365 Days With You

365 Days With You
Memperebutkan


__ADS_3

Laura benar-benar tidak suka dengan pujian dari Christian karena merasa itu hanyalah sebuah omong kosong. Namun, tetap saja berakting tersenyum simpul ketika pria itu memujinya.


"Terima kasih." Laura tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi, sehingga beralih menatap ke arah putranya sambil melepaskan tangannya yang masih digenggam oleh Christian.


"Valerio bahkan sudah lama tidak melihatmu. Pasti sangat merindukanmu," ucapnya ketika melihat putranya kini memanggil-manggil sang ayah dan mengulurkan tangan.


Ia merasa selamat dari tatapan yang selalu melelehkan hatinya, setelah suara dari putranya menguraikan aura canggung di antara mereka.


Christian yang saat ini membenarkan perkataan mantan istri yang terlihat sangat cantik ketika mengenakan kebaya pengantin, kini langsung mengulurkan kedua tangan pada putranya yang sangat dirindukan.


"My boy, ikut Papa. Pasti jagoan Papa sangat pintar tinggal bersama mama. Papa sangat kangen, Sayang." Christian seketika mencium gemas putranya yang saat ini langsung tertawa saat memeluknya.


Sementara itu, semua orang yang melihat interaksi antara ayah dan anak yang sudah cukup lama tidak bertemu tersebut, ikut tersenyum dan merasa senang sekaligus terharu.


Termasuk Laura yang saat ini hanya diam menikmati pemandangan paling mengharukan sepanjang sejarah hidupnya setelah orang tuanya meninggal.


Ia bisa merasakan bagaimana putranya sangat merindukan sang ayah yang telah lama tidak ditemui karena pernah mengalaminya. Meskipun perbedaan usia cukup signifikan dan nasibnya jauh lebih mengenaskan karena ditinggal pergi dan tidak akan pernah bertemu kembali sampai ia menyusul.


Hingga takdir berkata lain karena meskipun berkali-kali berada di ambang maut, tetap saja tidak bisa bertemu dengan orang tuanya karena selalu selamat dan masih tetap hidup meskipun ada orang-orang jahat yang sangat menginginkan kematiannya.


'Aku tidak akan pernah melarang Christian menemui putranya karena bukanlah seorang wanita jahat yang tega memisahkan ayah dan anak. Meskipun pada kenyataannya sangat membenci Christian,' gumam Laura yang saat ini teralihkan begitu mendengar suara seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Laura?" ucap seorang wanita yang saat ini tengah mengenakan kebaya berwarna merah dan tersenyum begitu melihat calon menantunya sangat cantik.

__ADS_1


"Mama," sahut Laura yang saat ini berjalan mendekati wanita paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. "Sudah sangat lama kita tidak bertemu, Ma." Memeluk erat tubuh ibu dari Mario tersebut setelah mencium pipi kanan dan kiri.


Selama tinggal di Jakarta, ia memang sudah tidak lagi pergi ke Bandung karena masalah pekerjaan yang membuatnya sangat sibuk, sehingga baru kali ini bertemu kembali dengan wanita yang juga sudah seperti ibu kandungnya sendiri.


"Iya, kamu benar, Sayang. Akhirnya kita bisa bertemu lagi dan akan berubah status menjadi menantuku. Mama biar pernah sangat bahagia karena akhirnya kalian berdua menikah." Ia yang baru saja melepaskan pelukannya, kini berani melihat ke sekeliling dan bisa mengerti siapa yang berdiri hadapannya.


Itu karena sudah melihat foto-foto dari beberapa orang yang menyakiti Laura. Ia menuju ke arah dua orang yang sangat dikenalnya, tapi berpura-pura tidak tahu.


"Mereka?"


Laura seketika berani menatap ke arah mantan suami serta mertuanya. Ia merasa suasana kikuk dan bingung harus menjelaskan karena mengetahui jika wanita paruh baya di hadapannya tersebut mengetahui mereka siapa.


Hingga ia merasa tertolong ketika mantan mertuanya kini berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


Ia sebenarnya tidak suka melihat kedekatan antara Laura dengan calon mertuanya karena seperti merasa putrinya direbut. Namun, tidak bisa menunjukkan perasaan sebenarnya dan akhirnya memilih untuk membantu Laura yang bingung menjelaskan.


Kemudian ia menuju ke arah putranya yang tengah menggendong sangat. "Dia adalah mantan suami Laura dan putra mereka."


Ibu dari Mario saat ini hanya tersenyum simpul dan mengerti tatapan tidak suka yang ditujukan pada ini. Ia memilih untuk menjabat tangan wanita itu sebagai sambutan atas kebaikan saat memperkenalkan diri padanya.


"Oh iya, saya sudah tahu kalian karena Laura dulu sudah menceritakan semuanya. Senang bisa bertemu dengan Anda, Nyonya." Kemudian juga tersenyum pada mantan suami Laura yang dianggap adalah seorang pria berengsek karena menyakiti hati wanita sebaik calon menantunya.


Ia pun beralih menatap ke arah Laura karena tadi masuk ke dalam untuk mendampingi ketika keluar dari rumah. Namun, tidak menyangka jika bertemu dengan orang-orang yang dianggap sangat jahat pada Laura di masa lalu.

__ADS_1


Sedikit kekecewaan dirasakan pada Laura karena berhubungan baik dengan orang-orang yang dulu pernah jahat padanya. Hingga ia pun seketika menatap ke arah Laura karena acara akan segera dimulai.


"Ayo, kita keluar karena penghulu sudah menunggu. Tadi Mama masuk karena ingin mendampingimu keluar." Ia yang baru saja menutup mulut, malah mendengar suara dari mantan mertua Laura dan membuatnya kesal.


"Biar aku saja yang menemaninya karena Anda adalah ibu dari pihak laki-laki yang seharusnya menunggu di depan untuk mendampingi putranya, bukan?" Renita Padmasari benar-benar tidak suka melihat Laura seperti direbut dan tidak bisa lagi menganggapnya seperti putri kandung sendiri.


Jadi, sengaja melakukan itu agar calon mertua Laura sadar posisi. Ia bahkan tidak peduli aura ketegangan di antara mereka karena saat ini berpikir jika sesuatu hal yang terjadi hari ini sangat dibencinya.


Detik-detik menuju status Laura yang akan berganti menjadi istri pria lain serta menantu keluarga lain, tentu saja bukanlah hal yang diinginkannya, tapi terpaksa menjalaninya.


Meski sangat berharap jika ada keajaiban dan putranya mengungkapkan tidak setuju atas pernikahan mantan istri. 'Semoga acara pernikahan ini gagal dan Laura kembali menjadi menantuku.'


Meskipun hanya bisa berkhayal dan bergumam sendiri atas harapannya, kini ia mendengar suara Laura.


"Tidak apa-apa jika kalian semua mendampingiku. Jadi, bisa berada di kanan kiri. Bukankah itu merupakan ide yang bagus?" Laura ingin menguraikan aura ketegangan yang terjadi di antara mereka.


Ia bahkan bisa melihat ada aura persaingan yang dilakukan oleh dua orang wanita paruh baya tersebut untuk bisa menjadi pendampingnya, sehingga memilih jalan tengah dan tidak memilih salah satu diantara mereka.


'Pasti akan terjadi keributan jika sampai aku memilih salah satu diantara ibu Christian dan Mario. Ini jauh lebih baik karena tidak akan ada yang merasa tersisihkan ataupun terbuang,' gumam Laura yang saat ini memberikan kedua tangannya ada dua wanita di samping kanan dan kiri.


Di sisi lain, Christian dari tadi hanya diam saja karena merasa bingung serta malu ada perbuatan sang ibu yang jelas-jelas menunjukkan rasa tidak suka pada ibu dari Mario.


'Mama, kenapa bersikap kekanak-kanakan seperti merebutkan mainan dengan ibunya Mario. Memalukan sekali,' gumamnya sambil menatap ke arah dua wanita paruh baya yang kini menuruti perintah Laura dan sedikit merasa lega karena tidak terjadi pertikaian saat merebutkan mantan istrinya tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2