
Ucapan Laura serasa tombak yang tertancap pada jantung Christian saat ini karena membuat kebencian luar biasa di hati wanita yang pernah sangat dicintainya hingga sekarang, tapi tidak bisa mengungkapkan karena Ana tengah berjuang agar bisa hidup lebih lama di dalam sana.
Ia yang berniat untuk menjelaskan apa alasan ketika memutuskan menjatuhkan talak di saat Laura melahirkan dulu, sama sekali tidak bisa membuka mulut ketika ia kembali mendengar makian dengan suara tertahan dari wanita dengan tatapan penuh kebencian tersebut.
Laura sebenarnya saat ini ingin berteriak untuk meledakkan amarah yang berapi-api dan membuat degup jantungnya melebihi batas normal saat menahan perasaan membuncah ketika menatap sosok pria di hadapannya.
Ia bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk dengan mudah memberi kata maaf meskipun melihat Christian berlutut di hadapannya. "Aku sudah tahu semuanya dari ibumu dan kau tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan dan berpikir aku akan memaafkan kesalahanmu dengan mudah."
"Jangan pernah bermimpi karena sampai kapanpun tidak akan pernah lupa pada perbuatan jahatmu padaku yang membuat aku tidak bisa bersama dengan putra yang telah membuatku bertaruh nyawa." Kemudian ia pun tengah memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam kantong.
Ia pun berniat untuk enyah dari hadapan sosok pria yang membuatnya sangat muak dengan pergi ke kantin. Biasanya ia membuang rasa stres dengan menyeruput segelas kopi. Jadi, kini ingin melakukan hal sama karena kepalanya mendadak pusing karena kejadian hari ini.
Hingga ia pun melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang dan masuk ke dalam lift setelah terbuka. Namun, ia merasa sangat terkejut karena ternyata Christian berlari mengejar dan detik-detik terakhir bisa masuk ke dalam lift.
"Laura!" Christian yang beberapa saat lalu langsung kembali berdiri begitu melihat Laura melangkah pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah menyerah untuk menunjukkan penyesalan dan permohonan maaf.
"Aku akan meminta maaf ribuan kali sampai kamu memaafkan aku, Laura. Jika memang kematianku membuatmu puas, aku tidak keberatan jika Tuhan segera mengambil nyawaku." Meskipun terdengar sangat lebay ketika berbicara seperti itu di depan wanita yang pernah disakitinya, tetap saja membuat Christian ingin Laura tersentuh meski hanya sedikit.
Hingga ia melihat Laura malah tertawa terbahak-bahak menanggapi apa yang saat ini dikatakan tanpa mengarang terlebih dahulu hanya untuk sebuah rayuan karena itu tulus dari dalam hatinya.
'Laura pasti sangat membenciku karena tidak pernah sedikit pun tersentuh dengan semua yang kulakukan. Bahkan kematian tidak membuatnya tergerak untuk memaafkanku. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang demi membuatnya memaafkanku?' gumam Christian yang hanya bisa mengungkapkan keluh kesah di dalam hati di depan wanita yang masih tertawa terbahak tersebut.
Laura yang saat ini makin muak mendengar suara bernada rayuan yang dianggap hanyalah omong kosong layaknya sampah dari Christian. Sosok pria yang pernah membuatnya tergila-gila hingga kehilangan akal dan menyerahkan segalanya karena mempercayainya.
Setelah banyak luka yang dirasakan hingga hancur sendirian, ia seolah mati rasa dengan semua hal yang dikatakan oleh para pria yang berada di muka bumi ini. Menganggap bahwa perkataan seorang pria hanyalah sebuah kepalsuan dan tidak bisa dipercaya.
"Apa kau pikir aku akan tersentuh dengan kalimat konyolmu itu? Hei, Tuan Christian, aku bukanlah Laura yang bodoh seperti satu tahun lalu karena berhasil kau tipu dengan kepalsuan. Aku adalah Anastasia yang kini sudah mati rasa dan tidak akan pernah percaya pada omong kosongmu itu."
"Sekarang menyingkirlah dari hadapanku dengan tidak menampakkan wajahmu di hadapanku!" Kemudian memalingkan wajahnya karena merasa buang waktu saat menatap pria dengan wajah sayu yang berbeda dari biasanya tersebut.
__ADS_1
Bahkan saat ini ia berharap pintu segera terbuka agar bisa keluar dari lift yang membuatnya serasa sesak karena berdua dengan pria yang sangat dibenci.
Hingga suara bariton dari Christian tidak membuatnya kembali menoleh untuk menatap.
Christian tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus meluluhkan hati Laura agar tidak seumur hidup tersiksa dengan rasa bersalah. "Aku sama sekali tidak menganggapmu adalah wanita bodoh, Laura atau Anastasya. Terserah kamu mau mengganti namamu dari Laura menjadi Anastasya, tapi bagiku kamu adalah Laura untuk selamanya."
"Aku benar-benar mencintaimu dan tidak pernah bisa melupakan semua kenangan indah kita." Christian saat ini berdiri di hadapan Laura agar wanita itu tidak repot-repot menoleh padanya.
Namun, seperti beberapa saat lalu, Laura sama sekali tidak memperdulikannya dan tentu saja membuatnya geram karena permohonan maaf darinya yang sangat tulus tidak mendapat apresiasi.
Kini, ia menahan kedua sisi pergelangan tangan Laura dan menatapnya intens. "Laura, aku sangat mencintaimu dan tidak pernah main-main dengan perasaanku. Jika Ana tidak menderita penyakit kronis, aku dulu sudah berencana untuk menceraikannya agar kita bisa hidup berbahagia selamanya dengan anak-anak yang lucu."
"Namun, ternyata semua hanyalah menjadi rencana semata karena Tuhan tidak berkehendak dengan memberikan aku sebuah hukuman. Aku tidak tega menceraikan Ana saat mendengar penjelasan dokter ketika dia divonis kanker." Christian bahkan seperti menahan napas ketika berbicara panjang lebar karena menganggap Laura akan menghentikan perkataannya.
"Bukankah aku adalah seorang pria tidak punya hati jika sampai menceraikan istri yang menderita penyakit mematikan? Bukankah kamu adalah seorang wanita dan bagaimana jika posisi Ana ada padamu?" Ia mengakhiri semuanya dengan berpikir bahwa sesama wanita mungkin bisa saling memahami.
Meskipun itu terlalu menyakitkan karena Laura juga mendapatkan kesedihan luar biasa, tapi ia tetap mengatakan itu demi membuat Laura tidak sepenuhnya membencinya.
Sementara ia saat itu harus berjuang dengan bertaruh nyawa di ruang bersalin tanpa seorang suami yang mendampingi dan juga di hari yang sama kehilangan bayi yang berhasil dilahirkan tanpa kurang suatu apapun.
Bahkan saat mengingat itu, dadanya terasa sesak dan degup jantungnya bergemuruh hebat hingga membuatnya kesulitan bernapas. Hingga suara tercepat di tenggorokan karena menahan kesedihan luar biasa saat mengingat kejadian tersebut.
"Jika kau sangat mengkhawatirkan wanita itu mati, lalu apa kau tidak pernah berpikir aku bisa mati di ruang bersalin saat melahirkan tanpa ada suami yang mendampingi? Apa kau pikir aku adalah malaikat yang bisa memahami apa yang kau lakukan dan memaafkanmu dengan mudah setelah memahamimu?"
Laura bahkan saat ini berpikir bahwa Christian adalah pria paling egois di dunia ini dan sangat menyesal pernah mencintai dengan tidak memakai logika karena hanya mengikuti kata hatinya.
Lift yang dari tadi sudah terbuka dan ada orang yang berbuat untuk masuk, tidak jadi melakukannya melihat interaksi antara pria dan wanita tersebut sampai akhirnya pintu kotak besi tersebut kembali tertutup.
Christian saat ini merasa tertampar dengan perkataan dari Laura, hingga tidak bisa membuatnya berkata-kata lagi untuk memohon ampunan dari wanita yang telah membuatnya menjadi seorang pria sempurna dengan dipanggil papa karena memiliki keturunan.
__ADS_1
Seketika ia merasa tubuhnya kehilangan daya dan lemas hingga lunglai. Kini, kedua tangannya sudah terhempas ke bawah dan melepaskan kuasa dari kedua sisi lengan Laura.
"Ya, kamu memang benar. Aku bahkan saat itu hanya memikirkan Ana yang meninggal karena penyakit kronis setelah berbicara dengan dokter. Aku sama sekali tidak berpikir jika kamu bisa saja demikian. Aku hanya berpikir jika kamu bisa hidup bahagia karena masih sangat muda dan normal. Kamu bisa menikah dengan pria lain dan kembali memiliki anak, hanya itu yang kupikirkan saat itu."
"Maafkan aku, meskipun kamu tidak akan pernah bisa memaafkan perbuatanku di masa lalu padamu, tapi paling tidak, aku menunjukkan penyesalan luar biasa yang membuat hidupku menderita dan tidak pernah bisa tidur nyenyak selama 1 tahun belakangan ini." Kemudian ia berbalik badan dan memencet tombol karena sudah terlewat ke kantin.
Ia langsung keluar begitu pintu lift terbuka. Meninggalkan sosok wanita yang membuatnya semakin merasa bersalah. Jika tadi ia berniat untuk ke kantin membelikan sang ibu kopi yang dipesan hanya untuk mengalihkan perhatian Ana, tapi saat ini yang dilakukan adalah berjalan menuju ke arah anak tangga darurat dan duduk di sana sambil menatap kosong lorong yang penuh keheningan tersebut.
Ia seolah menyadari kesalahan luar biasa yang dilakukan pada Laura karena memikirkan Ana yang dikhawatirkan tidak memiliki usia panjang dan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Aku memang pria bajingan karena telah menyakiti hati dua wanita yang baik itu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Laura benar-benar terluka karena perbuatanku dan membuatnya tidak bisa mempercayai pria lagi." Christian mengembuskan napas kasar dan terdengar sangat jelas mewakili perasaan membuncah yang dirasakan.
Bahkan mengajak frustasi rambutnya karena ingin menghilangkan rasa tidak menentu yang saat ini menguasai diri. "Laura, maafkan aku. Aku terlalu menganggap mudah semuanya dan berpikir kamu akan baik-baik saja seiring waktu berlalu."
Jika Christian saat ini menyesali perbuatannya pada Laura yang meninggalkan luka mendalam di hati wanita itu, berbeda dengan sosok wanita yang tengah berjalan memasuki kantin dan langsung memesan kopi untuknya.
Laura saat ini tengah duduk sambil menatap beberapa orang yang berada di kantin. Ia pun juga mengingat ekspresi dari Christian ketika menyerah dan tidak lagi menyiksanya dengan bertatapan.
'Apa bajingan itu berpikir aku akan dulu dengan menampilkan wajah seperti itu? Apa dia pikir aku masih Laura yang bodoh yang bisa ditipu dengan aktingnya?' Ia pun tertawa miris ketika menyadari jika dulu hanyalah seorang wanita bodoh karena tidak berpengalaman dengan masalah percintaan.
'Cinta membuatku tidak bisa berpikir secara logika. Hingga menganggap apa yang dilakukan oleh si berengsek itu adalah ketulusan, tapi ternyata dia jauh lebih mementingkan anak yang bahkan sama sekali tidak bisa memberikan keturunan.'
'Apakah aku bisa menyebut perasaannya pada Ana adalah ketulusan untuk cinta sejati?' gumam Laura yang saat ini merasa miris dengan hidupnya karena meskipun menjadi seorang wanita yang lebih sempurna dari Ana, tidak bisa mengalahkan wanita itu.
Kini, ia mendongak menatap ke arah langit-langit kantin agar bulir air mata yang memenuhi bola matanya tidak lolos menghiasi pipinya. "Jangan menangis, bodoh! Kau adalah Anastasya yang kuat, bukan Laura yang lemah lagi."
Saat Laura mencoba untuk menormalkan perasaannya, ia mendengar suara bariton dari seorang pria dan membuatnya menoleh.
"Nona Laura?"
__ADS_1
To be continued...