
Laura yang tadi menunggu di luar meeting sambil bermain game untuk menghilangkan kebosanan karena menyuruh Mario membuka permainan terlebih dahulu. Ia bahkan seketika bersorak kegirangan begitu berhasil menjadi pemenang dalam game yang dimainkan.
"Game ini sangat mewakili aku yang tengah bermain di real life untuk menghancurkan para pengkhianat itu." Laura yang duduk di kursi tunggu, kini memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana panjang yang dikenakan begitu mendengar suara bariton dari Mario yang makin mendekat.
"Aku sudah membuat shock terapi untuk mereka semua. Sekarang giliranmu membuat para pengkhianat itu serasa mendapatkan anak panah yang menghunus tepat di jantung mereka," seru Mario yang ingin sekali mengatakan jika tadi sudah melihat sosok pria yang pernah sangat dicintai oleh Laura.
Namun, ia khawatir jika itu membuat Laura marah padanya karena menyebutkannya. Akhirnya hanya diam dan memendam dalam hati saja begitu melihat Laura sudah bangkit dari posisi.
"Baiklah, kita mulai meledakkan bom untuk menghancurkan para pengkhianat itu. Aku tidak sabar melihat respon para pengkhianat keluarga itu. Apa mereka masih mengenaliku atau tidak!" Saat Laura baru saja menutup mulut, ia mendengar suara bariton dari seseorang yang tidak asing di telinganya.
"Nona Laura?" seru seorang pria yang memakai setelan jas berwarna hitam dan berhenti tepat di seorang wanita yang sangat ia hafal siluet dan suaranya.
Sementara itu, Laura yang kini masih mengenakan kaca mata hitam, kini menatap ke arah pria yang tak lain adalah pengawalnya ketika berada di New York dulu.
'Sial! Kenapa aku bertemu dengannya? Bahkan ia masih dengan mudah mengenalku meskipun aku memakai kaca mata hitam,' umpat Laura yang kini sama sekali tidak ingin berbicara untuk menanggapi perkataan dari pengawalnya dulu di New York.
Ia memberikan kode pada Mario agar menghalangi pria itu mengejarnya karena tidak ingin membuang waktu untuk meladeni hal tidak penting.
'Jadi, dia sekarang bekerja di perusahaan sebagai staf keamanan? Dasar pria bodoh! Jika tetap bekerja untuk orang-orang pengkhianat itu, tidak akan bisa berkembang. Apa aku ajak dia bekerja denganku saja?' gumam Laura yang saat ini tengah memikirkan idenya dan kini berbisik di dekat Mario yang tadi berhasil menghalangi jalan mantan pengawalnya dulu.
"Aku ingin pria itu berada di pihak kita. Menurutmu bagaimana? Dia adalah pengawalku saat berada di New York dulu." Laura berbicara lirih pada Mario dan menunggu jawaban dari pria yang ternyata tanpa pikir panjang langsung menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Jangan menghancurkan rencanamu yang sebentar lagi berhasil dengan sebuah kecerobohan, Anastasya!" sarkas Mario yang kini sudah berdiri tepat di depan ruangan meeting.
Kemudian ia menoleh ke arah Laura sebelum membuka pintu. "Kamu siap?"
Laura yang menyadari kebodohannya karena jawaban Mario masuk akal, refleks langsung memberikan jawaban.
"Of course it's ready. Open the door!" seru Laura yang kini mulai membiasakan diri berbicara dengan bahasa asing karena nanti tidak akan berbicara bahasa Indonesia selama di ruang meeting.
Mario lah yang akan menjadi penerjemah untuk menjelaskan pada semua orang yang ada di ruangan meeting.
Mario kini mengangukkan kepala dan langsung membuka pintu, lalu berjalan paling depan untuk mengawal Laura yang berada di belakangnya.
Hingga ia pun kini bisa melihat semua orang yang masih duduk di kursi masing-masing, tengah menatap ke arahnya dan beralih pada Laura. Ia langsung menuju ke kursi paling depan dan melihat ayah dan anak itu juga melakukan hal yang sama.
Sementara itu, Rendi dan putranya yang dari tadi sama-sama geram melihat pria dan wanita dengan penampilan mencolok baru saja datang itu karena terlihat paling berbeda.
Seolah sengaja memakai pakaian paling mencolok untuk mengejek semua orang, termasuk mereka yang menjadi pemilik perusahaan.
'Sialan! Penampilannya sudah seperti wanita ****** saja! Di ruang meeting memakai kaca mata hitam besar seperti mau ke pantai saja,' umpat Andika Syaputra yang merasa sangat kesal sekaligus marah melihat wanita yang baru saja ditemui.
Berbeda dengan sang ayah yang masih diam dan ingin tahu apa yang akan disampaikan dengan wanita yang ternyata sudah berhasil memiliki saham 60 persen di perusahaan dan menjadi paling berkuasa, hingga merasa berhak berbuat sesuka hati dan datang terlambat hampir satu jam.
__ADS_1
'Kenapa aku merasa tidak asing dengan wanita ini?' gumamnya dengan perasaan berkecamuk sambil menunggu wanita itu memberikan salam perkenalan pada semua yang hadir di ruangan itu.
Hingga ia dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari wanita yang mulai membuka kaca matanya, kini mendengar suara yang berbeda dengan bahasa asing.
Laura pun langsung menyapa semua orang yang pastinya dengan berbahasa Inggris dengan fasih. Namun, ia tidak ingin panjang lebar karena berpikir akan membuat semua orang bosa. Jadi, hanya berbicara dengan singkat, jelas dan padat.
"Selamat siang semuanya. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena datang terlambat, tapi sebenarnya bukan karena macet. Itu karena saya baru meeting mendadak dengan salah satu urusan dari perusahaan besar yang mempercayakan sebuah tender besar dengan keuntungan yang fantastis."
"Untuk itu, jika ingin merasakannya, bisa mendukungku sebagai pemimpin perusahaan yang baru di perusahaan Prameswari." Laura yang berbicara tanpa menatap ke arah sosok pria yang ingin sekali dihancurkan, yaitu Christian.
Namun, meskipun ia tidak menatap pria itu, sudah bisa menduga jika Christian dari tadi tidak mengalihkan perhatian darinya.
'*Apa kau terkejut saat melihatku, berengsek? Aku yakin jika kau langsung mengenaliku meskipun aku sudah merubah penampilan karena kita pernah bersama selama 365 hari dan berbagi cinta sampai Valerio lahir.'
'Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang mulai hari ini*,' umpat Laura yang kini mendengar Mario mulai menerjemahkan perkataannya dengan bahasa Indonesia agar semua orang mengerti dan mau memberikan sebuah dukungan.
Ia yang tadi belum menyapa paman dan sepupunya, kini menoleh ke arah mereka dengan mengulurkan tangannya. "Selamat siang, Tuan Rendi dan Tuan Andika. Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya bisa bertemu dengan dua orang hebat seperti kalian."
Laura kini mengulas senyuman manis dan berharap paman serta sepupunya mengerti dengan bahasanya. Tentu saja ia tidak berniat untuk berbicara Indonesia agar terlihat seperti seorang wanita independen yang cerdas.
'Tunggu kehancuran kalian berdua karena aku tidak akan tinggal diam mulai hari ini atas perbuatan jahat membunuh orang tuaku dan membuangku ke New York,' gumam Laura yang masih menunggu tangannya yang menggantung di udara mendapatkan balasan.
__ADS_1
To be continued...