
Miranti seketika langsung memegang telapak tangan dari majikannya yang terlihat tidak mempunyai semangat hidup dan berbicara seolah-olah benar-benar akan meninggalkan dunia setelah dioperasi.
Hal itulah yang menjadi pertimbangannya karena ingin wanita itu bersemangat jika ada suami yang merawat serta memberikan nasihat agar optimis sembuh.
Ia yakin jika dokter tidak mungkin mengatakan untuk melakukan operasi sekali lagi jika tidak ada harapan dan hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, masih berharap jika usaha dari para tim medis akan membuahkan hasil dan majikannya sembuh.
"Nona, tolong jangan berbicara seperti itu karena pasti Anda akan sembuh. Jika memang tidak ada hasil, bukankah para dokter tidak akan mau bersusah payah untuk melakukan operasi? Bukankah itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga mereka?" Ia tidak akan pernah bosan mengingatkan majikannya agar merasa yakin jika setelah ini akan benar-benar sembuh.
Meskipun sangat berat meyakinkan majikannya karena seperti sudah bosan dengan perawatan yang dilakukan karena ingin sembuh.
"Makanya saya mempunyai pemikiran jika tuan Christian datang, Anda bisa mencurahkan perasaan ada suami dan mendapatkan suntikan semangat agar tidak putus asa. Apalagi sampai saat ini tuan Christian juga masih bersedih karena kehilangan Anda." Ia selama ini bisa mendengar pembicaraan dari majikannya dengan detektif.
Jadi, ia berpikir jika akan lebih baik majikannya kembali dengan suami yang terpuruk karena kesedihan saat kehilangan. "Apalagi kata detektif, wanita itu akan menikah dengan asistennya. Bukankah itu merupakan sebuah kabar baik untuk Anda, Nona?"
Lagi-lagi Ana tetap tidak mau mengiyakan saran dari pelayan yang ia tahu merupakan sebuah hal baik untuknya.
"Tidak, Bik. Aku benar-benar tidak mau melihat Christian datang dan kembali bersedih untuk kedua kalinya saat aku mati," ucap Ana yang saat ini sudah memutuskan dan benar-benar tidak mengizinkan pelayannya tersebut menghubungi Christian untuk memberitahu jika ia masih hidup sampai saat ini.
"Biarkan aku selamanya menjadi kenangan untuk Christian karena jika aku mati juga akan demikian, Bik. Jangan buat dia hancur untuk kedua kalinya melihat mayatku." Saat ia baru saja menutup mulut, sang pelayan menangis tersedu-sedu di sampingnya.
Ia bahkan merasa seperti air matanya telah habis saat mengetahui jika penyakitnya belum hilang darinya. Hidupnya benar-benar terasa hampa dan membuatnya saat ini serasa seperti mayat hidup yang tidak bersemangat dalam hal apapun.
__ADS_1
"Nona Ana, tolong jangan berbicara seperti itu. Anda pasti akan hidup bahagia setelah sembuh dari penyakit. Dokter akan berusaha untuk menyembuhkan Anda. Jadi, Anda harus optimis jika operasi Anda akan berjalan lancar."
Sang pelayan berbicara dengan suara bergetar karena efek menangis dan membuatnya benar-benar tidak bisa menahan kesedihan luar biasa ketika melihat sang majikan kehilangan semangat hidup.
Apalagi saat ini wajah dari majikannya benar-benar terlihat sangat pucat seperti saat pertama kali masuk Rumah Sakit itu. Ia tidak akan pernah berhenti mendoakan sang majikan agar penyakitnya diangkat dan bisa menjalani hidup seperti dulu lagi dengan penuh kebahagiaan.
Ana yang sudah lelah dengan harapan tidak pasti yang selama ini ia yang ini, sehingga hanya tersenyum miris menanggapi. "Sekarang kita serahkan saja semuanya pada yang di atas, Bik. Aku sudah berusaha semampuku dan Tuhan-lah yang menentukan."
Saat ia tidak ingin larut dalam kesedihan, kini bergerak mengambil pekerjaannya yang belum sempat diselesaikan. "Aku ingin menyelesaikan ini karena kurang sedikit lagi sudah menjadi sweater untuk Valerio."
"Saat nanti aku tidak sempat memberikannya, tolong kirimkan ini dan tidak perlu mengatakan jika itu dari aku. Buat nama dan alamat palsu saja. Asalkan putraku memakainya, aku akan bahagia saat melihatnya dari atas sana karena tidak tahu apakah aku akan berakhir di surga atau neraka." Ana pun saat ini fokus dengan apa yang dikerjakannya.
Ia khawatir jika tidak selesai sebelum dioperasi, jadi sekarang ingin fokus menyelesaikannya. Bahkan ia pun saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya yang sangat dinikmati untuk menghilangkan kebosanan yang dirasakan.
Ia pun memilih bangkit berdiri karena tidak ingin menangis di hadapan wanita itu. "Nona, saya keluar sebentar."
"Ya, Bik." Ana bahkan menjawab tanpa mengangkat pandangannya dari kegiatannya yang saat ini tengah sibuk membuat sweater.
Ia tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh sang pelayan ketika keluar, yaitu pasti akan menangis tersedu-sedu karena kasihan padanya.
Namun, ia memilih membiarkan karena berpikir jika itu merupakan sebuah hal yang lumrah saat orang bersedih, biasanya selalu menangis.
__ADS_1
Miranti saat ini menghapus bulir air mata di wajah sambil berjalan meninggalkan sang majikan. Ia bahkan saat ini benar-benar berusaha untuk tidak menangis tersedu-sedu di ruangan tersebut, padahal hatinya saat ini benar-benar tidak kuat melihat nasib dari sang majikan yang sangat disayangi.
Hingga begitu berada di luar ruangan, ia sengaja duduk menjauh agar suaranya tidak terdengar dari dalam ruangan sama majikan. Kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi yang tersedia dan meledakkan semua yang dirasakan dengan air mata yang kini semakin membanjiri wajahnya.
Ia bahkan membekap mulutnya agar tidak menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil. Meskipun dengan seperti itu tidak bisa lepas meluapkan kesedihannya saat ini, tetap saja melakukannya.
'Nona Ana yang malang. Kenapa nasib Anda seburuk ini?' Apa yang harus dilakukan untuk membuat Anda sembuh dari penyakit yang diderita?' gumam Miranti yang kini menangis tersedu-sedu.
Suara tangisan menyayat hati kini memenuhi lorong rumah sakit yang sunyi dan di saat bersamaan terdengar suara langkah kaki sepatu yang semakin mendekat.
Sosok pria yang saat ini melihat dari jauh, seolah mengerti apa penyebabnya dan langsung berjalan mendekat untuk memastikan. Hingga begitu berdiri di hadapan wanita yang ada di hadapannya tersebut, kini menyerahkan sesuatu di tangannya.
Miranti yang tadinya menatap ke arah sepatu yang sangat dihafalnya, kini mendongak menatap ke arah sosok pria yang merupakan sopir dari teman sang majikan yang mengulurkan sapu tangan padanya.
Ia tidak menerima sapu tangan tersebut, tapi yang ada malah semakin menangis tersedu-sedu mengingat nasib dari sang majikan yang sudah pasrah dengan keadaannya.
"Aku harus bagaimana sekarang jika nona Ana sudah pasrah dan tidak mempunyai semangat hidup lagi seperti dulu? Aku bahkan ingin nona Ana ditemani suaminya saat berjuang melawan penyakit, agar ada yang mendukung dan ia bisa berbagi cerita dengan pria yang dicintai."
Miranti benar-benar sangat berharap sang majikan bisa ditemani oleh sang suami, agar jika terjadi sesuatu yang buruk, di momen terakhir tidak ada penyesalan karena sudah ditemani oleh orang yang dicintai.
Paul yang tadi memang diperintahkan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pelayan itu saat menginginkan suami dari Ana datang dan sekarang sudah mengetahui alasannya.
__ADS_1
"Sepertinya niatmu memang baik untuk nona Ana. Aku akan mengatakan pada nona Raisa dan mungkin bisa membantu untuk menyuruh pria itu ke sini tanpa memberitahunya terlebih dahulu," ucap Paul yang saat ini mengirimkan pesan kepada sang majikan mengenai niat untuk menyuruh Christian datang ke Singapura.
To be continued...