
"Kenapa lama sekali?" Christian benar-benar sangat marah karena sudah tiga kali ia menghubungi nomor dari asisten pribadinya, tapi tidak kunjung diangkat.
"Ke mana dia pergi? Biasa ponsel 24 jam dibawa ke manapun." Baru saja ia menutup mulut, ponselnya berdering dan kini langsung mengumpat untuk melampiaskan amarahnya.
"Ke mana saja, kau? Ada hal urgent yang harus kau lakukan sekarang!" Saat ini Christian benar-benar sangat marah karena di saat butuh bantuan penting, tapi panggilannya tidak langsung diangkat.
Sementara itu, Vicky yang baru kembali dari lantai tiga untuk mengecek pekerjaan akuntan dan lupa membawa ponsel yang tadi diletakkan di atas meja, kini merasa sangat bersalah sekaligus penasaran tentang tugas penting yang dikatakan oleh bosnya.
"Maaf, Bos karena baru meninjau pekerjaan beberapa staf di lantai 3 dan ponsel ketinggalan. Apa yang harus saya kerjakan sekarang?" Vicky menduga jika hal penting yang harus dikerjakan berhubungan dengan masalah pribadi bosnya.
Apalagi mendengar suara penuh nada khawatir kini makin jelas di telinganya. Ia bahkan sudah bersiap dan membereskan pekerjaan di ruangannya karena kebetulan juga jam pulang kantor setengah jam lagi.
Hingga ia membulatkan kedua mata begitu indra pendengaran menangkap suara bariton dari seberang telpon yang mengungkapkan semuanya.
Christian mulai menceritakan semua yang dikatakan oleh wanita tadi tanpa terkecuali.
"Cepat kau datang ke Rumah Sakit sekarang! Temani istriku karena aku harus mencari informasi tentang putraku dengan lapor polisi. Aku akan memeriksa CCTV di Mall. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri jika sampai terjadi sesuatu hal pada putraku."
Ia berbicara sambil menatap ke arah sosok wanita yang masih terbaring di atas ranjang perawatan dengan tangan di infus dan masih belum sadarkan diri.
"Ana pun juga belum sadar dan aku akan bicara pada dokter untuk menanyakan apa yang terjadi padanya. Setelah itu, akan langsung mencari putraku. Jadi, tolong jaga istriku." Christian bahkan kini berbicara sambil berjalan menuju ke arah meja dokter.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Tuan. Semoga mendapatkan semua yang terbaik. Nona Ana tidak apa-apa dan tuan Valerio segera ditemukan. Ya, saya langsung berangkat sekarang juga," ucap Vicky yang kini langsung mematikan sambungan telpon.
Sementara itu, Christian kini langsung menyapa seorang pria yang memakai jubah putih duduk di kursinya dan memperkenalkan diri jika ia adalah istri pasien yang baru saja datang dan dipersilakan duduk.
"Sebenarnya apa yang menyebabkan istri saya pingsan, Dokter? Apakah penyakit yang selama ini diderita menjadi penyebabnya?" Wajah Christian saat ini benar-benar terlihat sangat murung dan gelisah mendominasi.
Bahkan untuk berbicara dengan pria di hadapannya tersebut saja pikirannya sudah tertuju pada putranya yang diculik. Ia benar-benar takut jika putranya disakiti oleh orang jahat seperti para penjahat yang menjual organ dalam tubuh anak-anak.
'Ya Allah, lindungilah putraku. Dia masih sangat kecil dan masih belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk dan belum merasakan kebahagiaan sempurna menjadi seorang anak,' gumam Christian yang kini menatap ke arah sang dokter yang mulai membuka suara untuk menjelaskan keadaan Ana.
"Saya memang menduga jika Anda sudah mengerti dengan penyakit kronis yang diderita oleh istri karena dari pemeriksaan darah, ada kandungan obat yang selama ini dikonsumsi.
Christian hanya mengangguk perlahan karena sudah mendapatkan penjelasan mengenai kanker serviks yang selama ini diderita oleh sang istri.
Sel-sel abnormal itu memang berkembang dengan cepat, sehingga mengakibatkan tumbuhnya tumor pada serviks. Tumor yang ganas itu kemudian berkembang dan menjadi penyebab kanker serviks sang istri.
Bahkan saat ia mendengar penjelasan dari dokter yang memeriksa Ana dulu, tepat ketika beberapa hari sebelum Laura melahirkan. Bahwa sang dokter mengatakan jika kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak menelan korban pada wanita di seluruh penjuru dunia.
Gejala itu baru muncul saat kanker sudah mulai menyebar dan memasuki tahap stadium lanjut.
Ia sebenarnya tidak berencana untuk menjatuhkan talak pada Laura saat melahirkan, tapi semuanya terpaksa dilakukan begitu melihat kedatangan Ana yang tiba-tiba di Rumah Sakit dan membuatnya selalu mengingat kata-kata dokter jika istrinya bisa kapan saja kehilangan nyawa.
__ADS_1
"Jadi, istri Anda pingsan kemungkinannya adalah karena mengalami nyeri di bagian perut bagian bawah dan itu merupakan dampak dari penyakitnya. Apakah beberapa terakhir ini terjadi perdarahan yang tidak wajar dari **** *? Atau siklus menstruasi makin tidak teratur?" tanya sang dokter yang ingin memastikan apakah yang diperkirakan benar.
Sementara itu, Christian yang tidak tahu hal itu karena Ana tidak pernah bercerita dan bersikap baik-baik saja selama ini. Ia berpikir semuanya baik karena sudah mengkonsumsi obat secara teratur dari dokter.
"Kalau masalah itu, saya tidak pernah tahu, Dokter. Hanya saja, beberapa bulan terakhir ini, istri saya sering mengeluh nyeri saat berhubungan. Jadi, akhirnya saya tidak berani menyentuhnya semenjak itu. Apalagi akhir-akhir ini badan lemas dan mudah lelah, tapi kehilangan nafsu makan."
Biasanya Christian menyuruh pelayan untuk menemani Ana saat menjaga putranya agar tidak terlalu lelah. Bahkan merasa jika tubuh Ana sekarang makin kurus.
Sang dokter yang berada jika semuanya seperti yang dipikirkan, kini langsung menjelaskan mengenai hal yang harus segera dilakukan, mengingat kondisi pasien yang mungkin makin hari melemah.
"Sepertinya pasien sudah mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dan melakukan pengobatan selama ini, tapi sayang sekali karena terlihat sel kanker makin menyebar. Sepertinya Anda harus berkonsultasi dengan dokter pasien untuk segera dilakukan operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Metode pengobatan tersebut juga bisa dikombinasikan untuk melenyapkan sel kanker."
Christian tahu jika dokter yang menangani Ana satu bulan ini tengah dinas di Rumah Sakit yang ada di Singapura. Jadi, berencana untuk kembali berkonsultasi jika sudah pulang.
Namun, tidak menyangka jika yang terjadi sekarang seperti ini. Jadi, berniat untuk melakukan operasi dan kemoterapi secepatnya. "Baik, Dokter. Saya akan melakukan saran Anda. Terima kasih atas penjelasannya."
Kemudian ia berpamitan dan menjelaskan apa yang terjadi pada putranya. Bahwa nanti akan ada asistennya yang datang untuk mengurus semuanya mengenai ruangan perawatan.
Bahkan kini menghampiri wanita yang masih duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang perawatan istrinya dan memberikan beberapa lembar uang.
"Tolong jaga istri saya sebentar sampai asisten saya datang dan terima kasih karena telah berbaik hati membawa ke Rumah Sakit. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda dengan kebaikan yang lebih." Christian kemudian berlalu pergi setelah melihat sekilas ke arah Ana.
__ADS_1
'Sayang, kamu akan baik-baik saja di sini karena sudah ada para tim medis. Aku harus pergi untuk mencari putra kita,' gumam Christian yang saat ini melangkah keluar dari ruangan IGD menuju ke parkiran.
To be continued...