365 Days With You

365 Days With You
Nikmati saja


__ADS_3

"Apa kau lakukan, berengsek!" sarkas Mario yang saat ini sama sekali tidak merasa takut pada sosok pria dengan mengarahkan tatapan setajam silet di hadapannya.


Sementara itu, Christian yang ingin mengubah pemikiran Mario demi keselamatan Laura, saat ini tidak berniat untuk melepaskan cengkraman dari kerah kemeja itu.


"Jika kau benar-benar peduli dan menyayangi Laura, harusnya mengatakan padaku agar kita bisa sama-sama melindunginya. Jika saat kamu gagal melindunginya, bisa saja aku yang berhasil. Ini semua demi Laura dan tidak ada yang lebih penting dari keselamatannya, kan?" Masih mengarahkan tatapan tajam agar Mario sadar dan tidak egois.


Ia hanya ingin melindungi Laura agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk di lain waktu. Meskipun mengetahui jika Laura akan selalu berada di samping Mario, tetap saja tidak bisa tenang dan berniat untuk melindunginya dengan caranya sendiri.


Namun, harus mengetahui terlebih dahulu siapa sebenarnya musuh utama wanita yang sangat dicintainya tersebut. Saat ia baru saja menutup mulut, di saat bersamaan mendengar suara sang ibu yang baru saja masuk ke dalam.


"Apa yang kamu lakukan, Christian? Jangan membuat keributan saat Laura sedang berjuang untuk kesembuhan setelah dioperasi!" seru Renita Padmasari yang langsung berjalan mendekati putranya dan mengempaskan tangan agar melepaskan cengkraman dari kerah kemeja pria yang ia temui di apartemen Laura.


Ia tahu jika pria itu menyukai Laura dan putranya pastinya cemburu, jadi berpikir jika Christian berniat untuk menghabisi Mario.


Mario sebenarnya berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Christian masuk akal karena semakin banyak yang melindungi Laura, kemungkinan besar untuk celaka akan semakin tipis.


Namun, ia tidak bisa mengungkapkan segalanya tanpa persetujuan yang bersangkutan. Jadi, meskipun ingin mengatakannya, khawatir jika Laura marah dan membencinya karena mengungkapkan rahasia yang tidak boleh disebarluaskan karena hanya dirinya dan sang ayah yang mengetahui semua hal mengenai keluarga Prameswari.


'Aku lebih takut dibenci oleh Laura dan ia tidak mau bertemu denganku daripada ancaman Christian. Aku akan menambah personil untuk menjaga Laura agar tidak ada yang menyakitinya lagi,' gumam Mario yang saat ini merasa lega karena ada orang yang bisa menghentikan kegilaan pria dengan tatapan tajam tersebut.


Christian sebenarnya merasa sangat kesal pada sang ibu karena tadinya berpikir Mario akan menceritakan tentang Laura padanya setelah mempertimbangkan perkataannya yang masuk akal.


Namun, semuanya gagal ketika sang ibu tiba-tiba datang. "Mama ini mengacaukan saja! Aku hanya mengancamnya akan memberitahuku tentang siapa sebenarnya Laura. Kenapa ada banyak sekali masalah yang menimpanya dan sangat membahayakan nyawanya."


Renita Padmasari yang saat ini tidak berpikir sampai ke sana karena hanya fokus pada kecemburuan putranya yang ia ketahui masih memiliki cinta begitu besar pada Laura, kini menatap ke arah sosok pria yang berada di sebelah kirinya.


"Jadi, kamu mengetahui siapa sebenarnya Laura dan juga keluarganya? Jika iya, tolong katakan kepada kami agar bisa melindunginya dari orang-orang jahat itu." Ia saat ini menatap intens sosok pria muda yang ditebaknya memiliki usia sepantaran dengan putranya.


Jujur saja ia merasa khawatir jika pria yang memiliki paras manis tersebut berhasil memiliki hati Laura dan putranya kehilangan mantan istri untuk selamanya.


Namun, berpikir bahwa saat melihat Laura yang selalu terluka karena perbuatan putranya yang plin-plan, berharap mantan menantunya hidup berbahagia dengan pria yang bisa mencintainya dengan luar biasa.


Meski ia harus siap dengan kemungkinan buruk jika mungkin hak asuh Valerio nanti bisa diambil alih oleh Laura karena dulu putranya mengambil tanpa melibatkan jalur hukum.


Mario tanpa pikir panjang langsung menggelengkan kepala karena tidak ingin melakukan kesalahan fatal. "Maaf karena saya tidak bisa mengatakannya tanpa persetujuan Nona Laura. Mungkin Anda bisa bertanya secara langsung pada Nona Laura."


"Jika ia tidak keberatan Dan menyuruh saya menceritakan semuanya, pasti akan menuruti perintah!" Mario tidak ingin dibebani rasa iba pada wanita yang menatapnya dengan penuh pengharapan.


Jadi, saat ini berpikir jika rasa iba malah akan membuatnya dihancurkan kepercayaan. "Saya dipercaya oleh nona Laura dan tidak akan mengkhianati kepercayaannya walau apapun yang terjadi."


Refleks Renita Padmasari langsung memberikan jempolnya pada pria yang saat ini berdiri di hadapannya. "Kau memang benar-benar pria sejati yang bisa menjaga kepercayaan orang lain. Pantas saja Laura sangat mempercayaimu dan menjadikan asisten pribadi."


Christian yang saat ini merasa kesal karena sang ibu malah memuji pria lain daripada putra sendiri, kini menahan diri agar tidak mengumpat. 'Bisa-bisanya mama memuji pria yang mencintai Laura. Sebenarnya siapa putra kandungnya? Apa Mario yang menjadi putranya?'

__ADS_1


Saat ia ibu mengeluh dan mengumpat di dalam hati, kini malah membuatnya semakin kesal ketika sang ibu memberikan perintah.


"Christian, sekarang di sini sudah Mario yang menjaga Laura dan juga 2 bodyguard di luar ruangan dan memastikan keselamatan. Lebih baik kamu kembali ke ruangan Ana. Biar Mama di sini bersamanya untuk menjaga Laura."


"Lagipula sebentar lagi Ana akan dioperasi, bukan?" Ia pun lepaskan tangan agar putranya segera kembali ke ruangan Ana.


Christian yang saat ini enggan meninggalkan ruangan karena berpikir jika Laura akan menganggap Mario-lah yang setia menunggu dari tadi. Padahal ia mengambil resiko dengan meninggalkan Ana dan menunggu sampai proses operasi selesai.


"Sebentar lagi, Ma. Aku masih ingin melihat Laura," ucapnya sambil berharap wanita yang terbaring tidak sadarkan diri tersebut segera membuka mata dan orang yang pertama kali dilihat adalah dirinya, bukan Mario.


Ia bahkan saat ini terdiam sambil menatap Laura, merasa bersalah karena tidak bisa melindungi wanita itu. "Semoga kejadian buruk seperti ini tidak akan terjadi lagi."


"Itu tidak akan terjadi lagi. Itu janjiku atas nama nona Laura," ucap Mario yang berbicara tanpa menatap ke arah Christian karena fokus pada wanita yang selama ini tak kunjung menerima cintanya.


Ia saat ini ingin sekali mengusir pria itu agar segera keluar dari ruangan dan tidak dilihat oleh Laura ketika pertama kali membuka mata. Namun, tidak mungkin melakukannya karena tahu jika semakin ditekan, pria itu tidak akan mau menurutinya.


Akhirnya ia memilih diam dan menunggu hingga Christian pergi dengan kemauan sendiri. 'Semoga Nona Laura tidak melihat pria ini saat pertama kali membuka mata setelah operasi.'


Mario saat ini merapal doa agar harapannya terkabul. Kemudian bertanya kejadian sebenarnya pada wanita paruh baya yang ada di sebelahnya agar bisa mencari tahu semua bukti-bukti dari kejahatan tersebut.


Renita Padmasari langsung menjelaskan semuanya dan tidak ada yang terlewatkan.


Mario yang dari tadi fokus mendengarkan cerita sampai selesai, kini beralih mengambil ponsel miliknya dan memerintahkan seseorang untuk mencari tahu tentang kejadian yang menimpa Laura.


Meskipun ia sangat yakin jika orang yang telah menusuk Laura merupakan antek-antek dari Rendy Saputra, tetap saja membutuhkan bukti agar nanti bisa dibawa secara lengkap ketika melaporkan perbuatan paman wanita yang tidak berdaya tersebut.


Saat ia baru selesai mengirimkan pesan pada orang suruhannya, mendengar suara bariton dari Christian dan seketika membuatnya menoleh ke sebelah kanan.


"Jika kau tidak bisa memberitahuku tentang jati diri Laura, aku akan mencari tahu sendiri. Memangnya kau saja pria hebat di dunia ini?" sarkas Christian gini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan dirinya sudah mendekati detik-detik Ana dioperasi.


Akhirnya ia menoleh ke arah sang ibu untuk memberikan sebuah ultimatum. "Mama harus terus berada di sini untuk menjaga Laura. Jangan meninggalkannya hanya dengan pria ini karena pasti akan mencari kesempatan dalam kesempitan."


Saat melihat sang ibu malah tersenyum mengejek padanya seolah mempermalukannya di depan Mario, Christian benar-benar sangat kesal dan semakin bertambah begitu pria itu malah berbicara sangat menyebalkan.


"Saya atau Anda yang mencari kesempatan dalam kesempitan? Jangan suka memutarbalikkan fakta! Atau perlu saya belikan kaca besar agar Anda bisa bercermin?" sarkas Mario hingga saat ini merasa kakinya pegal karena dari tadi terus berdiri dan berjalan menuju ke arah ranjang perawatan agar bisa duduk di tempat yang tadi ditempati oleh Christian.


Bedanya, ia tidak melakukan hal sama seperti pria itu yang menggenggam erat telapak tangan Laura. Ia hanya duduk sambil menatap intens wanita dengan paras cantik meskipun terlihat pucat.


Tanpa memperdulikan suara bariton dari sosok pria yang saat ini mengejeknya sebelum keluar dari ruangan.


"Mama, awasi pria itu agar tidak macam-macam pada Laura yang belum sadar!" teriak Christian yang saat ini sangat kesal melihat Mario sudah duduk di tempatnya yang tadi.


Ia yang baru saja menutup mulut dan menatap ke arah sang ibu agar melakukan perintahnya, hanya mendapatkan kibasan tangan yang menyuruhnya pergi.

__ADS_1


"Cepat kembali ke ruangan Ana agar dia tidak drop karena takut dioperasi. Bukankah tadi tidak ingin dioperasi karena takut gagal?" Renita Padmasari yang merasa bahwa putranya tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Laura yang sudah stabil, sehingga sekarang mengkhawatirkan keadaan Ana yang belum jelas nasibnya setelah dioperasi.


Christian yang tadinya sangat enggan meninggalkan ruangan Laura, menyadari bahwa apa yang baru saja disampaikan oleh sang ibu benar dan dengan terpaksa berbalik badan menuju ke arah pintu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Ia sebenarnya sangat stres hari ini karena terlalu banyak memikirkan keadaan dua wanita yang membuatnya tidak ingin rela melepaskan, tapi tetap saja faktanya mengorbankan Laura dan lebih mementingkan Ana.


"Berikan hal terbaik untuk kami bertiga, Tuhan. Aku tidak tahu takdir akan membawaku ke mana, tapi yang jelas percaya bahwa Engkau Maha mengerti segalanya. Bahwa akan memberikan semua yang terbaik," ucap Christian yang saat ini memasuki lift dan memencet tombol menuju ke lantai ruangan sang istri.


Hingga beberapa saat kemudian ia yang sudah tiba di depan ruangan Ana, mengerutkan kening karena tidak ada suara apapun dari dalam. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk ke dalam dan melihat asisten pribadinya tengah duduk di kursi sebelah ranjang perawatan sang istri yang memakai selang oksigen.


Ia yang merasa sangat khawatir pada keadaan sang istri, seketika berjalan mendekat dan bertanya pada Vicky yang langsung bangkit berdiri untuk memberikan hormat saat ia tiba. "Apa yang terjadi pada istriku?"


Vicky saat ini langsung menjelaskan kejadian beberapa saat lalu yang menjadi pemicu sesak napas yang dirasakan oleh istri majikannya tersebut.


"Jadi, seperti itu ceritanya, Tuan Christian. Apa semuanya baik-baik saja?" Ia mengatakan kalimat ambigu karena khawatir jika Ana tidak benar-benar tertidur dan mendengarkan pembicaraannya.


Christian saat ini beralih menatap ke arah sang istri yang dibantu dengan alat pernapasan. "Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Kamu akan sembuh setelah dioperasi nanti."


Kemudian kembali menatap ke arah asisten pribadinya dengan menunjukkan pakaian yang tadi dikirimkan oleh orang suruhan Vicky. "Terima kasih. Kamu selalu membantuku. Semuanya perjalanan lancar dan baik."


"Sama-sama, Tuan Christian. Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar. Apakah sekarang ada lagi yang Anda butuhkan? Atau ingin saya membelikan sesuatu?" Vicky saat ini melihat wajah kusut atasannya tersebut dan tidak tega.


Wajah kelelahan terlihat jelas dan jauh berbeda dari biasanya yang selalu terlihat tampan dan maskulin ketika berada di kantor.


Christian sebenarnya dari tadi belum makan karena tidak berselera, tapi karena khawatir jika ia malah drop dan sakit, tidak ada yang bisa menjaga sang istri. Ia pun memberikan perintah. "Belikan aku makanan di kantin karena sangat lemas."


"Aku heran kenapa sekarang staminaku lemah seperti ini. Sekalian belikan kopi juga agar aku tidak mengantuk karena kelelahan. Aku akan menunggu di ruang operasi nanti saat Ana dioperasi." Christian bahkan saat ini menguap lebar dan khawatir jika ia malah mengantuk.


Rasa capek yang saat ini dirasakan, membuat tubuhnya makin lemah. Bahkan berpikir jika ia tidak mungkin bisa bertahan jika tidak makan.


"Saya akan kembali secepatnya, Tuan Christian." Vicky yang baru saja menutup mulut, melihat pergerakan dari istri dari bosnya tersebut dan memilih berlalu pergi dari ruangan.


'Sepertinya dari tadi nona Ana sama sekali tidak tidur dan mendengar pembicaraan kami. Nasib baik kami tidak berbicara apapun yang membuatnya curiga,' gumamnya sambil menyusuri lorong rumah sakit menuju ke kantin.


Sementara itu, di dalam ruangan, saat ini Christian yang baru saja mendaratkan tubuhnya pada kursi, melihat sang istri membuka mata dan berbicara sangat lirih.


"Sayang, aku dari tadi tidak bisa tidur karena memikirkan operasinya. Jangan marah padaku, ya karena sekarang aku mempunyai firasat tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. Jadi, izinkan aku berbicara." Ana tahu jika sang suami pasti akan melarangnya membuka suara, jadi sebelum dilarang, berbicara seperti itu.


Hingga ia mendengar kalimat mengejutkan dari pria yang terlihat sangat kelelahan itu.


"Jika kamu berpikir akan meninggalkan dunia ini, baiklah. Aku tidak akan melarangmu berpikir seperti itu. Nikmati saja apa yang membuatmu merasa yakin." Christian yang seolah kehilangan tenaga untuk berdebat, kini telah menyerah dan berharap sang istri diam dan tidak lagi berbicara ngelantur yang membuatnya tidak tega.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2