365 Days With You

365 Days With You
Meminta bantuan


__ADS_3

“Apa ada yang sakit?” Mario meletakkan kembali gelas yang sudah menyisakan setengah dari isinya.


“Kamu siapa?” Bukan menjawab pertanyaan Mario, Laura justru bertanya balik pada pria itu.


Ia masih menatap lekat pria yang berdiri di sampingnya dan berusaha memutar memori ingatan tentang pria itu. Nihil. Laura tidak mengingat apapun.


“Aku Mario. Apakah kamu adalah Laura Anastasya Prameswari? Jika benar, dulu kita sering bermain bersama saat kecil,” jawab Mario.


"Papaku adalah pengacara keluargamu. Dulu kita sering bermain bersama setiap kali aku ikut bersama papaku berkunjung ke kediaman keluargamu, Laura.” Mario melanjutkan ucapannya.


Laura memejamkan mata. Namanya memang Laura, tapi itu pun karena yang memberikan nama itu adalah Christian. Dulu ia bangun di rumah sakit dan tidak mengingat apapun, tapi yang menolongnya adalah Christian.


Mencoba mengingat sesuatu, Laura meringis kesakitan. Sesaat kemudian ia membuka mata dan memegang kepala yang terasa begitu sakit.


“Tidak perlu dipaksakan untuk mengingatnya. Kamu belum pulih benar. Aku yakin kamu akan mengingatku jika sudah benar-benar pulih,” imbuh Mario.


“Di mana bayiku?” tanya Laura dan berhasil membuat Mario tersentak.


“Bayi?” Mario mengulang kembali pertanyaan wanita itu dan mendapat anggukan.


Laura kembali memejamkan mata dan merintih kesakitan sembari terus memegangi kepalanya. Isi kepala Laura begitu gaduh oleh ingatan-ingatan yang bermunculan dengan tiba-tiba. Ia kembali menangis histeris dan terus memanggil nama seseorang.


Mario segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat dan dokter yang bertugas. Tidak lama, seorang dokter pria dan seorang perawat datang.


“Tolong bantu dia, Dokter,” pinta Mario dengan wajah penuh kekhawatiran.


Dokter segera memeriksa kondisi Laura. Wanita itu sempat memberontak dan terus merancau jika ada yang telah menculik bayinya dan terus menyebut nama Valerio.


***


Sebuah kafe yang ada di bagian rumah sakit menjadi pilihan Mario untuk menikmati secangkir kopi hangat. Sebuah sandwich menjadi pilihan untuk pria itu mengisi perutnya di pagi hari.


Pikiran terus memutar ucapan dokter yang menangani wanita yang diyakininya adalah teman masa kecilnya.


Setelah dokter selesai memeriksa, pria paruh baya itu meminta agar Mario ikut bersamanya ke ruangan sang dokter. Karena di sana Mario tercatat sebagai kerabat dari pasien dan bertanggung jawab sepenuhnya atas wanita itu.


Dokter sempat bertanya apakah wanita itu pernah mengalami kecelakaan sebelumnya? Mario tidak memberi jawaban pada dokter karena memang tidak tahu.


Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan jika kemungkinan besar wanita itu pernah mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia.


Namun, ingatan wanita itu sudah kembali saat ini. Hanya saja, ingatannya pada orang-orang yang hidup bersama saat wanita itu kehilangan ingatan masa lalunya, masih melekat hingga saat ini. Bisa dikatakan semua ingatan baru itulah yang lebih mendominasi.

__ADS_1


“Valerio,” gumam Mario.


Mario ingat betul wanita itu menyebutkan nama itu. Ia juga ingat bagaimana saat mengatakan jika ada seseorang yang mengambil bayinya. Mario mencoba untuk menghubungkan apa yang dikatakan.


"Apa itu artinya ia sudah menikah? Apakah Valerio itu nama suaminya?”


Pertanyaan itu muncul dalam benak Mario, tetapi ia tidak tahu harus mencari jawaban pada siapa. Mungkin saja wanita itu sudah menikah dengan seorang pria saat kehilangan ingatannya.


Setelah sarapan, Mario kembali ke kamar rawat inap. Ia ingin tahu kondisi wanita itu. Saat kembali ke sana, seorang suster sedang membujuk pasien untuk makan.


“Biar saya saja, Sus,” ucap Mario dan berhasil membuat dua orang wanita itu menoleh ke arahnya.


“Kamu?” Laura memicing.


Suster yang menemani pasien mengangguk dan meletakkan makanan milik wanita itu di atas meja. Ia kemudian pamit untuk mengurus pasien yang lain.


“Kamu mengenalku, tetapi kenapa aku tidak bisa mengingatmu?”


“Tidak usah dipaksakan. Jika kamu terus memaksakan ingatanmu, maka kepalamu kan merasakan sakit lagi.” Mario tersenyum lembut. Ia kemudian mengambil piring yang berisi makanan.


“Kamu harus makan agar sehat kembali. Kalau kamu sakit, bagaimana bisa mencari bayimu,” bujuk Mario.


“Kamu tahu di mana putraku?” tanya Laura dengan mata yang berbinar. Wajah wanita itu kembali murung saat Mario menggeleng.


Pria itu menyodorkan piring di tangannya ke atas pangkuan wanita di hadapannya.


“Aku tidak bisa mempercayaimu. Bagaimana jika kamu hanya membohongiku?” celetuk Laura.


“Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku. Aku hanya ingin membantu. Namun, bagaimana aku bisa membantumu jika tidak tahu apa yang terjadi padamu. Begini, anggap saja bantuanku ini sebagai bentuk tanggung jawabku padamu,” imbuh Mario.


“Tanggung jawab apa?”


“Karena aku tidak sengaja menabrakmu dan membuatmu harus dirawat di rumah sakit ini,” jawab Mario.


Ia bisa melihat bagaimana wanita itu membeliakkan mata mendengar pengakuannya. “Tapi ini bukan sepenuhnya salahku. Kamu juga salah karena berjalan di tengah jalan,” sambung Mario. Ia bisa mendengar desisan kesal.


“Baiklah. Aku terima tawaranmu untuk bertanggung jawab. Dengan syarat kamu harus membantuku menemukan ke mana pria itu membawa putraku,” pinta Laura.


“Baiklah. Kita akan lanjutkan obrolan setelah kamu menghabiskan makananmu. Aku tidak bisa membantumu jika lemah seperti ini.”


Mario beranjak dari duduknya dan tersenyum mengejek. “Habiskan makananmu. Setelah itu, minum obatnya,” titah Mario yang mendapat cebikan.

__ADS_1


Tidak ada penolakan dari Laura. Kali ini ia benar-benar menyantap makanannya. Apa yang dikatakan pria itu memang benar. Ia harus sehat jika ingin mencari keberadaan putranya.


***


Selama beberapa hari Mario menjadi teman saat wanita itu di rumah sakit.


Selain dokter yang membantu pemulihan, Mario juga ikut membantu untuk mengingat ingatan lama wanita itu.


Laura merasa cukup nyaman saat berbincang dengan Mario. Pria itu begitu sabar dan tidak pernah memaksanya.


Namun, kali ini Laura membatasi diri dari orang lain. Ia tidak ingin terjebak dengan kebaikan seseorang dan berakhir menjadi wanita bodoh sekali lagi dan akan menyesali semuanya.


Ia pernah menganggap seseorang sebagai malaikat penolong dalam hidupnya, yang ternyata orang tersebut sebenarnya adalah jelmaan iblis. Ia harus berhati-hati dalam mengambil langkah.


***


Satu minggu kemudian, Laura sudah kembali ke rumahnya. Bangunan itu banyak menyimpan kenangan bersama dengan Christian.


Sengaja ia kembali ke sana, karena dengan mengingat pria itu, maka rasa bencinya akan terus bertambah. Laura tidak ingin menghindar lagi. Dalam benaknya saat ini hanyalah bagaimana cara ia mendapatkan kembali putranya.


“Ya. Bukankah aku bisa memanfaatkan kebaikan Mario untuk membantuku membalas dendam pada Christian?”


Tiba-tiba saja pikiran itu terbesit dalam benak Laura. Jahat memang, tetapi rasa benci pada pria itu tampaknya sudah menutup sisi baik dalam diri Laura.


Sejak saat itu, Laura mulai dekat dengan Mario, meskipun ia masih belum mengingat pria itu. Laura juga rutin melakukan kontrol untuk kesembuhannya. Keinginan untuk sembuh sangat besar dan itu semua ia lakukan demi Valerio.


Setelah kecelakaan itu, Laura beberapa kali bermimpi tentang sesuatu, tetapi tidak bisa mengingat dengan jelas mimpi tersebut.


Laura mengabaikan saja. Memori ingatan tentang Christian dan putranya masih mendominasi.


“Aku rasa kamu sudah bisa menceritakan semuanya sekarang. Ini akan mempermudah aku untuk membantumu."


"Kamu tahu, papaku adalah seorang pengacara dan aku tidak bisa gegabah dalam membantu seseorang. Apalagi jika itu akan bersangkutan dengan hukum. Aku tidak ingin mencoreng nama baik beliau.”


Laura sengaja mengajak Mario untuk bertemu di sebuah restoran. Memang terdengar sangat memaksa saat ia menghubungi pria itu. Laura seolah-olah tidak perduli jika Mario sedang bekerja.


“Itulah sebabnya aku meminta bertemu denganmu,” balas Laura.


“Baiklah. Aku akan dengarkan.” Mario memasang wajah serius.


Laura pun mulai bercerita mengenai semua hal yang ia alami.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2