365 Days With You

365 Days With You
Serangan balik


__ADS_3

"Ayolah, Sayang," bujuk Mario masih tidak ingin menyerah, setelah ditolak berulang kali.


Sementara wajah Laura sudah berubah bersemu merah sejak tadi. Ah, Mario benar-benar telah berhasil menggodanya kali ini. Lihat saja hidungnya yang tampak mengembang. Sungguh ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan saat ini.


Mencium? Ah, bukankah itu sangat memalukan jika melakukannya lebih dulu kepada seorang pria? Namun, Mario terus saja memaksanya sedari tadi. Tentu hal itu bukan perkara yang mudah baginya. Entah mengapa ia menjadi tidak memiliki keberanian. Bahkan, sedari tadi ia begitu sulit untuk memecah kecanggungan.


"Cukup, Mario. Jangan menggodaku seperti itu!" Laura terus mencoba menghindari tatapan intens Mario. Karena jika tidak, ia akan semakin terlihat seperti orang bodoh lantaran gugup.


"Hah? Apa? Menggoda?" tanya Mario tidak ingin menghentikan aksinya. Justru ia semakin kuat menggoda Laura. "Akh, apa kamu sungguh tergoda, Sayang? Bahkan, aku belum melakukan apa-apa padamu," imbuhnya sambil menahan tawa. Sungguh Laura terlihat sangat menggemaskan di matanya, saat sedang gugup seperti itu.


"Kamu—"


"Ternyata kamu lebih cantik kalau lagi malu dan gugup seperti itu," celetuk Mario memotong ucapan Laura. Bahkan, ia tidak akan memberi wanita itu kesempatan untuk memaki atau sekadar menyangkalnya.


"Kapan kita akan pergi kalau kamu terus menggodaku seperti ini?" protes Laura seraya mengerucutkan bibirnya.


"Setelah kamu memenuhi permintaanku!" tegas Mario menjawab dengan cepat.


Laura semakin cemberut dan hanya bisa diam. Tidak ada komentar atau protes darinya, hanya saja tatapannya terlihat kesal. Ah, tidak! Ia tidak hanya kesal, tetapi juga sedikit senang, tetapi sengaja ia sembunyikan di balik wajahnya yang masam.


“Ayo, lakukan sekarang!” Mario mencondongkan wajahnya ke depan, menyodorkan pipinya yang sebelah kanan tepat ke depan wajah Laura.


“Aish! Apa yang kamu lakukan, Mario? Aku tidak akan melakukannya, jangan pernah bermimpi!” tolak Laura dengan tegas.


Ia tidak habis pikir dengan sikap Mario yang pantang sekali untuk menyerah, sampai kelimpungan mengimbangi pria itu, huft!


“Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan mengantarmu ke sana,” balas Mario tidak ingin kalah.

__ADS_1


“Loh, kamu sudah janji padaku!” protes Laura tidak terima.


“Tapi itu semua tidak gratis, Sayang. Aku hanya meminta satu hal yang sangat sederhana dan akan membalasnya dengan yang lebih daripada itu. Bahkan, kalau kamu mau, aku akan menemanimu di sini 1 x 24 jam. Oh, atau mungkin kamu ingin aku di sampingmu selamanya?” tukas Mario dengan diakhiri sebuah kedipan sebelah mata.


“Ya, tentu saja aku sangat bersedia, Laura. Bahkan, jika kamu memintaku berhenti bekerja pun, aku akan melakukannya demi kamu,” ucap Mario lagi, bahkan saat Laura belum menanggapi sedikit pun ucapannya. Seolah-olah ia sudah benar-benar yakin bisa melakukan itu semua pada Laura. Mungkin karena rasa cintanya yang begitu besar untuk wanita itu.


“Lantas bagaimana kamu akan memberiku makan kalau berhenti bekerja?” serang Laura seraya menarik sebelah sudut bibirnya. “Sepertinya aku harus memikirkan lagi untuk menikah denganmu, Mario,” imbuhnya seraya membenarkan posisi duduk, sedikit menghindari wajah Mario.


“Aku tidak peduli. Cepatlah! Apa kamu tidak kasihan padaku, hah? Leherku pegal dari tadi seperti ini!” Mario yang sedari tadi bertahan dengan posisinya tampak meringis pelan, menahan pegal di lehernya.


“Aku tidak—“


“Ayolah … hanya di pipi saja!” pungkas Mario tidak memberi Laura kesempatan untuk menolak lagi. Ia kini telah menepuk pelan pipi sebelah kanannya berulang kali. Menunggu Laura segera memberikan kecupan di sana, walau hanya kecupan singkat.


“Tidak!” Laura memalingkan wajah dengan tegas dalam satu kali entakkan.


“Kali ini saja,” ucap Mario lagi seraya menatap dengan wajah memelas.


Melihat ekspresi Mario saat ini, tentu Laura menjadi tidak tega. Namun, ia juga masih bingung dan canggung. Ah, rasanya malu sekali jika harus memulai lebih dulu. Namun, sungguh ia merasa kasihan pada Mario yang sedari tadi bertahan dalam posisi seperti itu. Pasti rasanya lebih pegal dari yang ia bayangkan.


Belum selesai Laura berpikir, Mario kembali memohon. Namun, kali ini ia hanya berbicara tanpa suara.


Laura mendengkus kesal. Tidak ada pilihan lain. Sepertinya kali ini ia harus melakukan apa yang diminta oleh calon suaminya yang menyebalkan itu.


“Baiklah,” ucapnya dengan berat hati. Namun, berhasil membuat Mario tersenyum lebar.


Dengan sigap, pria itu langsung membenarkan posisinya. Semakin mendekatkan pipi kanannya ke bibir Laura. Setidaknya, ia telah mempermudah jalan untuk Laura bisa mengecup pipinya.

__ADS_1


Hatinya ini sedang tertawa bahagia. Akhirnya, usaha kerasnya tidak akan berakhir sia-sia. Senyum penuh kemenangan pun tampak terbit di wajahnya. Tidak! Ia tidak sedang membodohi Laura. Sekali lagi ia tegaskan bahwa ini hanya sebagai bukti bahwa wanita itu telah benar-benar menerimanya.


"Aku terpaksa melakukannya," celetuk Laura yang berhasil membuat Mario terdiam sejenak. Namun, sesaat kemudian pria itu tidak begitu mempedulikan.


"Baiklah. Ayo, lakukan! Aku sudah menunggu dari tadi," ucap Mario masa bodoh.


Mendengar pernyataan itu, Laura berdecak kesal lantaran jawaban Mario tidak sesuai dengan ekspektasinya. Ia pikir Mario akan tersinggung dan mengurungkan niat itu, tetapi nyatanya tidak sama sekali.


"Aku akan memejamkan mata biar kamu tidak malu," ucap Mario sedikit terkekeh, lalu memejamkan matanya.


Sebagaimana yang dilakukan Mario, Laura pun tampak memejamkan matanya. Namun, hanya sejenak, sebagai pertanda bahwa ia sedang jengkel pada pria itu. Sialnya, ia tidak bisa berbuat apa pun untuk menghentikan pria itu.


Laura memandang sejenak pipi Mario, sebelum memberikan kecupan di sana. Setelah dilihat beberapa saat, ia baru sadar jika Mario ternyata begitu tampan. Terlebih lagi saat dilihat dari samping seperti itu.


"Ehem!"


Laura tersentak mendengar suara dehaman Mario yang sengaja memberinya kode. Ia pun menarik napas berat lagi, sebelum akhirnya mencondongkan wajahnya ke depan untuk mendekati pipi pria itu.


Tidak sampai satu menit, sebuah kecupan singkat pun mendarat di pipi pria tampan itu. Sotak Mario langsung tersenyum tanpa membuka matanya. Ia berdiam beberapa saat, seolah-olah tengah merasakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Ini memang bukan pertama kali untuk Mario. Namun, kecupan dari Laura terasa begitu berbeda. Terlebih lagi saat ia memintanya dengan sedikit memaksa. Kecupan itu terasa sangat berharga baginya.


"A-aku sudah melakukannya," lirih Laura sedikit gugup.


Mario perlahan membuka mata, lalu menoleh ke arah Laura yang tampak memasang ekspresi tegang. Namun, ia justru memberikan serangan balik pada wanita itu.


"Argh ... Mario, apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2