365 Days With You

365 Days With You
Merasa iri


__ADS_3

Sebenarnya saat menatap Laura pertama kali, ingin sekali ia memeluk dan menangis di pundak wanita itu karena membutuhkan seseorang untuk berkeluh kesah tentang perasaannya saat ini yang hancur karena rasa bersalah sekaligus berdosa.


Namun, ia sadar jika penyebab ia merasa bersalah salah satunya adalah terlalu memikirkan Laura saat detik-detik terakhir Ana bertanya dan ingin mendapatkan dukungan darinya. Jadi, setiap kali melihat Laura seperti saat ini, rasa bersalah semakin merebak di dalam dirinya.


Akhirnya kata-kata sinis seperti itulah yang muncul pertama kali dari bibirnya. Meskipun sebenarnya ia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Laura saat mengatakan itu, tapi hanya mengungkapkan rasa bersalah yang dirasakan saat ini.


'Aku bersalah pada Ana sekaligus padamu, Laura. Namun, aku tidak tahu cara untuk memperbaiki semuanya agar lebih baik. Sepertinya akan lebih baik jika tidak di dekatmu dan aku akan pergi menghindar tanpa berdekatan denganmu lagi karena hanya berkata bersalah yang kurasakan.'


Christian yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati, saat ini menatap ke arah Laura yang terlihat kesal padanya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menguraikan kesalahpahaman mengenai perkataan yang barusan.


"Maaf karena berbicara seperti ini. Jika benar kamu tidak akan mengungkit atau menyalahkan Ana atas kejadian di masa lalu, masuklah ke dalam ruangan di mana sudah dipindahkan dari ruang operasi tadi." Kemudian ia menatap ke arah asisten pribadinya untuk mengatakan sesuatu.


"Antarkan Laura menemui Ana untuk terakhir kalinya karena aku tahu dia tidak akan pernah datang ke pemakaman saat masih belum pulih setelah operasi." Christian kemudian berlalu pergi tanpa mendengar tanggapan dari Vicky.


Tanpa menoleh ke belakang lagi karena ingin segera mengurus semua syarat untuk pulang membawa jenazah Ana, sehingga membiarkan Laura menemui istrinya tersebut untuk terakhir kali.


'Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu tersinggung, Laura. Aku hanya ingin mengatakan hal yang sebenarnya karena khawatir kamu mengungkit tentang masa lalu di depan jenazah Ana. Bahkan ia sudah tidak lagi menjadi penghalang untuk mendapatkan Valerio,' gumam Christian yang saat ini menuju ke ruangan administrasi untuk mengurus semua pembayaran.


Ia memijat pelipis saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sangat hening karena memang ini sudah larut malam. "Kepalaku."


Saat tiba-tiba pandangannya blur, Christian berhenti sejenak dan berpegangan pada dinding rumah sakit. Terlalu memikirkan kesalahan pada Ana dan belum meminta maaf atas semua perbuatannya, membuatmu saat ini sangat pusing.


"Kepalaku serasa mau meledak saat ini." Christian mengembuskan napas kasar ketika berusaha untuk tidak terlalu memforsir otaknya yang dikuasai oleh rasa bersalah.


Hingga saat ia memijat pelipis untuk beberapa menit, mendengar suara yang sangat dihafalnya dan membuatnya menoleh ke belakang. Bahwa saat ini di sana terlihat sosok wanita yang semakin mendekat.


"Aku ingin bicara denganmu empat mata!" Laura yang tadinya merasa kesal dan marah pada sosok pria yang menuduhnya akan mengatakan hal yang tidak pantas pada Ana yang sudah meninggal, sehingga mengatakan pada Mario untuk berbicara sebentar dengan Christian.


Bukan karena ia ingin mencari perhatian pria yang terlihat sangat terpuruk karena kematian sang istri, tapi berharap tidak dianggap sebagai seorang wanita tidak berperasaan pada jenazah.


"Aku belum selesai berbicara dengan tadi, Christian!" Ini adalah pertama kali ia kembali menyebut nama pria yang pernah sangat dicintai dan membuatnya tergila-gila hingga tidak memikirkan konsekuensi dari perasaannya.


Apalagi ia dulu sama sekali tidak keberatan menjadi wanita simpanan karena hanya jatuh cinta pada sosok pria di hadapannya tersebut yang bahkan sudah diketahui menjadi suami wanita lain.


Meskipun ia menyadari akan kesalahannya tersebut, tapi tidak membuatnya memaafkan perbuatan Christian dengan mudah.


Hanya saja ia benar-benar melupakan serta memaafkan Ana dan sangat tulus ingin bertemu dengan wanita yang dianggap sangat beruntung karena mendapatkan cinta begitu besar serta rasa peduli dari seorang Christian.


Bahkan saat ini Laura bisa melihat sosok pria yang tengah berpegangan pada dinding seperti orang yang tidak punya daya sama sekali untuk berjalan melanjutkan hidup setelah ditinggalkan oleh istri yang sangat dicintai.


'Aku sangat iri padamu, Ana karena saat ini Christian benar-benar hancur kamu tinggalkan. Kamu benar-benar adalah wanita berharga yang sangat dicintai oleh suamimu.' Menatap mantan suami yang ingin sekali dihancurkan agar bisa kembali merebut putranya.

__ADS_1


'Sementara aku tidak mendapatkan cinta sejati darinya karena sepertinya saat aku mati, Christian akan bahagia bisa terbebas hidup bersamamu untuk membesarkan Valerio bersama-sama,' gumam Laura yang saat ini kembali mendengar suara serak seperti menahan kesedihan luar biasa.


Ia tahu jika mungkin Christian adalah seorang wanita, pasti sudah meluapkan semuanya dengan menangis tersedu-sedu. Namun, menangis dianggap sebuah hal yang tabu dilakukan oleh kaum pria dan seperti inilah yang saat ini ia lihat.


Bahwa Christian seperti tidak kuat menghadapi kenyataan yang menimpa dan hanya bisa terdiam sambil berpegangan pada dinding agar tidak jatuh terhubung karena kepala yang pusing akibat otak terlalu diforsir.


"Katakan saja apa yang belum selesai kamu ucapkan padaku, Laura karena aku tidak punya waktu banyak untuk meladenimu!" Meski terdengar sangat sinis dan kejam perkataannya, Christian sebenarnya bukan bermaksud seperti itu.


Namun, hanya kata-kata seperti itulah yang lolos dari bibirnya yang tidak bisa di filter karena hatinya Tengah dikuasai oleh rasa berdosa pada Ana jika berbicara dengan baik pada Laura.


'Ana, aku hanya berbicara sebentar dengan Laura. Jangan salah paham dengan berpikir aku senang bertemu dengan Laura seperti ini saat kamu sudah meninggal,' gumam Christian yang saat ini mencoba untuk menenangkan perasaan dengan hal-hal positif.


Menghibur diri sendiri dengan selayaknya menganggap bahwa karena masih hidup dan berada di sisinya, sehingga saat ini tidak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi ketika ia berbicara dengan Laura yang kini mengarahkan kursi roda semakin mendekat ke arahnya.


"Apakah kau saat ini marah padaku karena berpikir aku tidak punya perasaan? Bahwa aku salah menginginkan putraku kembali dan merebut dari Ana, sehingga kau saat ini bersikap sinis dan marah padaku?" Laura benar-benar sangat marah melihat sikap Christian padanya.


Seolah-olah di sini ia yang sangat berdosa dan bersalah seperti layaknya orang kejam tidak punya perasaan. Padahal faktanya ia adalah korban dari keserakahan pria di hadapannya tersebut yang hanya peduli pada kebahagiaan Ana tanpa memikirkan perasaannya yang hancur.


Mungkin jika Christian sedang baik-baik saja, tidak akan bersikap seperti itu pada Laura. Hanya saja, saat ini ia berpikir menjelaskan pada Laura bukanlah sebuah hal yang penting lagi. Bahwa sekarang baginya yang terpenting adalah rasa bersalah semata pada Ana dan tidak ingin semakin menambahnya.


"Terserah apapun yang kamu pikirkan tentangku, Laura. Aku akan menerimanya. Aku memang seorang bajingan yang tidak pantas mendapatkan sikap baik dari siapa pun. Jika kamu sudah selesai, aku akan pergi." Embusan napas kasar mewakili perasaan Christian saat ini.


Ia berusaha untuk menguatkan hati dan fisiknya agar tidak terlihat lemah sebagai seorang pria. Saat ia berniat untuk berjalan meninggalkan Laura karena tidak ingin lama-lama berinteraksi atau menatap wajah wanita yang selalu membuatnya merasa berdosa itu.


Merasa belum selesai berbicara empat mata dengan Christian karena jujur saja jawaban dari pria itu bukanlah hal yang diharapkan karena tidak sesuai dengan pemikirannya.


Jadi, ia susah payah untuk mendorong kursi roda agar bisa mengejar sosok pria dengan bahu lebar yang sudah berjalan pergi itu. "Christian, tunggu! Aku belum selesai berbicara denganmu, berengsek!"


Awalnya Christian tidak ingin memperdulikan orang karena selalu merasa bersalah pada Ana yang sudah meninggal jika terus-menerus berinteraksi dengan Laura seperti sekarang.


Ia ingin menghindar dari wanita itu agar tidak dikuasai oleh rasa bersalah. Namun, ketika mendengar suara rintihan kesakitan dari Laura, seketika membuatnya menoleh ke belakang dan melihat wanita di atas kursi roda tersebut meringis sambil memegangi pinggang.


"Aarrrgghh ... kenapa tiba-tiba sangat nyeri dan perih?" Laura yang tadi mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong roda agar bisa mengejar Christian, tiba-tiba merasakan sakit di bagian belakang yang memang baru dioperasi.


Sebenarnya tadi Mario sudah berniat untuk mengantarkan dan tidak membiarkannya pergi sendiri untuk berbicara dengan kesekian, tapi ia tidak ingin ada pria itu ketika berbicara. Jadi, sekarang mengerti jika apapun yang dikatakan oleh Mario adalah demi kebaikannya sendiri.


Saat ia menahan rasa nyeri pada bagian belakang tubuhnya yang dipegang, kini merasa ada sesuatu yang basah pada jarinya dan ketika melihatnya, ada darah yang menghiasi di sana dan membuatnya membulatkan mata karena sangat terkejut.


"Arrgh ... pasti jahitannya robek karena aku terlalu banyak bergerak dan mengeluarkan tenaga saat mendorong roda ini," lirih Laura yang saat ini masih menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.


Hingga ia melihat Christian berjalan mendekat dan tentu saja menunjukkan wajah dengan raut khawatir begitu melihat darah di tangannya saat ini.

__ADS_1


"Kamu baru melakukan operasi dan harus banyak beristirahat, Laura. Kembalilah ke ruanganmu dan kita bisa berbicara lagi kapan-kapan. Aku akan menghubungi Mario agar menjemputmu." Christian saat ini meraih ponsel miliknya di saku celana dan berniat untuk menelpon Mario.


Namun, suara dari Laura membuatnya kesal karena tidak mau mendengarkan nasihatnya sama sekali. Hingga ia menatap ke arah sosok wanita yang ia ketahui sudah berjibaku dengan maut.


"Apa kau pikir aku adalah seorang wanita lemah? Bahkan darah ini terlalu sedikit dan sama sekali tidak membuatku kesakitan karena jauh lebih sakit melihat orang tua sendiri yang dibunuh oleh saudara kandung. Jadi, jangan sok perhatian ataupun iba padaku. Justru sekarang ini yang perlu dikasihani adalah dirimu, Christian!"


Laura bahkan berbicara dengan tatapan tajam pada Christian untuk menyadarkan pria itu agar tidak salah paham padanya dengan berpikir jika ia merupakan seorang wanita yang jahat.


"Aku adalah seorang wanita yang sering mendapatkan kejahatan dari orang-orang yang sangat serakah dan luka seperti ini ibarat kata merupakan makanan sehari-hari untukku. Aku ingin berbicara empat mata padamu tanpa ada Mario, bukan karena menganggap ingin bertemu denganmu."


"Aku hanya ingin kau sadar bahwa aku bukanlah seorang wanita kejam yang suka menyakiti perasaan orang lain. Aku hanya ingin berbicara untuk terakhir kalinya dengan Ana dengan mendoakannya agar tenang di atas sana. Aku pun ingin menitipkan salam pada orang tuaku karena aku sangat iri padanya bisa bertemu dengan mereka."


Laura yang dari dulu ingin sekali mati saat ada banyak kejadian yang membuatnya harus meregang nyawa, berharap bisa meninggalkan dunia yang fana agar bisa berkumpul dengan orang tuanya.


Namun, meskipun keluar masuk dari ruangan operasi, tetap saja sampai sekarang masih hidup dan membuatnya ingin sekali menukar nasibnya dengan Ana. Meskipun itu tidak akan pernah terjadi karena semua sudah diatur oleh yang lebih berkuasa.


Christian yang saat ini terdiam dan serasa seperti tertampar oleh rasa bersalah yang semakin menghujam jantungnya karena salah paham pada Laura, ingin sekali meloloskan kalimat maaf dari bibirnya.


Namun, ia merasa dadanya sesak seperti kesulitan bernapas dan membuat lidahnya kelu untuk berbicara. Akhirnya ia hanya diam melihat Laura mengungkapkan nada protes saat murka padanya.


'Laura, maafkan aku karenanya bisa meninggalkan luka mendalam di hatimu,' gumam Christian yang saat ini ingin sekali segera pergi dari hadapan wanita yang masih murka padanya.


Namun, ia yang saat ini ditinggalkan karena Laura Tengah mengarahkan kursi roda untuk berputar dan kembali ke tempat semula.


Laura yang sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari sosok pria yang hanya berdiri diam tak jauh dari hadapannya, sehingga membuatnya memilih untuk segera enyah dari hadapan Christian.


Ia bahkan serasa mengemis perhatian pria itu karena ingin pengakuan bahwa bukanlah seorang wanita yang jahat karena merasa senang ketika saingannya telah meninggalkan dunia ini.


Padahal sebenarnya terjadi adalah ia merasa iri pada Ana yang hanya sebentar saja merasakan sakit pada tubuh dan hatinya. Sementara ia sudah semenjak kecil karena ketika orang tuanya meninggal, kebahagiaan serta dunianya bagaikan runtuh.


Bahkan semua itu berlanjut hingga ia dewasa dan seperti saat ini yang terlihat karena menyedihkan harus menjelaskan tentang diri sendiri pada pria yang bahkan sama sekali tidak memperdulikan perasaannya.


'Kenapa aku sangat bodoh karena mencintai pria jahat sepertinya? Bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang kurasakan karena hanya menganggapku seorang wanita jahat karena ingin membalas dendam atas luka yang kurasakan di masa lalu akibat perbuatannya,' gumam Laura yang saat ini masih mendorong kursi roda untuk kembali ke tempat di mana jenazah Ana berada dan Mario pun menunggu di sana.


Hingga ia mendengar suara langkah kaki yang berlari dan beberapa saat kemudian melihat sosok pria yang tak lain adalah Mario semakin mendekat dan terlihat mengkhawatirkannya.


"Laura, kamu baik-baik saja, kan? Christian barusan menelepon jika kamu berdarah. Pasti luka pada jahitan bekas operasi saat ini robek karena kamu terlalu memforsir tenaga ketika mendorong kursi roda. Kita harus kembali ke ruangan agar segera diperiksa oleh dokter!" ucap Mario yang saat ini tidak memperdulikan penolakan Laura.


"Mario, tunggu sebentar! Aku tidak apa-apa. Aku ingin menemui Ana untuk terakhir kali. Jadi, antarkan aku ke ruangan jenazah Ana," seru Laura yang saat ini mencoba untuk menahan rasa nyeri sekaligus perih di bagian belakang tubuhnya.


Ia sadar jika tidak akan pernah bisa melihat wajah Ana untuk terakhir kalinya karena tidak mungkin pergi ke pemakaman di saat ia masih belum pulih. Jadi, berpikir jika hari ini ingin berbicara dengan wanita yang membuatnya merasa iri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2