365 Days With You

365 Days With You
Belum terlalu tua


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Laura menunggu putranya di dalam IGD dan baru saja mendapatkan kabar dari perawat jika ruangan sudah siap dan akan segera dipindahkan. Ia seketika bangkit berdiri dari kursi karena berpikir ingin memberitahukan pada mertuanya yang tidak kunjung kembali.


Padahal sudah keluar dari tadi, sehingga ingin memanggil agar mengetahui ruangan putranya. "Sebentar, Suster. Saya akan memanggil mertua saya yang berada di luar terlebih dahulu."


"Iya." Sang perawat menganggukkan kepala dan akhirnya kembali ke meja kerjanya dan menunjukkan agar memanggil nanti setelah siap.


Laura yang mengerti, kini langsung bergerak untuk menemui mertuanya yang berada di luar karena berbicara dengan Christian mengenai keputusannya untuk merawat putranya sendiri.


Ia sebenarnya dari tadi duduk di kursi roda, tapi memilih untuk berjalan tanpa menggunakannya karena berpikir sangat lambat. Meskipun berjalan tidak seperti biasanya karena belum pulih sepenuhnya dari operasi, ia membuka pintu dan mendengar pembicaraan Mario yang membahas tentang pernikahan.


Ia ingin Mario tidak terburu-buru untuk berkeinginan menikahinya karena masih fokus untuk menyelesaikan semua masalah dalam hidupnya, khususnya mengenai balas dendam yang direncanakan.


Hingga Mario mengiyakan pertanyaannya mengenai pernikahan dan serasa tertampar dengan kalimat skakmat dari pria yang berstatus sebagai kekasihnya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak berniat untuk bermain-main denganmu dan ingin ke jenjang yang lebih serius dengan menikahimu. Aku akan selalu melindungi dan menjagamu serta putramu, jadi lebih baik kita hidup bersama dalam satu atap."


Mario berpikir bahwa kejadian yang membuat Laura sering bergelung dengan maut, seolah menyadarkannya agar selalu bersama dengannya. Paling tidak, ia ingin selalu berada 24 jam di sisi Laura agar tidak terjadi hal buruk seperti kejadian penusukan.


"Sudah cukup kamu selalu berada dalam bahaya karena setelah bersamaku, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, termasuk pamanmu dan antek-anteknya itu." Bahkan Mario bersedia untuk mengorbankan nyawanya demi melindungi wanita yang sangat dicintai.


Namun, ia tidak ingin mengungkapkan itu karena berpikir akan dianggap lebay dan tidak dipercayai oleh Laura. Apalagi jika ketulusannya dianggap ngegombal seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.


Padahal ia berpikir bahwa cinta dewasa sangat berbeda dengan cinta monyet karena ketulusannya bukan berdasarkan kata-kata manis yang sering dianggap sebagai rayuan maut.


Namun, ia memahami jika semua yang dilakukan Laura karena efek naluri seorang ibu dan ingin melakukan apapun sesuai dengan keinginan dan tidak ingin ribet mendorong kursi roda.


Hingga ia kini berjalan mendekati Laura yang seolah tengah memikirkan keputusan.

__ADS_1


"Mario ...." Laura benar-benar bimbang serta bingung harus bagaimana menjelaskan pada Mario.


'Aku masih trauma dengan pernikahan. Namun, jika aku menolak Mario, itu berarti aku tidak punya perasaan karena menyakiti seorang pria baik sepertinya. Apalagi cintanya begitu besar karena selalu sabar menghadapiku,' gumam Laura yang saat ini kembali diyakinkan oleh perbuatan Mario yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membuatnya menjerit kecil.


"Aku sama sekali tidak menerima penolakan karena ini adalah sebuah titah. Dasar bandel! Berani-beraninya kamu membahayakan keselamatanmu dengan berjalan seperti ini? Bagaimana jika lukamu kembali terbuka gara-gara kecerobohanmu?" Mario yang sudah menggendong tubuh Laura, berniat untuk masuk ke dalam.


Berharap wanita itu kembali diam di atas kursi roda, tapi merasakan beratnya tubuh Laura ketika menggeliat berusaha untuk turun.


"Astaga, Mario. Turunkan aku! Aku hanya ingin mengatakan pada Mama jika Valerio akan dipindahkan ke ruangan perawatan." Laura berbicara dengan menatap penuh permohonan pada Mario dan beralih pada mertuanya yang dari tadi hanya diam melihat interaksi mereka.


'Aku tidak ingin mama melihat ini karena pasti akan berpikir tentang Christian yang tengah bersedih karena Ana baru meninggal. Rasanya pamer kemesraan di depan mantan mertua di hari duka sangatlah tidak pantas.' Laura yang kini sibuk berbicara sendiri di dalam hati, malah mendengar suara dari mertuanya yang membuatnya merasa heran.


"Menikahlah secepatnya, Laura karena aku pun ingin Christian juga segera menikah lagi. Lagipula putraku masih belum terlalu tua untuk menikah lagi," ucap Renita Padmasari yang kini tersenyum simpul dan ingin melihat keadaan cucunya yang akan dipindahkan ke ruangan perawatan.

__ADS_1


To be continued..m


__ADS_2