
Keesokan paginya, pukul tujuh pagi Christian bersiap untuk berangkat dan kini melihat ekspresi wajah Ana yang seperti sedang berusaha kuat untuk tidak menangis ketika mereka akan berpisah selama satu bulan.
Ya, Christian mengatakan jika ia akan berada di New York selama satu bulan dan pulang lagi satu minggu. Nasib baik Ana sudah tidak pernah lagi curiga padanya ataupun mengecek ponsel maupun yang lainnya.
Bahkan ia memesan tiket pesawat palsu untuk berjaga-jaga jika Ana ingin melihatnya. Namun, sampai hari ini, sama sekali tidak bertanya mengenai tiket pesawat palsu yang dipesannya. Bahkan semalam mengatakan pada sang istri agar tidak mengantarnya ke bandara karena tidak ingin melihat Ana menangis ketika berpisah.
Nasib baik Ana menurut dan tidak membantah perintahnya, merasa lega sekaligus senang karena tidak harus bersusah payah untuk merayu sang istri agar diam di rumah dan tidak mengantarkan ke bandara.
Kini, Christian keluar dari pintu utama rumah sambil memeluk sang istri dan di depan halaman sudah terparkir mobil asisten pribadinya yang hendak mengantar kepergiannya.
"Sayang, kamu harus ingat pesanku. Jangan lupa jaga kesehatan agar tidak gampang sakit. Jangan terlalu memfosir pikiranmu saat bekerja dan jika butuh bantuan, karena aku sudah tidak cemburu lagi padanya saat tidak ada di sampingmu. Tapi akan kembali cemburu saat pulang nanti," ucap Christian yang berusaha untuk menghibur perasaan Ana agar tidak bersedih ketika ia pergi.
Ana yang tadinya muram karena merasa sedih saat akan berpisah dengan sang suami untuk kesekian kalinya, seketika tertawa mendengar kalimat terakhir yang baru saja diungkapkan oleh sang suami.
"Baiklah, kamu boleh cemburu pada Vicky nanti saat pulang karena sekarang aku butuh bantuannya saat tidak ada kamu yang mengurus perusahaan." Kemudian Ana kembali menghambur memeluk sang suami sebelum berpisah.
"Jaga kesehatanmu juga, Sayang. Kamu tidak boleh sakit karena tidak akan ada yang merawatmu," ucap Ana yang saat ini dengan sangat ragu melepaskan pelukannya karena melihat Vicky sudah memasukkan koper milik sang suami ke dalam bagasi.
Christian kini mengecup bibir sang istri dan tersenyum simpul sambil mengusap lembut pipi putih itu. "Iya, aku akan selalu mengingatnya, Sayang. I love you."
Ana kini menganggukan kepala dan seketika membalasnya. "I love you too, Sayang." Kemudian melambaikan tangan pada sang suami yang kini sudah berada di dalam mobil dan melakukan hal sama sepertinya.
"Aku berangkat, Sayang." Christian berteriak saat Vicky mulai melajukan kendaraan meninggalkan rumah yang selama ini ditempati bersama dengan Ana.
Ia bisa melihat jika wanita itu masih melambaikan tangan padanya dan lama kelamaan sudah tidak bisa melihat sang istri setelah kendaraan mulai menjauh. Kemudian ia menatap ke arah asisten pribadinya yang berada di balik kemudi.
"Aku titip istriku. Jaga dia dan laporkan semua hal mengenai istriku. Oh ya, jangan lupa awasi juga Anita karena aku masih belum bisa mempercayainya mau bertanggung jawab untuk mengganti uang yang digelapkan." Christian saat ini mengaktifkan ponsel dengan nomor baru yang hanya diketahui oleh Laura karena aa memang memberikan nomor itu pada istri sirinya.
Ia memang beralasan tidak mengaktifkan ponselnya demi bisa fokus pada pekerjaan. Hingga ia berpikir jika Laura mengirimkan pesan atau menelpon. Namun, begitu ia menyalakan ponselnya, sama sekali tidak ada satupun pesan maupun panggilan dari Laura dan membuatnya mengerutkan kening.
"Apa Laura sama sekali tidak merindukanku? Hingga tidak mengirimkan satu pesan pun selama satu minggu? Bahkan ia tidak menelpon hanya untuk mengecek nomorku." Christian saat ini masih memikirkan apa yang ada di pikiran Laura saat ini.
Namun, ia berpikir bahwa nanti juga akan bertemu dan bertanya padanya.
Sementara itu, sosok pria yang berada di balik kemudi hanya diam dan tidak berkomentar apapun karena dulu pernah mengingat jika bosnya tersebut mengatakan agar Laura tidak menghubunginya agar fokus bekerja.
'Tuan Christian sangat plin-plan sekali semenjak menjadi suami nona Laura. Pasti nona Laura tidak ingin mengganggu pekerjaan sang suami agar bisa segera pulang sesuai dengan waktu yang ditentukan,' gumam Vicky yang saat ini tengah fokus mengemudikan kendaraan menuju ke arah jalanan menuju ke Bandung.
Bosnya menyuruhnya untuk memberhentikan di sana dan melanjutkan dengan naik taksi. Hingga satu jam kemudian, ia sudah sampai di tempat yang dikatakan oleh bosnya tersebut dan turun dari kendaraan sambil mengeluarkan koper.
Bahkan ia tadi sempat mampir ke salah satu tempat penitipan barang karena ada dua koper berisi oleh-oleh untuk Laura yang dikirim sang mertua. Ia tidak mungkin membawa langsung di dalam mobil karena akan membuat Ana merasa curiga.
Jadi, sengaja menitipkannya terlebih dahulu mengambilnya setelah bosnya tersebut dijemput. Ia kini sudah mengeluarkan tiga koper milik bosnya tersebut dan menunggu hingga taksi yang baru dipesan bosnya datang.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang diberikan mama pada Laura hingga bisa sebanyak ini? Apa kamu membuka dua koper ini?" tanya Christian yang saat ini menatap ke arah dua koper besar berwarna hitam yang tiba di tempat asisten pribadinya kemarin.
Refleks Vicky menggelengkan kepala karena berpikir tidak sopan membuka barang milik orang lain. "Mana mungkin saya berani melakukannya jika tidak diperintah, Bos. Mungkin nyonya membelikan pakaian bayi untuk nona Laura yang diharapkan segera hamil."
Christian seketika meninju lengan asisten pribadinya yang dianggap tidak tahu apapun mengenai bayi. "Dasar bodoh! Mana Mungkin Mama aku melakukannya karena itu tidak boleh dilakukan sebelum kehamilan dari seorang istri melebihi dari tujuh bulan."
"Wah ... saya baru tahu, Tuan. Kenapa seperti itu?" tanya Vicky yang merasa sangat tertarik dengan penjelasan dari bosnya tersebut, tetapi tidak mendapatkan jawaban karena taksi yang ditunggu sudah tiba.
"Nanti tanya saja pada para wanita hamil," ejek Christian yang saat ini melihat asisten pribadinya tersebut memasukkan di bagasi bersama dengan sang sopir yang segera turun membantu.
Bahkan juga memasukkan ke dalam mobil di kursi belakang karena tidak muat.
"Saya tidak mungkin bertanya pada ibu hamil karena tidak mempunyai kenalan, Tuan. Salam saja pada nona Laura. Semoga selamat sampai di rumah," ucap Vicky yang saat ini membungkuk hormat saat bosnya tersebut masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi depan.
Christian hanya terkekeh geli mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh asistennya tersebut. Kini, ia melambaikan tangannya dan menyuruh sang supir untuk segera melajukan kendaraan menuju ke bandung karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Laura.
Sepanjang perjalanan, ia terus bertanya-tanya kenapa Laura tidak menghubunginya sama sekali. 'Apa Laura sama sekali tidak merindukanku? Ataukah ia menjadi istri yang patuh dan menuruti apapun yang kuperintahkan? Lebih baik aku bertanya padanya nanti.'
Beberapa jam telah berlalu dan setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih, taksi yang ditumpangi oleh Christian sudah berhenti tepat di depan rumah dengan halaman luas yang menjadi tempat tinggalnya bersama Laura.
Ia pun langsung turun dari mobil dan menyuruh sopir taksi membawa semua kopernya ke teras rumah. Sementara ia langsung berjalan menuju ke arah pintu utama dan membukanya untuk masuk ke dalam.
Ia belum memanggil sang istri karena tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu yang sangat sepi dan tidak ada suara sama sekali.
'Di mana istriku?' gumam Christian yang saat ini mencari keberadaan Laura dengan memanggil nama sang istri sambil berjalan menaiki anak tangga karena berpikir ada di dalam kamar.
"Sayang?" seru Christian yang saat ini geleng-geleng kepala melihat tubuh seksi sang istri yang menampilkan kulit putihnya serta lekukan tubuh yang sangat indah.
Refleks Laura seketika menoleh ke belakang dan membulatkan mata begitu melihat sang suami yang dipikirnya akan pulang malam nanti dan ternyata sudah tiba siang hari.
Ia pun langsung beranjak turun dari ranjang dan berlari menghambur ke arah sang suami dengan wajah berminat karena merasa sangat bahagia akhirnya pria yang sangat dicintai telah pulang.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga! Aku sangat merindukanmu dan kesepian berada di rumah hanya dengan menonton film setiap hari di dalam kamar. Aku bahkan menahan diri untuk tidak mengirimkan pesan ataupun menelponmu demi bisa segera bertemu denganmu agar lebih fokus bekerja."
Laura tidak melepaskan pelukannya saat ini karena ingin memeluk erat tubuh sang suami yang meninggalkan aroma khas maskulin dan sudah sangat dihafalnya.
"Aku merindukanmu, Sayang." Laura makin mengeratkan pelukannya dan karena tidak mendengar suara dari sang suami, membuatnya mendengar untuk menata wajah dengan pahatan sempurna tersebut.
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Laura benar-benar merasa bingung dengan ekspresi wajah datar dari sang suami yang baru saja pulang.
Christian kini mengarang cerita agar Laura tidak curiga padanya. "Karena aku pun merasakan hal yang sama dan sudah kamu wakili semuanya. Jadi, aku bingung harus menjawab apa karena semua sudah kamu katakan."
Bahkan saat ini ia mengatakan jika tadi langsung masuk ke dalam karena sangat merindukan Laura. "Aku benar-benar bekerja keras selama satu minggu ini agar bisa segera kembali karena sangat merindukanmu."
__ADS_1
Christian kini mengusap lembut rambut panjang sang istri yang tergerai di bawah bahu tersebut. "Rasanya memang benar-benar sangat menyiksa, tapi karena ingin segera pulang agar kita bisa kembali bersama, jadi aku menahan diri dengan sekuat tenaga agar fokus bekerja."
Laura kini tersenyum lebar karena memiliki perasaan yang sama dan menunjukkan bahwa cinta mereka sama-sama besar.
"Berarti kita sama-sama berusaha untuk menahan kerinduan agar bisa segera bertemu kembali." Laura kini makin mengeratkan pelukannya dan merasa tertampar dengan perkataan dari sang suami.
"Sayang, kenapa kamu memakai lingerie seksi di dalam kamar saat aku tidak ada di rumah? Memangnya kamu ingin menggoda siapa? Bukankah ini adalah baju dinas saat ingin memanjakan suami?" Christian menatap menyelidik ke arah sang istri yang malah hanya tertawa mendengar pertanyaannya.
Laura kini mulai menguraikan kesalahpahaman agar sang suami tidak berpikir macam-macam padanya. "Sayang, biasanya aku memakai piyama saat tidur, tapi semalam sangat gerah dan AC rusak. Jadi, aku memilih memakai ini daripada telanjang."
"Sebenarnya aku ingin menyuruh tukang servis membetulkannya, tapi berpikir bahwa nanti kamu akan marah jika ada pria lain datang ke rumah, sehingga tidak melakukannya. Jadi, aku berniat untuk menunggumu pulang, baru memanggil tukang service AC." Laura yang baru saja menyelesaikan ceritanya, membulatkan mata begitu bibirnya malah dibuka oleh sang suami yang brutal menciumnya.
Karena merasa sangat senang mendengar perkataan dari Laura yang tidak mengizinkan rumah dikunjungi oleh pria, meskipun hanya seorang tukang service, ketika membuat Christian tidak bisa menahan diri untuk mengungkapkan rasa cintanya.
Ia saat ini masih menyesap dan ******* bibir sensual yang sudah menjadi candunya. Hingga ia pun kini melepaskan ciuman begitu Laura kehabisan napas.
"Bernapaslah, Sayang. Baru kita lanjutkan bulan madu kita. Oh ya, bibik mana? Kenapa pintu tidak dikunci? Bagaimana kalau ada pencuri yang masuk dan menyakitimu?" Menatap ke arah wajah memerah sang istri yang sudah mulai terbakar gairah tersebut dan membuatnya mengusap lembut pipi putih itu dengan ibu jari.
Laura yang terlihat menormalkan turun napas memburu akibat dicium brutal secara tiba-tiba oleh sang suami, seketika mengarahkan cubitan pada pinggang kokoh itu.
"Dasar mesum! Tadi bibik baru bilang padaku akan pergi ke tetangga sebelah sebentar untuk memberikan bubur kacang hijau." Laura kini merasa tidak percaya diri karena dari tadi belum mandi dan bermalas-malasan di ranjang karena asyik nonton drama Korea kesukaannya.
"Biasanya tetangga sebelah memberikan makanan untukku, hari ini aku menyuruhnya untuk membuatkan bubur kacang hijau, sekalian aku memintanya untuk memberikan pada tetangga. Mungkin sebentar lagi sudah pulang." Laura berniat untuk mandi terlebih dahulu sebelum sang suami menyerangnya tanpa ampun.
Christian yang saat ini mengerti, kini menganggukkan kepala dan kebetulan indra pendengarannya menangkap suara pelayan yang baru saja pulang.
"Selamat datang, Tuan Christian. Syukurlah Anda sudah pulang. Kebetulan saya sudah memasak menu lengkap untuk hari ini. Apakah saya masih harus di sini atau diperbolehkan pulang?" tanya pelayan wanita yang saat ini membawa koper yang tadi diturunkan oleh sopir taksi.
Tadi ia melihat sopir taksi dan sang majikan yang baru saja pulang, kembali setelah memberikan bubur kacang hijau pada tetangga sebelah. Jadi, langsung membawa koper ke ruangan kamar dan melihat jika majikan tengah berbincang.
Christian yang memang berpesan pada pelayan agar bekerja ketika ia tidak ada di rumah saja, memilih untuk mengizinkan wanita paruh baya tersebut pulang.
"Aku akan berbulan madu dengan istriku, jadi ingin berduaan saja. Bibik pulang saja sekarang. Kalau aku membutuhkan bantuan, memanggil Bibik." Christian kini melihat koper yang baru saja dibawakan oleh wanita tersebut. "Biarkan saja koper yang lain di bawah. Nanti aku akan membawanya ke sini sendiri."
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi pulang." Wanita paruh baya itu langsung berlalu pergi begitu majikan menganggukkan kepala tanda setuju.
Sementara itu, Laura yang saat ini merasa kakiku hanya berdua dengan sang suami yang tersenyum menyeringai padanya, seketika membuka suara.
"Aku mau mandi dulu, Sayang. Bau asem!" seru Laura yang dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Namun, suara bariton dari sang suami membuatnya menelan saliva dengan kasar.
"Kalau begitu kita mandi bersama sekalian melanjutkan bulan madu yang tertunda, Sayang." Christian sudah terbakar gairah hanya dengan melihat siluet tubuh seksi yang menampilkan kulit putih sang istri saat mengenakan lingerie berwarna merah.
__ADS_1
Ia pun langsung meraup tubuh sang istri dan menggendong ala bridal style menuju ke ruangan kamar mandi tanpa memperdulikan nada protes dari sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu dan membuatnya malah semakin gemas.
To be continued...