365 Days With You

365 Days With You
Apes


__ADS_3

Momen pernikahan Laura dan Mario meninggalkan momen luar biasa yang penuh dengan kebahagiaan. Bagaimana tidak, di akhir acara, semua orang bersorak dan bertepuk tangan melihat pengantin baru yang berciuman.


Sosok wanita yang tak lain adalah ibu Mario sangat terharu melihat keromantisan putranya dengan sang istri. Ia merasa sangat bahagia begitu melihat putranya akhirnya bersatu dengan wanita yang dicintai.


Apalagi ia tahu bagaimana perjuangan dari putranya untuk mendapatkan cintanya.


"Lihatlah putramu! Dia terlihat sangat bahagia," lirihnya di dekat telinga sang suami.


Sementara itu, sang suami juga menganggukkan kepala membenarkan. "Iya, akhirnya putra kita menemukan cinta sejatinya dan bersatu dengan Laura."


Kemudian ia melirik sekilas sosok wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya, tak lain adalah mantan mertua Laura yang dari tadi sibuk membersihkan bulir air mata dengan sapu tangan dan membuatnya merasa iba.


'Sepertinya mantan mertuanya tidak rela kehilangan menantu kesayangannya, bukan karena sangat bahagia bisa melihat Laura bahagia,' gumamnya di dalam hati.


Ayah Mario kini mengikuti arah pandang sang istri dan bisa mengerti perasaan dari seorang Renita Padmasari. Ia kini sudah merangkul pinggang ramping sang istri, lalu berbisik di dekat daun telinga.


"Selama ini dia lebih menyukai Laura daripada menantunya yang meninggal itu. Apalagi Laura berhasil mewujudkan impiannya untuk memiliki cucu. Itulah kenapa terlihat paling bersedih.'


"Ya, aku tahu itu. Kau harus berhati-hati, Suamiku. Dia bukanlah orang sembarangan dan bisa saja menghancurkan kita," seru wanita paruh baya yang ingin mengingatkan sang suami agar tidak mengusik keluarga Raphael.


"Tentu saja aku tidak akan mengusik jika mereka tidak mengusik putra kita," sahut sang suami yang kini bangkit berdiri dari posisinya dan mengajak sang istri mengambil makanan.


Beberapa jam kemudian setelah acara pernikahan selesai, saat putra kesayangan dan menantunya sudah ada di ruangan ganti, Aqila Rahma menepuk bahu kokoh putranya.


"Selamat, Sayang. Semoga bahagia sampai kakek nenek."


Mario seketika mengaminkan doa sang ibu dan memeluknya. "Terima kasih, Ma."


Tentu saja aksi ciuman panas dari sang pengantin di singgasana tadi benar-benar membuat heboh semua orang yang hadir dan tak lupa momen tersebut di abadikan oleh sanak saudara serta kameramen yang disewanya.


Banyaknya komentar dari para saudara dekat, membuat Mario dan Laura mendapat gelar pasangan paling serasi dan romantis yang membuat iri semua orang.


"Kamu benar-benar berhasil membuat semua orang iri, Laura." Menatap ke arah menantunya yang masih mengenakan kebaya pengantin.


Sementara Laura hanya merona karena merasa sangat malu di depan mertuanya. Hingga mendapatkan candaan dari Mario.


"Nanti di dalam kamar tidak perlu malu-malu padaku." Mario melepaskan kancing pakaian sambil terkekeh geli melihat raut wajah memerah seperti kepiting rebus itu.


Merasa semakin malu, Laura hanya menatap tajam pria yang sudah berstatus sebagai suaminya dan menurutnya sangat nakal. Hingga ia mendengar suara bariton dari sang mantan mertua.


"Mama harus pulang sekarang, Sayang. Oh ya, Christian ingin membawa Valerio karena sangat merindukannya. Boleh, kan?" tanya Renita Padmasari yang sebenarnya mengetahui niat putranya yang ingin Laura fokus pada malam pertama dengan suami barunya.


Tapi mengatakan sangat merindukan putranya dan itu sangat membuatnya kesal. Bahkan tidak mau masuk untuk berpamitan.


Awalnya Laura merasa ragu untuk mengiyakan, tapi karena iba pada Christian yang kesepian, akhirnya terpaksa mengizinkan.


"Baiklah, Ma. Tapi tolong bilang pada Christian, jangan bawa Valerio selamanya. Aku memang sudah menikah, tapi perhatian dan kasih sayangku pada putraku tidak akan pernah berubah."


Kemudian kini langsung menghambur memeluk erat tubuh sang mantan mertua agar tidak salah paham pada perkataannya karena tadi tidak ingin mengecewakan.


"Terima kasih atas semuanya hari ini, Ma. Hati-hati di jalan."

__ADS_1


Renita Padmasari yang sudah mengusap lembut punggung Laura, merasakan aura kebahagiaan yang membuat bola matanya berkaca-kaca.


"Tenang saja karena kami tidak akan merebut putramu. Kita akan berbagi kasih sayang untuk Valerio dan jangan buat dia bingung dengan perbuatan para orang tua." Kemudian menarik diri dan berpamitan pada semua orang, termasuk mantan menantunya yang juga tengah memeluknya dan membuatnya merasa seperti memiliki anak perempuan.


"Jaga Laura baik-baik." Ia menatap ke arah Mario saat berjabat tangan.


"Tentu saja. Tidak perlu mengkhawatirkan Laura karena dia akan selalu berbahagia bersamaku." Mario melepaskan pelukannya dan menyunggingkan senyumnya.


"Aku tahu dan sangat mempercayaimu." Renita Padmasari menepuk bahu lebar nan kokoh Mario dan kemudian langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan kamar yang digunakan sebagai tempat ganti tersebut.


"Kalian istirahat saja. Kami pun sangat lelah." Aqila memberikan sebuah kode pada sang suami untuk meninggalkan putranya agar bisa beristirahat.


Mengerti dengan arti tatapan mata sang istri, Aldiansyah sudah berjalan keluar meninggalkan putra dan menantunya.


Sementara itu, Mario yang kini beralih menatap ke arah Laura, mengedipkan mata.


Laura yang mengerti arti tatapan nakal dari Mario, kini hanya mengarahkan sebuah cubitan pada pinggang kuat pria itu.


Namun, ia merasakan tangan kuat menelusuri punggungnya dan kembali mengarahkan tatapan tajam pada Mario karena berpikir jika masih terlalu awal menuruti permintaan pria itu karena ia tahu apa yang diinginkan seorang pria.


"Jangan macam-macam!"


"Aku hanya ingin membantumu, Sayang."


"Membantu apa?"


"Membantu melepaskan kebaya pengantin ini. Tidak mungkin kamu berbaring dengan posisi memakai kebaya pengantin, kan?" Mario yang sudah membuka satu persatu kancing kebaya berwarna putih tersebut hingga ke bawah dan tentu saja kini sudah menampilkan kulit putih bagian depan dan juga dua benda padat sintal membusung di depannya.


Dengan tersenyum smirk, ia sudah mendekatkan wajah dan bibirnya untuk menelusuri leher putih nan jenjang itu. Saat ia berniat untuk memberikan kiss mark, suara teriakan sang istri membuatnya mengurungkan niat.


Ia tidak meneruskan perkataannya karena tidak ingin Mario kesal padanya.


Tentu saja ia melihat ekspresi wajah masam dari pria yang seketika dengan kasar mendaratkan tubuh di atas ranjang.


"Kamu marah?"


Mario yang sebenarnya merasa sangat kesal karena apapun yang ingin dilakukan selalu salah dan membuatnya seperti tidak bisa berbuat apapun yang disukai.


"Buat apa kamu bertanya jika sudah tahu jawabannya?"


"Maafkan aku."


"Astaga!" Mario kini mengacak frustasi rambutnya karena merasa seperti seorang penjahat saja karena membuat wanitanya selalu meminta maaf.


"Apa tidak ada kata lain selain minta maaf?"


Tanpa membuka mulut untuk berbicara, Laura memilih hanya menggelengkan kepala. Rasa bersalah selalu dirasakan saat ia mengecewakan Mario dan membuatnya tidak bisa mengatakan apapun lagi selain meminta maaf yang dianggapnya bisa menyelesaikan masalah.


Mario yang kini masih menatap intens sosok wanita yang berdiri menjulang di hadapannya, ingin menjelaskan bahwa ia benar-benar sangat bosan mendengar perkataan Laura.


"Aku memilihmu sebagai seorang istri untuk menjadi ibu dari anak-anakku dan hidup menua bersamaku. Aku ingin segera memberikan cucu pada orang tuaku agar tidak merasa kesepian lagi karena kita adalah anak tunggal."

__ADS_1


Mengetahui ujung dari perdebatan itu, Laura memilih untuk membuka gaun pengantin dan berniat memakai wardrobe yang dibawanya.


Tanpa mempedulikan tatapan lapar pria yang kini tidak berkedip menatapnya saat setengah telanjang.


"Aku ingin mempunyai anak saat benar-benar siap dan masih harus fokus pada Valerio yang masih terlalu kecil untuk memiliki adik. Aku harap kamu mengerti." Laura merasa bersalah karena dulu tidak membicarakan tentang keturunan pada Mario.


Kini, Mario sama sekali tidak berkomentar karena mengetahui akan selalu kalah dari Laura.


'Sekarang aku baru merasakan jika Valerio bagaikan mencekik leherku sekarang.'


Tidak ingin di hari baiknya berubah buruk, Mario memilih untuk bangkit berdiri dan langsung meraup tubuh Laura dan membawanya ke ruangan kamar sebelah yang merupakan kamar pengantin dan sudah dihias sedemikian rupa.


"Lebih baik kita bersenang-senang daripada bertengkar dan aku tidak menerima alasanmu."


Mario yang kini sudah berada di atas lengan kekar Mario, memilih untuk melingkarkan tangannya pada leher belakang pria dengan paras rupawan tersebut.


Kini, mereka berdua sudah tiba di ruangan kamar pengantin yang merupakan tipe kamar yang terbaik.


Mario yang sudah sangat berhasrat, kini berniat untuk mencium Laura setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Laura yang saat ini merasa sangat aneh pada tubuhnya, seketika langsung menahan dada bidang Mario yang awalnya menindih tubuhnya. "Sebentar, aku ke kamar mandi dulu."


Kemudian berlari ke kamar mandi untuk memastikan sesuatu dan benar apa yang dipikirkannya jika saat ini jadwalnya menstruasi. Refleks ia menatap wajahnya di depan cermin dan memikirkan tentang Mario.


"Kasihan sekali Mario. Dia pasti sangat kecewa saat mengetahuinya," ucap Laura yang kini mulai membersihkan diri dan beberapa saat kemudian berjalan keluar.


Ia melihat Mario sudah berbaring miring menghadapnya. "Maafkan aku."


"Maaf lagi? Kali ini apa?" Mario seketika bangkit dari posisinya karena merasa ada sesuatu yang aneh dari wajah Laura. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengarnya.


"Maaf, aku hari ini jadwal datang bulan." Laura berbicara sangat lirih karena merasa bersalah pada Mario.


Ia kini membaringkan tubuhnya di sebelah Mario. Melihat tatapan tajam dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi, membuat Laura hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.


Ia seperti tersihir saat melihat ketampanan pria yang merupakan suaminya tersebut. Tanpa berkedip sama sekali, ia mengamati siluet pria yang menurutnya sangat tampan dan seksi.


"Aku baru sadar jika kamu sangat tampan dan juga seksi."


"Aku tahu kamu hanya memuji karena berpikir aku akan melepaskanmu, kan?" rengut Mario dengan wajah masam.


"Kenapa harus datang saat pernikahan kita sih!" umpat Mario yang benar-benar merasa sangat kesal.


Melihat wajah masam dari pria yang diketahuinya masih perjaka dan pasti sangat menantikan malam pertama dan melepas keperjakaan, tapi malah zonk, menurutnya Mario sangat menggemaskan dan membuat Laura tidak berhenti tertawa.


"Itu namanya kamu lagi apes, Sayang."


"Issh ... Seharusnya ini jadi masa bahagia kita dan tidak akan pernah terlupakan. Aku tidak sabar ingin merasakannya. Pakai cara lain saja, gimana?" ucap Mario yang kini sudah bangkit berdiri dari ranjang.


Sementara itu, Laura yang mengerti apa yang dimaksud oleh Mario, bisa melihat pria dengan badan penuh otot perut tersebut tidak sabaran.


"Dasar!"

__ADS_1


Tanpa berniat untuk menanggapi, Mario sudah naik ke atas ranjang dan membungkam bibir Laura. Tanpa mempedulikan ekspresi wajah wanita di bawahnya yang membulatkan mata dengan perbuatannya.


To be continued...


__ADS_2