
Beberapa saat lalu, Raisa yang baru saja tiba di depan ruangan dokter, ini langsung mengetuk pintu dan masuk ke dalam setelah perawat membukakannya.
Ia sebenarnya merasa sangat takut mendengar sesuatu hal yang buruk dari dokter mengenai penjelasan tentang sahabatnya. Namun, berpikir jika itu harus dilakukannya karena mau tidak mau tetap ingin mendengarkan penjelasan dari dokter.
Meskipun harus siap dengan penjelasan apapun yang mungkin akan membuatnya merasa bersedih ataupun tidak tega pada keadaan dari sahabatnya.
"Bagaimana, Dokter? Apa sahabat saya bisa sembuh setelah dioperasi?" tanya Raisa yang saat ini merasa jika harapan satu-satunya adalah operasi.
Sementara itu, dokter yang melihat wanita itu bertanya tanpa duduk, kini mempersilahkan agar berbicara dengan lebih enak daripada berdiri.
Kemudian ia menunjukkan laptop miliknya mengenai hasil dari laporan intensif pasien selama satu bulan terakhir ini.
"Di sini bisa dilihat perkembangan dari pasien yang ternyata masih terus berkembang sel kankernya meskipun sudah dioperasi dan kemoterapi. Saat saya membahas masalah ini dengan para tim dokter ahli spesialis di beberapa negara yang biasa menangani, ada salah satu cara yang dilakukan dan pernah menyembuhkan total kanker pasien."
Kemudian ia mulai menjelaskan tentang salah satu rekan dokter yang mengalami pasien serupa dengannya. Ia menjelaskan tentang proses operasi yang dilakukan oleh salah satu rekannya dan sudah membahas dengannya.
Ia rencana untuk melakukan hal serupa dan berharap jika pasiennya bisa sembuh. "Tapi ini bisa dibilang adalah pertama kali saya melakukannya. Jadi, Anda sudah mengerti maksud saya, kan?"
Sang dokter tahu jika wanita di hadapannya tersebut bukanlah seorang wanita bodoh yang perlu dijelaskan secara detail untuk memberitahukan semuanya. Jadi, sekarang ingin wanita itu mengambil keputusan sebagai wali dari pasien.
"Apakah Anda setuju saya melakukan operasi yang pertama kali ini? Ataukah Anda menolak dan membiarkan pasien seperti itu sampai menunggu ajal menjemput?" tanya sang dokter yang saat ini melihat raut wajah penuh keraguan dan kebimbangan.
Ia tahu bagaimana perasaan wanita di hadapannya tersebut antara memilih sesuatu yang sama-sama berat. Apalagi dari dulu melihat ekspresi seperti itu dari keluarga para pasien yang ditangani olehnya karena memang jenis penyakit kronis yang susah disembuhkan adalah kanker, tapi tidak menutup kemungkinan bisa sembuh total dan menjalani semuanya seperti semula.
Raisa saat ini terdiam karena bingung harus bagaimana. Ia sebenarnya ingin bertanya pada sahabatnya tersebut mengenai apa yang diinginkan, tapi karena hafal dan mengenal seorang Ana Maria, sehingga sudah mengetahui keputusan wanita itu tanpa bertanya.
'Jika aku bertanya pada Ana, pasti dia menjawab tidak perlu melakukan apa-apa dan menunggu kematian saja. Tidak, itu namanya menyerah dan tidak berusaha untuk sembuh. Apakah aku harus mengambil resiko dengan memberanikan diri menyetujui koperasi ini?' gumam Raisa yang saat ini masih merasa bingung untuk membuka suara menanggapi saja pria di hadapannya tersebut.
Ia yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, mendengar suara bariton dari sang dokter yang seolah mengerti akan sesuatu yang memenuhi kepalanya saat ini.
"Jika Anda membutuhkan waktu untuk berpikir, saya akan memberikan waktu 1 jam agar memikirkannya terlebih dahulu. Atau ada lagi yang ingin Anda tanyakan pada saya?" Sang dokter masih setia di depan wanita dengan raut wajah penuh kekhawatiran itu.
Ia menunggu selama beberapa menit hingga wanita itu membuka suara. Hingga ia mendapatkan pertanyaan yang membuatnya serasa tertampar.
"Jadi, teman saya bisa dibilang adalah kelinci percobaan untuk Anda, kan Dokter? Jika berhasil, sahabat saya akan sembuh total, tapi jika gagal, dia akan kehilangan nyawanya. Jika itu terjadi, berarti saya dan Anda sama-sama bersalah," ucap Raisa yang saat ini masih dipenuhi oleh keraguan untuk langsung menjawab iya.
Butuh proses untuk membuatnya menyetujui saran dari dokter yang merupakan satu-satunya jalan keluar untuk masalah yang dihadapi sahabatnya. Ia bahkan tidak bisa mengatakan tidak dan menunggu sahabatnya menjemput kematian.
Jadi, saat ini merasa sangat bingung, sehingga ingin mencari teman untuk disalahkan dan memilih sang dokter karena memang yang merupakan orang utamanya.
"Tanpa saya menjelaskan, Anda sudah mengetahuinya. Itulah mengapa semuanya membutuhkan tanda tangan dari wali karena jika sampai terjadi sesuatu pada pasien, tidak menuntut dokter maupun rumah sakit."
"Saya serahkan keputusan itu pada Anda." Sang dokter saat ini beralih menatap ke arah laptop miliknya untuk kembali melihat laporan perkembangan dari pasien.
Raisa ya saat ini memang belum bisa memutuskan, membutuhkan saran dari seseorang dan tidak mungkin akan mengambil keputusan sendiri. Ia saat ini memilih bangkit dari kursi. "Saya akan kembali satu jam lagi untuk mengatakan keputusan saya, Dokter."
"Iya, Nona. Silakan." Sang dokter saat ini melakukan kepala dan mempersilakan wanita itu keluar dari ruangannya karena akan kembali bekerja.
__ADS_1
Raisa gini keluar dengan langkah kaki gontai seperti kehilangan seluruh tenaganya. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sangat sunyi karena memang berada di lantai paling atas.
'Ana, apa yang harus kulakukan? Aku ingin kamu sembuh dan kita bisa kembali seperti dulu lagi. Pergi bersama-sama ke tempat-tempat yang belum dikunjungi. Makan makanan enak yang pastinya akan memenuhi perut kita dan meledak karena kekenyangan.'
'Tapi aku benar-benar takut jika semua itu malah membuatmu pergi,' gumam Raisa yang saat ini masih menatap kosong ke arah lantai yang dipijaknya dan lamunannya seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari sosok pria yang terlihat berjalan mendekat ke arahnya.
Ia bahkan seketika terhuyung ke depan dan ditahan tubuhnya oleh pria yang merupakan sopir pribadinya tersebut.
"Nona Raisa, Anda tidak apa-apa, kan?" tanya Paul yang saat ini merasa sangat khawatir ketika tubuh majikannya terjatuh dan membuatnya menahannya agar tidak terempas ke lantai.
"Bantu aku," ucap Raisa yang saat ini benar-benar sangat lemas karena selain ia belum makan dari pagi, juga memikirkan keadaan sahabatnya yang makin memburuk.
Refleks Paul seketika membungkuk dan menggendong wanita itu karena kursi berada cukup jauh dan mungkin sudah tidak ada tenaga untuk berjalan karena melihat sang majikan sangat lemas seperti tidak punya daya sama sekali.
Ia saat ini sudah menggendong sang majikan ala bridal style dan menurunkannya di kursi yang berada di depan ruangan. "Apa ke IGD saja untuk diperiksa apa yang terjadi pada Anda?"
"Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Anda, Nona? Anda harus menjaga kesehatan dan jangan sampai sakit seperti nona Ana." Ia saat ini membungkuk untuk memeriksa apakah majikannya demam di bagian kening.
Refleks Raisa seketika mengempaskan tangan yang berada di dahinya. "Aku tidak apa-apa karena hanya lemas karena memikirkan tentang Ana."
Paul kini menegakkan tubuhnya dan akhirnya memilih duduk di sebelah kiri wanita itu. "Bukankah nona Ana akan dioperasi? Jadi, semuanya akan baik-baik saja karena dokter sudah menanganinya."
Sebenarnya ia tahu jika ada sesuatu yang tidak beres tengah disembunyikan oleh dokter, tapi karena memang bukan merupakan wali dan hanya menjadi sopir, sehingga hanya bisa menatap ke arah wanita yang mungkin akan memberitahunya.
Suara embusan napas panjang nan berat mewakili perasaan Raisa saat ini yang benar-benar dipenuhi oleh kekhawatiran tentang sahabatnya. Ia merasa sangat bingung harus bagaimana.
"Jadi, itulah yang dikatakan dokter padaku tadi ketika memanggilnya ke ruangan. Menurutmu, apa yang harus kulakukan sekarang sebagai wali Ana yang sudah tidak mempunyai orang tua?" tanya Raisa yang saat ini tidak berkedip menatap ke arah supir pribadinya karena ia juga tidak tahu siapa yang bisa diajak bicara selain pria itu.
Sebenarnya ada pelayan Ana yang bisa ditanyai olehnya, tapi tidak tega karena mengetahui jika wanita itu juga sangat bersedih dan pastinya akan semakin syok.
"Aku mungkin bisa bertanya pada pelayan, tapi sepertinya dia akan seharian menangis dan jika sampai Ana melihatnya, hanya akan membuatnya semakin negatif thinking." Saat menunggu keputusan dari pria itu yang dianggap sangat penting sebagai bahan pertimbangan untuknya memutuskan tentang pertanyaan dari dokter.
Ia bersandar pada dinding rumah sakit sambil memejamkan mata. "Pikirkan baik-baik sebelum menjawab pertanyaanku."
Mengetahui jika sang supir pasti berpikiran sama dengannya dan merasa bingung harus bagaimana memutuskan tentang apa hal terbaik untuk Ana.
Ia saat ini berpikir tentang dampak negatif serta positif dari keputusannya. Rasa bersalah akan menghantui dirinya seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada Ana hanya karena keputusannya.
Paul kini menatap ke arah majikannya yang masih memejamkan mata dengan embusan napas kasar yang memenuhi di koridor rumah sakit. Ia sendiri juga merasa bingung apa yang harus dilakukannya saat ini.
Takut salah dan berakhir buruk pada nyawa seseorang pastinya akan membuatnya di daerah rasa bersalah seumur hidup. "Nona, apa tidak sebaiknya membicarakan ini dengan yang bersangkutan? Mungkin nona Ana yang lebih berhak untuk memutuskan tentang hidupnya."
Raisa sebenarnya juga berpikir seperti itu, tapi ia saat ini mengungkapkan mengenai pemikirannya. "Apa kamu tadi tidak melihat bagaimana wajah anak yang seolah pasrah menerima kematian begitu mengetahui penyakitnya yang belum sembuh?"
"Jika aku menambah bebannya dengan masalah ini, sudah bisa dipastikan jika iya akan langsung menolak dan memilih untuk menerima kapan Tuhan mengambil nyawanya." Ia benar-benar merasa emosi dan meluapkan pada pria yang bahkan tidak bersalah sama sekali.
Menyadari akan hal itu, membuatnya kini terdiam. "Maaf. Aku malah marah-marah padamu. Padahal kamu sama sekali tidak bersalah."
__ADS_1
Ia yang akhirnya dari tadi membuka mata dan tidak jadi mengistirahatkan otaknya, ingin mendengar apa jawaban pria itu karena berpikir sudah cukup waktu yang diberikan olehnya.
"Kalau menurutmu, apa yang harus kulakukan? Operasi atau membiarkan Ana menjemput ajalnya dengan membiarkannya?" Raisa sadar jika saat ini seperti memaksa pria itu untuk mau mendukungnya.
Ia tidak punya pilihan selain melakukan itu karena saat ini yang dibutuhkan hanyalah sebuah dukungan dari keputusan yang akan diambilnya untuk sahabat baik yang sudah dianggap seperti saudara kandung sendiri.
Paul tahu jika ia tidak akan pernah bisa menolak ataupun diam tanpa menjawab jika sama jika sudah berani melibatkannya. Ia mengembuskan napas kasar sebelum mengungkapkan pemikirannya.
Bahkan berbicara tanpa menatap ke arah sama majikan karena hanya fokus pada dinding di hadapannya. "Anggap saja kita saat ini seperti berada di samudra yang luas yang diterjang badai badai besar."
"Kita tidak mungkin hanya diam dan menunggu kematian kita saat diterjang badai, tapi harus berjuang sampai titik darah penghabisan meskipun tidak tahu hasil akhirnya sama ataupun tidak. Jadi, keputusan saya adalah melakukan operasi sesuai dengan yang dikatakan oleh dokter," ucap Paul yang saat ini mengetahui jika majikannya memiliki pikiran yang sama dengannya.
Kini, Raisa merasa sangat lega karena bisa mendapatkan satu dukungan dan itu merupakan hal yang cukup baginya dan tidak perlu bertanya pada yang lainnya untuk memutuskan tentang apa yang harus dilakukan.
"Ya, aku juga sepemikiran denganmu. Kita sekarang seperti berada pada apa yang kau jelaskan tadi. Aku tidak akan tinggal diam tanpa melakukan apapun untuk Ana. Ini adalah sebuah hal terbaik yang bisa kulakukan untuknya sebagai seorang teman." Ia pun seketika bangkit berdiri dan menepuk pundak kokoh sang supir yang sudah lama bekerja untuknya.
"Aku sekarang akan menemui Ana dan menghiburnya." Saat ia hendak melangkah masuk ke ruangan, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara notifikasi masuk dari ponselnya.
Begitu membuka pesan tersebut, ia saat ini terdiam selama beberapa saat.
"Ada masalah, Nona?" Paul bangkit berdiri dan berpikir jika ada sesuatu yang tidak beres menimpa majikannya.
"Ada," sahut Raisa yang saat ini kembali mendapatkan masalah di perusahaan. "Kenapa harus sekarang? Aku bahkan baru saja pulang. Ana juga saat ini membutuhkanku," ucapnya yang saat ini merasa kesal karena selalu bekerja keras dan setiap libur, pasti mendapatkan masalah.
Paul yang saat ini mengerti dengan raut wajah lelah dari sang majikan. "Anda bisa serahkan semua yang ada di sini pada saya dan pelayan. Nona Ana pasti akan mengerti."
Terpaksa dan tidak ada jalan keluar lain karena memang itu adalah pekerjaannya dan ia membutuhkan banyak uang untuk membantu Ana membayar biaya rumah sakit. Akhirnya langkah masuk ke dalam ruangan kamar setelah membahas pesan dari bosnya.
"Ana."
Ana yang saat ini terdiam sambil menatap langit-langit kamar, seketika menoleh ke arah sahabatnya yang baru saja masuk. Ia ingin menunggu sampai yang tersebut menjelaskan pembicaraan dengan dokter, tapi merasa aneh melihat raut wajah masam dari sahabatnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ada masalah mendadak di perusahaan dan aku harus ke sana untuk menyelesaikan. Maaf karena aku harus meninggalkanmu. Nanti aku akan kembali setelah semuanya beres." Raisa yang terburu-buru ingin segera pergi, kini mencium dan memeluk sahabatnya.
"Tidak apa-apa. Pergilah dan fokus pada pekerjaanmu. Aku tidak suka menjadi bebanmu." Ana sebenarnya ingin sekali menanyakan tentang pembicaraan dengan dokter tadi, tapi melihat wanita itu terburu-buru, sehingga tidak jadi melakukannya.
"Sudah, jangan mulai berbicara seperti itu karena aku tidak suka." Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Saat berniat untuk mempercepat langkah kakinya, mendengar suara teriakan dari wanita yang tak lain adalah Miranti.
"Nona, tunggu!" Miranti yang dari tadi sibuk dengan pemikirannya mengenai idenya, ingin membahas dengan sahabat dari majikannya tersebut.
"Ada apa?" tanya Raisa yang saat ini menatap ke arah pelayan.
"Nona, bagaimana jika kita memberitahu suami dari nona Ana agar datang ke sini?"
__ADS_1
To be continued...