365 Days With You

365 Days With You
Menikah lagi


__ADS_3

Christian saat ini baru saja mematikan sambungan telpon dari sang ibu yang mengatakan sebuah kabar buruk bagaikan tombak tajam menancap di jantungnya. Bahkan saat ini untuk sekedar bernapas saja seolah kesusahan.


Tidak ingin ada yang melihat ekspresi wajahnya yang berubah muram, ia memilih untuk berjalan menuju ke arah anak tangga tanpa memperdulikan sang ayah yang masih berbincang dengan beberapa tamu undangan acara malam ini untuk mendoakan almarhumah sang istri.


Selama berjalan, ia sibuk bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan keluh kesahnya. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak ada lagi yang kumiliki selain materi. Jadi, seperti ini rasanya memiliki banyak uang, tapi sama sekali tidak bahagia?'


Christian yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamar, kini masih berdiri di balik pintu dan terdiam di sana dengan beberapa kali mengembuskan napas berat mewakili perasaan saat ini.


"Semua butuh uang, tapi rasanya sekarang aku ingin bilang jika tidak membutuhkannya karena sama sekali tidak membuat hidupku bahagia," lirih Christian yang saat ini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah foto-foto di atas laci.


Ia kini mengambil pigura berukuran sedang, di mana ada foto putranya berada dalam gendongan sang istri yang telah meninggal.

__ADS_1


"Aku tadi memang langsung mengiyakan keinginan mama kandungmu, Putraku. Bukan berarti Papa benar-benar ikhlas membiarkanmu pergi dari Papa. Apa kamu akan membenci Papa karena dengan mudah mengiyakan keinginan mamamu?" Mengusap foto bocah laki-laki yang dulu masih belum berjalan.


Sampai pada akhirnya ia berkaca-kaca dan tidak mampu menahan laju air mata yang membasahi pipinya saat ini. Tanpa memperdulikan apapun, ia beralih pada foto sang istri. "Ana, apa kamu bisa melihatnya dari atas sana?"


"Bahwa saat ini aku benar-benar hancur setelah kamu tinggalkan. Apakah aku mendapatkan karma dari perbuatan burukku padamu di masa lalu?' lirih Christian yang saat ini masih tidak mengalihkan perhatiannya dari foto di tangannya.


Melihat senyuman dari istri dan putranya, membuatnya menyadari jika semua kebahagian yang selama ini dirasakan selama satu tahun belakangan ini hanyalah semu.


"Kenapa Laura yang bisa dengan mudahnya memiliki anak lagi dari pria lain, tetap tidak mau mengikhlaskan Valerio untukku?" Christian saat ini mengempaskan tangannya yang masih memegang pigura ke bawah.


Dunia serasa runtuh baginya saat ini karena keluarga kecilnya telah hancur lebur tanpa tersisa dan saat ia belum bisa menenangkan perasaannya,

__ADS_1


beberapa saat kemudian ia mendengar suara notifikasi dari ponsel.


Awalnya ia tidak tertarik untuk membuka pesan dari ponsel yang ada di saku celana. Namun, ia merasa sangat aneh mendengar notifikasi bertubi-tubi yang masuk, sehingga kini langsung bergerak untuk mengeceknya karena rasa penasaran yang merongrong dirinya.


Begitu membuka dan membaca pesan yang diketahuinya adalah dari sang ibu dan juga Laura, membuatnya membulatkan matanya.


Sayang, mama tidak ingin kamu hancur karena Laura menginginkan Valerio. Lebih baik kamu menikah lagi dan memiliki anak lagi karena tidak mungkin kamu selamanya terpuruk dengan hidup sendirian.


Christian seketika tertawa terbahak-bahak karena merasa jika sang ibu sama sekali tidak mengerti perasaannya saat ini.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2