365 Days With You

365 Days With You
Boneka Barbie


__ADS_3

Christian yang tadi sudah tiba di perusahaan, segera beranjak keluar dari mobil begitu melepaskan sabuk pengaman dan berlari menuju ke arah lobby agar bisa segera masuk dalam ruangan kerjanya untuk memeriksa apakah sang istri sudah melihat hal yang ia sembunyikan di dalam laptop.


Hingga ia yang belum menormalkan deru napas memburu karena efek berlari begitu tiba di lantai yang menjadi tempat kerjanya selama ini dan saat masuk ke dalam, bisa melihat sang istri sudah berhadapan dengan asisten pribadinya yang tadi diperintahkan untuk menghentikan kegiatan wanita itu.


'Apa istriku sudah melihat semuanya?' gumam Christian dengan menelan saliva kasar begitu mendengar pertanyaan dari sang istri yang menatap penuh curiga.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kembali lebih awal? Bukankah meeting berjalan sampai jam makan siang? Aku pikir kau kembali setelah makan siang," ujar Ana yang saat ini memicingkan mata melihat peluh yang membanjiri pelipis sang suami.


Christian yang saat ini sudah tidak sabar ingin mengetahui sesuatu hal yang mengganggu pikirannya, seketika menggelengkan kepala dan berjalan mendekati wanita di balik meja kerjanya.


"Aku sangat bosan dengan meeting hari ini karena hanya membuatku kesal dan marah saja. Jadi, aku pergi lebih awal dari yang lainnya agar bisa bersama karena kita jarang seperti ini setelah kamu merawat putra kita." Kemudian ia menatap sekilas ke arah laptop yang menunjukkan beberapa file yang hendak dibuka oleh Ana.


Bahkan file yang merupakan sebuah folder rahasia mengenai dirinya dengan Laura ada di nomor 3 dan mencoba untuk memenuhi pikirannya dengan hal yang positif bahwa sang istri belum sempat membukanya.


Meski sebenarnya saat ini masih merasa ragu dan ini memastikan dengan bertanya apa saja yang dilakukan oleh sang istri di ruangan kerjanya selama ia meeting tadi.


"Apa Vicky mengganggumu dengan membicarakan tentang masalah perusahaan? Padahal aku sudah menyuruhnya untuk tidak merepotkanmu agar tidak banyak pikiran dan tetap fokus pada Valerio saja." Ia yang baru saja menutup mulut, merasa degup jantung seperti hendak meledak saat ini juga kalah melihat sikap sinis dari sang istri.


Ana yang merasa sangat geram pada sang suami, seketika bangkit berdiri dari kursi dan menunjukkan file yang diperiksanya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya kau selalu menyuruhku untuk menutup mata dan fokus pada putra kita semata saat perbuatanmu seperti ini. Lihatlah! Ini sangat membahayakan Perusahaan kita. Bagaimana jika Perusahaan kita bangkrut karena ulahmu? Apalagi sekarang keuntungan sudah makin menurun karena banyaknya produk agar-agar yang mengandung bahan-bahan berbahaya beredar di masyarakat."


"Mereka tidak memikirkan dampak negatif dari produk yang digunakan karena memiliki harga relatif murah dan tidak menguras kantong. Jadi, Kita harus mencari solusi untuk membuat para pelanggan kembali memakai brand kita. Bukannya fokus pada masalah perusahaan sendiri, tapi malah sibuk mencari keuntungan yang akhirnya berdampak kerugian karena tidak sesuai dengan yang diinginkan."


Ana benar-benar tidak bisa menahan amarah yang membuncah di dalam hati begitu melihat sang suami yang dianggap sangat ceroboh karena tidak memikirkan dampak negatif atas perbuatan yang dilakukan.


Apalagi harga saham yang dibeli oleh sang suami jauh lebih mahal karena dulu perusahaan itu masih sangat terkenal dan menjadi salah satu saingan terberat beberapa perusahaan besar. Namun, saat ini semuanya berbeda karena nilai saham dari perusahaan Prameswari makin menurun.


Ia tadi pagi sudah mencari semua informasi mengenai perusahaan yang membuat suaminya bergabung. Begitu mertuanya tadi membawa putranya, ia yang tidak tahu harus melakukan apa, mencari informasi mengenai Perusahaan Prameswari.


Ia melakukan itu agar bisa memutuskan apa yang harus dilakukan untuk membantu sang suami meskipun dilarang.


"Malah melamun, lagi! Presdir!" sarkas Ana yang saat ini meluapkan amarah karena geram ada pria yang sama sekali tidak bisa menjawabnya seperti pasrah ketika mendapatkan omelan darinya.


Sementara itu, Christian yang dari tadi memikirkan jika kemungkinan besar sang istri tidak mengetahui folder rahasia yang disembunyikan karena tidak langsung membahasnya.


'Sepertinya Ana belum membuka folder rahasia itu karena tidak membahas dan hanya fokus pada perusahaan saja. Ia pasti akan langsung murka padaku jika mengetahui aku masih menyimpan foto-foto dan beberapa video momen-momen kebersamaanku dengan Laura.'


Ia seketika tersadar dari lamunannya begitu merasakan jika saat ini sang istri memberikan sebuah hukuman dan membuatnya mengalihkan perhatian dari laptop pada wajah sang istri yang terlihat sangat kesal padanya.

__ADS_1


Ia saat ini berdaun sejenak untuk menormalkan suaranya agar tidak terlihat gugup. "Ehm ... aku akan memperbaiki semua itu, Sayang. Percayalah pada suamimu ini yang bukan merupakan amatiran dalam memimpin perusahaan dan menyelesaikan masalah."


Kemudian Christian yang tidak memperdulikan raut wajah penuh kekesalan dari sang istri, beralih menatap ke arah sama sistem yang masih berdiri di hadapannya.


"Kembalilah ke ruangan kerjamu dulu karena aku ingin berbicara empat mata dengan istriku. Aku tidak mungkin menunjukkan perdebatan di depanmu." Kemudian mengibaskan tangan sebagai sebuah pengusiran dan memberikan kode pada asisten pribadinya tersebut untuk mengucapkan terima kasih.


Vicky yang saat ini merasa terbebas dari tugas berat yang harus dilakukan, seketika membungkuk hormat dan tanpa membuka suara, langsung berbalik badan untuk keluar dari ruangan kerja tersebut sambil bernapas lega.


'Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi dan mereka bisa menyelesaikan masalah yang dialami tanpa terbukanya sebuah rahasia besar yang disembunyikan oleh tuan Christian,' gumam Vicky yang saat ini baru saja melewati pintu dan menutup dengan perlahan, lalu kembali ke ruangan kerjanya.


Sementara itu, di dalam ruangan yang saat ini terlihat Christian dan Ana masih saling berhadapan.


Christian saat ini langsung mematikan laptop miliknya dan merangkul pundak sang istri karena ingin mengajaknya duduk di sofa untuk mengalihkan perhatian wanita itu.


"Percayalah pada suamimu ini yang bukan merupakan pria bodoh dengan menghancurkan perusahaan sendiri. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan masalah yang menimpa Perusahaan kita. Jadi, jangan menyiksa diri dengan membebani pikiranmu mengenai masalah perusahaan Karena kamu hanya boleh fokus pada putra kita."


Bahkan saat ini Christian sibuk dengan mengusap lembut punggung tangan sang istri agar bisa meredam amarah wanita dengan bibir mengerucut itu. Sebenarnya ia ingin meredam emosi Ana dengan menciumnya agar tidak marah lagi, tapi tidak bisa melakukan itu karena pikirannya dipenuhi oleh semua hal yang terjadi di Perusahaan Prameswari beberapa saat lalu.


'Sial! Aku makin tidak bisa melupakan Laura yang mungkin setiap hari akan kutemui jika pergi ke perusahaan Prameswari. Bahkan dia saat ini semakin cantik seperti boneka Barbie dengan perubahan penampilannya saat ini.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2