
"Dua kemungkinan? Aku hanya berpikir jika dia sengaja tidak mengatakannya karena ingin memerasku. Dia pasti berpikir bisa mendapatkan banyak uang dengan mengancam akan memberitahu pada pria kejam itu." Laura saat ini masih menatap angka digital yang bergerak menuju ke lobi.
Sementara itu, Mario sebenarnya juga sependapat dengan Laura karena itu adalah kemungkinan terakhir. Ia pun menjelaskan tentang pada mantan pengawal yang dulu selalu menjaga Laura saat berada di New York.
"Ya, itu adalah kemungkinan kedua karena yang pertama adalah aku sangat yakin jika pria bernama Vincent itu sepertinya menyukaimu. Jadi, sengaja tidak mengatakan pada Rendi Syaputra yang selama ini mempekerjakannya. Kamu tahu kan jika wanita adalah salah satu penyebab kehancuran seorang pria?" Saat Mario baru saja mengungkapkan pendapat, kini melihat Anastasya yang bersandar di mobil sambil tertawa terbahak-bahak dengan memegang perut.
"Astaga! Omong kosong macam apa yang baru saja kau katakan, Mario. Aku bukanlah bidadari yang membuat para pria tergila-gila padaku. Jika itu benar, tidak mungkin nasibku sangat mahal seperti ini." Laura benar-benar tidak sependapat dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Mario.
Ia memang selama ini memiliki ikatan batin dengan Vincent karena sudah lama bersama semenjak remaja hingga dewasa. Namun, ia hanya menganggap Vincent seperti abang sendiri karena mencari kasih sayang dari seseorang sebagai keluarga.
Bahkan ia juga berpikir jika Vincent yang selalu menjaganya dari apapun, berpikiran yang sama. Hingga ia pun merasa apa yang disampaikan oleh Mario sangat konyol dan tidak masuk akal.
Apalagi selama ini pengawalnya tersebut selalu menunjukkan sikap profesional dan tidak pernah membahas mengenai perasaan. Jadi, merasa yakin jika Vincent akan memerasnya demi uang.
Namun, kembali ia mendapatkan bantahan dari Mario yang percaya diri ketika mengungkapkan bagaimana sesama pria saling menilai.
Mario yang menganggap Laura adalah seorang wanita lugu karena tidak mempunyai kemampuan untuk menilai seorang pria yang mencintai dengan tulus atau tidak, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aku adalah pria dan bisa melihat tatapan pria itu padamu tadi sangat teduh. Bukan tatapan penuh sering jahat untuk merencanakan sesuatu hal yang buruk padamu, Laura. Baiklah, jika kamu tidak percaya pada perkataanku, kita tunggu sampai beberapa hari. Apakah dia menghubungiku untuk bisa berbicara denganmu atau tidak."
__ADS_1
Masih tidak mengalihkan perhatian dari Laura, kini Mario meminta ponselnya karena tadi masih dibawa oleh Laura. "Sekarang masuk ke mobil dan pakai ponselmu sendiri karena sudah tidak ada yang melihat."
Laura hanya terkekeh geli sambil mengambil ponsel yang ada di dalam tas miliknya. Namun, ia mendengar suara notifikasi dan langsung melihat jika itu adalah pesan dari salah satu pengawal yang tadi disuruh untuk mengikuti Ana Maria.
"Sebentar! Sepertinya pengamat ingin memberikan informasi mengenai wanita sialan itu." Laura tidak jadi memberikan benda pipih tersebut kepada Mario dan langsung masuk ke dalam mobil.
Mario berjalan memutar untuk masuk ke dalam mengikuti Laura dan kini sudah duduk di balik kemudi. Ia tidak ingin tetap berada di area perusahaan itu karena berpikir akan ada banyak mata-mata yang memperhatikan mereka.
Jadi, langsung menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya keluar dari area perusahaan dan sekilas melirik ke arah wanita yang terlihat fokus pada layar ponsel miliknya.
"Kali ini ada informasi apa?" Mario memicingkan mata melihat Laura hanya diam dan masih fokus pada ponsel tanpa berkata-kata.
Sementara itu, Laura yang saat ini sudah membaca pesan dari salah satu pengawal yang tadi disuruh untuk mengikuti wanita paling dibenci olehnya, seketika mengepalkan tangan kiri karena merasa sangat marah sekaligus terluka.
Kini, ia mengusap layar ponsel miliknya yang menunjukkan foto seorang anak laki-laki yang sangat diyakini adalah putranya. 'Valerio, putraku.'
Saat melihat putranya berada di gendongan wanita yang telah merampas seluruh kebahagiaannya, Laura merasa ribuan anak panah menancap di jantungnya dan membuatnya sesak di dada.
Ia sebenarnya mendengar pertanyaan dari Mario, tapi terasa sesak dan serasa kesulitan bernapas hingga memegangi dadanya. Bahkan tidak hanya itu saja karena bulir air mata sudah memenuhi bola mata dan jatuh tanpa seizinnya.
__ADS_1
Meskipun saat ini Laura tidak menangis tersedu-sedu, tetap saja bulir kesedihan mewakili perasaannya saat ini yang benar-benar hancur ketika melihat darah dagingnya yang susah payah dilahirkan berada dalam pelukan seorang wanita yang telah menjadi penyebab penderitaannya selama ini.
'Ya Allah, kuatkan aku agar bisa bertahan sampai akhir. Meski aku hanyalah seorang wanita lemah, ingin berjuang merebut putraku dari orang-orang jahat itu.' Laura bahkan tidak memperdulikan wajahnya yang sudah dipenuhi oleh bulir air mata.
'Aku hanya menginginkan putraku, tapi harus mempunyai segalanya agar bisa melakukannya dengan cara menghancurkan orang-orang tidak berperasaan itu,' gumamnya dengan perasaan berkecamuk dan kini merasakan tangan dengan buku-buku kuat Mario mendarat di pundaknya setelah menepikan kendaraan di pinggir jalan.
"Laura, ada apa? Apa yang kamu lihat sebenarnya? Berikan ponselnya padaku?" Mario yang merasa sangat curiga dengan sikap Laura ketika sama sekali tidak bersuara untuk menjawabnya dan seketika menyadari bulir air mata sudah membasahi wajah wanita di sebelah kirinya tersebut.
Ia merasa ada yang tidak beres dan memilih untuk berhenti. Karena melihat Laura menggelengkan kepala dan masih menatap ke arah ponsel miliknya, seketika pikirannya tertuju pada seseorang yang sangat berarti bagi wanita itu.
"Apa kamu melihat foto Valerio—putramu?" Ia hanya bertanya singkat karena mengetahui jika Laura tidak baik-baik saja dan begitu melihat respon wanita itu menganggukkan kepala, hanya bisa diam karena bingung harus bagaimana menghiburnya.
'Perasaannya pasti sangat hancur ketika pertama kali melihat putranya yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu kandung. Laura pasti juga sangat merindukan putranya yang dilahirkan dan tidak sempat dipeluk,' gumam Mario yang saat ini memilih menunggu sampai Laura tenang, baru berbicara untuk menghibur perasaannya.
Sementara itu, Laura masih memanjakan matanya dengan melihat semua foto foto yang dikirimkan oleh pengawal ketika Ana Maria keluar dari rumah keluarga Christian dan menggendong putranya masuk ke dalam mobil.
Saat ia berniat untuk mengirimkan pesan pada pengawal agar terus mengikuti sampai wanita itu tiba di rumah, kini melihat ponsel di tangannya berdering dan ada nama Christian yang tengah menelpon.
'Bangsat! Kebetulan sekali bajingan ini menelpon. Aku akan menghabisinya!' sarkas Laura yang merasa ingin segera meledakkan bom waktu di dalam dirinya agar hancur bersama dengan pria yang telah mengkhianati cintanya.
__ADS_1
Karena saat ini amarah membuncah dirasakan olehnya ketika melihat putranya yang berada di pelukan wanita lain yang bukan merupakan ibunya, refleks ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan ingin mendengar apa yang sebenarnya diinginkan pria yang sangat dibencinya tersebut.
To be continued...