
Mobil yang mengantar Christian melaju memecah padatnya jalanan ibu kota. Pria itu terlihat sibuk dengan ipad di tangannya. Ia sedang mengamati grafik saham di beberapa perusahaan miliknya.
“Apa pertemuan itu tidak bisa diwakilkan olehmu saja?” tanya Christian. Ia beralih sebentar menatap pria di depannya yang sedang serius mengemudi.
“Tidak bisa, Tuan. ini adalah pertemuan dengan investor penting. Ini akan menentukan perkembangan perusahaan milik Anda yang ada di Singapura,” jawab sang asisten pria itu.
Christian meletakkan ipad di tangannya. Helaan napas berat terdengar dari pria itu. Dua hari lagi ia harus menghadiri pertemuan penting di Bandung.
Sebenarnya sang ayahlah yang harus menghadiri pertemuan tersebut. Namun, pria paruh baya itu harus pergi ke luar negeri karena ada perjanan bisnis dan ia yang akan meggantikan sang ayah.
Semenjak kejadian di rumah sakit, Christian selalu menghindari untuk pergi ke kota Kembang tersebut. Ia tidak mau bertemu lagi dengan Laura. Lebih tepatnya, Christian sedang berusaha menghapus wanita itu dari hidup dan pikirannya.
‘Bagaimana keadaanmu sekarang, Laura,’ batin Christian menggaung.
Ia ingin mencari tahu tentang keadaan Laura, tetapi juga tidak ingin menyakiti hati Ana Maria untuk kedua kalinya. Christian sudah berjanji pada Ana Maria, tetapi ia juga sudah menjadi pria jahat dan pengecut. Bagaimana dengan janjinya pada Laura?
“Apa kamu masih mengawasi wanita itu?” tanya Christian lagi pada asistennya.
“Tidak, Tuan. Setelah Anda meminta saya mengurus semuanya, tidak pernah mencari tahu tentang wanita itu dan lagi, nyonya pasti tidak akan tinggal diam,” jawab pria itu.
Christian mengangguk. Ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Bayangan Laura dengan senyum yang begitu indah adalah hal yang pertama kali muncul saat mata itu sudah terpejam.
Tidak bisa dipungkiri jika perasaan untuk wanita itu sudah mulai tumbuh di hati Christian, tetapi rasa cintanya pada Ana maria lebih besar. Ditambah lagi, wanita itu sebenarnya sedang sakit.
“Apa saya perlu mencari tahu lagi tentang wanita itu, Tuan?”
“Tidak perlu. Biarkan saja,” jawab Christian. Ia takut jika Ana Maria mengetahui masih mencari tahu tentang Laura, wanita itu akan kembali menyakiti sosok istri sirinya.
__ADS_1
Sudah cukup luka yang ia berikan pada Laura, sudah cukup ia menghancurkan wanita itu. Christian tidak ingin Laura semakin mederita dengan kemarahan Ana Maria.
Sebesar apapun rasa rindu Cristian untuk Laura, tetap saja ia hanya bisa menahan rasa itu seorang diri. Ia tahu jika Laura pasti sangat membencinya. Setidaknya, itu lebih baik agar wanita itu bisa cepat melupakannya.
Christian tidak pernah berharap Laura untuk memaafkannya, karena sudah benar-benar membuat hidup istri sirinya hancur. Bahkan ia sudah membakar rumah yang pernah memberinya kenyamanan.
Sekeras apapun hati berteriak dan menggaung tentang keinginan untuk menjadikan wanita itu tujuan keduanya, tetap saja ia harus menerima kenyataan jika ia hanya bisa menjadikan Laura sebagai pilihan dan tempat persinggahan yang pada akhirnya harus ditinggalkan.
Christian kini mengingat kejadian saat ia pertama kali bertemu dengan Laura di New York satu tahun yang lalu di sebuah Club malam.
***
Satu tahun lalu di New York...
Sosok wanita dengan mengenakan gaun selutut seksi berwarna hitam tengah berjalan masuk ke dalam sebuah Club malam dan suara hentakan musik DJ seketika menusuk gendang telinganya.
Bagaimana tidak, negara dengan mayoritas kulit putih dan mata biru serta rambut keemasan adalah ciri khas di sana. Jadi, begitu sosok wanita yang asli warga negara Indonesia itu masuk ke dalam club malam, para pria selalu tidak mengalihkan perhatian dan mencoba untuk menggoda.
Sosok wanita bernama Laura Anastasya Prameswari sudah berada di negeri Paman Sam itu semenjak berusia 15 tahun dan kini ia sudah berusia 23 tahun.
Hari ini ia resmi menyandang gelar S1 di bidang bisnis karena memang menjadi satu-satunya penerus keluarga Prameswari. Menjadi seorang putri tunggal dari keluarga Prameswari, Laura harus mengorbankan masa kecilnya yang harusnya lebih sering bermain dengan teman-teman menikmati masa remaja, tapi terpaksa harus patuh pada pamannya.
Pamannya yang menyuruh untuk meneruskan pendidikan di New York setelah orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan maut ketika hari ulang tahunnya.
Hingga ia terbiasa hidup mandiri di negeri orang tanpa orang tua dan bisa dibilang dewasa sebelum waktunya.
Laura yang kini mencari beberapa teman-temannya, seketika tersenyum saat melihat mereka melambaikan tangan padanya.
__ADS_1
"Ketemu juga dengan mereka," ucap Laura yang saat ini langsung tersenyum dan membalas lambaian tangan dari beberapa teman kuliahnya.
Ia pun langsung berjalan cepat menghampiri lima orang wanita dengan rambut keemasan dan berwarna biru itu. Hingga ia pun mendaratkan tubuhnya di sofa kosong sebelah teman-temannya.
"Kau terlambat, Anastasya!" sahut wanita dengan gaun seksi berwarna merah menampilkan belahan dada rendah yang berbicara asing.
"Harusnya tadi kita jemput Anastasya di apartemen agar tidak terlambat." Wanita dengan netra kehijauan pun menuangkan whisky ke dalam gelas yang sudah diberikan potongan es batu dan menyerahkan pada sahabatnya yang baru datang.
Refleks Laura langsung menerima dan meneguk whiskey dari teman bulenya itu hingga tandas. "Sorry, aku tadi menghubungi keluargaku dan panjang lebar mengobrol hingga tidak tahu waktu."
"Lagi!" Laura kini kembali menyodorkan gelas miliknya agar sahabatnya kembali menuangkan whisky dan ia menyalakan rokok setelah mengambil dari bungkusnya.
"Aku tidak akan bisa melakukan ini setelah kembali di Indonesia nanti. Bisa-bisa kepalaku dipenggal paman. Atau mungkin semua harta warisan tidak akan jatuh ke tanganku saat melihat kelakuanku di sini."
"Kenapa harus takut jika kamulah satu-satunya ahli waris keluargamu? Pamanmu hanya perantara dan tidak akan bisa mengambil hakmu, Anastasya," sahut Jenny yang kini geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya saat khawatir.
"Pamanku bilang aku harus berkelakuan baik agar tidak ada yang akan berusaha mencari kejelekanku. Karena itu sangat penting bagi nama baik perusahaan." Laura kini kembali meneguk minuman beralkohol yang sudah diberikan sahabatnya.
Kemudian melihat sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh hentakan musik DJ. Hingga pandangannya kini berhenti di satu titik yang ada di sudut sebelah kiri.
Pria dengan rambut hitam itu membuatnya merasa sangat tertarik dan ia menunjuk ke sana. "Jika pria itu adalah orang Indonesia, aku akan mengajaknya tidur bersamaku."
Tanpa ragu, Laura kini bangkit berdiri dari tempatnya dan berjalan menghampiri sosok pria dengan bahu lebar dan rambut hitam tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sementara para teman-temannya langsung bertepuk tangan melihat tingkah dari Laura.
To be continued...
__ADS_1