
Christian saat ini tengah mengemudikan kendaraan yang baru saja meninggalkan area Rumah Sakit. Ia tadi merasa sangat lega kala sang dokter mengizinkan putranya pulang setelah demam turun. Ia menoleh sekilas pada Ana yang tengah menggendong putranya.
"Putra kita sudah tidak apa-apa, Sayang. Lihatlah, dia bahkan tidur dengan pulas. Jangan terus menyalahkan dirimu saat Valerio sakit.
Sementara itu, Ana yang dari tadi berkaca-kaca saat menatap ke arah malaikat kecil yang mengubah seluruh dunianya, kini mengangkat pandangan dengan menoleh ke arah sang suami yang selalu mencintainya dan lebih memilihnya daripada Laura.
Ia bahkan tahu semua hal yang menjadi penyebab sang suami berakhir bersama Laura. Entah mengapa meskipun pria itu sudah ada bersamanya, masih tidak tenang.
"Aku benar-benar berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuk Valerio, Sayang. Aku takut jika saat besar nanti ia membenciku karena memisahkannya dari ibu kandungnya. Aku pun juga takut jika kamu goyah dan kembali padanya. Dia masih muda, cantik dan normal. Tidak sepertiku yang tidak bisa menjadi wanita sempurna."
Suara Ana terdengar sangat serak karena menahan gejolak perasaan yang membuncah dirasakan saat ini. Meskipun saat ini ia tengah menggendong malaikat mungil yang sudah tertidur pulas itu, tetap saja tidak membuatnya tenang sepenuhnya.
__ADS_1
Tetap saja ia merasa takut jika apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Hingga ia kini melihat sang suami menepikan kendaraan dan menatapnya tajam sambil berbicara panjang lebar.
"Jika seumur hidup kamu berpikir seperti itu, tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan baik. Sekarang katakan apa yang bisa membuatmu tidak dipenuhi pikiran negatif seperti itu? Harusnya kamu tahu jika apa yang terjadi adalah buah dari hasil pikiran kita." Christian sudah kehabisan kata-kata untuk menyadarkan Ana.
Meskipun ia tahu bahwa hati seorang wanita lebih sensitif, tapi kali ini tidak bisa membiarkan Ana selalu dibayang-bayangi kekhawatiran yang tidak berdasar. Apalagi ia sudah merelakan perasaannya pada Laura dan menyakiti istri sirinya tersebut demi Ana.
Merasa perjuangannya sia-sia kala Ana berbicara seperti itu, sehingga berpikir untuk menyadarkannya. Saat ia melihat sang istri terdiam tidak bisa membantah, kembali ia berbicara sesuai dengan apa yang dirasakan ini.
Antara tidak tega sekaligus kesal kini seolah mewakili perasaan Christian saat ini. Namun, ia ingin hidupnya tenang saat bersama Ana karena saat di kantor, selalu memikirkan tentang Laura karena jujur saja kenangan manis bersama istri keduanya tersebut tidak pernah bisa hilang dari pemikirannya.
Ana yang kini menyadari kesalahannya karena tertampar dengan kata-kata sang suami, menoleh pada pria yang terlihat kesal padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Ini semua memang bermula dari pikiran yang selalu dipenuhi oleh ketakutan. Aku janji tidak akan lagi seperti itu. Aku akan selalu berpikir positif dan fokus mengurus Valerio." Saat Ana baru saja menutup mulutnya, ia meringis menahan rasa nyeri pada bagian pinggang.
Ia memijat bagian pinggangnya. "Aaarh ... kenapa akhir-akhir ini rasanya pinggangku seperti mau patah saja."
Christian tadinya merasa sangat lega karena Ana menyadari kesalahannya dan mau memperbaikinya. Hingga ia pun kini merasa sangat khawatir dengan keadaan sang istri yang tengah memijat pinggang sebelah kanan.
"Nanti aku akan memijatmu, Sayang. Itu karena kamu sudah lama tidak merasakan pijatanku dan sibuk menggendong putra kita, makanya jadi begitu." Ia sebenarnya kembali terngiang penjelasan dari sang dokter jika lama-kelamaan imunitas Ana akan menurun dan berpikir jika sakit pinggang itu adalah dampaknya.
'Maafkan aku, putraku karena membiarkanmu tumbuh tanpa kasih sayang ibu kandungmu dan sebentar lagi menyerahkanmu untuk dirawat oleh baby sitter,' gumam Christian yang saat ini tengah berpikir jika akan lebih baik jika Ana mau menerima Laura, mungkin tidak akan merasa se-berdosa seperti ini.
To be continued...
__ADS_1