
Beberapa saat lalu, Ana yang baru saja turun dari taksi, langsung berjalan ke arah pintu gerbang tinggi yang sudah dibuka oleh security.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju ke arah ruangan pribadinya karena selama di dalam taksi tadi, berusaha untuk mengingat semua hal yang berhubungan dampak positif dan negatif dari keputusan penting yang akan diambilnya.
'Sebenarnya jika suamiku sudah tidak punya orang tua, aku akan bebas dengan apa yang membuatku merasa nyaman, damai dan tenteram. Namun, semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan,' gumam Ana yang kini menunggu panggilan tersambung.
Hingga ia yang sudah mendaratkan tubuhnya di atas sofa ruangan kamar, mengerutkan kening karena panggilan tidak mendapatkan jawaban.
"Sepertinya suamiku sibuk bekerja. Lebih baik aku mandi dulu saja." Ana kini meletakkan ponsel miliknya ke atas meja dan ia bangkit berdiri dari sofa.
Kemudian melepaskan satu persatu kancing kemeja kerjanya. Namun, baru saja ia melepaskan pakaian, suara dering ponsel miliknya berbunyi dan membuatnya tidak jadi pergi mandi.
Begitu menggeser tombol hijau ke atas, mendengar suara bariton dari sang suami yang menyatakan menyesal dengan memohon maaf padanya dan membuatnya tersenyum simpul.
'Suamiku selalu saja membuatku merasa menjadi seorang wanita paling beruntung di dunia karena dicintai begitu hebatnya oleh suamiku,' gumam Ana yang hanya bisa mengungkapkan kebahagiaannya di dalam hati.
__ADS_1
Hingga ia pun kini membuka suara dengan mengatakan keputusan yang telah dipikirkan matang-matang.
"Sayang, aku sudah memikirkannya. Aku tidak akan melarangmu untuk semakin mengembangkan bisnis di luar negeri. Lagipula itu semua juga akan semakin membuat perusahaan kita berkembang pesat dan besar. Tapi apa kamu tidak bisa pulang terlebih dahulu?"
Ana berpikir jika nanti sang suami tercinta tidak bisa pulang, akan menyusul ke New York dan memberikan sebuah kejutan. Namun, sengaja tidak mengatakan apapun pada sosok pria di seberang telpon karena berpikir jika mungkin hanya akan dilarang.
Apalagi ia belum pernah pergi ke luar negeri sendirian karena selalu bersama dengan suami tercinta jika liburan.
Sementara itu di sisi lain, Christian yang akhirnya bisa bernapas lega karena dengan mudahnya sang istri setuju tanpa banyak bertanya. Hingga ia pun kembali berbohong pada sang istri agar tidak khawatir atau pun kesal.
"Syukurlah kalau begitu. Aku benar-benar sangat lega mendengarnya." Ana saat ini menunduk menatap ke arah tubuhnya yang hanya memakai bra berwarna merah karena tadi melepaskan kemeja kerjanya saat hendak mandi.
"Sayang, kamu sekarang ada di mana? Di hotel atau perusahaan klien?" Ana berniat untuk menunjukkan penampilannya yang sangat seksi agar sang suami merindukannya dan ingin segera pulang.
Bahkan ia tersenyum menyeringai ketika berpikir jika sang suami akan senang melihat penampilannya yang sangat seksi. Namun, semua tidak seperti yang diharapkan karena ternyata pria di balik telpon seperti terkesan terburu-buru.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang karena tidak bisa lama. Aku harus melanjutkan meeting dengan investor. Saat senggang, akan aku hubungi. I love you, Sayang. Aku pergi!" ucap Christian yang kini tengah menunggu tanggapan dari sang istri dengan perasaan berkecamuk.
Antara khawatir jika Ana kesal padanya karena hanya berbicara sebentar saja, itu pun tentang pekerjaan. Sementara yang kedua adalah ingin segera pergi setelah mengucapkan rayuan agar tidak marah.
Ana seketika menampilkan wajah masam dan bibir mengerucut karena rasa rindunya bahkan belum terobati, tapi sudah tidak bisa berbicara dengan sang suami.
Namun, ia berusaha untuk tetap bersikap layaknya seorang wanita berkelas dan tidak kekanak-kanakan karena berpikir jika bukan lagi gadis remaja yang bermanja-manja dengan kekasihnya.
"Baiklah, Sayang. Selamat bekerja kembali. Aku pun mau mandi karena baru saja sampai di rumah." Ana seketika mengerjapkan kedua mata begitu sambungan telpon terputus setelah suami menanggapi.
"Bye, Sayang."
Sambungan telpon terputus dan Ana kini masih menatap benda pipih di tangan. Ia masih terdiam sambil memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Kenapa aku merasa sikap suamiku berubah? Atau ini hanya perasaanku saja karena sangat merindukannya?" lirih Ana yang kini masih malas untuk bangkit berdiri dari sofa dan melanjutkan rencananya membersihkan diri di kamar mandi.
__ADS_1
To be continued...