365 Days With You

365 Days With You
Bersikap adil


__ADS_3

"Sayang, aku baru saja keluar dari toilet untuk mengganti pakaian. Jadi, tidak tahu kamu menelpon," sahut Ana yang saat ini baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.


Ia pun kembali menatap ke arah pakaian berwarna hitam yang baru saja diganti dan dimasukkan ke dalam paper bag.


"Iya, Sayang. Tadi aku berniat untuk mengirimkan pesan dan bertanya tumben tidak langsung mengangkat telepon karena biasanya 24 jam kamu selalu berada di dekat ponsel. Aku baru saja membaca pesan dari Vicky mengenai kejadian di pabrik. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu karena Ini adalah sebuah musibah."


Christian mendadak menjadi pria yang bijak saat berbicara dengan sang istri dan tentu saja berbeda ketika ia memarahi asisten pribadinya tadi. Ia berusaha untuk menjadi seorang pria yang tidak mengandalkan emosi dalam menghadapi apapun.


"Semangat bekerja dan jangan terlalu memforsir dirimu, Sayang. Ada Vicky yang akan selalu membantumu agar tidak terlalu lelah karena aku saat ini tidak berada di dekatmu dan tidak bisa memijatmu saat capek. Maaf karena akhir-akhir ini sangat sibuk, hingga membuat kita kurang komunikasi."


Saat ini, Laura seketika berkaca-kaca mendengar apa yang disampaikan oleh sang suami yang telah menyadari bahwa ia saat ini sempat merasa jika pria yang sangat dicintai yang tersebut berubah dan kurang perhatian seperti dulu.


Kini, gantian ia yang merasa bersalah pada sang suami karena berpikir macam-macam. Padahal pria yang sudah 10 tahun menjadi suaminya tersebut adalah seorang pria hebat dan selalu mencintainya.


Bahkan sudah dibuktikan dengan tidak menceraikannya ketika tidak bisa memberikan keturunan. Karena merasa sangat terharu dengan apa yang baru saja disampaikan oleh sang suami yang sangat tulus padanya, membuatnya seketika menangis tersedu-sedu.


"Sayang, jangan berbicara seperti itu dan membuatku merasa bersalah padamu karena sempat curiga kamu mempunyai wanita lain. Maafkan aku, Sayang," lirih Ana dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh bulir air mata dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih saat menyalahkan diri sendiri.


Ana saat ini benar-benar merasa bersalah karena mempunyai pikiran curiga pada sosok pria yang selama ini menunjukkan kesetiaan meskipun ia belum bisa memberikan seorang keturunan.


Bahkan meskipun mertuanya sudah beberapa kali menyuruh sang putra untuk menceraikannya, tapi sang suami tetap setia dan masih memiliki cinta yang sama padanya.


"Sayang, kenapa kamu malah menangis? Aku membuatmu sedih, ya? Maafkan aku dan jangan menangis lagi karena aku tidak bisa menghapus air mata yang memenuhi wajahmu saat ini. Istriku yang cantik, jangan menangis lagi, ya. Aku sangat mencintaimu," ujar Christian yang saat ini berbicara sambil menatap ke arah kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengarnya.


Ia khawatir jika sampai ada perawat yang membantu dokter memeriksa Laura dan mengetahui semua pembicaraannya, sehingga akan berpikir macam-macam padanya serta hal yang paling ditakutkan adalah menceritakan pada istri sirinya tersebut mengenai hal ini.


"Iya, Sayang. Aku tidak akan menangis lagi dan membuatmu merasa bersalah. Padahal ini adalah air mata kebahagiaan karena aku merasa sangat terharu memiliki seorang suami luar biasa sepertimu," sahut Ana yang saat ini mematuhi perintah dari pria yang dicintainya dengan membersihkan kulit kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


Ia yang baru saja mengambil tisu dari dalam tas, sudah sibuk mengaplikasikan pada wajahnya agar menyerap bulir air mata yang lolos tanpa bisa ditahannya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak bisa mendengar istriku yang cantik menangis dan pastinya saat ini wajahmu sudah sembab." Christian yang saat ini melihat perawat keluar dari IGD dan mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang.


Ia sangat yakin jika perawat itu mencarinya, sehingga merasa sangat khawatir jika mendekat dan berbicara padanya. Refleks ia segera berpamitan pada sang istri dengan mengarang sebuah kebohongan untuk kesekian kali.


"Sayang, besok disambung lagi karena ini aku mendapatkan telepon dari salah satu investor yang pastinya akan membahas mengenai banyak hal. Selamat bekerja dan jangan bersedih lagi, oke! I love you."


Kemudian pengertian memberikan sebuah kecupan dan begitu sang istri mengiyakan serta membalas ungkapan cintanya, seketika ia mematikan sambungan telepon.


Di saat bersamaan, melihat perawat yang sudah semakin dekat berjalan ke arahnya dan membuka suara untuk memanggilnya.


"Tuan Christian, saya dari tadi mencari Anda. Saat ini, dokter ingin berbicara untuk membahas mengenai keadaan istri Anda."


"Ada masalah yang terjadi karena pasien saat ini mengalami drop karena efek terlalu lama berada dalam perjalanan," ucap sang perawat yang merasa sangat heran melihat pria di hadapannya tersebut menjauh dari ruangan IGD saat menerima telepon.


"Bagaimana keadaan istri saya, Suster? Apa terjadi dampak buruk dari perjalanan? Katakan semuanya pada saya!" Christian yang ingin tahu bagaimana keadaan Laura saat ini, kini melangkahkan kaki mengikuti sang suster yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Lebih baik Anda berbicara sendiri dengan dokter mengenai keadaan pasien. Saya di sini untuk menyampaikan perintah dari dokter yang ingin berbicara empat mata dengan Anda di ruangannya."


"Sementara istri Anda sudah diberikan obat dan saat ini tengah berada dalam pengaruh obat karena tertidur pulas."


Sang perawat yang saat ini membuka pintu ruangan IGD, menunjukkan ruangan sang dokter.


"Silakan masuk karena dokter sudah menunggu di dalam. Saya permisi dulu." Sang perawat yang baru saja mengganggukan kepala, kini langsung berjalan pergi meninggalkan suami dari pasien yang baru saja datang tersebut.


Sementara itu, Christian tidak membuang waktu dan langsung menutup pintu sebelum masuk ke dalam ruangan sang dokter untuk bertanya mengenai masalah yang menimpa Laura.

__ADS_1


"Selamat siang, Dokter."


"Siang. Silakan, duduk!" ucap pria paruh baya dengan kemeja putih dan jas yang berada di tempat duduk.


Christian yang baru saja mengganggukan kepala, langsung mengendalikan tubuhnya di hadapan pria paruh baya itu.


Bahkan ia merasa mengalami Dejavu karena pernah berada di posisi seperti ini beberapa hari yang lalu ketika berbicara dengan dokter yang mengoperasi Laura.


"Terima kasih. Bagaimana keadaan istri saya, Dokter? Apa karena efek perjalanan jauh membuatnya mengalami masalah?" Christian masih menatap dengan penuh kekhawatiran dan berharap penjelasan dari sang dokter tidak membuatnya semakin dipenuhi oleh rasa bersalah pada sang istri.


Karena tidak ingin bertele-tele, akhirnya dokter menjelaskan mengenai keadaan pasien yang mengalami drop karena perjalanan jauh.


"Tubuh pasien mengalami demam tinggi dan dikhawatirkan jika dibiarkan akan menyerang saraf di otak. Jadi, butuh penanganan ekstra dan kami akan tetap memantau kondisinya. Kalau bisa, ini adalah kali terakhir melakukan perjalanan jauh saat kondisi pasien belum pulih."


Sengaja sang dokter saat ini memberikan sebuah ultimatum pada suami dari pasien agar tidak berbuat kesalahan yang berakibat fatal.


Karena merasa sangat bersalah pada Laura, tanpa pikir panjang, Christian mengangguk lemah. "Iya, Dokter. Saya tidak akan membawa istri saya pulang dari rumah sakit sebelum benar-benar dinyatakan sembuh."


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter," ujar Christian yang saat ini berharap tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada Laura.


Di waktu bersamaan, ia dipenuhi rasa bersalah pada dua wanita yang sama-sama memiliki arti penting dalam hatinya.


'Ternyata memiliki dua istri bukanlah hal yang mudah, tapi kenapa banyak pria yang memutuskan untuk menikah lagi? Mungkin jika aku memiliki keturunan dari Ana, mana mungkin akan melakukan hal sejauh ini?'


Karena untuk adil pada dua istri itu ternyata sangatlah sulit,' gumam Christian yang saat ini merasa bahwa awal perjalanannya baru dimulai ketika bersatu status menjadi suami dua istri.


'Aku harus bisa melewati semua ini sampai akhir. Aku akan berusaha untuk bersikap adil pada Ana dan Laura dengan memberikan cinta yang sama. Aku akan memberikan 50% cintaku untuk Ana dan 50% untuk Laura.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2