365 Days With You

365 Days With You
Keputusan Christian


__ADS_3

Christian semalaman menunggu Laura yang kembali tertidur karena efek pengaruh obat. Setelah pertama kali siuman tidak mengatakan apapun karena hanya bisa melihatnya dengan tatapan kosong, Laura belum sadar kembali sampai pagi.


Bahkan Christian tidak bisa tidur nyenyak dalam posisi duduk sambil menggenggam erat telapak tangan Laura. Bahkan ia merasakan tubuhnya sakit semua karena tidur dengan posisi duduk.


Ia khawatir jika Laura sadar dan tidak disadarinya. Jadi, selalu menggenggam erat telapak tangan wanita itu. Namun, Christian sangat menikmati momen itu tanpa mengeluh.


Hingga keesokan paginya, Christian tidak bisa menahan perutnya yang tiba-tiba melilit dan langsung berlari ke toilet. Sekalian mencuci muka, Christian keluar dengan wajah yang sudah terlihat segar.


Hingga ia pun menyadari jika saat ini masih pukul empat pagi. Christian yang kembali melihat keadaan Laura, di saat bersamaan melihat sosok wanita berseragam putih yang tak lain adalah perawat jaga.


Ia hanya melihat perawat itu yang mulai memeriksa beberapa infus berisi obat. Begitu selesai, Christian langsung mencari tahu. "Bagaimana, Suster. Apa ada perkembangan yang baik dari kekasih saya?"


Sang perawat yang kini baru saja mencatat serta menyuntikkan cairan obat pada selang infus, kini menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya. Ia masih belum mengerti kenapa kekasih bisa seharian menunggu.


Padahal menjaga pasien yang tidak bisa bangkit dari ranjang akan membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Ia tidak yakin jika pria tersebut bisa bertahan. Apalagi harus mengganti alas ketika pasien buang air besar.


"Pasien yang sudah melalui masa kritis memang lebih baik banyak tidur agar segera pulih, Tuan. Tapi nanti siang pasien sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Apa saya boleh memberitahu sesuatu?"


Karena tidak ingin dianggap salah, atau tidak sopan, sang perawat terlebih dahulu memohon maaf.


"Mohon maaf sebelumnya, Tuan. Bukan saya ingin ikut campur mengenai privasi Anda, tapi pasien membutuhkan pihak keluarga yang bisa menjaga dengan baik dan itu tidak mudah." Sang perawat awalnya masih ragu-ragu mengatakan, tapi ia harus menjelaskan.

__ADS_1


Christian yang saat ini memicingkan mata karena berpikir jika perawat itu malah bertele-tele dan tidak langsung menjelaskannya. "Katakan saja semuanya, Suster."


Perawat itu pun berdehem sejenak karena mengambil waktu untuk bisa menjelaskan dengan baik mengenai maksudnya.


"Jadi, begini. Anda adalah kekasih pasien yang butuh dijaga dalam segala aspek. Bisa saja nanti pasien buang air besar atau Anda harus menyeka dengan air hangat dan menggantikan pakaian. Akan lebih baik jika yang melakukannya adalah wanita karena Anda laki-laki dan bukan mahram pasien, kan?"


Akhirnya sang perawat merasa lega setelah mengatakan hal yang mengganjal di pikirannya. Saat melihat penampilan pria itu, ia bisa menebak jika semua yang dikenakan adalah barang-barang mahal.


Mulai outfit, jam tangan, sepatu, jelas terlihat jika itu bukanlah barang pasaran yang mudah didapatkan di pasar. Bahkan mungkin barang-barang limited edition dengan harga yang tidak masuk akal.


Jadi, berpikir jika akan dengan mudah membayar orang untuk menjaga pasien wanita tanpa keluarga itu. Ia pun kini berlalu pergi setelah mengutarakan pemikirannya.


Christian menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan bahwa ia akan menuruti saran dari wanita itu. Bahwa ia akan membayar seorang wanita untuk mengurus hal-hal yang seperti itu.


Ia pun kini beralih menatap ke arah sosok wanita yang masih betah memejamkan mata tersebut. "Sayang, apa lebih baik aku menikahimu saja agar bisa merawatmu dengan baik?"


"Aku takut jika pergi sebentar, orang lain tiba-tiba menyakitimu karena masih berpikir jika ada seseorang yang berusaha menyingkirkanmu dari dunia ini. Karena semuanya benar-benar kebetulan."


Christian saat ini duduk di kursi sambil menimbang-nimbang perkataannya barusan. "Iya, ini adalah ide terbaik. Lebih baik aku menikahimu secara siri, Sayang."


Karena merasa bahwa keputusannya sangat tepat, Christian kini tidak membuang waktu untuk menghubungi sang asisten. Tanpa memperdulikan jika ini masih terlalu pagi untuk memberikan sebuah tugas.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara serak khas bangun tidur dari seberang telpon.


"Halo, Tuan Christian. Apa ada yang Anda butuhkan?" Vicky yang awalnya malas mengangkat telpon saat masih mengantuk, seketika membuka mata begitu melihat siapa yang menelpon.


"Pagi ini, aku ingin kau mengurus semua hal yang berhubungan dengan pernikahan. Aku ingin menikahi Laura secara siri agar bisa merawatnya sepenuhnya tanpa melibatkan orang lain."


Tanpa menunggu jawaban dari Vicky, kini Christian sudah mematikan sambungan telpon dan kembali menggenggam erat telapak tangan Laura.


"Aku memenuhi keinginanmu, Sayang. Saat kamu sadar dan bisa bicara nanti, aku harap kamu bahagia dan merasa senang begitu mengetahui sudah menjadi istriku," seru Christian yang kini mengecup lembut punggung tangan Laura.


Christian benar-benar yakin jika Laura adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk mengobati kegundahan hatinya selama beberapa tahun terakhir ini. Meskipun ia masih mencintai Ana, tapi di sisi berbeda memiliki ikatan batin dengan Laura.


"Selain aku ingin punya keturunan, aku merasa jika Laura sangat membutuhkanku dan aku ingin menjadi Dewa pelindungnya saat ia sendirian tanpa siapapun," ujar Christian yang masih tidak mengalihkan perhatian dari wanita dengan wajah pucat tersebut.


Ia benar-benar ingin segera melihat Laura sadar kembali dan memanggil namanya dengan suara merdu dari bibir wanita yang ia ciri ciuman pertamanya.


"Cepatlah sadar, Sayang karena aku benar-benar tidak tega melihatmu seperti ini." Christian masih menatap intens sosok wanita yang terlihat sangat mengenaskan itu.


Apalagi suara dari alat-alat yang menjadi penopang hidup Laura seolah nyanyian paling mengerikan yang membuatnya selalu dikuasai oleh kekhawatiran.


Apakah dalam hitungan jam Laura akan bertahan atau malah kehilangan wanita muda yang sangat berani untuk mengajaknya tidur karena efek mabuk. Namun, kini seolah perasaannya lebih baik karena Laura berhasil melewati masa kritis.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2