawa jenazah segera memasuki area halaman.


Sang sopir dan rekannya kini turun untuk membuka bagian belakang ambulans dan menurunkan jenazah di tempat yang sudah disediakan.


Christian bahkan ikut membantu untuk mengangkat tubuh sang istri dan bisa melihat para pelayannya sudah sibuk dengan tugas masing-masing dan juga suara tangisan dari mereka terdengar menyayat hati memenuhi keheningan malam di rumah megah itu.

__ADS_1


Bahkan beberapa sanak keluarga dan juga ayah dari Christian sudah terlihat di bagian paling depan menyambut jenazah.


"Terima kasih," ucap Christian pada dua perawat yang kini mohon pamit untuk kembali ke rumah sakit.


Sampai pada akhirnya Christian yang berusaha kuat di depan banyak orang yang merupakan sanak keluarga terdekat, seketika terhuyung ke belakang karena sang ayah sudah memeluknya dan menepuk punggung dengan menghibur.


"Kamu harus sabar, Christian. Semua ini sudah menjadi takdir dari Tuhan karena jodoh maut sudah digariskan. Kamu harus tabah dan bisa menerima semua cobaan ini," ucap pria paruh baya yang merupakan ayah dari Christian.


Ia yang saat ini masih berusaha untuk menghibur putranya agar tidak down dengan kematian sang istri, sama sekali tidak mendengar tanggapan atas perkataannya dan membuatnya melepaskan pelukan.


Saat ini menatap ke arah putranya yang terlihat sangat murung dengan wajah kusut. "Sabar dan tabahlah. Kamu sekarang hanya harus mendoakan yang terbaik untuk istrimu karena saat ini hanya itu yang dibutuhkannya."


Christian yang saat ini bahkan tidak mampu untuk berbicara karena dadanya terasa sesak dan khawatir jika membuka suara hanya akan membuatnya terlihat menyedihkan karena pasti akan bergetar.


Jadi, hanya menganggukkan kepala agar sang ayah tidak merasa khawatir. Hingga ia mendengar suara dari sang ibu yang baru saja datang bersama dengan Vicky.


"Apakah jenazah langsung dikebumikan atau besok pagi saja?" tanya Renita Padmasari yang saat ini tidak tahu rencana dari putranya mengenai proses pemakaman.


Tadi sudah bertanya pada sang suami, tapi tidak bisa memutuskan karena khawatir melakukan kesalahan jika mendahului putranya. Jadi, saat ini memilih untuk bertanya pada putranya.


Sementara itu, Christian yang saat ini melihat jam tangan miliknya sudah menunjukkan tengah malam, sebenarnya ingin langsung memakamkan jenazah sang istri, tapi memilih untuk melakukannya besok pagi dengan mendapatkan banyak doa dari beberapa tetangga sekitar yang mengantar ke pemakaman untuk terakhir kali.


"Bsok pagi saja, Ma. Lagipula persiapan membutuhkan waktu dan lebih baik kita semua membacakan doa untuk Ana malam ini." Ia saat ini melihat ke arah jenazah sang istri yang sudah dibaringkan di tempatnya.


"Aku akan memberikan yang terbaik untuk istriku di hari terakhirnya dan tidak ada yang terbaik selain doa dari banyak orang yang besok mengantarkan kepergiannya," ucap Christian saat ini berbicara dua dengan suara yang serak seolah mewakili perasaannya yang tidak karuan.


Kini, beberapa orang yang mendengar perkataan dari Christian menganggukkan kepala dan membenarkan pemikiran dari pria yang kini sudah berubah status sebagai duda tersebut.


Kemudian pasangan suami istri yang saat ini langsung memberikan pengarahan kepada beberapa orang untuk mengurus semuanya.


"Baiklah, Sayang. Pemakaman dilakukan besok saja," ucap Renita Padmasari yang saat ini ingin menuruti apapun yang diinginkan oleh putranya.


Bahkan meskipun saat ini tengah malam, beberapa ucapan turut berduka cita sudah menghiasi halaman rumah keluarga.


Tentu saja kabar meninggalnya Ana sudah didengar oleh banyak orang, baik staf perusahaan sendiri maupun rekan bisnis. Apalagi banyak yang mengetahui bagaimana seorang Ana Maria hebat dalam memimpin perusahaan.


Christian sama sekali tidak memperdulikan hal lain selain mendoakan sang istri dan menyuruh orang tuanya untuk mengurus para tamu yang datang mengucapkan belasungkawa.


Beberapa jam kemudian, rumah Christian saat ini sudah dipenuhi oleh beberapa sanak saudara terdekat dan beberapa staf perusahaan yang ingin membantu.


Mereka semua mulai membacakan kalimat doa untuk jenazah untuk memudahkan jalannya menuju ke alama barzah.


Bahkan ada beberapa awak media yang sudah meliput secara langsung di area depan karena memang Ana Maria merupakan seorang istri dari pengusaha sukses yang sering malang melintang di media sosial.

__ADS_1


Berita meninggalnya Ana Maria sudah ramai diperbincangkan dan mendapatkan banyak ucapan turut berduka cita.


To be continued...


__ADS_2