365 Days With You

365 Days With You
Keputusan


__ADS_3

Ana yang perlahan menggerakkan tangan dan beberapa saat kemudian membuka kedua mata. Perlahan pandangan yang tadinya blur dan menormalkan cahaya yang baru saja masuk ke retina mata, kini lama-kelamaan mulai semakin jelas dan terang.


Ia bahkan bisa mendengar suara dari pelayannya yang terlihat sangat bersemangat ketika menyebut namanya. Hingga perawat yang baru saja masuk juga bisa dilihatnya saat ini dengan jelas dan membuatnya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Mencoba untuk mengingat semua yang terjadi padanya dan ingatannya berhenti pada saat ia merasakannya di luar biasa ketika berada di dalam mobil yang hendak mengantarnya ke apartemen.


Ia saat ini terdiam menatap ke arah suster yang baru saja menelpon dokter untuk segera memeriksanya. Masih merasa sangat lemah karena ketika menggerakkan tubuhnya, seolah masih kesusahan.


'Aku pikir sudah berada di surga setelah kehilangan kesadaran saat merasakan sakit luar biasa tadi di mobil. Ternyata Tuhan masih belum menerimaku. Sampai kapan aku merasakan rasa sakit luar biasa seperti itu?' gumam Ana yang saat ini baru saja melihat pintu kembali terbuka dan seorang pria dengan jubah putih masuk dan melangkah menghampirinya.


Saat mendengar perkataan pria itu yang mengajukan beberapa pertanyaan padanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar sepenuhnya telah sadar dan bisa mengingat tentang diri sendiri.


Hingga kemudian diperiksa oleh pria itu dan membuatnya ingin bertanya, tapi seperti lidahnya kelu untuk membuka suara.


Hingga ia mengerti bahwa baru saja dioperasi dan efek obat bius kini telah habis. Hingga ia saat ini ke arah pelayannya yang masih setia berada di sebelah kanan.


"Nona Ana, syukurlah Anda sudah sadar. Saya dari semalam menunggu Anda sadar dan sekarang benar-benar lega. Akhirnya saya bisa melihat Anda membuka mata kembali." Sang pelayan yang mengingat perkataan dari dokter ketika baru keluar dari ruangan operasi.


Jadi, sekarang berpikir jika sang dokter dan perawat tersebut mungkin akan memeriksa lebih intensif perkembangan dari majikannya mengenai sel kanker.


'Semoga hanya satu kali ini nona Ana dioperasi,' gumamnya sambil mengaminkan doanya sendiri untuk kebaikan sosok wanita yang berada di hadapannya tersebut.


Sementara itu, sang dokter yang saat ini berbicara dengan perawat agar mencatat penjelasannya setelah ia memeriksa tanda-tanda vital dari pasien yang baru saja dilakukan proses operasi.


Ia pun juga mengatakan mengenai obat yang harus diberikan saat ini dan beberapa hari kemudian. Hingga ia pun saat ini kembali menatap ke arah pasien.


"Anda harus semangat, agar proses pengobatan berjalan lancar dan bisa sembuh. Kami pihak tim Dokter akan melakukan yang terbaik," ucap pria dengan jubah putih tersebut dan kini tersenyum simpul begitu melihat respon dari pasien yang juga mengganggu perlahan sambil mengerjapkan mata.


Ia pun menjelaskan mengenai efek setelah operasi dan juga pulih dari obat bius yang sudah habis bekerja. Bahwa bisa saja akan muntah-muntah dan pusing. Meskipun itu tidak semua orang merasakannya.


Ana kini berusaha untuk membuka suara setelah menyelaraskan petaknya yang seperti baru saja bangkit dari tidur panjang.


"Dokter."


"Iya?" Sang dokter baru saja berniat untuk keluar dari ruangan, tapi tidak jadi begitu mendengar suara dari pasien yang sangat lirih. "Apa ada yang ingin ditanyakan?"


Ana yang saat ini tidak ingin bertele-tele ataupun menutupi ketakutannya tentang penyakitnya yang sudah stadium akhir. Ia berharap pria itu langsung menjawab dengan jujur tanpa berniat untuk menghibur perasaan yang semata.


"Apakah penyakitku sangat parah dan aku akan mati?" Ia yang sekolah sudah siap untuk menjemput kematian, sama sekali tidak khawatir jika kalimat terakhir yang diungkapkannya menjadi kenyataan.


Namun, ia seketika merasa tertampar dengan perkataannya sendiri ketika sang dokter berbicara dengan sangat singkat, tapi seolah berhasil menembus jantungnya.


"Maaf, kami bukan Tuhan yang bisa menentukan kematian. Jika Anda optimis, lanjut dan jika pesimis, lebih baik tidak perlu melakukan apa-apa dan menunggu kematian menjemput." Sang dokter memang terkenal sangat datar pada pasien yang putus asa.


Itu sudah bukan lagi rahasia umum di rumah sakit tersebut karena sikap dari sang dokter yang sinis malah menjadi penyemangat pasien pesimis untuk sembuh.


Sang dokter yang tidak ingin menjelaskan panjang lebar karena merasa pertanyaan itu bukanlah sebuah hal yang pantas untuk dibahas di rumah sakit.


Bahwa ia ingin menjadikan Rumah Sakit sebagai penyembuh, bukan pencabut nyawa. Jadi, tidak suka pada pasien yang menyerah setelah masuk ke rumah sakit itu. Apalagi tujuan orang sakit datang ke rumah sakit pastinya adalah karena ingin sembuh, bukan karena ingin mati di sana.


Saat ia baru saja keluar dari pintu, mendengar suara pasien yang lirih, tapi masih bisa didengarnya dan tidak membuatnya menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Maaf, Dokter." Seketika Ana menyadari kesalahannya karena memang ia tidak sedang menjemput kematian, tapi memang tujuannya datang ke rumah sakit itu karena ingin sembuh.


Jadi, merasa jika yang terjadi padanya sudah menjadi takdir yang harus ia jalani dengan ikhlas, sehingga kali ini berharap usahanya akan membuahkan hasil suatu saat nanti.


"Anda tidak boleh berbicara seperti itu pada dokter karena jika sekali lagi mengatakannya, akan menyuruh dokter lain untuk menangani Anda. Padahal dokter Rixh merupakan dokter terbaik ahli kanker serviks. Tolong diingat-ingat," sahut perawat yang saat ini menganggukkan kepala saat berpamitan.


"Terima kasih sudah mengingatkanku," ucap Ana yang kini melihat perawat wanita tersebut sudah berjalan keluar dan menghilang di balik pintu.


Miranti sebenarnya juga kecewa pada majikannya karena berbicara seperti itu saat sudah berada di rumah sakit terbaik yang ada di luar negeri.


Namun, tidak mungkin seorang pelayan memarahi majikan dan kini hanya diam dan menunggu apa yang diinginkan pria itu. Hingga ia pun saat ini berpikir jika sang majikan makin pendiam. Padahal sudah dilakukan operasi pengangkatan kanker yang diderita.


"Nona, apa Anda menginginkan sesuatu?"


Ana yang masih mengingat bagaimana ekspresi wajah sang dokter dan membuatnya merasa bersalah karena seperti tidak menghargai usaha dari aparat medis ketika menyelamatkannya.


Hingga ia beralih menatap ke arah pelayanan yang masih setia bersamanya. "Tidak. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin sembuh dan tidak merasakan penyiksaan ini."


Ia kini memegangi bagian perutnya yang tadi membuatnya luar biasa kesakitan hingga berakhir kehilangan kesadaran. Apakah operasinya lama? Lalu, apa yang dikatakan oleh dokter tadi?"


Ana seketika menepuk jidat begitu mengingat sesuatu. "Aah ... kamu pasti tidak memahami penjelasan dari dokter tadi, kan?"


Saat ini, Miranti hanya menganggukkan kepala untuk berbohong karena ia tidak mungkin menceritakan hal sebenarnya dan membuat mental majikannya down.


"Iya, Nona Ana. Bagaimana saya bisa mengerti jika kemampuan berbahasa Inggris sangat buruk. Nanti bisa anda tanyakan sendiri secara baik-baik pada dokter yang tadi.


Ana yang merasa bersalah pada sang dokter, kini mengingat perkataan perawat mengenai nama pria tersebut. "Dokter Rixh ya namanya. Bukankah namanya cukup bagus? Bahkan dia juga merupakan dokter yang sangat tampan."


Hingga ia mendengar suara ketawa renyah dari wanita yang bahkan belum mengganti pakaian dari semalam. "Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu dari orang sakit seperti itu?"


Refleks sang pelayan menggelengkan kepala karena saat ini ia bukan berniat untuk menertawakan perbuatan wanita yang terlihat sangat lemah tersebut.


"Bukan Anda yang lucu, Nona."


"Lalu?" Ana mengerutkan kening karena ingin mendengar tanggapan dari pelayannya.


"Saat pertama kali mendengar Anda memuji seorang pria tampan, rasanya seperti melihat Anda telah kembali. Dulu Anda selalu memuji para pria tampan yang dilihat di media sosial, tapi tidak berani melakukannya di depan tuan ...."


Merasa akan memantik perasaan sedih dari majikannya, seketika ia membekap mulut agar tidak meneruskan apa yang baru saja diungkapkan.


"Aah ... Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud untuk ...." Lagi dan lagi ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena sudah dipotong oleh sang majikan.


"Tidak perlu merasa bersalah saat ingin menyebut namanya karena aku tidak akan mempermasalahkan itu. Aku sudah melepaskannya, Bik. Biarkan kami hidup di jalan masing-masing dengan kebahagiaan yang berbeda." Ana bahkan berpikir tidak akan menghubungi ataupun mencari tahu tentang apapun mengenai mantan suaminya.


Apalagi merasa sangat yakin jika Christian akan kembali dengan Laura untuk melanjutkan kisah kasih mereka dengan merawat Valerio.


"Christian ... dia memang akan sangat bersedih ketika melihatku mati, tapi waktu yang akan mengobati perasaan itu dan nantinya akan mencari penawarnya dengan kembali pada Laura." Sebenarnya membayangkan hal itu saja sudah membuat Ana sesak di dada.


Tapi tidak ingin ada yang melihat hatinya yang hancur dan wajah berlinang air mata ketika menangisi suami.


"Kita akan hidup berdua dengan bahagia, Bik. Kita akan berkeliling dunia karena aku akan mengajakmu pergi ke manapun ingin berlibur." Berencana untuk menetap di negara itu dan bekerja di sana karena sudah mendapatkan tawaran dari sahabatnya.

__ADS_1


Apalagi ia mempunyai keahlian saat memimpin perusahaan sang suami yang bergerak di bidang kosmetik. Apalagi kosmetik menjadi produk paling laris saat ini karena peminatnya makin merajalela.


Bahwa para wanita rela merogoh kocek yang dalam hanya untuk bisa merawat wajahnya. Memiliki pengalaman itu, ia ingin bekerja di salah satu brand ternama di negara itu dan disambut dengan baik oleh sahabatnya yang menang CEO dari perusahaan besar di sana.


Miranti mengaminkan semangat dan harapan dari majikannya yang kini seperti bangkit dari keterpurukan.


"Terima kasih karena mau mengajakku, Nona. Lebih baik sekarang memikirkan tentang pengobatan Anda sampai pulih dan benar-benar sembuh, baru memikirkan berkeliling dunia." Ia kini beralih menatap ke arah jendela yang kini sudah mulai menampilkan sedikit cahaya setelah hujan reda beberapa menit lalu.


Ia yang tadi mengatakan jika cuaca hari ini selaras dengan keadaan dari majikannya, sekarang tersenyum. Dengan berjalan menuju ke arah jendela dan sedikit menarik korden untuk memperlihatkan jika suasana di luar kini sudah mulai cerah dan tidak segelap tadi.


"Bahkan cuaca hari ini mengikuti Anda, Nona."


"Maksud, Bibik?" Ana pun mengalihkan pandangannya dengan menatap ke arah jendela.


Kemudian sang pelayan kini menjelaskan apa yang tadi dirasakan ketika melihat cuaca yang sangat gelap dan sekarang berubah cerah seperti keadaan majikannya yang sudah kembali bersemangat untuk melanjutkan hidup dengan fokus pada pengobatan demi kesembuhan.


Ana yang saat ini hanya tersenyum ketika memahami semuanya. "Jadi, Bibik menganggapnya seperti itu? Apakah saat ini cuaca bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Ana Maria?" ucapnya yang saat ini menatap intens ke arah luar sana.


Merasa bapak itu memang benar adanya karena tadinya berpikir jika mendung gelap tidak akan menyingkir sampai lama. Apalagi hujan yang turun sangat deras dan berpikir akan bertahan lama sampai siang hari.


Namun, seolah tidak terduga jika semuanya saat ini berbanding terbalik dengan cuaca beberapa saat lalu. "Sepertinya memang seperti itu, Nyonya karena kebetulan setelah Anda bersemangat lagi untuk sembuh, cuaca berubah cerah."


Jika sang pelayan merasa sangat yakin dengan pemikirannya, berbeda dengan Ana yang menganggap jika semua itu terjadi karena intensitas hujan yang sangat deras dan akhirnya bisa berubah terang setelah menumpahkan semua pasokan air yang ada pada awan di bumi.


Namun, ia menyenangkan perasaan sang pelayan yang terlihat sangat senang dan merasa lega. "Aku sangat beruntung karena ditemani oleh cuaca hari ini dan tidak sendirian karena ada kalian."


Sang pelayan yang kini hanya membuka separuh korden, kini ingin cuaca cerah itu serupa dengan perasaan sang majikan, sehingga saat ini langsung membuka penuh agar cahaya bisa masuk ke dalam tanpa korden yang menghalangi.


"Tidak apa-apa kan jika saya membukanya, Nona." Ia sengaja masih berdiri di sana untuk menunggu respon dan melanjutkan apa yang harus dikerjakan sesuai dengan perintah majikan.


Hingga ia pun melihat sama jika menganggukkan kepala yang menyatakan jika tidak keberatan. Ia pun kini ikut merasa senang karena bisa melihat senyuman dari wanita yang sudah tidak lagi pucat seperti semalam.


"Saya ingin mengabadikan ini, Nona. Biar saat nanti Nona sudah sembuh, bisa menjadi sebuah kenangan yang tidak pernah terlupakan." Kemudian sang pelayan kini mengambil ponsel miliknya dari atas laci.


Lalu ia mendekati sama majikan dan tentu saja sudah mengarahkan kamera dan beberapa kali memencet tombol foto.


Ana sama sekali tidak memperdulikan wajahnya yang kusam saat berfoto dengan sang pelayan. Jika selama ini ia selalu menampilkan semua yang terbaik di depan publik, tapi sekarang menyadari jika menjalani semuanya dengan apa adanya tanpa setingan.


Ia tersenyum beberapa kali difoto yang kini diperlihatkan oleh pelayannya.


"Wah ... Anda bahkan terlihat masih sangat cantik saat tidak memakai make up dan orang-orang tidak akan menyangka jika Anda baru saja dioperasi." Ia dari tadi masih tidak mengalihkan perhatiannya dari beberapa foto yang terlihat sempurna meskipun ia terlihat berbanding terbalik karena memiliki wajah standar.


"Saya akan menyimpan kenangan ini untuk mengenang momen pertama kali berada di luar negeri dengan menemani Anda berobat." Meskipun tidak mempunyai banyak kenalan di kontak ponselnya, ia tidak akan menyebarkan foto itu dengan membuat story seperti orang-orang.


Berpikir jika itu akan beresiko pada majikannya jika sampai ada yang mengenal ataupun melihat jika majikannya saat ini masih bernapas, karena pastinya sudah diberitakan meninggal dan dimakamkan hari ini.


"Nona, pasti saat ini boneka itu sudah dimakamkan dan banyak orang yang datang untuk mengucapkan berduka cita. Apa Anda tidak ingin mencari tahu?" tanya Pelayan yang sebenarnya merasa kecewa begitu melihat majikannya tanpa berpikir langsung menggelengkan kepala.


Padahal sebenarnya ia merasa sangat penasaran dengan respon dari suami majikannya tersebut bagaimana. Namun, harus menerima keputusan itu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2