
Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam, mobil yang membawa keluarga Rafael kini telah tiba di kediaman Laura. Rumah yang berada di kawasan pusat kota dan merupakan cluster mewah dengan lantai 3 dan memiliki halaman sangat luas serta tanaman yang terawat, terlihat jelas jika saat ini dilengkapi dengan dekorasi pernikahan.
Saat pintu gerbang tinggi berwarna emas itu terbuka dan mobil berwarna hitam yang dikemudikan oleh sopir masuk ke dalam dan diarahkan untuk parkir di tempat yang tersedia, Christian bahkan pertama kali melihat rumah mewah Laura.
Ia yang sama sekali tidak menyangka jika Laura adalah pewaris utama dari Prameswari grup dan diambil alih secara curang oleh pamannya, sehingga berakhir hidup menderita dengan dibuang di New York selama bertahun-tahun.
Hingga ia saat ini merasa lega sekaligus ikut senang karena akhirnya wanita yang bertahun-tahun hidup menderita karena kesepian dan mendapatkan pengkhianatan dari keluarga sendiri serta dari dirinya, kini telah menemukan kebahagiaannya.
Ia pun kini keluar dari mobil bersama dengan orang tuanya dan melihat tenda yang dihiasi dengan bunga-bunga segar dan mengeluarkan aroma wangi alami, seperti aroma terapi karena sangat segar dan suasana pernikahan sederhana itu sangatlah hidup.
'Bahkan aku dulu menikah dengan Laura hanya sederhana di rumah sakit ketika dia tidak sadarkan diri dan sekarang melihatnya akan mengakhiri statusnya dengan suasana indah seperti ini, pasti membuatnya sangat bahagia,' gumam Laura yang saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan putranya.
Hingga mendengar suara dari sang ibu yang bertanya pada salah satu pelayan dan mengatakan jika putranya masih belum keluar dan berada di dalam kamar bersama dengan sang ibu yang merupakan mempelai wanita.
"Mama mau langsung ke dalam untuk mengajak Valerio keluar. Kalian tunggu saja di kursi para tamu undangan." Kemudian selalu pergi begitu melihat ayah dan anak tersebut mengangguk setuju.
Ia bahkan tidak sabar ingin melihat seperti apa mantan menantunya mengenakan gaun pengantin dan berharap putranya terpesona pada kecantikan Laura, sehingga kembali merasakan cinta begitu dalam dan memilih untuk mengacaukan acara pernikahan hari ini.
Selama menaiki anak tangga, ia melihat beberapa pelayan yang tengah sibuk dengan tugas masing-masing, sehingga mengatakan ingin menemui Laura di atas.
Saat ia baru saja menapaki anak tangga terakhir, di saat bersamaan melihat Laura keluar dari kamar bersama dengan dua wanita dan salah satunya menggendong cucunya.
"Mama?" Laura yang saat ini baru saja selesai, tadi mendapatkan telepon dari Mario jika sudah berada dalam perjalanan dan sebentar lagi tiba.
Awalnya ia ingin menyambut keluarga calon mertuanya, tapi saat melihat mantan mertuanya tiba, seketika merasakan pelukan hangat dari wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Selamat, Sayang. Semoga acara hari ini berjalan dengan lancar," ucap Renita Padmasari yang beberapa saat lalu merasa pangling ketika melihat Laura memakai kebaya pengantin dan sudah dirias. "Kamu benar-benar terlihat sangat cantik, Sayang."
__ADS_1
Laura yang saat ini terlihat berkaca-kaca karena merasa sangat terharu atas doa dari sosok wanita paruh baya yang sangat disayanginya tersebut. Bahkan ia mengaminkan doa baik tersebut dengan tersenyum simpul.
"Terima kasih, Ma karena sudah mau datang dan juga doa tulusnya." Ia yang baru saja menutup mulut, merasa sangat terkejut atas pemberitahuan mertuanya.
"Sama-sama, Sayang. Oh iya, Christian dan papanya saat ini menunggu di bawah. Aku sebenarnya naik ke atas karena ingin membawa cucuku menemui papanya. Jadi, ada yang menjaga Valerio nanti saat kalian menikah. Tidak apa-apa, kan?" Renita Padmasari yang tersenyum dan beralih mengulurkan tangan pada cucunya, agar mau ikut bersamanya.
Sementara Laura yang tidak menyangka jika Christian mau datang, padahal Ia sama sekali tidak mengundang karena berpikir akan sangat aneh jika mantan suami datang dan melihat pernikahannya.
Ingin sekali ia mengungkapkan nada protes pada mantan mertuanya ya sudah menggendong cucunya. Namun, ia saat ini merasa jika melakukannya, akan dianggap masih memiliki perasaan pada Christian. Akhirnya hanya tersenyum dan mengangguk pasrah.
"Iya, Ma. Terima kasih karena sudah memikirkan Valerio. Sebenarnya aku tadi berpikir untuk menyuruh mertuaku menjaganya, tapi karena ada Mama dan juga Christian, jadi lebih baik kalian saja." Saat ia masih menatap ke arah putranya yang sudah berpindah digendong oleh mertuanya, melihat pelayan yang baru saja datang.
"Penghulu dan mempelai pria sudah datang, Nona Laura," ucap salah satu pelayan yang mengurus perihal tamu undangan.
"Baiklah. Aku turun sekarang." Laura kini menatap mantan mertuanya. "Ayo, Ma. Kita turun sekarang." Kemudian berjalan menuju anak tangga dengan perlahan karena mengenakan gaun pengantin.
Ia bahkan dari tadi menatap siluet dari Laura sibuk dan sibuk berdoa agar acara hari ini gagal dan mantan menantunya tersebut batal menikah. Dengan mencium beberapa kali cucunya yang sangat dirindukan, meskipun beberapa kali sempat datang ke rumah baru itu.
Sementara putranya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah baru Laura semenjak Ana meninggal. Ia bahkan sudah menyuruh Christian untuk menjenguk putranya, tapi selalu beralasan sibuk dan berpikir jika Valerio lebih bahagia tinggal bersama dengan ibu kandungnya.
"Sayang, Papa datang. Valerio nanti sama Papa, ya?" Ia tahu jika cucunya itu memanggil Mario dengan sebutan daddy, jadi sedikit merasa lega karena panggilan mereka berbeda.
Ia sudah mendengar sendiri dari Laura jika tidak ingin membuat anak sekecil itu merasa bingung karena memiliki dua ayah.
Sementara itu, bocah laki-laki tersebut seketika terlihat berbinar wajahnya dan bertepuk tangan karena mengerti apa yang dibicarakan oleh sang nenek. Bahkan juga menirukannya.
"Papa?"
__ADS_1
"Iya, Papa sudah datang, Sayang," seru Renita Padmasari yang saat ini bisa melihat raut kebahagiaan dari cucunya.
Sebenarnya ia merasa sangat iba dengan nasib dari putra dan cucunya karena harus hidup terpisah untuk merasakan kasih sayang penuh dari sang ibu kandung. Namun, berpikir jika itu merupakan sebuah karma dari apa yang ditanam oleh putranya, sehingga membuatnya tidak pernah mengungkapkan keluh kesah.
Berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Laura ketika mendengarkan perkataan dari mantan mertuanya. 'Putraku bahkan sudah lama tidak bertemu dengan papanya. Pasti sangat merindukannya.'
'Kenapa Christian tidak pernah datang menjenguk Valerio? Padahal aku sama sekali tidak pernah melarangnya untuk bertemu dengan darah dagingnya? Apakah dia masih sibuk menangisi kepergian Ana? Hingga tidak memperdulikan putranya?' gumam Laura yang saat ini sudah tiba di anak tangga terakhir.
Hingga ia yang kembali melangkah menuju ke arah pintu utama, seketika menelan saliva begitu bersitatap dengan pria yang dari tadi dipikirkan sudah berjalan mendekat.
"Christian?" Lirih Laura yang saat ini melihat Christian mengulurkan tangan padanya dan tersenyum.
"Aku ingin menjadi orang kedua setelah Mama yang mengucapkan selamat untukmu," ucap Christian yang tadi langsung masuk ke dalam rumah begitu melihat rombongan mempelai pria datang.
Ia ingin menjadi pria pertama yang melihat Laura mengenakan kebaya pengantin dan harapannya menjadi kenyataan begitu melihat wanita dengan rambut keemasan itu sudah dirias dan terlihat sangat cantik.
'Laura saat ini benar-benar terlihat sangat cantik ketika mengenakan kebaya pengantin,' gumam Christian yang kini sudah merasakan sambutan dari Laura yang mengulurkan tangan.
"Terima kasih," sahut Laura singkat karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Jujur saja ia saat ini merasa bingung dengan perasaannya ketika melihat raut wajah Christian yang seperti memaksakan diri untuk tersenyum. Ia yang sudah satu tahun hidup bersama dengan pria itu, tentu saja bisa mengerti mana senyum tulus dan palsu.
Bahwa saat ini mantan suaminya tengah berusaha untuk berakting tersenyum ketika mengucapkan selamat padanya.
'Apa yang saat ini ada di pikiranmu, Christian? Apakah kamu merasa sakit hati? Jika benar, seperti inilah rasanya aku dulu yang hancur karena kau khianati,' gumam Laura yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan merasakan jika tangannya masih belum dilepaskan oleh mantan suami.
"Kamu terlihat sangat cantik, Laura." Akhirnya kalimat pujian itu lolos dari bibir Christian karena tidak bisa menahannya.
__ADS_1
To be continued...