
Beberapa saat lalu, Christian yang mendengarkan penjelasan dari sang ibu, merasa sangat khawatir pada keadaan Ana dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan untuk memastikan sendiri dengan mata kepalanya. Hingga ia melihat Ana yang saat ini meringkus sambil memegangi perut dan merintih kesakitan.
Ia benar-benar tidak tega melihat dan mendengar rintihan kesakitan Ana. Refleks berjalan cepat mendekati sang istri dan berbicara dengan perawat. "Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Kenapa istriku sangat tersiksa seperti itu? Apa tidak ada obat untuk menghilangkan kesakitannya?"
Ia pun kini membungkuk dan memeluk sang istri agar bisa menenangkan wanita yang terlihat semakin pucat ketika mengeluh kesakitan di bagian rahimnya.
"Sayang, tenanglah karena aku ada di sini dan akan menyuruh dokter untuk memberikan obat pereda rasa sakit yang kamu rasakan." Ia benar-benar tidak tega mendengar suara serak dan bergetar dari sang istri.
"Aku tidak kuat lagi, Sayang. Ini rasanya terlalu sakit dan menyiksa," lirih Ana yang saat ini tidak bisa menahan rasa sakit luar biasa yang dirasakan.
Sementara itu, perawat yang tadi mengecek kondisi dari pasien, langsung menyuntikkan cairan ke dalam selang infus. Memang sudah mendapat arahan dari dokter jika sampai pasien bereaksi seperti itu, harus segera memberikan suntikan obat yang tadi dikatakan oleh dokter.
Dokter saat ini tengah berkeliling untuk mengecek dan memeriksa kondisi beberapa pasien lain. Kini, menatap ke arah pasangan suami istri tersebut.
"Dokter akan segera tiba setelah memeriksa beberapa pasien lain, Tuan. Namun, tadi dokter sudah berpesan jika pasien mengalami hal seperti ini. Nanti saat dokternya datang, Anda bisa langsung bertanya." Saat perawat wanita tersebut baru menutup mulut, mendengar suara pintu yang terbuka dan dokter yang dibicarakan ternyata baru saja datang.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah putih, kini langsung berjalan masuk dan memeriksa pasien. Kemudian menatap ke arah pasangan suami istri yang saat ini berada di hadapannya.
"Penyakit yang diderita oleh pasien semakin menyebar dan harus segera dilakukan operasi karena obat tidak mampu lagi untuk menghentikan penyebaran sel-sel kankernya. Pasien harus berpuasa terlebih dahulu," ucap sang dokter yang saat ini baru saja selesai memeriksa tanda-tanda vital pasien dengan wajah pecah tersebut.
Ana yang sebenarnya merasa sangat takut ada di ruangan operasi dan akhirnya kehilangan nyawa, kini menggelengkan kepala. "Apa tidak ada cara lain selain operasi, Dokter?"
"Sayang, apa maksudmu? Operasi adalah cara terbaik untuk membunuh sel-sel kanker yang berkembang dan itu adalah cara yang terbaik," ucap Christian yang saat ini heran pada pemikiran sang istri seperti enggan untuk dioperasi.
Ana ingin sang suami mengerti bagaimana ketakutan yang dirasakan saat membayangkan berada di meja operasi. "Aku sangat takut, Sayang. Bagaimana jika operasi gagal dan aku mati malam ini?"
"Sudah kukatakan jangan berbicara hal-hal buruk seperti itu, Sayang. Manusia tugasnya adalah berusaha dan tidak boleh hanya diam berpangku tangan, meskipun Tuhan yang menentukan semuanya." Sebenarnya Christian ingin marah pada sang istri karena selalu saja berbicara negatif tentang kematian.
Namun, ia tidak tega dan bisa memahami kenapa sampai istrinya berpikir demikian. Mungkin jika ia yang berada di posisi sang istri, juga akan berpikir demikian karena hal yang paling menakutkan bagi seorang pasien adalah ruangan operasi karena tidak tahu bagaimana hasil akhirnya.
__ADS_1
Seolah menyerahkan kepercayaan penuh pada para aparat medis tentang nyawa dan berdoa pada Tuhan agar diberikan yang terbaik, tapi semua orang yang sakit pasti selalu berpikiran negatif dan sangat susah untuk untuk mengikis ketakutan itu dari dalam diri.
Hingga suara dari sang dokter kini mulai menghiasi ruangan perawatan yang dipenuhi dengan aura ketegangan tersebut.
"Jalan satu-satunya hanyalah operasi karena kemoterapi tidak akan mampu menghancurkan secara menyeluruh karena penyakit ini harus dicabut dari akarnya agar tidak semakin menjalar ke organ-organ vital yang lain, Nyonya." Sang dokter saat ini melihat pergelangan tangan kiri, di mana jam tangan melingkar di sana.
"Anda harus tenang dan lebih baik menyerahkan semua pada yang lebih berkuasa di muka bumi ini karena para tim Dokter hanyalah perantara untuk menyelamatkan anda dari penyakit yang menyiksa ini. Mulai sekarang, Anda harus berpuasa. Para ahli bedah yang terpercaya akan bersiap untuk melakukan operasi nanti malam."
Kemudian sang dokter saat ini berjalan keluar dari ruangan dan berharap pasien bisa beristirahat dan menenangkan pikiran yang didukung oleh sang suami.
Sementara para perawat pun berjalan mengekor pria dengan jubah berwarna putih tersebut.
Berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Ana dan Christian begitu para di medis keluar dan terlihat sangat sepi ruangan yang hanya dihuni oleh mereka berdua.
Christian yang sebenarnya juga memiliki kekhawatiran karena baru pertama kali sang istri akan dilakukan operasi, mencoba untuk menghibur dan memberikan sebuah ketenangan. Ia saat ini sedikit merasa lega karena sang istri sudah tidak lagi merasakan kesakitan seperti tadi.
Ana yang saat ini hanya mengangguk perlahan karena bibirnya seolah kelu untuk berkata-kata. Ia dari tadi dipenuhi oleh kekhawatiran luar biasa ketika berada di ruangan operasi dengan bunyi alat-alat yang menopang kehidupan.
Kemudian ia menatap ke arah sosok pria yang saat ini berada di hadapannya. "Bagaimana jika para tim dokter gagal dalam proses operasi? Aku sering melihat di televisi jika gagal, bisa meninggal atau koma. Aku pasti akan berdoa pada Tuhan, tapi tetap saja takut dan tidak bisa menghilangkannya."
Ana yang baru saja menutup mulut, kini mengingat sesuatu tentang putranya. "Apa mama membawa putra kita pulang? Tadi aku tidak ingin membuat Valerio melihat saat kesakitan."
Christian yang awalnya tidak ingin menanggapi perkataan bernada negatif dari sang istri, kini hanya menjawab seperlunya saja. "Tadi mama menunggu di luar, tapi tidak tahu sekarang. Jika putra kita menangis, mungkin mengajaknya pergi."
"Mengenai semua ketakutanmu yang berlebihan itu, buang jauh-jauh dan berusaha untuk berpikir positif. Kamu harus bersemangat untuk sembuh agar kita bisa berkumpul lagi dan hidup sebagai keluarga bahagia seperti biasanya." Kemudian ia mengusap lembut punggung tangan sang istri untuk memberikan sebuah dukungan penuh.
Bahkan ia saat ini menggenggam erat telapak tangan yang sangat hangat dan menandakan sedang tidak baik-baik saja. "Kamu harus memenuhi pikiranmu dengan hal-hal positif, Sayang. Jangan selalu dikalahkan oleh kekhawatiran yang akan mengganggu pikiranmu."
Saat Ana tidak langsung menjawab karena fokus menatap intens wajah tampan sang suami yang dikhawatirkan tidak lagi bisa dilihatnya, ia gini mengangkat tangannya untuk menyentuhnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu dari dulu tetap saja tampan dan tidak pernah berubah, sedangkan aku berbeda karena pasti sekarang sangat jelek karena tidak memakai riasan dan pastinya sangat pucat, bukan?" ucap Ana yang kini beralih menyentuh wajahnya sendiri.
"Berikan aku cermin yang ada di dalam tasku." Ana menunjuk ke arah laci yang saat ini ada di sebelah kiri ranjang. Namun, ia merasa kecewa begitu melihat sang suami menggelengkan kepala karena tidak mau memenuhi perintahnya.
"Lebih baik kamu beristirahat dan tidak memikirkan penampilan, Sayang. Itu sama sekali tidak penting saat ini. Fokus saja pada penyembuhan penyakitmu dan jangan biarkan hal negatif memenuhi pikiranmu, oke!" Christian saat ini masih kesal ada sang istri yang dianggap sangat berlebihan ketika memikirkan hal yang tidak penting.
Ia sebenarnya ingin sekali berbicara pada sang istri agar lebih banyak berdoa daripada sibuk khawatir akan kematian. Namun, menyadari bahwa wanita yang sudah lama menjadi istrinya tersebut sedang tidak baik, hanya bisa memendam di dalam hati.
Sampai akhirnya ia pun memilih bangkit berdiri dari posisinya karena ingin memeriksa apakah sang ibu dan putranya serta Laura masih berada di depan ruangan. Ia berharap saat melihat putranya, Ana tidak lagi berpikir macam-macam.
"Aku akan mengecek apakah mama masih ada di luar, Sayang." Christian tahu jika sang istri saat ini sedang marah padanya karena tidak dituruti keinginan, tapi berpikir jika itu hanya akan membuatnya merasa kesal, jadi memilih untuk segera jalan menuju pintu keluar.
Ana saat ini menatap ke arah pria dengan bahu lebar yang baru saja menghilang di balik pintu. "Bahkan sekarang suamiku merasa ilfil padaku. Aku pasti sudah membuatnya kesal dan bosan mendengar hal-hal buruk yang tadi kukatakan."
"Jika aku mati meja operasi, apakah kamu akan menangisi kepergianku, sayang? Aku pasti akan sangat bahagia melihat kamu bersedih karena itu menandakan cintamu sangat tulus padaku, meskipun aku bukanlah wanita yang sempurna," lirih Ana yang saat ini mencoba untuk menuruti perintah sang suami dengan membuang hal-hal negatif di pikirannya.
Jadi, saat ini sudah memejamkan kedua mata dan berharap bisa tertidur agar tidak dipenuhi oleh kekhawatiran tentang kematian jika para tim dokter gagal saat mengoperasinya.
Sementara itu di luar ruangan perawatan, Christian yang saat ini mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan dua wanita serta putranya, merasa kecewa karena tidak ada siapa-siapa di sana.
"Apa mama dan Laura sedang pergi ke kantin?" Kemudian ia mencoba untuk menelpon sang ibu dan langsung bertanya di mana posisinya begitu suara wanita paruh baya tersebut terdengar dari seberang telepon.
"Mama saat ini berada di dalam mobil karena putramu tadi kembali menangis ketika diajak ke kantin. Suara Ana tadi terdengar dari luar dan mama tidak ingin Valerio mendengarnya. Jadi, sekarang Mama dan Laura menuju ke toko mainan yang berada di dekat sini agar tidak menangis lagi."
Christian yang saat ini tidak ingin Ana melihat Laura di rumah sakit, kini lebih lega jika wanita itu tidak berada di sana. Apalagi ia benar-benar diliputi oleh rasa bersalah saat berhadapan dengan wanita yang pernah mencintainya dengan sangat luar biasa.
"Baiklah, Mama dan Laura pulang saja karena pasti putraku capek dan butuh istirahat," ucap Christian yang saat ini memilih untuk menyampaikan perintah agar sang ibu mau mendengarnya.
To be continued...
__ADS_1