365 Days With You

365 Days With You
Mati dalam keadaan ikhlas


__ADS_3

Raisa seketika membulatkan mata ketika mendengar apa yang disampaikan oleh wanita yang berada di hadapannya tersebut. "Apa? Memanggil pria berengsek yang telah menyakiti Ana?"


Refleks ia seketika menggelengkan kepala karena tidak setuju dengan ide dari pelayan sahabatnya tersebut. Apalagi ia tahu jika penderitaan sahabatnya juga disebabkan oleh pria yang merupakan suaminya itu.


Bahkan ia berpikir jika pria itu ada di hadapannya, sudah menampar serta menarik rambutnya hingga botak karena ingin membalas dendam telah berselingkuh di belakang Ana.


Bahkan ia yang menjadi saksi saat Ana meminta pendapatnya begitu mengetahui perselingkuhan sang suami pertama kalinya setelah menyewa detektif untuk menyelidiki.


"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu karena hanya akan membuat Ana menderita, Bik. Tolong, jangan buat aku bertambah pusing karena banyak masalah yang menimpa hari ini."


"Selain masalah Ana yang harus dioperasi nanti malam, juga masalah pekerjaan di kantor yang harus ku selesaikan terlebih dahulu sebelum nanti kembali ke sini untuk menunggu Ana dioperasi." Bahkan saat ini ia ingin sekali meluapkan amarah pada wanita yang jauh lebih tua darinya tersebut.


Apalagi wanita itu meminta sesuatu yang menurutnya sangat konyol dan tidak mungkin bisa dipenuhi karena jujur saja ia sangat membenci pria yang berselingkuh di belakang istri.


Ia selama ini tetap tidak akan pernah memaafkan orang yang berselingkuh karena seharusnya menyelesaikan hubungan terlebih dahulu, baru bersama dengan orang lain.


Namun, terkadang manusia di dunia ini terlalu serakah karena tidak ingin kehilangan salah satu dari yang dimiliki dan ingin memiliki keduanya tanpa melepaskan.


Sementara seorang wanita tidak mungkin bisa ikhlas lahir batin meskipun secara lisan mengatakan rela dimadu, tetap saja tidak bisa membohongi perasaan sebenarnya yang merasa terluka karena diduakan dan tidak menjadi satu-satunya untuk suami.


Hal itulah yang membuatnya tidak akan pernah membuat pria itu tahu jika Ana masih hidup sampai sekarang. "Jangan mengulangi permintaan ini sekali lagi karena aku tidak akan bicara lagi pada Bibik?"


Ia kita akan menekankan suaranya untuk membuat wanita di hadapannya tersebut patuh dan tidak meminta macam-macam.


"Bibik boleh minta apapun padaku, tapi selain memberitahu pria berengsek itu bahwa Ana masih hidup, oke?" Kini, ia melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan membuatnya menyadari jika sudah membuang-buang waktu.


"Maaf, Bik. Aku harus pergi sekarang karena sudah disuruh orang kantor untuk segera datang," ucap Ana yang tidak bisa berlama-lama untuk meladeni permintaan yang menurutnya tidak masuk akal dan juga membuatnya kesal.


Miranti seketika menganggukkan kepala dan terlihat murung karena merasa bersalah telah membuat kesal teman dari majikannya tersebut. "Iya, Nona Raisa. Hati-hati di jalan."


Raisa yang saat ini tidak ingin ada kesalahpahaman, kini menepuk pundak wanita itu. "Maaf jika kata-kataku membuat Bibik tersinggung, tapi aku tidak bermaksud seperti itu."


Kemudian terlalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari wanita itu karena memang harus terburu-buru mengejar waktu dan langsung berjalan cepat menuju ke arah lift karena sang supir sudah menunggu di depan lobby rumah sakit.


Ia bahkan hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mengetahui niat dari pelayan sahabatnya yang dianggap tidak masuk akal. "Apa sebenarnya yang ada di otak Bibik hingga berpikir untuk memanggil pria berengsek itu?"


"Apa karena mentang-mentang dia sudah dibuang oleh mantan istri sirinya itu, sehingga membuatnya merasa kasihan?"


"Bahkan Ana jauh lebih kasihan saat ini dan akan semakin terluka jika melihat pria yang pernah menjadi penyebab kehancurannya." Raisa yang saat ini memijat pelipis dan menunggu hingga pintu kotak besi di hadapannya terbuka, masih terus memikirkan keputusannya.


Meskipun ia tadi sudah memutuskan menyetujui saran dokter untuk dilakukan operasi, ia sama sekali tidak bisa menghilangkan kekhawatiran yang dirasakan.


Namun, hanya bisa berdoa agar operasi berjalan lancar dan sahabatnya bisa sembuh total. Ia pun seketika berjalan cepat keluar dari lift menuju lobi dan sudah melihat sang supir ini parkir di depan.


Buru-buru ia masuk ke dalam mobil saat sang supir membukakan pintu untuknya. Begitu duduk di kursi depan, ia mengempaskan tubuh serta kepalanya sambil mengembuskan napas.


Ia selama ini memang tidak pernah duduk di belakang karena tidak nyaman serta tidak bisa mengobrol dengan sopir yang sudah dianggap seperti teman karena bisa diajak bicara untuk membahas masalah apapun.

__ADS_1


Dulu ia pernah menyuruh pria itu untuk mencari pekerjaan lain agar tidak menjadi, tapi tidak mau dan akhirnya memberikan pekerjaan tambahan seperti mencari informasi-informasi penting yang berhubungan dengan IT.


Paul baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, lalu mengemudikan kendaraan meninggalkan area rumah sakit dan begitu tiba di jalan utama, langsung menginjak gas untuk menambah kecepatan.


Ia tahu jika majikannya saat ini sedang diburu waktu dan membuatnya mengemudikan dengan kecepatan tinggi, tapi masih mengikuti aturan dan selalu waspada agar tidak terjadi hal-hal yang buruk.


Suasana di dalam mobil yang tadinya hanya dipenuhi oleh suara embusan napas kasar Raisa dan dibiarkan oleh Paul karena mengerti jika wanita itu sedang banyak pikiran dan tidak boleh diganggu.


Makanya ia sama sekali tidak bertanya dan menunggu sampai wanita tersebut mau berbicara dan meminta saran darinya seperti biasa.


Raisa saat ini kembali melihat waktu yang semakin bergulir. "Sepertinya mereka sangat hobi membuatku kalang kabut di waktu istirahatku. Jika bukan karena gajiku yang besar, mana mau aku bekerja saat hari libur. Mana tadi bibik mengatakan sesuatu yang membuatku marah, pula!"


Paul lebih tertarik dengan kalimat terakhir, sekilas menoleh ke arah majikannya. "Mengatakan apa, Nona?"


Kemudian Raisa mulai menceritakan tentang apa yang diinginkan wanita itu darinya. "Menurutmu, apa alasan bibi meminta hal tidak masuk akal itu? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pemikirannya," ucap Raisa sekilas menoleh ke arah pria di balik kemudi tersebut.


Hingga Paul kini mengerti penyebab raut wajah masam dan pusing sang majikan. Ia saat ini hanya terdiam dan memikirkan tentang pelayan yang berani mengatakan hal itu di saat genting seperti ini.


Namun, belum menemukan jawabannya dan sekarang masih mencoba untuk menebak-nebak kira-kira apa yang dipikirkan oleh pelayan saat ini. "Jika jadi bibik."


Ia membayangkan jika berada pada posisi wanita itu, apa yang akan dilakukannya ketika melihat majikan seperti tidak punya semangat hidup lagi setelah mengetahui laporan kesehatan.


Raisa saat ini juga memikirkan hal yang sama dan tengah memutar otaknya untuk mencari jawaban. Hingga ia yang saat ini belum menemukan jawaban, malah mendengarkan pendapat dari pria di sebelahnya.


"Mungkin dia berpikir jika semangat anak-anak akan bangkit setelah melihat suaminya yang tidak bersatu dengan wanita itu, Nona. Apalagi katanya, wanita itu akan menikah dengan asisten pribadinya, sama sekali tidak berniat untuk kembali pada mantan suami." Paul hanya memikirkan itu saja karena sebagai seorang pria, bisa merasakan bagaimana perasaan Christian.


Itulah mengapa ia berpikir jika Ana dan Christian masih sama-sama saling memikirkan dalam rasa bersalah.


"Kalau menurut Anda bagaimana, Nona? Apakah menurut Anda, nona Ana mau kembali dengan tuan Christian yang sampai sekarang masih sendirian? Apakah nona Ana mempunyai semangat hidup jika melihat suaminya?" Saat baru saja menutup mulut, Paul merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba mobilnya ditabrak dari belakang.


"Berengsek!" sarkasnya yang saat ini melihat jika ada mobil yang menyalip dengan mendahului, tapi karena ada kendaraan besar yang tiba-tiba masuk, sehingga mobil yang dikendarainya menjadi korban, meskipun tidak kuat dan tidak sampai menimbulkan kecelakaan.


Paul tadinya berniat untuk menghentikan mobilnya dan memberikan pelajaran pada pria yang mengemudi dan menabrak bagian belakang tapi wanita di sebelahnya menggelengkan kepala.


"Sudah biarkan saja karena aku sekarang buru-buru dan tidak ingin menerima pertanggungjawaban apapun dari orang itu. Aku yang akan memperbaikinya sendiri tanpa melibatkan orang lain." Raisa khawatir mendapatkan omelan dari atasan jika tidak segera datang.


Apalagi ia tahu jika mengurus kecelakaan membutuhkan waktu yang lama dan pastinya akan ada perdebatan di antara dua pihak.


Hal itu membuatnya sangat malas, sehingga memilih untuk membiarkan dan memperbaiki sendiri dengan mengeluarkan uang dari saku pribadi.


Paul ini menambah kecepatan dan tidak memperdulikan mobil yang berhenti di belakangnya."Sebenarnya saya ingin sekali memberikan pelajaran pada orang itu yang tidak berhati-hati dan bisa menyebabkan orang lain celaka, tapi sepertinya tidak untuk hari ini karena Anda benar-benar sedang diburu waktu."


"Ya, kamu benar. Aku memang harus buru-buru. Oh ya, nanti coba tanyakan saja pada pelayan itu mengenai apa yang menjadi penyebab ia ingin mantan suami Ana datang. Sepertinya tidak akan selesai jika hanya menimbang-nimbang sendiri."


Raisa saat ini mempertimbangkan apakah niat dari pelayan untuk memberitahu Christian tentang keadaan Ana saat ini.


"Iya, Nona. Saya pasti akan mencoba untuk bertanya. Nanti Anda telpon saja saat sudah pulang." Paul kini berbelok ke area perusahaan bosnya yang menjulang tinggi di hadapannya.

__ADS_1


Hingga ia menurunkan bosnya tepat di depan lobi agar mudah dan cepat untuk berjalan masuk.


Raisa saat ini melarang sopirnya untuk membuka pintu. "Nanti tidak perlu datang ke sini. Biar aku ke rumah sakit dengan naik taksi saja. Kau temani saja Ana dan hibur dia agar tidak terpuruk setelah mengetahui perkembangan dari penyakitnya."


Ia pun melepaskan sabuk pengaman dan menepuk lengan kekar pria itu. "Aku harap kau bisa menghibur sahabatku dan ia tidak terpuruk dengan kenyataan mengenai penyakit yang masih berkembang."


"Iya, Nona. Saya akan mencobanya," sahut Paul yang saat ini sebenarnya dipusingkan oleh permintaan dari majikannya.


Ia benar-benar tidak tega jika harus menghadapi orang yang mengalami penyakit kronis dan harus dihibur.


Kemudian Raisa beranjak keluar setelah membuka pintu. Hingga ia kini melambaikan tangan setelah sang supir menganggukkan kepala.


"Maafkan aku, Ana karena hanya bisa membantumu seperti ini. Semoga keputusanku tidak salah dan kamu bisa segera sembuh," ucap Raisa yang saat ini berjalan masuk ke dalam lobi dan menuju ke lantai paling atas di perusahaan itu untuk menemui atasannya.


Sementara itu di sisi lain, yaitu Rumah Sakit, terlihat sosok wanita yang saat ini baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan dengan raut wajah muram.


Wanita yang tidak lain adalah Miranti, saat ini berjalan gontai tanpa memperdulikan pertanyaan dari sang majikan karena asyik melamun dengan pikirannya.


"Bibik kenapa?" Ana saat ini mengerutkan kening karena merasa aneh melihat raut wajah muram dari pelayan yang baru saja berbicara dengan Raisa.


Tanpa ia bertanya, sudah tahu jika pelayannya yang tadi terburu-buru keluar ketika sahabatnya pergi, pasti berbicara berdua. Namun, ia sengaja tidak bertanya karena sudah yakin jika pembicaraan mereka tentang penyakitnya.


Sementara itu, Miranti saat ini menatap ke arah sang majikan dan ingin sekali mengungkapkan apa yang ada di otaknya saat ini. Hingga ia pun kini memutuskan untuk mengatakan semuanya.


"Nona, apa boleh saya berbicara sesuatu?"


Ana saat ini mengerutkan kening karena merasa jika pelayannya tersebut terlihat serius. "Bicara apa, Bik? Sepertinya sangat serius."


Tidak ingin membuang waktu, kini Miranti mulai menceritakan tentang pembicaraannya dengan sahabat majikannya tersebut yang ditutup oleh mentah-mentah.


"Maaf karena saya ikut campur dengan masalah pribadi Anda, Nona. Hanya saja, saya pikir akan jauh lebih baik jika Anda ditemani oleh suami sendiri. Mungkin Anda dan tuan Christian akan saling menguatkan dan bahagia karena bisa bertemu lagi."


"Apalagi tuan sama sekali tidak berhubungan lagi dengan wanita itu," ucap sang pelayan yang saat ini ingin sekali membangkitkan semangat hidup dari majikannya ketika mengetahui jika penyakitnya masih belum hilang.


Saat ini, Ana hanya tertawa miris setelah mengetahui apa yang menjadi penyebab pelayannya berwajah muram. Bahkan sama sekali tidak berpikir membuat Christian bersedih untuk kedua kalinya ketika melihat kematiannya.


Ia saat ini seketika menggelengkan kepala untuk menolak apa yang diinginkan oleh pelayannya tersebut. "Cukup, Bik. Raisa benar karena aku tidak akan pernah setuju pada niat Bibik untuk memberitahu keadaanku pada Christian."


"Aku bahkan tidak tahu apakah operasi akan berjalan lancar ataukah berakhir kehilangan nyawa. Jika poin terakhir, sudah dipastikan jika Christian akan dua kali mengalami kesedihan dan pasti akan membuat jiwanya terganggu karena rasa bersalah."


"Aku tidak ingin itu terjadi, jadi biarkan aku seperti ini," ucap Ana yang bahkan saat ini sudah pasrah dengan takdir Tuhan padanya.


Ia sudah siap jika harus mati di meja operasi dan tidak akan menyesal karena sudah berjuang untuk sembuh tanpa mengenal lelah.


'Meski belum siap untuk mati, tapi jika takdir sudah menggariskan, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang saat ini yang ku alami sekarang." Ana kini telah pasrah atas keadaannya, jadi operasi hari ini hanya dijadikan alasan untuk menghormati usaha dari semua orang padanya.


"Aku akan mati dalam keadaan ikhlas lahir batin dan memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku,' gumam Ana yang saat ini juga berdoa agar semua orang yang tersinggung dengannya, mau memaafkannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2